The Search For Firman
Fiction

The Search For Firman

by REPTA FERNANDO · 2026-10-23

Friends search for Firman after he disappears and find him at his father's grave

1 chapters 1,385 words ~6 min read Indonesian

Read the first chapter

The whole of chapter one, free. About 6 min. Turn the pages with the arrows, your keyboard, or a swipe.

Chapter 1

Firman Tertidur di Makam Ayahnya

Bola di tangan Nando hampir terlepas ketika suara Frengki memecah bunyi sepatu yang bergesekan dengan lantai tempat olahraga.

“Nan! Sudah selesai belum?”

Nando menoleh. Keringat menetes dari ujung dagunya. Di luar pagar, Frengki berdiri bersama Baim dan Dandy. Cahaya sore memantul di kaca-kaca toko di seberang jalan, sementara bayangan tiang pagar memanjang sampai ke lapangan.

“Sebentar lagi,” jawab Nando. “Aku mau menyelesaikan satu set terakhir.”

“Yuk, keliling kota,” kata Baim. “Jangan lama-lama. Nanti keburu malam.”

Nando mengusap wajah dengan ujung kausnya. Ia masih ingin menuntaskan latihan, tetapi suara Frengki terdengar terburu-buru.

“Cepat, Nan. Kami tunggu di luar.”

Nando akhirnya meletakkan bola. Ia masuk ke ruang ganti, mengganti baju, lalu mengambil kunci motornya. Ketika keluar, Frengki sudah duduk di belakang motornya.

“Engki, kamu sama aku?” tanya Nando.

“Iya. Temani kami cari Firman.”

Tangan Nando berhenti di atas setang.

“Cari Firman? Bukannya kita mau keliling kota?”

Frengki menggaruk tengkuk. Wajahnya yang biasanya penuh canda mendadak kaku.

“Ya, memang keliling kota. Tapi sambil mencari dia.”

“Ada apa dengan Firman?”

Baim dan Dandy saling pandang. Baim kemudian mendekat.

“Siang tadi Firman pergi waktu kami main PS3,” katanya. “Kami kira dia cuma ngambek.”

“Ngambek karena apa?”

Frengki mengembuskan napas. “Kami bercanda. Mungkin candaan kami kelewatan.”

Nando menatap mereka satu per satu. Ia tahu Firman memang sering tenggelam dalam urusan Aisya sampai melupakan teman-temannya. Namun, kali ini berbeda. Firman pergi tanpa kabar dan belum pulang.

“Kalian sudah cari ke mana saja?”

“Rumahnya,” jawab Dandy. “Ibunya bilang Firman belum pulang.”

Suara kendaraan dari jalan raya terdengar semakin ramai. Nando memandang langit yang mulai berubah jingga. Keinginannya menyelesaikan latihan mendadak tidak berarti apa-apa.

“Kalau begitu, kita cari sampai ketemu,” katanya.

Mereka berangkat dengan dua motor. Nando membonceng Frengki, sedangkan Baim bersama Dandy. Mereka menyusuri jalan utama, melewati deretan toko yang mulai menyalakan lampu. Setiap kali melihat seseorang bertubuh tinggi dan kurus, Nando menoleh, berharap itu Firman.

“Coba ke tempat biasa dia nongkrong,” kata Dandy dari motor sebelah.

Mereka berhenti di dekat warung, lapangan kecil, dan tempat rental permainan yang sering didatangi Firman. Tidak ada siapa-siapa. Beberapa teman mereka bahkan tidak melihat Firman sejak siang.

“Jangan-jangan dia ke rumah Aisya,” kata Baim.

Frengki langsung mengangguk. “Itu kemungkinan paling besar.”

Mereka kembali menyalakan motor. Rumah Aisya ternyata sepi. Setelah mengetuk beberapa kali, seorang tetangga memberi tahu bahwa Aisya tidak ada di rumah. Baim meminta ibu Firman menelepon Aisya, tetapi panggilan itu tidak tersambung.

“Nomornya tidak aktif,” kata ibu Firman melalui telepon.

Nando merasakan tengkuknya menegang. Azan magrib telah terdengar dari masjid di ujung jalan. Langit yang tadi jingga kini mulai gelap.

“Kita ke rumah Mail,” ujar Baim tiba-tiba.

“Rumah Ismail?” tanya Nando.

“Iya. Memang jauh, tapi mungkin Firman pernah mampir ke sana.”

Frengki menghela napas. “Kalau ke sana, waktu kita habis di jalan.”

“Daripada diam saja,” balas Baim. “Kita harus mencari.”

