After Black Dust
Fiction

After Black Dust

by Anonymous · 2026-10-05

A soldier conceals his post-traumatic wounds after a Russian ambush

5 chapters 9,374 words ~37 min read Indonesian

Read the first chapter

The whole of chapter one, free. About 7 min. Turn the pages with the arrows, your keyboard, or a swipe.

Chapter 1

Debu di Barak Pemulihan

Baki logam itu belum jatuh ketika Vin sudah menoleh.

Ia baru melewati pintu klinik militer, masih mengenakan seragam lapangan yang kaku oleh debu Rusia, ketika seorang perawat di ujung lorong menjatuhkan nampan. Bunyi logam beradu dengan lantai memantul di dinding putih - tajam, pendek, dan terlalu mirip dengan suara pecahan artileri yang meledak beberapa meter darinya di tengah Operasi Black Dust.

Vin meraih sisi pintu.

“Pagi,” katanya, seolah-olah lorong itu tidak baru saja berubah menjadi medan perang. “Ada yang pesan sarapan atau cuma mau membunuh pasien?”

Perawat itu menatapnya sebentar, lalu buru-buru memungut baki. Vin melepaskan pintu dan tersenyum. Jari-jarinya masih menegang.

Di belakangnya, dua prajurit yang baru turun dari kendaraan membawa tas medis. Salah satu dari mereka melirik noda hitam di lengan seragam Vin.

“Pvt Vin?” tanya seorang petugas.

“Kalau ada yang lain, saya bersedia bertukar nama.”

“Pemeriksaan awal. Ruang tiga.”

Vin menunjuk ke lorong yang dipenuhi ranjang dorong, petugas medis, dan pintu-pintu yang membuka lalu menutup tanpa pola. “Ruang tiga itu yang pintunya tidak berbunyi seperti ledakan, kan?”

Petugas itu tidak tertawa.

“Ruang tiga.”

“Baik. Saya suka tempat yang tegas.”

Vin berjalan. Sepatu botnya menghantam lantai dengan bunyi teratur, tetapi setiap pintu yang dibanting membuat bahunya tersentak kecil. Ia menutupinya dengan memutar leher, seolah hanya sedang mencari sesuatu yang hilang.

Ia hanya perlu melewati pemeriksaan. Setelah itu kembali ke barak pemulihan, mengambil ranjang, mandi, dan memastikan tidak ada seorang pun yang menulis kata tidak layak bertugas di berkasnya.

Sederhana.

Tubuhnya tampaknya tidak mendapat memo.

Di ruang tiga, seorang dokter militer menunggu dengan papan catatan di tangan. Vin duduk di ranjang pemeriksaan. Pegasnya mengeluh di bawah tubuhnya.

“Nama?”

“Pvt Vin. Tapi kalau ini penagihan utang, saya tidak pernah tinggal di alamat itu.”

Dokter itu mengangkat mata. “Keluhan.”

“Tidak ada.”

“Ledakan artileri dekat posisi Anda.”

“Dekat itu relatif. Kalau dibandingkan dengan bulan, cukup jauh.”

“Vin.”

Suara itu datang dari pintu.

Marston berdiri di sana dengan seragam lapangan yang masih kusut, satu tangan memegang radio, tangan lain menyilang di dada. Wajahnya tampak seperti baru saja berkelahi dengan tiga orang dan kalah hanya karena kehabisan waktu.

Vin tersenyum lebih lebar. “Wah. Penggemar saya datang.”

“Aku datang memastikan kau tidak mengaku kebal peluru di depan dokter.”

“Belum pernah mengaku begitu.”

“Kau pernah menembak tiga pemberontak sambil berkata kau sedang menguji teori tentang gravitasi.”

“Dan teorinya terbukti.”

“Duduk diam.”

“Aku memang sedang duduk.”

“Jangan membuatku menjelaskan konsep diam.”

Dokter memeriksa pupil Vin dengan lampu kecil. Cahaya putih menusuk matanya. Sesaat ruangan itu menghilang, digantikan kilatan api di salju Rusia, tanah yang terangkat, dan suara Marston dari radio.

Tetap bergerak.

Vin menarik napas melalui hidung.

Tetap bergerak, Vin.

“Pusing?” tanya dokter.

