The Vowkeeper’s Daughter
Romance

The Vowkeeper’s Daughter

by Anonymous · 2026-10-08

A young Vowkeeper uncovers a royal historical deception amid war and forbidden trust

5 chapters 10,375 words ~42 min read Indonesian 50 reads

Read the first chapter

The whole of chapter one, free. About 8 min. Turn the pages with the arrows, your keyboard, or a swipe.

Chapter 1

Sumpah Retak di Arsip Kerajaan

Ujung jariku masih berbau cuka, tinta besi, dan sesuatu yang lebih tua ketika Caelan Aster menutup pintu ruang arsip di belakang kami.

“Buka sumpah itu.”

Aku menatap palang besi yang baru saja ia turunkan. “Kau menyadari bahwa permintaanmu terdengar lebih buruk kalau diucapkan di ruang yang penuh dokumen pengkhianatan?”

“Kalau aku punya pilihan tempat lain, aku akan memilihnya.”

“Pangeran dari Vareth biasanya punya banyak pilihan.”

Senyumnya tipis, tanpa kehangatan. “Vowkeeper tingkat rendah biasanya tidak menyindir orang yang bisa menyerahkan mereka kepada istana.”

“Vowkeeper tingkat rendah biasanya tidak diseret ke ruang arsip terlarang oleh pangeran musuh.”

Kata musuh menggantung di antara kami, rapi dan resmi seperti cap kerajaan. Caelan tidak menyangkalnya. Ia hanya mengeluarkan gulungan sempit dari balik mantel hitamnya, lalu meletakkannya di atas meja batu.

Segelnya sudah retak.

Aku mengenali lambang itu dari catatan perang yang pernah kusalin selama tiga tahun terakhir: mahkota Averra di atas dua bilah pedang, lambang perjanjian damai yang konon mengakhiri Pembantaian Sungai Nareth. Sumpah itu menjadi dasar semua hukum perbatasan antara Averra dan Vareth. Dalam setiap salinan resmi, kata-katanya sama. