Read the first chapter
The whole of chapter one, free. About 6 min. Turn the pages with the arrows, your keyboard, or a swipe.
Chapter 1
Labu yang menghilang
Kunci kuningan itu tersangkut di tengah lubang kunci gudang labu tepat ketika jam gereja berdentang sebelas kali.
Mabel Reed menahan pintu yang sudah melengkung dengan satu tangan, lalu memutar kunci lebih kuat. Kunci itu akhirnya berbunyi klik. Pintu terbuka selebar tiga inci, kemudian tertahan oleh sesuatu yang kokoh di sisi dalam.
“Ayolah,” gumamnya. “Jangan malam ini.”
Angin dingin menyelinap melalui celah dan mengangkat rambut abu-abunya yang tergerai di pelipis. Di balik gudang, lapangan desa berkilau keperakan di bawah cahaya bulan. Hiasan umbul-umbul terbentang di antara pohon-pohon elm, daun-daun kertasnya berkibar di atas kios-kios pekan raya yang kosong. Menjelang pagi, lapangan itu akan dipenuhi meja, keranjang, kue, dan anak-anak dengan sepatu berlumpur.
Dan di tengah semua itu, di atas panggung berhiaskan pita biru, seharusnya terletak labu juara.
Mabel mendorong pintu dengan bahunya. Sesuatu bergesekan di lantai bagian dalam. Mungkin garu, atau salah satu peti kayu tua yang ditumpuk di dinding. Ia mendorong lagi, merasakan kayu lembap menekan mantelnya.
“Aku hanya perlu memastikan kau aman,” katanya, seolah-olah labu itu bisa mendengarnya. “Setelah itu aku pulang.”
Pintu bergeser satu inci lagi.
Mabel telah berjanji kepada panitia pekan raya bahwa ia akan memeriksa gudang sebelum persiapan terakhir dimulai. Labu itu adalah tanggung jawabnya. Ia menumbuhkannya dari biji yang tak lebih besar daripada kuku, menyiraminya sepanjang minggu-minggu kering di bulan Agustus, dan membuatkan naungan jerami kecil ketika malam-malam dingin pertama tiba. Menurut timbangan milik Tuan Pritchard, labu itu memiliki berat tiga ratus dua belas pon—kemegahan jingga yang sempurna.
Jika sesuatu terjadi padanya sebelum penjurian, semua orang di Bramblewick akan menuding Mabel.
Ia menyelinap menyamping melalui celah, tetapi lengan bajunya tersangkut paku.
Dari dalam, gudang itu terasa lebih kecil daripada sore tadi. Keranjang-keranjang bersandar pada dinding. Tali rami menggantung di pasak seperti sarang laba-laba berdebu. Tumpukan baki semai roboh di samping meja kerja, sementara gerobak dorong menghadap sudut ruangan dengan salah satu rodanya berputar perlahan akibat pintu yang didorong.
Mabel meraih lentera yang tergantung di dekat pintu dan menyalakan korek api.
Nyala api bergetar, lalu stabil.
“Bagus,” bisiknya.
Tempat labu itu biasanya berada di bagian belakang, di bawah jendela tinggi tempat cahaya bulan menyentuh lantai. Mabel telah menandai tempat itu dengan sepetak jerami bersih dan mengikatkan pita merah pada tiang terdekat. Pita itu masih ada.
Jeraminya tidak.
Mabel melangkah maju.
Sebuah cangkul tergeletak melintang di lorong sempit. Ia mengangkatnya, memiringkan tubuh, lalu menyandarkannya ke dinding. Sepatunya menendang ember seng. Ember itu menggelinding ke bawah meja kerja dengan bunyi bergaung.
“Hati-hati,” katanya kepada diri sendiri.
Ia berlutut dan mengintip ke bawah meja. Tak ada apa-apa selain debu, dua pot bunga retak, dan sarang tikus yang dibuat dari sobekan koran. Cahaya lentera melemparkan bayangan peralatan ke lantai, membuat setiap gagang tampak seperti jari bengkok.
Labu itu seharusnya memenuhi seluruh bagian belakang gudang. Mustahil untuk tidak melihatnya.
Mabel berdiri dan mengarahkan lentera ke jerami.
Labu itu tidak ada.
Sesaat, ia tak mampu memahami petak kosong tersebut. Pikirannya mengisi ruang itu dengan bentuk yang hilang: bulat dan cerah, dengan lekuk-lekuk sedalam lipatan kain. Ia melihat pita biru yang terikat pada tangkainya. Ia melihat tanda putih kecil di bagian bawah, bekas batu yang pernah menekannya saat labu itu tumbuh.
