Closer Than She Should Be
Fiction

Closer Than She Should Be

by Cacaa Cacaa · 2026-10-06

A woman grows overly close to someone else's boyfriend

5 chapters 9,844 words ~39 min read Indonesian

Read the first chapter

The whole of chapter one, free. About 8 min. Turn the pages with the arrows, your keyboard, or a swipe.

Chapter 1

Sapaan Hangat di Pesta Hujan

Lampu-lampu kecil di sepanjang pagar teras berkedip setiap kali angin membawa percikan hujan ke lantai marmer. Nara baru saja menutup payung ketika melihat Dimas berdiri di dekat meja minuman, satu tangan memegang gelas soda, tangan lainnya melingkar santai di pinggang Laras.

Ia berhenti sebelum sempat melangkah lebih jauh.

“Jangan bilang kamu mau kabur,” suara Rani terdengar dari belakangnya.

Nara menoleh dan tersenyum. “Aku baru datang.”

“Wajahmu seperti baru melihat pengumuman PHK.”

“Lebay.” Nara merapikan ujung blusnya yang terkena air. “Aku cuma kaget Dimas datang.”

“Dimas datang bersama pacarnya,” bisik Rani, seolah sedang menyampaikan berita penting. “Laras, kan?”

Nara mengangguk. Ia sudah pernah melihat Laras di foto-foto yang kadang muncul di layar ponsel Dimas ketika mereka bekerja lembur. Perempuan itu berambut sebahu, mengenakan gaun biru tua yang sederhana, dan kini sedang tertawa mendengar sesuatu yang dibisikkan Dimas ke telinganya.

Dimas mengangkat kepala.

Pandangan mereka bertemu.

Senyumnya langsung berubah - lebih lebar, lebih ringan, seperti ia baru menemukan seseorang yang memang ditunggunya di tengah keramaian.

“Nara!”

Beberapa kepala menoleh. Rani menyenggol lengannya.

“Pergi,” katanya. “Kalau kamu diam saja, malah kelihatan aneh.”

Nara menarik napas pendek, lalu berjalan mendekat. Musik dari dalam ruangan terdengar samar di balik pintu kaca, bercampur dengan suara hujan yang memukul kanopi. Teras itu sempit dan penuh orang. Bahu-bahu saling bersentuhan, kursi didorong ke sudut, sementara pelayan berusaha menyelip di antara tamu dengan nampan berisi gelas.

“Hai,” kata Nara.

Dimas langsung menepuk ringan bahunya. “Kamu akhirnya datang juga.”

“Memangnya kamu menunggu?”

“Sudah dari tadi.”

Laras menoleh kepadanya dengan senyum sopan. “Hai, Nara. Aku Laras.”

“Nara.” Ia menjabat tangan Laras. Telapak tangan perempuan itu dingin dan kering. “Aku sering dengar namamu dari Dimas.”

“Semoga yang baik-baik.”

“Sebagian besar,” jawab Dimas cepat.

Nara tertawa, begitu pula Laras, tetapi tawa Laras terdengar lebih singkat. Dimas menatap Nara seakan menunggu reaksinya.

“Sebagian besar?” Nara mengulang.

“Kalau semua baik, nanti kamu besar kepala.”

“Padahal kamu yang paling sering minta bantuan.”

“Karena kamu memang paling bisa diandalkan.”

Kalimat itu meluncur begitu saja, tetapi setelahnya Nara merasakan sesuatu yang hangat bergerak di dadanya. Laras berdiri tepat di samping Dimas. Seharusnya pujian itu terdengar biasa. Namun Dimas mengatakannya sambil menatap Nara, dengan nada yang sudah akrab, seperti mereka sedang melanjutkan percakapan yang tertunda.

Rani memanggil dari dekat meja makanan. “Nara, sini! Ada sate yang belum habis!”

Nara menoleh, lalu kembali melihat Dimas. “Aku ke sana dulu.”

“Jangan jauh-jauh,” kata Dimas. “Nanti aku nggak punya teman ngobrol.”

Laras tersenyum, tetapi matanya berpindah dari Dimas ke Nara.

Nara mengikuti Rani ke sisi lain teras. Ia mengambil tusuk sate, menggigit sedikit, lalu menyadari dirinya tidak benar-benar merasakan bumbunya.

“Jangan terlalu kelihatan,” kata Rani pelan.

“Apa?”

“Cara kamu melihat dia.”

“Aku cuma menyapa teman kantor.”

“Teman kantor yang tahu kamu tidak suka ketumbar dan selalu menyimpan permen jahe di laci?”