“Tidak. Lampunya yang agresif.”

“Jawab serius.”

“Tidak.”

Marston mendengus. “Dia pusing.”

Vin menoleh. “Aku tidak meminta bantuan dari menara pengawas.”

“Kau hampir mati tiga jam lalu.”

“Kalau hampir mati dihitung sebagai keluhan, semua prajurit di sini harus mengisi formulir panjang.”

Dokter menyentuh sisi kepala Vin yang dibalut tipis. Nyeri menjalar sampai rahang. Vin mengatupkan gigi, lalu menguap dengan sengaja.

“Luka di kepala,” kata dokter. “Memar dada. Kemungkinan gegar ringan. Ada denging?”

“Kalau maksud Anda suara menjengkelkan, itu Marston.”

Marston melangkah masuk. “Aku bisa membuatnya lebih keras.”

“Lihat? Gangguan pendengaran buatan.”

Dokter menulis sesuatu. “Anda akan dipindahkan ke barak pemulihan selama observasi.”

Vin langsung duduk lebih tegak. “Observasi berapa lama?”

“Setidaknya dua hari.”

“Dua hari? Saya punya reputasi yang harus dirawat.”

“Reputasimu bisa menunggu,” kata Marston.

Vin menatap papan catatan dokter. “Saya baik-baik saja. Bisa kembali bertugas.”

“Bukan keputusanmu,” kata dokter.

“Kalau begitu, saya akan mengajukan banding.”

“Kepada siapa?”

Vin berpikir. “Kepada orang yang paling tampan di pangkalan.”

Marston mengangkat alis. “Kau mau mengajukan banding kepadaku?”

“Jangan terlalu berharap.”

Dokter menutup papan catatan. “Barak pemulihan. Tidak ada latihan berat. Tidak ada lapangan tembak. Tidak ada tugas operasional.”

Kalimat terakhir jatuh lebih berat daripada yang seharusnya.

Vin turun dari ranjang. Lututnya hampir kehilangan tenaga ketika telapak kakinya menyentuh lantai. Ia mengubah gerakan itu menjadi langkah malas, lalu mengambil jaketnya dari kursi.

“Aku cuma perlu tempat tidur,” katanya.

Marston mengikutinya keluar. “Kau perlu lebih dari itu.”

“Aku juga perlu sarapan. Prioritas.”

Lorong lebih ramai sekarang. Roda ranjang berderit. Sepatu berlari. Sebuah pintu di sebelah kanan terbanting karena seseorang mendorongnya terlalu keras.

Vin berhenti.

Bukan sepenuhnya. Hanya sepersekian detik. Cukup lama bagi tubuhnya untuk mengingat tanah yang terbelah, tekanan panas di tulang rusuk, dan radio yang terlempar dari tangannya.

Vin, jawab.

Ia mendengar suara Marston dari masa lalu, jernih di antara denging telinganya.

Vin, jawab!

“Kalau kau pingsan,” kata Marston di sebelahnya, “aku akan menyeretmu kembali ke ruang pemeriksaan.”

Vin berkedip. Lorong kembali menjadi lorong.

“Aku sedang mengagumi arsitektur.”

“Arsitekturnya ada di depan. Kau menatap pintu.”

“Pintu itu punya masa depan cerah.”

Marston menangkap lengannya ketika Vin hendak berjalan. Genggamannya kuat, tetapi tidak kasar. “Kau terluka.”

“Terima kasih. Aku baru sadar setelah ditembak.”

“Kau tidak ditembak.”

“Jadi aku masih bisa mengeluh dengan bebas.”

Marston melepaskan tangannya. “Jangan jauh-jauh.”

“Takut aku kabur?”

“Takut kau masuk ruang operasi dan mengaku sebagai dokter.”

“Itu pernah berhasil.”

“Tidak.”

“Benar juga. Aku gagal karena terlalu tampan.”

Mereka keluar dari klinik menuju bangunan barak pemulihan. Udara pagi menggigit kulit yang terbuka. Vin menarik napas, tetapi dadanya terasa sempit. Di halaman, kendaraan militer menyalakan mesin. Suara berat itu bergulung di antara bangunan.

Tubuh Vin menegang lagi.