Tidak ada yang membantah. Rumah Ismail Asegaf memang paling jauh di antara rumah mereka. Perjalanan menuju ke sana melewati jalan yang lebih sepi. Lampu-lampu rumah menyala satu per satu, dan angin malam mulai terasa menusuk lengan Nando yang masih lembap oleh keringat.

Ketika mereka tiba, Ismail sedang berdiri di depan rumah. Ia tampak terkejut melihat empat motor berhenti hampir bersamaan.

“Kenapa ramai-ramai?” tanyanya.

“Kami mencari Firman,” jawab Nando sambil turun. “Dia belum pulang sejak siang.”

Ismail mengerutkan dahi. “Belum pulang?”

Frengki segera menceritakan kejadian di tempat bermain. Ia mengaku bahwa mereka bercanda kepada Firman, lalu Firman pergi tanpa berkata apa-apa. Setelah itu mereka bermain lagi dan baru menyadari bahwa Firman belum kembali.

“Candaan macam apa?” tanya Ismail.

“Biasa saja,” kata Frengki, tetapi suaranya mengecil. “Kami mengejek dia terlalu bucin sama Aisya.”

Nando menatapnya. “Mungkin bagi kalian biasa. Tapi Firman bisa saja tersinggung.”

Ismail mengambil sandal dari dekat pintu. “Kita jangan bertengkar sekarang. Aku ikut mencari.”

Mereka kembali berkeliling. Rumah-rumah teman Firman didatangi satu per satu. Di setiap tempat, jawaban yang mereka terima sama: Firman tidak ada. Waktu berjalan, dan rasa cemas yang semula hanya mengganjal mulai memenuhi dada Nando.

Di dekat sebuah persimpangan, Dandy tiba-tiba mengangkat tangan.

“Tunggu.”

Motor-motor berhenti.

“Aku ingat sesuatu,” katanya. “Beberapa hari lalu Firman pernah bilang, kalau kami mau mencarinya, cari saja dekat SMP YKPU.”

Frengki menatapnya tajam. “Kamu baru ingat sekarang?”

“Aku tidak menyangka dia serius.”

“Dekat SMP YKPU itu banyak tempat,” kata Baim. “Maksudnya di mana?”

Dandy terdiam. Matanya bergerak ke arah jalan yang menuju sekolah itu.

“TPU,” katanya pelan.

Nando merasa perutnya seperti jatuh. Pemakaman umum itu berada tidak jauh dari SMP YKPU. Ayah Firman dimakamkan di sana.

“Firman sering ke makam ayahnya?” tanya Ismail.

“Kadang,” jawab Dandy. “Dia pernah cerita.”

Tidak ada yang menunggu lebih lama. Mereka langsung menuju TPU. Jalan di depan mereka gelap, hanya diterangi lampu kendaraan dan beberapa lampu rumah yang berjauhan. Ban motor melewati jalan berlubang, membuat tubuh Nando terhentak. Frengki tidak banyak bicara. Untuk pertama kalinya sejak mereka berangkat, ia tampak benar-benar takut.

Gerbang TPU sudah hampir tertutup ketika mereka tiba. Baim turun dan mendorongnya perlahan. Engsel besi berderit panjang, membuat suasana semakin sunyi.

Mereka menyalakan lampu ponsel. Tanah di antara makam terasa lembap di bawah sepatu. Rumput menyentuh betis Nando, sementara suara jangkrik terdengar dari balik pepohonan.

“Nama ayahnya siapa?” bisik Ismail.

Dandy menunjuk ke bagian dalam. “Ke sana.”

Mereka berjalan lebih jauh. Nando memanggil pelan.

“Firman!”

Tidak ada jawaban.

“Fir!” teriak Frengki.

Hanya suara angin yang bergerak di antara daun-daun.

Mereka terus mencari sampai cahaya ponsel Dandy berhenti di sebuah makam. Di atas tanah yang sedikit lebih tinggi, seseorang tampak berbaring menyamping. Tubuhnya tinggi dan kurus, mengenakan pakaian yang sudah kotor oleh tanah.

“Itu Firman,” kata Dandy.

Nando berlari mendekat. Firman tertidur pulas di atas makam ayahnya. Wajahnya terlihat lelah, dan salah satu tangannya terlipat di bawah kepala. Tanah menempel pada lengan dan punggung bajunya.

“Firman,” panggil Nando sambil menyentuh bahunya.

Firman tidak bergerak.

Frengki mengguncang bahunya lebih kuat. “Fir, bangun. Ini kami.”

Firman mengerjapkan mata. Ia menatap wajah-wajah yang mengelilinginya dengan bingung.

“Sekarang jam berapa?” tanyanya serak.

“Hampir isya,” jawab Ismail.