Nara mengerutkan dahi. “Dia pernah lihat aku makan.”

“Dan kamu tahu dia selalu pusing kalau kurang tidur.”

“Itu bukan rahasia.”

“Buat pacarnya mungkin.”

Nara melirik ke arah Dimas. Ia sedang menuangkan minuman untuk Laras. Ketika Laras mengatakan sesuatu, Dimas menoleh sejenak ke arah Nara, seolah memastikan ia masih di sana.

Nara segera mengalihkan pandangan.

“Aku cuma mau menikmati pesta,” katanya.

“Bagus. Nikmati.”

“Aku serius.”

“Kalau begitu, jangan berdiri di sini sambil menghitung berapa kali Dimas melihatmu.”

Nara hendak membalas, tetapi suara petir menggelegar di atas gedung. Beberapa tamu berseru kecil. Angin mendorong tirai plastik di ujung teras hingga berkibar dan memercikkan air ke lantai.

Seorang pelayan meminta tamu bergeser karena bagian dekat pintu mulai bocor. Kerumunan bergerak serempak. Nara terdorong ke samping, bahunya menabrak seseorang, dan gelas di tangannya hampir terlepas.

Dimas menangkap pergelangan tangannya.

“Hati-hati.”

“Aku tidak apa-apa.”

“Laras, masuk saja dulu,” katanya kepada pacarnya. “Di sini makin penuh.”

Laras memandang ruang di balik pintu kaca. “Kamu ikut?”

“Sebentar. Nara tadi hampir jatuh.”

“Aku nggak jatuh,” sela Nara.

Dimas masih memegang pergelangan tangannya. Jemarinya hangat, sementara kulit Nara terasa dingin karena hujan yang menempel di lengan.

Laras menatap tangan mereka sebelum kembali menatap wajah Dimas. “Aku ambilkan tempat.”

Ia masuk tanpa menunggu jawaban.

Dimas baru melepaskan tangan Nara setelah Laras menghilang di balik pintu.

“Dia kelihatan tidak suka,” kata Nara.

“Laras memang begitu kalau capek.”

“Kamu yakin?”

“Yakin. Aku lebih tahu.”

Nara menahan senyum. “Bukannya aku yang lebih tahu soal kamu?”

Dimas tertawa. “Nah, itu baru Nara.”

Di antara suara hujan dan musik yang teredam, percakapan mereka terasa seperti ruang kecil yang hanya mereka berdua tempati. Dimas bercerita tentang rapat pagi tadi, tentang atasannya yang salah menyebut nama klien, dan tentang bagaimana ia hampir tertidur di dalam taksi. Nara menyela di bagian-bagian yang tepat, mengingat detail-detail yang bahkan Dimas sendiri lupa pernah ceritakan.

“Kamu masih sering lupa bawa payung,” katanya.

“Makanya aku datang sama Laras.”

“Laras yang membawa payung?”

“Laras yang mengingatkan.”

“Berarti bukan kamu yang belajar.”

Dimas menunjuknya dengan gelas. “Jangan mulai mengomel.”

“Kalau aku tidak mengomel, siapa yang akan mengingatkan kamu?”

Dimas menatapnya beberapa detik lebih lama daripada yang diperlukan. “Kamu selalu ada, ya?”

Nara merasakan udara di teras berubah, meskipun hujan masih turun dengan suara yang sama.

“Aku bekerja satu tim denganmu.”

“Bukan itu maksudku.”

Sebelum Nara sempat menjawab, pintu kaca terbuka. Laras muncul membawa dua gelas baru. Ia menyerahkan satu kepada Dimas, lalu berdiri di sisi yang lain, memisahkan mereka tanpa menyentuh siapa pun.

“Dimas, Pak Arman mencari kamu.”

“Sekarang?”

“Katanya penting.”

Dimas menghela napas. “Aku ke sana dulu.”

Ia menoleh kepada Nara. “Jangan pulang dulu.”

Nara tersenyum. “Aku juga belum mau pulang.”

“Bagus.”

Laras memperhatikan pertukaran itu. Tidak ada yang kasar dalam tatapannya, tetapi Nara bisa merasakan sesuatu yang tajam di balik wajah tenangnya.

Dimas masuk ke ruangan. Laras tetap di teras.

“Dimas sering cerita tentang kamu,” kata Laras.

Nara memegang gelasnya dengan kedua tangan. “Benarkah?”

“Katanya kamu paling tahu kalau dia sedang banyak pikiran.”

