Read the first chapter
The whole of chapter one, free. About 8 min. Turn the pages with the arrows, your keyboard, or a swipe.
Chapter 1
Naskah di Rumah Baca Banjir
Air sungai sudah menjilat anak tangga ketiga Rumah Baca Banjir ketika Nara tiba. Sebuah sandal jepit tersangkut di pagar bambu, bergerak-gerak setiap kali arus kecil menyentuhnya.
“Nara! Jangan masuk!”
Suara Pak Darto pecah dari beranda. Ia berdiri sambil memegang senter dan sebatang kayu panjang. Di belakangnya, papan nama rumah baca miring pada satu sisi. Cat biru pada huruf-hurufnya mengelupas, menyisakan tulisan yang nyaris tak terbaca.
Nara menaikkan ujung celananya. “Halaman-halamannya masih di dalam?”
“Sebagian sudah dipindahkan.”
“Sebagian?”
Pak Darto menghela napas. “Lorong belakang penuh air. Rak dekat jendela roboh. Kalau hujan turun lagi, tempat ini ditutup besok pagi.”
Besok pagi.
Kata-kata itu menekan lebih kuat daripada arus yang mengalir di bawah lantai papan. Nara memandang ke dalam rumah baca. Meja-meja rendah mengapung miring. Buku-buku yang tak sempat diselamatkan menempel di dinding, menggelembung seperti kulit yang terlalu lama direndam. Di ujung ruangan, lorong sempit menuju ruang arsip menghitam oleh air.
Ia datang untuk mencari bahan cerpen. Selama tiga minggu, buku catatannya hanya berisi judul-judul yang dicoret. Ia ingin menulis sesuatu sebelum lomba sekolah ditutup, tetapi setiap kalimat terasa seperti pintu yang tidak punya gagang. Kini, ketika rumah baca yang biasa memberinya tempat untuk berpikir hampir hilang, ia tidak sanggup hanya berdiri di luar.
“Aku mau ambil naskah yang tersisa,” katanya.
Pak Darto menggeleng. “Naskah apa?”
“Cerpen-cerpen di ruang arsip. Yang belum dipindahkan.”
“Tidak ada yang tahu rak mana yang masih berdiri.”
“Aku tahu.”
“Dulu kau tahu.” Pak Darto menancapkan ujung kayu ke air. “Sekarang lantainya bisa ambles.”
Nara menatap senter di tangannya. “Kalau kita menunggu, semuanya rusak.”
Pak Darto tidak menjawab. Dari atap terdengar tetesan air yang teratur, seperti jam yang berjalan menuju sesuatu. Di luar, sungai menggesek tiang rumah baca dengan bunyi berat.
“Aku ikut,” kata Nara.
“Tidak.”
“Pak.”
“Kalau kau terpeleset, aku harus masuk menyusul. Kakimu belum sembuh benar.”
Nara menunduk. Pergelangan kakinya masih dibalut tipis sejak jatuh dari sepeda dua hari lalu. “Aku bisa berjalan.”
Pak Darto menatapnya lama, lalu menyerahkan senter. “Lima menit. Kalau air naik sampai pinggang, keluar. Tidak ada tawar-menawar.”
Nara menggenggam senter itu dan masuk.
Air dingin langsung menyentuh betisnya. Bau lumpur, kertas basah, dan kayu tua bercampur di lorong. Setiap langkah menimbulkan bunyi kecipak yang segera ditelan suara hujan di luar. Cahaya senter bergerak di permukaan air, memantulkan rak-rak yang miring.
“Rak ketiga dari pintu,” kata Pak Darto dari belakang. “Bagian bawah.”
Nara meraba dinding agar tidak kehilangan keseimbangan. Lorong itu lebih sempit daripada yang ia ingat. Sebuah kursi terbalik menghalangi jalan. Ia mendorongnya dengan lutut, tetapi kursi itu tersangkut pada kaki rak.
“Biar aku,” kata Pak Darto.
“Jangan. Pegang lampunya.”
Nara menarik kursi itu sekali lagi. Kayu berderak. Air berguncang sampai ke pahanya. Akhirnya kursi terlepas dan meluncur ke belakang, menghantam kaki Pak Darto.
“Aduh!”
“Pak, maaf.”
