Di Ambang Kegelapan
Fiction

Di Ambang Kegelapan

by Anonymous · 2026-10-25

Seseorang yang kehilangan banyak hal mencari makna hidup hingga terjerumus dalam kegelapan

5 chapters 10,217 words ~41 min read Indonesian

Read the first chapter

The whole of chapter one, free. About 8 min. Turn the pages with the arrows, your keyboard, or a swipe.

Chapter 1

Hujan di Stasiun Terakhir

Jam dinding di atas loket menunjukkan pukul sebelas lewat tujuh belas, tetapi jarumnya berhenti sejak entah kapan. Raka tahu waktunya hanya dari pengumuman yang tersendat di pengeras suara, suara perempuan yang pecah oleh gangguan listrik.

“Kereta terakhir menuju utara mengalami keterlambatan. Penumpang dimohon - ”

Suara itu mati sebelum kalimatnya selesai.

Raka menarik ritsleting tas hingga rapat. Di dalamnya hanya ada dua kemeja, dompet, charger ponsel, dan baju hitam yang masih menyimpan lipatan dari pemakaman ibunya. Ia tidak membawa banyak. Tidak ada yang ingin dibawanya dari rumah itu, kecuali dirinya sendiri.

Hujan menghantam atap seng stasiun tua dengan bunyi seperti kerikil dilemparkan dari langit. Air merembes melalui retakan dan mengalir di lantai peron, membawa daun, puntung rokok, dan lumpur tipis dari halaman depan. Lampu-lampu neon berkedip di atas kepalanya. Setiap kali padam, stasiun berubah menjadi ruang kosong yang lebih luas daripada seharusnya.

Raka berdiri di dekat pintu masuk, menatap rel yang menghilang di balik tirai hujan.

Ia hanya perlu naik kereta itu. Pergi dari kota pesisir ini. Pergi dari rumah yang masih menyimpan suara batuk ibunya di kamar belakang, dari cangkir retak di meja makan, dari tetangga yang menundukkan kepala ketika melihatnya. Setelah itu, ia tidak perlu memikirkan ke mana akan pergi.

Yang penting bukan lagi di sini.

Seorang petugas berjas hujan kuning berlari dari arah peron tiga. Sepatunya mencipratkan air ke mana-mana.

“Mas!” teriaknya. “Jangan lewat sana. Peron tiga ditutup.”

Raka menoleh. “Kereta terakhir berangkat dari sana, kan?”

“Seharusnya. Tapi jalurnya tergenang. Tunggu pengumuman.”

“Berapa lama?”

Petugas itu memandang rel, lalu langit-langit yang bocor. “Kalau saya tahu, saya sudah pulang.”

Raka menahan tas di bahunya. “Saya harus pergi malam ini.”

Petugas itu menatap wajahnya sebentar, seolah mengenali jenis kepergian yang tidak punya tujuan. “Semua orang yang datang ke stasiun ini bilang begitu.”

Ia berbalik sebelum Raka sempat menjawab.

Di papan jadwal, beberapa huruf mati. Kota tujuan yang hendak didatangi Raka hanya tersisa separuh: U - AN. Ia tidak yakin apakah itu tujuan yang benar atau sekadar nama yang terpotong. Ponselnya menunjukkan satu garis sinyal, lalu menghilang. Baterainya tinggal sembilan persen.

Dari luar, klakson kapal terdengar jauh di balik deretan gudang. Kota ini selalu punya suara untuk mengingatkan bahwa ia berada di tepi laut. Bahkan pada malam ketika ibunya dikuburkan, ombak tetap memukul pemecah gelombang seperti tidak ada yang berubah.

Raka melangkah ke lorong menuju peron tiga.

Pintu besi yang biasanya terbuka telah dirantai. Ia berhenti di depan papan bertuliskan DILARANG MASUK. Di balik pagar, air setinggi mata kaki menggenang di antara bangku-bangku tua. Lampu di ujung lorong padam, menyisakan cahaya kebiruan dari papan iklan yang berkedip-kedip.

“Mas!” Petugas tadi memanggil dari belakang. “Saya bilang ditutup!”