“Dia gampang kelihatan kalau sedang banyak pikiran.”

“Buatku tidak selalu.”

Nara menatapnya. “Mungkin karena aku lebih sering bekerja dengannya.”

“Mungkin.”

Satu kata itu jatuh di antara mereka, lebih dingin daripada air hujan yang memercik ke kaki.

Nara bisa saja meminta maaf, atau mengubah pembicaraan, atau masuk mencari Rani. Namun ia tetap berdiri di sana. Dimas pernah mengatakan Laras tidak suka tempat ramai. Dimas juga pernah mengatakan Laras cenderung salah paham kalau sedang lelah. Nara tahu itu semua, dan pengetahuan tersebut membuatnya merasa memiliki keunggulan yang tidak seharusnya ia rasakan.

“Aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman,” kata Nara akhirnya.

“Aku juga tidak bilang kamu membuatku tidak nyaman.”

“Tapi kamu terlihat begitu.”

Laras tersenyum tipis. “Kamu memang selalu sejujur itu?”

“Kadang.”

“Dimas suka orang yang terus terang.”

Nara menunduk sebentar, menyembunyikan senyumnya. “Dia pernah bilang begitu?”

“Dia sering bilang banyak hal.”

Kalimat itu seharusnya terdengar biasa, tetapi Laras mengucapkannya tanpa melepaskan pandangan dari wajah Nara.

Pintu kaca kembali terbuka. Dimas muncul sambil memasukkan ponselnya ke saku.

“Maaf lama.”

“Pak Arman sudah tidak mencari,” kata Laras.

“Sudah selesai.” Dimas memandang Nara. “Kamu masih mau makan?”

“Tidak terlalu.”

“Kalau begitu, temani aku cari taksi. Aku harus pulang dulu.”

Laras menoleh cepat. “Kita?”

“Aku sudah pesan dari tadi. Hujannya makin deras, takut susah dapat.”

“Aku ikut.”

“Di luar dingin.”

“Aku bisa pakai jaketmu.”

Dimas terdiam. Nara melihat keraguan singkat di wajahnya. Ia tidak ingin membuat keadaan semakin canggung, tetapi sebelum sempat berkata apa-apa, Rani memanggil dari dalam ruangan. Seorang rekan kerja lain menyusul, meminta Laras membantu mengambil foto bersama tim.

“Sebentar saja,” kata Laras kepada Dimas. “Tunggu aku.”

Dimas mengangguk, lalu melihat Nara. “Bisa temani aku sampai depan?”

Nara tahu seharusnya ia menolak. Laras sudah meminta menunggu. Mereka adalah pasangan. Tidak ada alasan bagi Nara untuk ikut, selain karena Dimas memintanya.

“Bisa,” jawabnya.

Mereka turun melalui tangga samping yang licin. Lampu dinding memantul di genangan air, dan suara pesta perlahan mengecil di belakang mereka. Dimas membuka payung yang tadi dibawa Nara, lalu memiringkannya agar Nara tidak terkena hujan.

“Kamu tidak perlu mengantarku,” katanya.

“Kamu yang minta.”

“Aku cuma ingin bicara sebentar.”

“Bicara tentang apa?”

“Entahlah.” Dimas tertawa pelan. “Aku selalu lebih gampang bicara sama kamu.”

Nara berjalan lebih lambat. Bahu mereka sesekali bersentuhan di bawah payung yang terlalu kecil.

“Karena aku tidak banyak bertanya?”

“Karena kamu sudah tahu jawabannya.”

Nara menatap garis rahangnya yang basah terkena percikan hujan. “Aku memang lebih mengenalmu daripada Laras.”

Dimas tidak langsung menjawab. Ia menunduk, lalu tersenyum kecil.

“Jangan bilang begitu keras-keras.”

“Kenapa? Itu benar.”

“Benar bukan berarti aman.”

Mereka sampai di depan gedung. Taksi yang dipesan Dimas belum terlihat. Hujan turun lebih rapat di bawah cahaya lampu jalan. Nara memeriksa aplikasi di ponselnya, lalu menunjukkan layar kepada Dimas.

“Masih lima menit.”

“Lima menit cukup untuk kamu mengingatkan aku agar tidak lupa sarapan besok.”

“Kamu harus sarapan.”

“Aku tahu.”

“Dan jangan tidur terlalu malam.”

“Aku juga tahu.”

“Kalau tahu, kenapa masih dilakukan?”