Lalu bayangan itu lenyap.
“Tidak,” katanya.
Ia meletakkan lentera terlalu cepat hingga nyalanya melonjak. Mabel menyambar pita merah dan menariknya dari tiang.
Ikatan pitanya telah dipotong.
Ia berputar perlahan. “Tidak, tidak, tidak.”
Mungkin Tuan Pritchard yang mengambilnya. Mungkin panitia memindahkannya lebih awal ke panggung. Mungkin ia salah memahami catatan yang ditempel di pintu gudang sore tadi. Ia merogoh saku mantel dan menemukan catatan itu terlipat bersama kunci rumahnya.
PERIKSA SEBELUM PAGI, tertulis dengan tulisan tangan Tuan Pritchard yang rapi.
Mabel berlari ke pintu dan berteriak ke tengah malam.
“Thomas?”
Suaranya melintasi lapangan dan menghantam jendela-jendela gelap balai desa. Tak ada yang menjawab. Di dekat toko roti, seekor anjing menggonggong sekali, lalu diam.
Ia bergegas kembali ke tempat kosong itu. Dinding gudang yang sempit terasa menekan dari segala arah. Ia memeriksa balik peti-peti, meskipun tak ada yang cukup besar untuk menyembunyikan labu. Ia membuka lemari di bawah meja kerja dan hanya menemukan bungkus benih kacang serta gunting tanaman yang patah. Ia menyingkirkan gerobak dorong hingga menumbangkan tumpukan pot tanah liat.
Salah satunya pecah di lantai.
Mabel tersentak mendengar bunyinya.
Jendela belakang terkunci dari dalam. Kaitnya kaku, tetapi tetap terpasang. Ia mengujinya dua kali. Tak mungkin seseorang membawa labu itu keluar lewat sana.
Berarti pintunya.
Ia membungkuk dekat ambang. Papan lantai bergaris tanah dan jerami tua. Dekat pintu, sejalur lumpur menggelapkan kayu.
Mabel menyentuhnya dengan satu jari.
Basah.
Ia melihat sol sepatunya. Bersih. Ia berjalan melintasi lapangan di atas batu-batu pijakan, lalu menginjak ambang kayu. Lumpur itu bukan berasal darinya.
Dari luar terdengar suara: deru sebuah gerobak.
Mabel menegakkan tubuh dan bergegas keluar. Jalan kecil di samping gudang mengarah ke sungai, dibatasi jelatang dan tembok batu rendah. Cahaya bulan menyepuh genangan air. Mula-mula ia hanya melihat jejak-jejak sepatu para pekerja pekan raya yang sudah dikenalnya.
Kemudian awan bergeser.
Noda lumpur lebar terlihat di balik gudang, melengkung menuju jalan kecil. Di sampingnya ada dua bekas cekung yang dalam dan berdekatan, seolah-olah sesuatu yang berat telah diseret atau digelindingkan. Jejak itu menghilang di balik jelatang, lalu muncul lagi di sisi seberangnya.
Mabel mengangkat lentera.
“Siapa yang membawamu?” tanyanya kepada kegelapan yang kosong.
Di belakangnya, garu yang tersandar terlepas dan jatuh berderak di dalam gudang.
Ia berputar.
Pintu telah terbuka lebih lebar. Selama sesaat yang konyol, ia berharap melihat seseorang berdiri di antara peralatan. Namun cahaya lentera hanya menampakkan ember yang terbalik dan pot bunga yang pecah.
Meski begitu, gudang itu tak lagi terasa kosong. Tempat itu terasa terusik, seolah seseorang baru saja pergi.
Mabel kembali ke jejak berlumpur. Salah satu cetakan cukup jelas untuk memperlihatkan tepi tumit sepatu bot. Jejak satunya terseret menjadi lengkungan cokelat panjang. Labu bisa saja meninggalkan bekas seperti itu jika seseorang menggelindingkannya.
Tetapi mengapa seseorang menggelindingkannya melewati jelatang?
Dan mengapa mengambilnya sama sekali?
Pekan raya panen bukanlah tempat untuk menyimpan rahasia. Itu tempat para tetangga membandingkan stoples selai dan berdebat tentang pai apel terbaik. Menjelang pagi, labu juara itu seharusnya menjadi milik semua orang. Siapa pun yang memindahkannya bukan sekadar meminjam sayuran. Ia telah mencuri pusat perhatian pekan raya.
