Read the first chapter
The whole of chapter one, free. About 7 min. Turn the pages with the arrows, your keyboard, or a swipe.
Chapter 1
Rumah Besar yang Tak Pernah Memeluk
Piring porselen itu hampir terlepas dari tangan Cika ketika suara bel dari ruang makan berdentang tiga kali. Di atas nampan, sup bening bergoyang sampai menyentuh bibir mangkuk. Ia menahan napas, merapatkan jemari pada gagang nampan, lalu mempercepat langkah melewati lorong panjang rumah keluarga Hendrawan.
Jam dinding di atas tangga menunjukkan pukul tujuh pagi. Cahaya matahari masuk melalui jendela-jendela tinggi, memantul di lantai marmer yang baru dipelnya. Rumah itu begitu besar hingga langkah kaki Cika terdengar seperti milik orang lain. Setiap sudut memiliki pintu, lukisan, atau perabot mahal yang tidak boleh disentuh. Tidak ada satu pun sudut yang terasa seperti miliknya.
“Cika!” teriak seorang perempuan dari ruang makan. “Sarapan sudah dingin?”
“Belum, Bu,” jawab Cika cepat.
Ia masuk dengan senyum yang sudah ia kenakan sejak bangun tidur. Di meja panjang, keluarga Hendrawan telah duduk. Kursi di ujung meja kosong, seperti biasa, untuk Clarissa. Kursi Cika tidak pernah ada.
Cika menaruh sup di depan ibu keluarga itu, lalu memindahkan piring-piring kecil sesuai kebiasaan. Tangannya bergerak hati-hati. Ia hanya ingin menyelesaikan semua tugas tanpa menarik perhatian. Jika tidak ada yang memanggil namanya, hari itu biasanya berjalan lebih mudah.
“Tehku kurang manis,” kata ibu itu tanpa menoleh.
“Maaf, Bu. Saya buatkan lagi.”
“Tidak perlu.” Perempuan itu mendorong cangkir dengan ujung jarinya. “Bawa pergi. Kau selalu membuat hal sederhana menjadi merepotkan.”
Cika mengambil cangkir tersebut. Panasnya menempel di telapak tangannya, tetapi ia tidak menunjukkan rasa sakit.
“Cika,” suara seorang laki-laki terdengar dari ujung meja.
Ayah keluarga Hendrawan menatapnya sebentar. Tatapannya tidak marah, hanya kosong. Tatapan yang sama ia berikan sejak Cika masih kecil, sejak seorang pengurus membawa Cika ke rumah itu dengan sepasang pakaian tipis dan sebuah tas kain.
“Setelah sarapan, bersihkan kamar tamu di lantai dua,” katanya. “Ada orang datang sore nanti.”
“Baik, Pak.”
“Dan jangan masuk ke kamar Clarissa.”
Cika menunduk. “Baik.”
Nama itu membuat sendok di meja berhenti bergerak. Clarissa. Nama yang selama bertahun-tahun hanya ia dengar sebagai seseorang yang jauh, seseorang yang tidak pernah datang tetapi selalu memiliki tempat di rumah itu.
Cika membawa cangkir ke dapur. Di sana, suara air mengalir menutupi bunyi langkahnya. Ia menggosok cangkir sampai tidak ada noda teh tersisa, lalu mengambil kain lap dan mulai membersihkan meja dapur.
Sejak kecil, ia selalu memiliki pakaian yang bersih dan makanan yang cukup. Saat musim hujan, ia diberi selimut tebal. Saat sepatunya rusak, sepasang sepatu baru diletakkan di depan kamarnya. Namun tidak pernah ada tangan yang mengusap kepalanya. Tidak pernah ada yang bertanya apakah ia takut ketika demam, atau apakah ia ingin duduk bersama mereka.
Kebutuhannya dipenuhi seperti kebutuhan seekor hewan yang harus tetap hidup.
Cika sudah lama berhenti berharap lebih.
Ia baru selesai mengelap meja ketika langkah kaki terdengar dari tangga. Seorang pelayan yang lebih tua muncul sambil membawa beberapa kotak pakaian.