Firman langsung bangun. Ia memandang sekeliling, lalu melihat makam yang tadi menjadi alas tidurnya. Wajahnya berubah. Ia menunduk dan membersihkan tanah dari celananya dengan telapak tangan.

“Kalian kenapa ke sini?” tanyanya.

“Kami mencarimu dari sore,” kata Nando. “Ibumu bilang kamu belum pulang.”

Firman tidak menjawab.

Frengki berdiri di hadapannya. “Kami pikir kamu cuma ngambek.”

Firman menatapnya sebentar. “Aku tidak tahu mau pulang ke mana.”

Kalimat itu membuat semua orang diam.

Dandy menelan ludah. “Karena candaan siang tadi?”

Firman mengangkat bahu. “Bukan cuma itu.”

Nando ingin bertanya lebih jauh, tetapi melihat mata Firman yang memerah, ia mengurungkan niat. Ada hal-hal yang tidak bisa dipaksa keluar hanya karena semua orang sedang ingin tahu.

“Pulang dulu,” kata Nando. “Ibumu menunggu.”

Firman menatap nisan ayahnya. Jemarinya menyentuh tanah di samping makam.

“Aku cuma ingin menemani Ayah sebentar.”

“Kamu sudah menemani sampai tertidur,” kata Baim pelan. “Sekarang kami yang menemani kamu pulang.”

Firman menunduk, lalu berdiri. Kakinya sempat goyah. Nando segera memegang lengannya. Mereka berjalan keluar dari TPU tanpa banyak bicara. Di belakang, Frengki menutup kembali gerbang besi yang tadi mereka buka.

Perjalanan pulang terasa lebih sunyi daripada saat berangkat. Firman dibonceng oleh Dandy, sedangkan Nando mengikuti dari belakang bersama Frengki. Lampu merah kendaraan di depan tampak seperti titik-titik kecil yang bergerak menjauh.

Setibanya di rumah Firman, ibunya langsung keluar. Wajahnya yang cemas berubah lega ketika melihat anaknya turun dari motor.

“Firman, dari mana saja kamu?”

Firman menunduk. “Maaf, Bu.”

Ibunya memeluknya. Firman diam dalam pelukan itu, kedua tangannya menggantung di sisi tubuh. Nando berdiri di dekat pagar, merasa lega sekaligus tidak tenang. Mereka telah menemukan Firman, tetapi luka yang membuatnya pergi masih belum benar-benar mereka pahami.

“Kami tadi mencarinya sampai TPU,” kata Frengki tiba-tiba.

Nando menoleh cepat. “Engki.”

Namun Frengki sudah terlanjur bicara.

“Dia tidur di makam ayahnya, Bu. Kami menemukannya di sana.”

Ibu Firman melepaskan pelukan. Wajahnya berubah pucat. Firman pun mengangkat kepala. Baim menutup mulut, sementara Dandy menatap Frengki dengan kesal.

“Aku cuma - ” Frengki berhenti.

Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Rahasia yang ingin mereka simpan agar Firman tidak semakin malu telah terbuka di depan keluarganya.

Firman menatap mereka satu per satu. Ia tidak marah. Ia hanya mengangguk pelan, lalu kembali menundukkan kepala.

Nando memandang tanah yang masih menempel di baju temannya. Rasa lega karena Firman selamat bercampur dengan cemas yang lebih dalam. Malam itu mereka berhasil membawanya pulang, tetapi candaan yang mereka anggap sepele telah meninggalkan sesuatu yang tidak bisa dibersihkan seperti tanah di pakaian Firman.

End of chapter one.

1 / 7

Swipe or use the arrows to turn the page

What's inside: 1 chapter

  1. 1. Firman Tertidur di Makam Ayahnya

About this book

"The Search For Firman" is a fiction book by REPTA FERNANDO with 1 chapters and approximately 1,385 words. Friends search for Firman after he disappears and find him at his father's grave.

This book was created using Inkfluence AI, an AI-powered book generation platform that helps authors write, design, and publish complete books. It was made with the AI Novel Writer.

Frequently Asked Questions

What is "The Search For Firman" about?

Friends search for Firman after he disappears and find him at his father's grave

How many chapters are in "The Search For Firman"?

The book contains 1 chapters and approximately 1,385 words. Topics covered include Firman Tertidur di Makam Ayahnya.

Who wrote "The Search For Firman"?

This book was written by REPTA FERNANDO and created using Inkfluence AI, an AI book generation platform that helps authors write, design, and publish books.

How can I create a similar fiction book?

You can create your own fiction book using Inkfluence AI. Describe your idea, choose your style, and the AI writes the full book for you. It's free to start.

Write your own fiction book with AI

Describe your idea and Inkfluence writes the whole thing. Free to start.

Start writing

Created with Inkfluence AI