Mabel berjongkok dan mendekatkan lentera. Lumpur itu berkilau. Sebatang ranting kecil tertekan ke salah satu jejak, ujungnya baru saja patah.
Ia mengulurkan tangan.
Setetes hujan jatuh di punggung tangannya.
Setetes lagi mendarat di kaca lentera.
Mabel mendongak. Awan menebal di atas atap-atap rumah, bergulung dari arah sungai. Hujan mulai mengetuk atap besi gudang, mula-mula pelan, seperti jari yang menguji pintu terkunci.
Ia menyambar pita merah dari sakunya dan mengikatkannya pada ranting untuk menandai tempat itu. Lalu ia mengikuti jejak, memegang lentera rendah- rendah.
Jejak tersebut melewati sudut gudang menuju jalan setapak di tepi sungai. Setelah enam langkah, jejaknya memudar di bawah rumput. Mabel menerobos rerumputan basah dan menemukan noda lain di atas batu.
Hujan semakin deras.
“Tidak,” katanya sambil berlutut.
Ia mengikuti jejak itu sedikit demi sedikit. Lumpur mengotori batu-batu pucat, lalu menghilang di bawah genangan. Di seberangnya, sepotong kecil jingga tersangkut pada semak berduri.
Mabel meraihnya. Duri mencakar jarinya dan memunculkan setitik darah merah terang.
Ia tidak menarik tangan sebelum berhasil membebaskan serpihan itu.
Itu kulit labu.
Ia mengangkat potongan kecil tersebut di bawah lentera. Jingga, masih segar, dan tak mungkin salah.
Sebuah roda gerobak berderit dari arah sungai.
Mabel berdiri begitu cepat hingga lututnya membentur tembok batu. Nyeri menjalar ke kakinya. Ia mengarahkan lentera ke suara itu, tetapi hujan telah berubah menjadi tirai kelabu. Jalan di balik gudang lenyap dalam kegelapan.
“Siapa di sana?”
Hanya sungai yang menjawab, membengkak dan bergolak di balik pepohonan.
Mabel berdiri sambil menjepit serpihan kulit labu di antara jari-jarinya. Lonceng pekan raya akan berbunyi dalam waktu kurang dari sepuluh jam. Saat itu tiba, seluruh desa akan tahu bahwa labu juara telah hilang. Mereka akan bertanya siapa yang mengunci gudang, siapa yang memegang kuncinya, dan siapa yang terakhir melihat labu itu.
Mereka akan bertanya kepadanya terlebih dahulu.
Ia menoleh ke gudang. Pintunya yang terbuka terbanting sekali tertiup angin. Ujung pita merah berkibar dari tiang seperti sebuah peringatan.
Mabel bisa meminta bantuan. Ia bisa membangunkan polisi desa, menjemput Tuan Pritchard, dan membangunkan separuh penduduk Bramblewick.
Namun jika ia pergi sekarang, hujan akan menghapus semuanya.
Ia memasukkan serpihan kulit labu ke saku mantel, mengangkat rok agar tak menyapu lumpur, lalu melangkah ke jalan setapak menuju sungai.
Petunjuk pertama itu sudah mulai terhapus di bawah sepatunya.
End of chapter one. 2 more chapters and about 4,752 words in the full book.
Swipe or use the arrows to turn the page
What's inside: 3 chapters
- 1. Labu yang menghilang
- 2. Ketukan di tengah hujan
- 3. Catatan yang dihapus
About this book
"Labu Hadiah yang Hilang" is a fiction book by nasanbi books with 3 chapters and approximately 4,752 words. Sebuah desa menyelidiki hilangnya labu yang memenangkan hadiah..
This book was created using Inkfluence AI, an AI-powered book generation platform that helps authors write, design, and publish complete books. It was made with the AI Novel Writer.
Frequently Asked Questions
What is "Labu Hadiah yang Hilang" about?
Sebuah desa menyelidiki hilangnya labu yang memenangkan hadiah.
How many chapters are in "Labu Hadiah yang Hilang"?
The book contains 3 chapters and approximately 4,752 words. Topics covered include Labu yang menghilang, Ketukan di tengah hujan, Catatan yang dihapus.
Who wrote "Labu Hadiah yang Hilang"?
This book was written by nasanbi books and created using Inkfluence AI, an AI book generation platform that helps authors write, design, and publish books.
How can I create a similar fiction book?
You can create your own fiction book using Inkfluence AI. Describe your idea, choose your style, and the AI writes the full book for you. It's free to start.
Write your own fiction book with AI
Describe your idea and Inkfluence writes the whole thing. Free to start.
Start writingCreated with Inkfluence AI