“Terus saja.”
Rak ketiga terlihat di ujung lorong, rebah menutup hampir seluruh jalan. Beberapa map plastik mengambang di atasnya. Nara meraih map pertama, membukanya, lalu menemukan kertas-kertas yang tintanya sudah luntur.
“Ini bukan cerpen,” katanya.
“Ambil apa pun yang masih bisa diselamatkan.”
Ia memasukkan map itu ke dalam tas kain yang dibawanya. Map kedua berisi lembar tugas anak-anak. Map ketiga kosong. Ketika Nara meraba bagian bawah rak, jarinya menyentuh sesuatu yang lebih keras daripada kertas.
Ia menyelamkan tangan.
Sebuah bundel halaman terjepit di antara papan rak dan lantai. Kertasnya basah, tetapi diikat benang merah yang hampir putus. Nara menariknya perlahan. Rak bergeser sedikit, menimbulkan bunyi retak.
“Cepat, Nara,” kata Pak Darto. “Airnya naik.”
Nara memeluk bundel itu. “Aku dapat.”
Saat ia hendak berbalik, satu lembar terlepas dan hanyut ke belakang rak. Senter Pak Darto menangkap tulisan di atasnya. Huruf-huruf hitam itu miring dan rapat, sebagian luntur di tepinya.
Nara meraih lembar tersebut, tetapi arus kecil membawanya ke celah antara rak dan dinding.
“Biarkan,” kata Pak Darto. “Yang penting bundelnya.”
Nara menatap lembar itu. Ada satu kalimat yang masih terbaca.
Aku menyimpan namaku di tempat yang tak pernah dicari siapa pun.
Kalimat itu membuat tangannya berhenti.
Ia menekan bahu ke rak. Kayu kasar menggores kulitnya. Dengan satu tangan memegang senter, Pak Darto mencoba menariknya mundur.
“Jangan dipaksa!”
“Kalau lepas, lembar ini hanyut.”
“Nara!”
Ia merunduk, memasukkan lengan ke celah gelap. Air dingin menyentuh ketiaknya. Jarinya menyapu lumpur, serpihan kayu, lalu ujung kertas yang licin. Ia mencengkeramnya.
Pada saat yang sama, rak bergeser.
Nara menjerit. Bahunya terjepit sesaat. Pak Darto mengumpat dan menarik rak dengan seluruh tenaga. Kayu itu bergeser cukup jauh untuk membebaskannya, tetapi satu papan patah dan jatuh ke air.
“Keluar sekarang!”
Nara menggenggam lembar tadi bersama bundel naskah. Ia berjalan tertatih mengikuti cahaya senter. Air sudah mencapai pinggangnya. Tas kain di dadanya terasa semakin berat. Di belakang, rak kembali berderak, seolah lorong itu tidak ingin melepaskan mereka.
Begitu sampai beranda, Nara jatuh berlutut. Pak Darto menarik tas dari tangannya dan meletakkannya di atas meja yang kering. Hujan memukul atap seng dengan suara keras.
“Lima menit,” kata Pak Darto, terengah-engah. “Kau menghabiskan hampir dua puluh.”
Nara tidak menjawab. Ia membuka tas. Map-map basah mengeluarkan air ke lantai. Bundel berbenang merah berada paling bawah, terbungkus kain tipis. Lembar yang tadi ia ambil menempel pada kain itu.
Pak Darto melihatnya. Wajahnya berubah.
“Kau kenal naskah ini?” tanya Nara.
“Tidak.”
“Pak.”
“Tidak semua yang ada di rumah baca ini tercatat.”
“Siapa yang menulisnya?”
Pak Darto mengambil lembar itu, tetapi Nara lebih cepat menahannya. Tepi kertas robek ketika mereka menarik dari arah berbeda.
“Jangan disentuh dulu,” kata Nara.
Pak Darto melepaskan tangannya. “Kau tidak tahu apa yang kau pegang.”
“Justru karena itu aku mau tahu.”
Ia membawa bundel itu ke meja dekat jendela. Di sana, cahaya kelabu masuk melalui kaca yang retak. Nara memisahkan halaman satu per satu. Beberapa hanya menyisakan noda biru. Beberapa lainnya masih dapat dibaca.