“Kalau saya menunggu, keretanya bisa pergi.”

“Kalau masuk, bisa tersetrum.”

Raka memandang genangan itu. Permukaan air bergetar terkena tetesan dari atap. “Relnya masih dialiri listrik?”

“Tidak tahu. Justru itu masalahnya.”

Petugas itu mendekat dan meraih lengannya. Sentuhannya keras, tetapi Raka tidak melawan. Selama beberapa detik, ia membiarkan dirinya ditarik menjauh dari pagar. Kemudian terdengar suara kereta dari kejauhan - bukan derit roda, melainkan bunyi panjang rem yang bergesekan dengan rel basah.

Raka menoleh.

Cahaya sepasang lampu muncul di balik hujan.

“Kereta datang,” katanya.

Petugas itu mengumpat pelan. “Bukan dari jalur tiga.”

Raka melepaskan lengannya dan berlari ke tangga samping. Petugas memanggil, tetapi suaranya segera ditelan hujan. Tangga itu membawa Raka ke jembatan penyeberangan yang atapnya berlubang. Air menetes dari atas, mengalir di tengkuknya, masuk ke kerah baju.

Dari jembatan, ia bisa melihat seluruh stasiun. Peron satu dipenuhi koper dan orang-orang yang menunggu dengan wajah lelah. Peron dua gelap. Peron tiga tenggelam dalam air hitam. Di ujung paling jauh, jalur lama menuju gudang barang memanjang seperti garis yang dilupakan.

Kereta berhenti dengan suara berat di peron satu.

Raka mempercepat langkah. Ia turun di sisi lain, melewati seorang perempuan yang memeluk anak kecil, lalu hampir menabrak lelaki tua yang membawa sangkar burung.

“Pelan-pelan!” lelaki itu membentak.

“Maaf.”

Pintu kereta belum tertutup. Raka meraih pegangan paling dekat dan menginjak anak tangga.

Seorang kondektur berdiri di ambang pintu. “Tiket.”

Raka menunjukkan ponselnya. Layar menyala sebentar, lalu mati. Tiket elektronik yang tersimpan di sana tidak bisa dibuka.

“Baterai habis?” tanya kondektur.

“Sebentar.” Raka menekan tombol berkali-kali. “Saya sudah beli.”

“Beli itu bukan berarti bisa naik tanpa tiket.”

“Kereta terakhir. Tolong.”

Kondektur melihat antrean di belakang Raka. “Mundur dulu. Jangan tahan pintu.”

Pintu mulai bergerak menutup.

Raka mundur. Kereta melaju perlahan, meninggalkan hawa panas dan bau logam yang mengambang di peron. Lampu gerbong menjauh, satu demi satu, lalu lenyap di balik hujan.

Ia berdiri dengan tangan menggantung di sisi tubuh.

Petugas berjas hujan muncul beberapa saat kemudian, napasnya tersengal. “Saya sudah bilang tunggu.”

“Kereta itu bukan kereta terakhir?”

“Kereta barang. Tidak mengangkut penumpang.”

Raka tertawa pendek. Bunyi itu terasa asing di mulutnya. “Lebih baik daripada tetap di sini.”

Petugas itu memandangnya dengan kesal, lalu melirik tas hitam di bahu Raka. “Loket tutup. Kalau mau menginap, ruang tunggu sebelah timur. Jangan berkeliaran.”

“Saya tidak akan menginap.”

“Kalau begitu, tunggu sampai air surut. Jalan keluar depan sudah tergenang.”

Raka hendak bertanya, tetapi petugas itu telah pergi lagi. Hujan semakin deras. Air mulai merembes dari bawah pintu utama dan menyebar ke ruang tunggu. Beberapa penumpang mengangkat koper ke atas bangku. Anak kecil tadi menangis. Ibunya menutup telinganya sendiri, seolah bunyi hujan dapat membuat sesuatu di dalam kepalanya pecah.

Raka berjalan menjauh dari mereka.

