Read the first chapter
The whole of chapter one, free. About 6 min. Turn the pages with the arrows, your keyboard, or a swipe.
Chapter 1
Peta Rahasia di Gua Lumut
Aqila mengangkat lentera kecil lebih tinggi. Cahaya kuningnya menari di dinding Gua Lumut, menyinari lumut hijau yang lembut seperti karpet. Tetes air jatuh dari langit-langit gua dengan bunyi tik, tik, tik.
“Jangan terlalu jauh,” kata Aqila. “Kita harus menemukan jalan keluar sebelum hari gelap.”
Alwi berjalan di belakangnya sambil membawa tas kecil. Fatar memegang seutas tali yang menghubungkan mereka berempat. Wafa berjalan paling belakang. Ia sesekali menyentuh dinding gua yang dingin dan basah.
“Aku masih bisa melihat jejak sepatu kita,” ujar Wafa.
Aqila menoleh. “Bagus. Kalau tersesat, kita bisa mengikuti jejak itu.”
Mereka sudah masuk cukup jauh ke dalam gua. Di luar, matahari pasti mulai turun. Aqila membayangkan halaman rumah yang hangat dan minuman manis yang mungkin sudah disiapkan. Ia ingin cepat pulang, tetapi ia juga ingin memastikan semua temannya pulang bersama.
Tiba-tiba ujung sepatu Alwi menyentuh sesuatu.
“Eh, ada benda di sini!” serunya.
Alwi berjongkok dan mengambil sebuah kertas yang terlipat. Kertas itu kusam dan basah di bagian tepinya. Ada gambar garis-garis berbelok, tanda silang, dan beberapa bentuk yang belum mereka pahami.
Fatar mendekat. “Itu peta!”
Aqila menerima kertas itu dengan hati-hati. Bau tanah dan air menempel pada kertas. Di sudutnya ada gambar kecil seperti lonceng.
“Peta gua,” kata Aqila. “Mungkin ini bisa membantu kita keluar.”
“Lihat,” kata Wafa sambil menunjuk garis biru di tengah peta. “Ada sungai.”
Aqila mengusap garis itu dengan jarinya. Garis biru tersebut berkelok menuju tanda lonceng. Di sisi lain, ada gambar pintu kecil dan beberapa anak panah.
“Kita cari jalan yang paling dekat dengan pintu,” kata Aqila.
Mereka mengikuti peta. Lorong di depan bercabang menjadi dua. Cabang kiri lebih lebar, tetapi lantainya penuh genangan. Cabang kanan sempit dan dipenuhi akar kecil.
Aqila melihat peta. “Menurut gambar, kita harus ke kiri.”
Mereka melangkah pelan. Sepatu mereka berbunyi cipak-cipak di atas lantai yang licin. Alwi hampir terpeleset, tetapi Fatar segera memegang lengannya.
“Terima kasih,” kata Alwi.
“Sama-sama. Pegang talinya lebih kuat,” jawab Fatar.
Beberapa langkah kemudian, lorong itu berakhir di dinding batu.
“Buntu,” kata Wafa.
Aqila menatap peta. Tanda panah di sana jelas mengarah ke kiri. Ia melihat sekeliling. Tidak ada pintu. Tidak ada celah. Hanya batu basah dan lumut tebal.
“Kita coba kembali,” kata Aqila.
Mereka berbalik. Saat tiba di percabangan, Aqila berhenti. Ia melihat peta lagi, lalu melihat cabang kanan.
“Sepertinya aku salah membaca tanda,” katanya pelan.
Alwi menatapnya. “Tidak apa-apa. Kita bisa mencoba jalan yang lain.”
Aqila merasa pipinya hangat. Ia ingin selalu tahu jawaban, terutama karena teman-temannya mengikutinya. Namun, peta itu ternyata tidak mudah dibaca.
“Memimpin bukan berarti harus selalu benar,” ujar Wafa. “Yang penting kita mau melihat lagi.”
Aqila tersenyum kecil. “Baik. Kita periksa bersama.”
Mereka duduk di dekat dinding yang kering. Aqila membentangkan peta. Fatar menerangi bagian bawahnya dengan lentera. Alwi mencari tanda-tanda kecil, sementara Wafa memperhatikan arah tetesan air.
“Dengar,” kata Wafa.
Mereka semua diam. Dari balik lorong kanan terdengar suara gemericik.
“Air,” kata Alwi.
Aqila memeriksa peta. Garis biru yang tadi mereka lihat ternyata dimulai dari cabang kanan dan berbelok ke bawah tanda lonceng.