“Taruh di kamar Clarissa,” kata perempuan itu.
Cika menoleh. “Kamar Clarissa sudah dibersihkan?”
“Bukan urusanmu. Antar saja.”
Cika mengambil dua kotak paling ringan. Kotak-kotak itu dibungkus kain biru muda dengan pita putih. Saat menaiki tangga, ia mencium aroma kain baru dan sabun mahal. Kamar Clarissa berada di lantai dua, di ujung lorong yang selama ini selalu terkunci.
Pintu kamar itu kini terbuka.
Cika berhenti di ambang pintu. Ruangan tersebut lebih besar daripada kamar yang ia tempati. Ada ranjang dengan kepala tempat tidur berukir, meja rias, lemari kaca, dan tirai putih yang bergerak pelan tertiup angin. Di atas meja, beberapa foto diletakkan dalam bingkai perak.
Cika mendekat tanpa sadar.
Dalam foto pertama, seorang gadis seusianya tersenyum di antara ayah dan ibu keluarga Hendrawan. Gadis itu memiliki rambut panjang dan mata tajam. Ia berdiri di tengah, sementara kedua orang tuanya memegang bahunya.
Clarissa.
Cika menurunkan pandangan. Ia tidak boleh menyentuh apa pun. Ia meletakkan kotak pakaian di atas ranjang, lalu hendak keluar ketika mendengar suara dari bawah.
“Dia sudah kembali?”
Suara ayah keluarga Hendrawan.
“Besok pagi,” jawab seorang laki-laki yang tidak Cika kenal. “Clarissa tidak boleh keluar rumah sebelum semuanya siap.”
Cika menahan langkah.
“Musuh-musuhnya sudah tahu ia ada di sini,” kata laki-laki itu lagi. “Kalau mereka menemukan Clarissa, mereka akan memakai cara apa pun untuk mendekat.”
“Karena itu kita punya Cika,” jawab ayah Hendrawan.
Dada Cika terasa sesak.
Ia berdiri di balik pintu yang sedikit terbuka, menggenggam ujung bajunya. Suara mereka terdengar semakin jelas ketika kedua orang itu berjalan ke ruang kerja.
“Anak itu sudah tinggal di sini sejak kecil,” ujar laki-laki asing tersebut. “Tidak ada yang akan curiga jika ia dipakai sebagai pengalih.”
“Cika tidak tahu apa-apa.”
“Lebih baik begitu. Anak yang tidak punya keluarga akan lebih mudah diarahkan.”
Kata-kata itu jatuh satu per satu, seperti batu ke dalam sumur.
Cika menutup mulut dengan tangan. Ia ingin pergi, tetapi lututnya terasa lemah. Selama ini ia mengira keluarga Hendrawan hanya tidak menyayanginya. Ia mengira dirinya sekadar anak yang dipungut karena kasihan, lalu dibiarkan tumbuh di sudut rumah besar itu.
Namun mereka menyebut namanya seperti menyebut sebuah benda.
Pengalih.
Tameng.
Cika mundur perlahan. Tumitnya menyentuh kaki meja kecil. Sebuah vas bunga bergoyang. Ia menangkapnya sebelum jatuh, tetapi bunyi gesekan porselen tetap terdengar.
“Siapa di sana?” bentak ayah Hendrawan.
Cika meletakkan vas itu kembali. Ia mengambil kotak kosong dari atas ranjang dan bergegas keluar melalui pintu samping kamar. Lorong belakang menuju ruang cuci sempit dan gelap. Ia menuruni tangga kecil, menekan punggung ke dinding, lalu menunggu sampai suara langkah tidak lagi terdengar.
Tangannya masih gemetar.
Ia tidak boleh menangis. Menangis akan membuat matanya merah. Mata merah akan memancing pertanyaan. Pertanyaan akan membuat mereka tahu bahwa ia mendengar.
Di ruang cuci, Cika membuka keran dan membasuh wajah. Air dingin mengalir di pipinya. Ia menatap pantulan buram pada ember logam. Wajahnya terlihat pucat, tetapi ia memaksa sudut bibirnya terangkat.
Senyum itu terasa kaku.