Cerita itu tentang seorang anak yang setiap sore datang ke tepi sungai untuk menunggu seseorang. Tidak ada nama tempat. Tidak ada nama tokoh. Hanya benda-benda kecil yang berulang: lonceng sepeda, kunci berkarat, dan selembar kain merah yang selalu berpindah tangan.
Nara membaca tanpa berkedip.
“Bagus?” Pak Darto bertanya.
“Belum tahu.”
“Kalau belum tahu, mengapa kau melihatnya seperti itu?”
Nara menyentuh salah satu kalimat dengan ujung kuku. “Karena rasanya seperti seseorang berhenti menulis tepat sebelum mengatakan hal penting.”
Pak Darto memandang sungai. “Mungkin memang tidak selesai.”
“Tidak mungkin.”
“Kenapa?”
“Lihat ini.” Nara menunjukkan halaman yang hampir kering. “Di sini ada tanda halaman. Tiga belas. Tapi bundelnya mulai dari halaman tujuh belas.”
Pak Darto diam.
Nara membalik lembar terakhir yang terselamatkan. Di bagian bawah, ada bekas lipatan dan noda lumpur. Kalimat terakhir berhenti di tengah.
Jika rumah itu dibuka kembali, orang pertama yang akan kutemui adalah - Tidak ada lanjutan.
Nara merasakan sesuatu bergerak di dalam dadanya, bukan takut, melainkan rasa ingin tahu yang tajam. Ia sudah berhari-hari mencari bahan untuk cerpen, memaksa dirinya menciptakan tokoh dari ruang kosong. Naskah ini berbeda. Ia seperti menemukan pintu yang sengaja dibiarkan terbuka sedikit.
“Pak Darto, siapa yang menyimpan bundel ini?”
“Sudah kubilang, aku tidak tahu.”
“Siapa saja yang punya kunci ruang arsip?”
“Dulu banyak.”
“Dulu?”
Pak Darto mengambil kain lap dan mulai mengeringkan meja. “Rumah baca ini sudah berdiri lama. Anak-anak datang, orang-orang menyumbang buku, beberapa penulis menitipkan karya. Tidak semuanya mencantumkan nama.”
“Penulisnya pasti pernah datang.”
“Mungkin.”
“Pak, tolong.”
Ia berhenti mengusap meja. “Kau mau menyelidiki naskah basah?”
“Aku mau menemukan penulisnya.”
“Untuk apa?”
Nara menatap halaman terakhir. “Untuk tahu bagaimana ceritanya berakhir.”
Pak Darto tersenyum tipis, tetapi matanya tetap muram. “Kalau penulisnya tidak ingin ditemukan?”
“Kalau begitu, kenapa meninggalkan petunjuk?”
“Petunjuk?”
Nara membalik lembar yang ia selamatkan dari celah rak. Di sisi belakangnya, ada tulisan kecil yang hampir hilang. Bukan bagian dari cerita. Tiga kata, ditulis dengan tinta merah:
Cari di tempat pulang.
Di bawahnya terdapat tanda seperti huruf S yang terpotong.
Pak Darto mengambil napas pendek. “Aku pernah melihat tanda itu.”
“Di mana?”
“Entahlah.”
“Pak.”
“Di buku pengunjung, mungkin. Atau di dinding belakang. Sudah lama sekali.”
Nara segera berdiri. Pergelangan kakinya nyeri, tetapi ia tidak peduli. Ia mengambil buku pengunjung dari rak dekat pintu. Sampulnya lembek dan menghitam di sudut-sudutnya. Halaman-halaman awal penuh tanda tangan anak-anak, nama guru, dan tanggal kunjungan.
Ia membalik cepat.
“Jangan merusak,” kata Pak Darto.
“Kalau rumah baca ditutup besok, buku ini bisa dibuang.”
Di antara halaman yang terlipat, Nara menemukan beberapa tanda S yang serupa. Satu di samping kalimat pendek: “Buku pulang ke tempatnya.” Satu lagi di bawah nama yang sudah luntur.
Ia membalik halaman terakhir yang masih kering.
Di sana, tinta merah membentuk nama samaran.
Laras Senja.