Ia tidak tahu apa yang dicarinya. Mungkin pintu keluar. Mungkin jalur lain. Mungkin tempat yang cukup gelap untuk membuatnya hilang tanpa harus menjelaskan kepada siapa pun.

Lorong timur berakhir di sebuah pintu kayu dengan kaca buram. Papan di atasnya bertuliskan KANTOR LAMA. Gagang pintu berkarat, tetapi tidak terkunci. Raka mendorongnya.

Ruangan di dalam berbau kertas basah dan minyak lampu. Lemari-lemari tua berdiri rapat di sepanjang dinding. Berkas-berkas berserakan di lantai, sebagian mengambang dalam genangan tipis yang masuk dari celah jendela. Di tengah ruangan ada meja kayu dengan laci-laci terbuka.

Raka melangkah masuk untuk berteduh.

Sesuatu jatuh dari tasnya.

Ia baru menyadarinya ketika benda itu menghantam lantai dan meluncur di bawah meja. Sebuah amplop putih, kusam di bagian sudut, terselip dari saku dalam tas. Raka berjongkok dan menariknya keluar.

Namanya tertulis di depan amplop itu.

Raka.

Tulisan tangan ibunya.

Jari-jarinya mengeras di sekeliling kertas.

Tidak mungkin. Ia telah mengosongkan meja kamar ibunya pagi tadi. Ia telah memeriksa laci obat, lemari pakaian, bahkan kotak biskuit tempat ibunya biasa menyimpan uang receh. Surat itu tidak ada di sana.

Ia membalik amplop. Tidak ada perangko. Tidak ada alamat. Bagian penutupnya masih utuh, hanya sedikit menguning seperti telah lama disimpan di tempat lembap.

Raka berdiri dan menaruh tas di atas meja. Hujan memukul kaca jendela. Dari kejauhan terdengar peluit pendek, lalu suara langkah kaki di lorong.

Ia memasukkan kuku ke celah amplop.

“Jangan,” bisik sesuatu dalam dirinya.

Bukan suara ibunya. Hanya ketakutannya sendiri.

Raka merobek bagian atas amplop.

Di dalamnya terdapat dua lembar kertas yang dilipat tiga kali. Baris pertama membuat napasnya tertahan.

Raka,

Jika surat ini sampai kepadamu, berarti aku sudah tidak sempat menjelaskan.

Ia membaca kalimat itu dua kali. Air dari rambutnya menetes ke kertas, membuat tinta di sudutnya melebar.

Aku tahu kau akan pergi setelah aku tidak ada. Mungkin kau akan mengira pergi adalah cara untuk meninggalkan semua yang menyakitkan. Dulu aku juga berpikir begitu. Tetapi ada satu hal yang tidak pernah kukatakan kepadamu.

Raka duduk di kursi tua. Kayunya mengerang di bawah berat tubuhnya.

Di bagian bawah halaman, nama itu muncul.

Sari.

Nama yang tidak pernah ia dengar dari ibunya. Atau mungkin pernah, bertahun-tahun lalu, ketika ia masih terlalu kecil untuk menyimpan percakapan orang dewasa. Di bawahnya tertulis sebuah alamat di desa pegunungan, jauh dari kota pesisir ini.

Raka membaca baris berikutnya dengan mata yang mulai kabur.

Carilah Sari. Ia tahu mengapa semua ini terjadi. Ia juga tahu tentang ayahmu.

Kertas itu terlepas dari tangannya.

Di luar ruangan, suara petugas terdengar dari lorong.

“Mas? Kamu di dalam?”

Raka tidak menjawab.

Ayahnya telah hilang ketika ia berusia delapan tahun. Ibunya selalu berkata bahwa lelaki itu pergi karena tidak sanggup menjadi suami dan ayah. Tidak ada alamat, tidak ada kabar, tidak ada alasan lain. Setelah itu, kehilangan datang satu per satu: ayahnya, adiknya yang tidak sempat lahir, teman masa kecil yang tenggelam di muara, lalu ibunya yang baru saja dikubur pagi tadi.

Selama ini Raka mengira semua kehilangan itu hanya rangkaian kebetulan buruk.

Surat itu membuatnya melihat bentuk lain di antara semuanya.