“Cika!” panggil ibu Hendrawan dari lantai bawah. “Kamar tamu belum selesai!”
“Segera, Bu!”
Ia menyeka wajah, mengambil kain, lalu kembali bekerja.
Kamar tamu berada di dekat pintu depan. Cika mengganti seprai, membersihkan kaca jendela, dan menggosok noda di lantai sampai jemarinya memerah. Dari luar, suara kendaraan beberapa kali terdengar berhenti di halaman. Setiap kali itu terjadi, Cika menegakkan tubuh dan menunduk lebih dalam.
Menjelang siang, ia membawa keranjang cucian melewati ruang tengah. Di sana, ayah dan ibu Hendrawan sedang berbicara dengan dua orang berpakaian rapi. Di atas meja terdapat map cokelat dan sebuah foto Clarissa.
Cika berhenti di balik pilar.
“Kamar belakang sudah disiapkan,” kata ibu Hendrawan. “Cika akan dipindahkan ke sana malam ini.”
“Kenapa?” tanya salah satu tamu.
“Supaya lebih mudah mengawasinya.”
Ayah Hendrawan menatap foto di meja. “Clarissa harus tiba tanpa diketahui siapa pun. Jika ada yang mengikutinya, Cika akan keluar lebih dulu.”
“Dan kalau terjadi sesuatu?”
“Dia bukan anak kami.”
Cika menunduk pada keranjang cucian yang dipeluknya. Kain-kain di dalamnya terasa berat, jauh lebih berat daripada sebelumnya.
Ia ingin masuk ke ruang tengah. Ingin bertanya mengapa mereka membicarakannya seperti itu. Ingin meminta penjelasan yang seharusnya diberikan kepada seseorang yang telah tinggal di rumah itu selama delapan belas tahun.
Namun ia tahu apa yang akan terjadi.
Mereka akan mengatakan ia terlalu banyak mendengar. Mereka akan mengingatkan bahwa pakaian, makanan, dan kamar yang ia dapatkan bukanlah hak. Mereka akan menyuruhnya bersyukur. Lalu ia akan kembali ke kamar kecil di belakang dapur, sendirian.
Cika memilih berjalan terus.
Di halaman belakang, ia menjemur pakaian dengan tangan yang masih dingin. Matahari menyengat tengkuknya. Kain putih berkibar di tali, menutupi pandangannya setiap kali angin bertiup. Di balik kain-kain itu, ia merasa seperti dirinya sendiri - ada, tetapi mudah disembunyikan.
Sore hari, Clarissa datang.
Cika sedang membawa nampan ke ruang depan ketika suara pintu utama dibuka. Semua pelayan menepi. Ibu Hendrawan berdiri paling depan, wajahnya berubah lembut untuk pertama kali sepanjang hari.
Seorang gadis turun dari mobil hitam. Rambutnya tergerai rapi, dan mantel tipis menutupi gaun yang tampak mahal. Ia memandang rumah itu tanpa ragu, seolah setiap batu di halaman adalah miliknya.
“Clarissa,” bisik ibu Hendrawan.
Gadis itu tersenyum. “Ibu.”
Mereka berpelukan. Ayah Hendrawan menyentuh kepala Clarissa dengan penuh kasih. Cika berdiri beberapa langkah dari mereka, memegang nampan dengan kedua tangan.
Tidak ada yang pernah menyambutnya seperti itu.
Clarissa kemudian menoleh. Matanya bertemu dengan mata Cika.
“Siapa dia?” tanyanya.
Ibu Hendrawan melirik Cika sekilas. “Anak yang kami rawat.”
Bukan nama. Bukan bagian dari keluarga.
Hanya anak yang mereka rawat.
Cika menunduk. “Selamat datang, Clarissa.”
Clarissa memandangnya dari ujung kepala sampai kaki. “Kau tinggal di sini?”
“Iya.”
“Kalau begitu, bawakan barang-barangku ke kamar.”
Ibu Hendrawan tersenyum puas. “Dengar itu? Jangan membuat Clarissa menunggu.”
“Baik.”