Dimas tertawa. Kali ini tawa mereka pecah bersamaan. Nara teringat sesuatu yang pernah terjadi di kantor, ketika Dimas salah mengirim berkas ke grup dan menutupinya dengan alasan bahwa komputer sedang kerasukan. Ia mengulang lelucon itu dengan suara rendah.

Dimas hampir tersedak menahan tawa.

“Jangan keras-keras,” katanya. “Nanti orang-orang mengira kita membicarakan mereka.”

“Padahal kita sedang membicarakan komputermu yang kerasukan.”

Mereka tertawa lagi.

Dari atas tangga, Laras berdiri di bawah kanopi.

Nara melihatnya lebih dulu.

Senyum Laras tidak hilang, tetapi wajahnya sudah tidak lagi tampak santai. Pandangannya berpindah dari payung di tangan Nara ke Dimas, lalu kembali kepada mereka. Ia mendengar lelucon itu - Nara tahu dari cara Laras memiringkan kepala, seperti sedang menyimpan sesuatu untuk ditanyakan nanti.

Taksi berhenti di tepi jalan.

Dimas mengambil gagang payung dari tangan Nara. “Terima kasih sudah menemani.”

“Sama-sama.”

Ia membuka pintu belakang, tetapi sebelum masuk, menoleh kepada Laras yang kini sudah turun beberapa anak tangga.

“Nanti aku kabari,” katanya.

Laras mengangguk. “Kabari aku juga.”

Dimas memandang Nara sekali lagi. “Jangan lupa, besok kirim berkas yang tadi.”

“Kalau kamu tidak lupa membacanya.”

“Aku tidak pernah lupa kalau kamu yang mengirim.”

Kalimat itu membuat Nara tersenyum, meskipun senyum Laras di belakang mereka telah lenyap sepenuhnya.

Dimas masuk ke taksi. Mobil bergerak meninggalkan tepi gedung, membawa payung hitam dan suara tawanya menjauh bersama hujan.

Nara berbalik.

Laras menunggunya di anak tangga paling atas.

“Lelucon yang lucu,” katanya.

Nara menggenggam ponselnya lebih erat. “Kamu dengar?”

“Sulit tidak dengar.” Laras turun satu langkah lagi. “Kalian kelihatannya dekat sekali.”

Nara ingin menjawab bahwa mereka memang dekat. Bahwa ia tahu sisi Dimas yang tidak diketahui Laras, tahu kapan lelaki itu sedang pura-pura baik-baik saja, tahu makanan yang tidak akan disentuhnya, tahu lelucon yang bisa membuatnya tertawa meski harinya buruk.

Namun tatapan Laras membuat semua pengetahuan itu terasa seperti sesuatu yang baru saja ia ambil tanpa izin.

“Dia teman kerja,” kata Nara.

Laras tersenyum tipis. “Tentu.”

Hujan terus jatuh di antara mereka. Untuk pertama kalinya malam itu, Nara merasa bukan hanya Dimas yang memperhatikannya.

End of chapter one. 4 more chapters in the full book.

1 / 9

Swipe or use the arrows to turn the page

What's inside: 5 chapters

  1. 1. Sapaan Hangat di Pesta Hujan
  2. 2. Pesan yang Selalu Dibalas
  3. 3. Kursi Kosong di Kafe
  4. 4. Alasan di Balik Diamnya Laras
  5. 5. Malam yang Berubah Arah

About this book

"Closer Than She Should Be" is a fiction book by Cacaa Cacaa with 5 chapters and approximately 9,844 words. A woman grows overly close to someone else's boyfriend.

This book was created using Inkfluence AI, an AI-powered book generation platform that helps authors write, design, and publish complete books. It was made with the AI Novel Writer.

Frequently Asked Questions

What is "Closer Than She Should Be" about?

A woman grows overly close to someone else's boyfriend

How many chapters are in "Closer Than She Should Be"?

The book contains 5 chapters and approximately 9,844 words. Topics covered include Sapaan Hangat di Pesta Hujan, Pesan yang Selalu Dibalas, Kursi Kosong di Kafe, Alasan di Balik Diamnya Laras, and more.

Who wrote "Closer Than She Should Be"?

This book was written by Cacaa Cacaa and created using Inkfluence AI, an AI book generation platform that helps authors write, design, and publish books.

How can I create a similar fiction book?

You can create your own fiction book using Inkfluence AI. Describe your idea, choose your style, and the AI writes the full book for you. It's free to start.

Write your own fiction book with AI

Describe your idea and Inkfluence writes the whole thing. Free to start.

Start writing

Created with Inkfluence AI