“Jalan ini menuju sungai bawah tanah,” kata Aqila. “Mungkin ada jalan keluar di dekat sungai.”
“Kalau begitu, kita ikuti suara air,” kata Fatar.
Lorong kanan lebih sempit. Mereka berjalan satu per satu. Dindingnya menyentuh bahu mereka. Udara terasa lebih dingin. Bau tanah basah semakin kuat.
Aqila berjalan paling depan. Ia menempelkan telapak tangan ke dinding untuk menjaga keseimbangan. Di beberapa tempat, lumut terasa licin seperti sabun. Ia melangkah pendek-pendek agar tidak jatuh.
“Pelan-pelan,” katanya. “Jangan melepas tali.”
“Aku masih memegangnya,” kata Wafa dari belakang.
Tiba-tiba tali itu tertarik. Aqila berhenti.
“Kenapa?” tanyanya.
“Ujungku tersangkut akar,” jawab Wafa.
Fatar kembali beberapa langkah. Ia mengangkat akar yang melintang, lalu membantu Wafa melewatinya. Tidak lama kemudian, mereka semua berkumpul lagi.
“Terima kasih,” kata Wafa.
“Kita satu kelompok,” kata Fatar. “Tidak boleh ada yang tertinggal.”
Suara air semakin jelas. Gemericiknya berubah menjadi suara yang lebih besar. Di depan, lorong membuka menjadi ruang luas. Cahaya kebiruan memantul di dinding batu.
Aqila melangkah keluar dari lorong dan berhenti.
Di bawah mereka mengalir sungai bawah tanah. Airnya jernih dan bergerak cepat di antara batu-batu bulat. Uap tipis naik dari permukaannya. Di seberang sungai tampak jalan kecil yang menanjak. Di atas jalan itu, peta menunjukkan tanda lonceng.
“Jadi, peta ini benar,” kata Alwi.
Aqila mengangguk, tetapi matanya tertuju pada sungai. Mereka sudah menemukan arah baru, namun jalan pulang berada di sisi lain.
Fatar mendekati tepi air. “Kita bisa menyeberang?”
Aqila mengamati arus. Air tidak tampak dalam, tetapi bergerak cepat. Beberapa batang kayu kecil hanyut melewati mereka.
“Jangan masuk dulu,” kata Aqila. “Kita harus mencari tempat yang lebih aman.”
Mereka berjalan menyusuri tepi sungai. Batu-batu di bawah kaki terasa licin. Aqila menggunakan ujung tongkat kecil untuk menguji setiap pijakan. Alwi membawa lentera dekat ke tanah. Wafa terus memegang tali.
Di tikungan sungai, mereka menemukan tepian yang lebih lebar. Ada beberapa batang kayu kering tersusun di dekat dinding. Sebagian besar masih kokoh.
Fatar mengangkat satu batang. “Kita bisa membuat rakit.”
Aqila memandang kayu-kayu itu, lalu memandang arus. Ia teringat tujuan mereka. Mereka harus keluar sebelum gelap. Namun, menyeberangi sungai juga membutuhkan hati-hati.
“Kita belum perlu menyeberang sekarang,” kata Aqila. “Kita cari dulu apakah ada jalan di tepi sungai.”
Mereka berjalan lagi. Tepi sungai semakin sempit. Dinding batu berada di satu sisi, sementara air mengalir di sisi lain. Setelah beberapa langkah, jalan itu berakhir di batu besar.
Aqila membuka peta. Di sana, garis biru terus menuju tanda lonceng. Tidak ada garis lain.
“Tidak ada jalan darat,” katanya.
Alwi memandang ke belakang. “Kalau kita kembali, kita masih harus melewati lorong bercabang.”
“Dan hari mulai gelap,” tambah Wafa.
Aqila menggenggam peta. Ia tidak ingin teman-temannya menunggu tanpa arah. Ia juga tidak ingin membuat keputusan terburu-buru.
“Kita sudah menemukan sungai,” kata Aqila. “Itu berarti kita tidak lagi benar-benar tersesat. Sekarang kita perlu memilih tempat yang aman untuk menunggu atau mencari cara menyeberang.”
Fatar menunjuk ke arah hulu. “Lihat! Ada batu datar di sana. Mungkin kita bisa melihat jalan dari tempat itu.”
Mereka kembali sedikit. Aqila berjalan paling depan, tetapi kali ini ia meminta semua orang memeriksa langkah bersama.
“Batu ini aman?” tanyanya.
“Aman,” jawab Alwi setelah mengetuknya dengan tongkat.