Cika mengambil koper pertama. Roda koper itu tersangkut di ambang pintu, membuatnya hampir jatuh. Clarissa mendecakkan lidah.
“Berhati-hati. Barangku lebih berharga daripada dirimu.”
Cika menahan napas, lalu tersenyum seperti yang selalu ia lakukan.
“Maaf.”
Ia menyeret koper itu menaiki tangga. Di belakangnya, langkah Clarissa ringan dan pasti. Rumah besar tersebut akhirnya memiliki pemilik yang sesungguhnya. Cika hanya semakin paham bahwa sejak awal, dirinya tidak pernah benar-benar tinggal di sana.
Malam turun saat semua pekerjaan selesai. Cika berhasil melewati hari tanpa dimarahi lagi. Ia mengganti pakaian, melipat seragam kerja, lalu duduk di tepi ranjang kecilnya. Dari balik dinding, suara keluarga Hendrawan terdengar samar.
“Perlindungan Clarissa sudah disiapkan,” kata ayah Hendrawan. “Cika akan menjadi wajah yang terlihat lebih dulu.”
“Dia tidak akan menolak,” jawab ibu Hendrawan. “Dia tidak punya tempat untuk pergi.”
Cika menatap pintu kamarnya.
Untuk pertama kalinya, kalimat itu tidak terdengar seperti kenyataan yang harus diterima. Kalimat itu terdengar seperti alasan mereka mempertahankannya.
Ia bangkit, membuka lemari, dan menemukan gaun baru yang tadi diberikan kepadanya. Kainnya halus, warnanya pucat, dan ukurannya pas. Cika menyentuh lengan gaun itu dengan ujung jari.
Pakaian, makanan, kamar, semua yang selama ini ia terima mungkin bukan pemberian.
Mungkin itu harga yang dibayar agar ia tetap siap digunakan.
Dari luar, seseorang memanggil namanya.
“Cika! Besok pagi kau ikut Clarissa.”
Ia berdiri diam di tengah kamar sempit itu. Senyum yang biasa ia pakai perlahan hilang dari wajahnya.
“Untuk apa?” tanyanya, meski tidak ada yang menjawab.
Di luar, langkah kaki menjauh. Rumah besar itu kembali sunyi, tetapi kali ini kesunyian tersebut membawa sesuatu yang baru: sebuah kecurigaan yang tidak bisa lagi ia singkirkan.
End of chapter one. 7 more chapters and about 14,538 words in the full book.
Swipe or use the arrows to turn the page
What's inside: 8 chapters
- 1. Rumah Besar yang Tak Pernah Memeluk
- 2. Nona Sejati Bernama Clarissa
- 3. Tameng bagi Anak Kandung
- 4. Istri Muda Tuan Bimo
- 5. Sarapan di Rumah Besar Bimo
- 6. Senyum di Balik Siksaan
- 7. Janji untuk Tetap Melayani
- 8. Pengabdian Tanpa Jalan Pulang
About this book
"Cika’s Borrowed Life" is a fiction book by Anonymous with 8 chapters and approximately 14,538 words. An abandoned young woman forced into marriage and servitude.
This book was created using Inkfluence AI, an AI-powered book generation platform that helps authors write, design, and publish complete books. It was made with the AI Novel Writer.
Frequently Asked Questions
What is "Cika’s Borrowed Life" about?
An abandoned young woman forced into marriage and servitude
How many chapters are in "Cika’s Borrowed Life"?
The book contains 8 chapters and approximately 14,538 words. Topics covered include Rumah Besar yang Tak Pernah Memeluk, Nona Sejati Bernama Clarissa, Tameng bagi Anak Kandung, Istri Muda Tuan Bimo, and more.
Who wrote "Cika’s Borrowed Life"?
This book was written by Anonymous and created using Inkfluence AI, an AI book generation platform that helps authors write, design, and publish books.
How can I create a similar fiction book?
You can create your own fiction book using Inkfluence AI. Describe your idea, choose your style, and the AI writes the full book for you. It's free to start.
Write your own fiction book with AI
Describe your idea and Inkfluence writes the whole thing. Free to start.
Start writingCreated with Inkfluence AI