Nara membaca nama itu sekali, lalu sekali lagi. Tidak ada tanda tangan lain. Tidak ada alamat. Hanya tanggal lima belas tahun lalu dan satu kalimat kecil di bawahnya.
Jangan cari aku sebelum cerita ini selesai.
Pak Darto merebut buku itu dari tangannya. Wajahnya pucat.
“Pak, siapa Laras Senja?”
Ia menutup buku pengunjung dengan cepat.
“Tidak ada siapa-siapa.”
“Nama itu ada di sini.”
“Lupakan.”
“Tidak.”
“Nara, dengarkan aku.” Suaranya merendah, tetapi lebih keras daripada hujan. “Ada hal-hal yang sebaiknya tetap tinggal di tempatnya.”
Nara memandang bundel di atas meja. Air menetes dari ujung halaman terakhir, jatuh satu per satu ke lantai.
“Cerita ini belum selesai,” katanya.
Pak Darto tidak menjawab.
Nara memasukkan halaman terakhir ke dalam map bening yang masih utuh. Ia tahu Pak Darto bisa melarangnya membawa pulang naskah itu. Ia juga tahu, jika tetap tinggal, kertas-kertas tersebut akan hancur sebelum pagi.
“Aku hanya akan mengeringkannya,” kata Nara.
Pak Darto menatap map itu, lalu ke arah lorong yang gelap. “Kalau kau menemukan sesuatu, jangan langsung percaya.”
“Kalau Pak Darto sudah tahu sesuatu, jangan langsung menyuruhku melupakan.”
Ia menyelipkan map ke dalam jaket. Bundel lainnya ia tinggalkan di atas meja, tertindih dua buku tebal agar tidak terbang terkena angin.
Di ambang pintu, Nara menoleh. Air sungai sudah mencapai halaman depan. Papan nama rumah baca bergoyang, mengeluarkan bunyi berderit setiap kali tertiup angin.
“Besok mereka benar-benar menutup tempat ini?” tanyanya.
“Kalau hujan tidak berhenti.”
Nara menggenggam map di balik jaket. Kertas basah itu dingin menempel di dadanya, tetapi nama Laras Senja terasa seperti bara kecil.
Ia melangkah turun dari beranda, menembus air setinggi mata kaki.
Di belakangnya, Pak Darto berseru, “Nara!”
Nara berhenti.
“Jangan mencari orang yang sudah memilih menghilang.”
Ia menoleh pada rumah baca tua itu. Di balik kaca retak, lorong arsip tampak hitam dan sempit. Dari sana, seolah-olah datang bunyi sesuatu jatuh ke air.
Nara tidak menjawab. Ia berjalan pulang membawa halaman terakhir, sementara satu nama yang tak dikenalnya mulai memenuhi kepalanya.
End of chapter one. 3 more chapters and about 7,022 words in the full book.
Swipe or use the arrows to turn the page
What's inside: 4 chapters
- 1. Naskah di Rumah Baca Banjir
- 2. Nama yang Tak Berani Ditulis
- 3. Pintu Arsip yang Terkunci
- 4. Rahasia di Balik Kartu Katalog
About this book
"Kisah Yang Belum Terucap" is a fiction book by REFTA FERNANDO with 4 chapters and approximately 7,022 words. A short story with an unspecified subject or plot.
This book was created using Inkfluence AI, an AI-powered book generation platform that helps authors write, design, and publish complete books. It was made with the AI Novel Writer.
Frequently Asked Questions
What is "Kisah Yang Belum Terucap" about?
A short story with an unspecified subject or plot
How many chapters are in "Kisah Yang Belum Terucap"?
The book contains 4 chapters and approximately 7,022 words. Topics covered include Naskah di Rumah Baca Banjir, Nama yang Tak Berani Ditulis, Pintu Arsip yang Terkunci, Rahasia di Balik Kartu Katalog.
Who wrote "Kisah Yang Belum Terucap"?
This book was written by REFTA FERNANDO and created using Inkfluence AI, an AI book generation platform that helps authors write, design, and publish books.
How can I create a similar fiction book?
You can create your own fiction book using Inkfluence AI. Describe your idea, choose your style, and the AI writes the full book for you. It's free to start.
Write your own fiction book with AI
Describe your idea and Inkfluence writes the whole thing. Free to start.
Start writingCreated with Inkfluence AI