Ia memandang kendaraan itu. Asap tipis keluar dari knalpot. Roda belakangnya berputar sedikit, menggesek kerikil.

Marston memperhatikan wajahnya.

“Jangan,” kata Vin.

“Aku belum berkata apa-apa.”

“Wajahmu sudah berkata banyak. Wajahmu selalu berisik.”

“Kalau begitu dengarkan. Kau tidak perlu pura-pura di depanku.”

Vin memasukkan tangan ke saku. Kain seragam bergesekan dengan perban di rusuknya. “Aku tidak pura-pura.”

“Tidak? Kau bercanda setiap kali sakit.”

“Karena kalau aku menangis, kau akan merasa canggung.”

“Aku tidak akan merasa canggung.”

“Kau akan berdiri di sana dengan wajah seperti ingin menembak perasaan.”

Marston menatapnya lama. “Masuk ke barak.”

Vin tersenyum, tetapi kali ini senyumnya tidak sampai ke mata. “Perintah yang indah.”

Barak pemulihan berada di bangunan rendah di belakang klinik. Ruangannya panjang, dipenuhi ranjang besi, loker, dan jendela tinggi yang kacanya buram. Beberapa prajurit sudah berada di sana. Ada yang tidur, ada yang membaca, dan ada yang bermain kartu dengan satu tangan karena tangan lainnya digips.

Ketika Vin masuk, seorang prajurit di ranjang dekat jendela bersiul.

“Pahlawan Black Dust!”

Vin mengangkat dua jari. “Tanda tangan nanti. Satu per orang.”

“Kau kelihatan seperti mayat.”

“Mayat yang sangat tampan.”

Marston menyerahkan berkas kepada petugas jaga. “Ranjang tujuh.”

Vin melihat ranjang itu. Letaknya dekat pintu.

“Ranjang tujuh?” katanya. “Aku meminta yang dekat jendela.”

“Kau tidak meminta apa-apa.”

“Aku meminta dalam hati.”

“Dalam hati tidak tercatat.”

Ranjang tujuh berada tepat di bawah lampu yang berkedip. Pintu masuk terbuka ke lorong, dan setiap suara dari luar masuk tanpa izin. Vin meletakkan tasnya di atas kasur tipis.

Ia ingin tidur. Ia ingin menutup mata dan bangun ketika semua suara kembali menjadi suara biasa. Ia ingin membuktikan bahwa ledakan itu hanya satu kejadian, bukan sesuatu yang ikut pulang bersamanya.

Marston berdiri di ujung ranjang.

“Dua hari,” katanya.

“Dua hari apa?”

“Jangan menyelinap keluar.”

“Kalau aku menyelinap dengan sangat elegan?”

“Aku akan mengikatmu ke ranjang.”

Prajurit di ranjang sebelah menoleh. “Itu terdengar seperti ancaman.”

“Itu janji,” kata Marston.

Vin menekan telapak tangan ke dada. “Aku tersentuh. Secara harfiah juga, rusukku sakit.”

Marston menatap perbannya, lalu mengalihkan pandangan. “Ganti balutan sebelum malam.”

“Ya, Ibu.”

“Panggil aku begitu sekali lagi dan kau akan makan melalui sedotan.”

“Romantis sekali.”

Marston berbalik hendak pergi.

“Marston.”

Langkahnya berhenti.

Vin tidak tahu mengapa ia memanggil. Mungkin karena radio yang tergantung di pinggang Marston mengingatkannya pada suara yang menuntunnya keluar dari reruntuhan. Mungkin karena ruangan itu terlalu terang. Mungkin karena untuk pertama kalinya sejak ledakan, ia tidak yakin bisa mempercayai tubuhnya sendiri.

“Kalau ada pemeriksaan lanjutan,” kata Vin, “bilang kepada mereka aku sudah pulih.”

Marston menoleh. “Kau ingin aku berbohong?”

“Aku ingin kau menggunakan bakatmu.”

“Bakatku adalah membuatmu tetap hidup.”

“Jadi memang bakat.”

Marston memandangnya dengan kesal yang terlalu lama untuk disebut sekadar kesal. “Kau tidak akan kembali bertugas sebelum dokter menyatakan kau layak.”

Vin membuka mulut untuk membalas, tetapi suara baki logam jatuh dari meja petugas di dekat pintu.