“Yang itu licin,” kata Wafa.
Mereka bergerak perlahan. Kerja sama itu membuat perjalanan terasa lebih mudah. Tidak lama kemudian, mereka sampai di sebuah batu datar yang menjorok ke tepi sungai. Dari sana, mereka dapat melihat jalur kecil di seberang.
“Jalurnya menuju tanda lonceng,” kata Aqila.
Di balik sungai, sebuah benda bulat menggantung pada tiang kayu. Bentuknya seperti lonceng yang digambar di peta. Benda itu diam, tetapi sinar lentera membuat permukaannya berkilau.
“Berarti kita harus ke sana,” ujar Fatar.
Aqila mengangguk. Ia melipat peta dan menyimpannya di dalam tas agar tidak semakin basah.
Mereka mulai mencari kayu untuk membuat rakit. Alwi mengumpulkan batang yang pendek. Fatar menemukan tali tanaman yang kuat. Wafa membawa potongan kulit kayu yang lebar untuk alas.
Aqila menyusun semuanya di tepi sungai. Mereka belum selesai, tetapi tiba-tiba terdengar bunyi air yang lebih deras dari arah belakang. Arus sungai naik sedikit dan menyentuh batu tempat mereka berdiri.
“Ke tepi yang lebih tinggi!” seru Aqila.
Mereka bergerak cepat. Fatar menarik Alwi, sementara Wafa memegang tali yang menghubungkan mereka. Aqila naik ke batu yang lebih tinggi dan membantu Wafa sampai di atas.
Tidak ada yang terluka. Mereka hanya duduk sebentar sambil mengatur napas. Air mengalir lebih deras di bawah mereka, membawa daun-daun kecil ke arah tikungan.
Aqila melihat jalan pulang di belakang. Jalan itu masih ada, tetapi sungai kini berada di antara mereka dan jalur tersebut. Di depan, tanda lonceng menunggu di seberang.
“Kita berhasil menemukan jalan ke tepi sungai,” kata Aqila. “Tetapi arus memisahkan kita dari jalur pulang.”
Alwi menatap peta. “Jadi, kita harus menyeberang bersama.”
“Bersama,” ulang Wafa.
Fatar mengangguk. “Kita bisa membuat rakit. Kita tidak akan terburu-buru.”
Aqila memandang ketiga temannya. Rasa ragu masih ada, tetapi kini ia tidak merasa sendirian. Mereka sudah menemukan arah baru dengan saling membantu.
Ia berdiri dan mengambil sebatang kayu.
“Baik,” kata Aqila. “Kita buat rakit dengan hati-hati, lalu mencari jalan menuju lonceng.”
Di bawah mereka, sungai terus mengalir dengan suara jernih. Mereka duduk di tepi yang aman, menyusun kayu dan tali bersama-sama, sementara cahaya lentera menjaga ruang kecil itu tetap hangat.
Aqila belajar bahwa keberanian tumbuh ketika teman-teman saling menjaga dan berani mengakui kesalahan.
End of chapter one. 4 more chapters and about 7,088 words in the full book.
Swipe or use the arrows to turn the page
What's inside: 5 chapters
- 1. Peta Rahasia di Gua Lumut
- 2. Rakit Bambu untuk Menyeberang
- 3. Siapa Membunyikan Lonceng?
- 4. Pintu Air di Lembah
- 5. Pulang Lewat Bukit Pelangi
About this book
"The Four Young Adventurers" is a children's book by Anonymous with 5 chapters and approximately 7,088 words. Four children embark on an adventure together.
This book was created using Inkfluence AI, an AI-powered book generation platform that helps authors write, design, and publish complete books. It was made with the AI Children's Book Creator.
Frequently Asked Questions
What is "The Four Young Adventurers" about?
Four children embark on an adventure together
How many chapters are in "The Four Young Adventurers"?
The book contains 5 chapters and approximately 7,088 words. Topics covered include Peta Rahasia di Gua Lumut, Rakit Bambu untuk Menyeberang, Siapa Membunyikan Lonceng?, Pintu Air di Lembah, and more.
Who wrote "The Four Young Adventurers"?
This book was written by Anonymous and created using Inkfluence AI, an AI book generation platform that helps authors write, design, and publish books.
How can I create a similar children's book?
You can create your own children's book using Inkfluence AI. Describe your idea, choose your style, and the AI writes the full book for you. It's free to start.
Write your own children's book with AI
Describe your idea and Inkfluence writes the whole thing. Free to start.
Start writingCreated with Inkfluence AI