“Mas?” Petugas mengetuk pintu. “Keluar. Ruangan itu tidak aman.”

Raka melipat surat dan memasukkannya ke saku jaket. Ia mengambil tas, tetapi tangannya berhenti di atas meja.

Amplop itu masih terbuka. Tidak ada alamat. Tidak ada perangko.

Ibunya telah menulis surat itu, menyebut namanya, memberinya petunjuk tentang Sari dan ayahnya, lalu menyimpannya begitu saja.

Surat itu sengaja tidak pernah dikirim kepadanya.

Raka menatap tulisan tangan di bagian depan sampai huruf-hurufnya tampak bergetar.

“Kenapa, Bu?” suaranya pecah.

Tidak ada jawaban, hanya hujan dan bunyi air yang perlahan naik di bawah pintu.

Ia membuka pintu kantor lama. Petugas berdiri di lorong dengan wajah tegang.

“Kereta berikutnya baru pagi,” kata lelaki itu. “Kalau mau keluar, saya bisa antar ke ruang tunggu.”

Raka menggenggam surat di saku. “Saya tidak jadi pergi pagi ini.”

Petugas itu mengerutkan kening. “Tadi katanya harus pergi malam ini.”

“Sekarang saya harus mencari seseorang.”

“Di tengah banjir?”

Raka menoleh ke arah jendela. Di balik kaca buram, stasiun tampak tenggelam dalam warna hitam dan kuning. Untuk pertama kalinya sejak ibunya dimakamkan, ia merasakan sesuatu selain kosong. Bukan harapan. Belum. Hanya luka yang baru menemukan arah.

“Ya,” katanya. “Di tengah banjir.”

Petugas itu menggeleng, mengira Raka sedang tidak waras. Mungkin memang begitu.

Raka menyelipkan surat itu lebih dalam ke saku dan melangkah menuju ruang tunggu. Ia tidak lagi mencari cara untuk menghilang. Kini ia memiliki nama untuk dikejar, alamat yang mungkin sudah tidak berlaku, dan satu pertanyaan tentang ayahnya yang selama bertahun-tahun dikubur bersama kebohongan ibunya.

Di luar, kereta terakhir tetap tertahan di kegelapan.

Raka berdiri di stasiun yang banjir, mendengarkan hujan menghapus jejak-jejak di peron, sementara surat yang tak pernah dikirim itu menempel dingin di dadanya.

End of chapter one. 4 more chapters and about 10,217 words in the full book.

1 / 8

Swipe or use the arrows to turn the page

What's inside: 5 chapters

  1. 1. Hujan di Stasiun Terakhir
  2. 2. Nama di Balik Surat
  3. 3. Rumah yang Terkunci
  4. 4. Catatan yang Disembunyikan
  5. 5. Kebakaran di Balai Warga

About this book

"Di Ambang Kegelapan" is a fiction book by Anonymous with 5 chapters and approximately 10,217 words. Seseorang yang kehilangan banyak hal mencari makna hidup hingga terjerumus dalam kegelapan.

This book was created using Inkfluence AI, an AI-powered book generation platform that helps authors write, design, and publish complete books. It was made with the AI Novel Writer.

Frequently Asked Questions

What is "Di Ambang Kegelapan" about?

Seseorang yang kehilangan banyak hal mencari makna hidup hingga terjerumus dalam kegelapan

How many chapters are in "Di Ambang Kegelapan"?

The book contains 5 chapters and approximately 10,217 words. Topics covered include Hujan di Stasiun Terakhir, Nama di Balik Surat, Rumah yang Terkunci, Catatan yang Disembunyikan, and more.

Who wrote "Di Ambang Kegelapan"?

This book was written by Anonymous and created using Inkfluence AI, an AI book generation platform that helps authors write, design, and publish books.

How can I create a similar fiction book?

You can create your own fiction book using Inkfluence AI. Describe your idea, choose your style, and the AI writes the full book for you. It's free to start.

Write your own fiction book with AI

Describe your idea and Inkfluence writes the whole thing. Free to start.

Start writing

Created with Inkfluence AI