Dentangnya memecah ruangan.

Tubuh Vin bergerak lebih cepat daripada pikirannya. Ia menunduk, satu tangan mencengkeram sisi ranjang, tangan lainnya menutupi kepala. Napasnya terputus. Lampu di atasnya berubah menjadi kilatan putih. Bau debu, panas, dan logam memenuhi hidungnya.

Seseorang berteriak, “Vin?”

Ia tidak mendengar siapa.

Radio Marston mendesis.

Vin, jawab.

Ia tahu ia berada di barak. Ia tahu lantainya tidak sedang runtuh. Ia tahu tidak ada artileri yang jatuh dari langit.

Namun lututnya tetap terkunci. Jarinya mencengkeram besi ranjang sampai buku-bukunya memutih.

Ruangan perlahan kembali. Wajah-wajah menatapnya. Prajurit yang tadi bersiul kini berdiri setengah dari ranjangnya. Petugas jaga memegang baki yang jatuh.

Marston berada di depannya.

“Vin.”

“Aku baik-baik saja,” kata Vin.

Suaranya keluar terlalu cepat.

Marston tidak menjawab.

Vin mencoba tersenyum. Sudut bibirnya bergerak, tetapi wajahnya tidak menurut. Di luar, sebuah kendaraan melintas dan membuat kaca jendela bergetar.

Ia menunggu tubuhnya tenang.

Tubuhnya tidak menurut.

Marston berjongkok di depannya, cukup dekat untuk menghalangi pandangan orang lain. “Lihat aku.”

Vin menatapnya.

“Tarik napas.”

“Aku sedang - ”

“Jangan bercanda.”

Kalimat itu lebih keras daripada bentakan, dan entah bagaimana justru membuat Vin menarik napas. Udara masuk dengan kasar, menggores dadanya. Ia menarik lagi. Kali ini sedikit lebih dalam.

Marston tetap di sana sampai tangan Vin melepaskan besi ranjang.

Baru setelah itu Vin menyadari sesuatu yang membuat tengkuknya dingin.

Ia bisa menyembunyikan perban. Ia bisa menyembunyikan nyeri. Ia bisa menertawakan dokter, membohongi petugas, bahkan mengganggu Marston sampai semua orang mengira ia masih sama.

Tetapi tubuhnya baru saja mengkhianatinya di depan satu barak penuh saksi.

Vin menelan ludah dan memaksakan senyum kecil.

“Jangan khawatir,” katanya. “Aku cuma sedang menyapa masa lalu.”

Marston tidak tersenyum.

Di luar, pintu lain terbanting.

Kali ini Vin tidak bergerak. Namun napasnya berhenti, dan Marston melihatnya.

End of chapter one. 4 more chapters in the full book.

1 / 8

Swipe or use the arrows to turn the page

What's inside: 5 chapters

  1. 1. Debu di Barak Pemulihan
  2. 2. Lelucon di Ruang Radio
  3. 3. Tembakan yang Terlalu Nyaring
  4. 4. Catatan yang Disembunyikan
  5. 5. Alarm di Tengah Malam

About this book

"After Black Dust" is a fiction book by Anonymous with 5 chapters and approximately 9,374 words. A soldier conceals his post-traumatic wounds after a Russian ambush.

This book was created using Inkfluence AI, an AI-powered book generation platform that helps authors write, design, and publish complete books. It was made with the AI Novel Writer.

Frequently Asked Questions

What is "After Black Dust" about?

A soldier conceals his post-traumatic wounds after a Russian ambush

How many chapters are in "After Black Dust"?

The book contains 5 chapters and approximately 9,374 words. Topics covered include Debu di Barak Pemulihan, Lelucon di Ruang Radio, Tembakan yang Terlalu Nyaring, Catatan yang Disembunyikan, and more.

Who wrote "After Black Dust"?

This book was written by Anonymous and created using Inkfluence AI, an AI book generation platform that helps authors write, design, and publish books.

How can I create a similar fiction book?

You can create your own fiction book using Inkfluence AI. Describe your idea, choose your style, and the AI writes the full book for you. It's free to start.

Write your own fiction book with AI

Describe your idea and Inkfluence writes the whole thing. Free to start.

Start writing

Created with Inkfluence AI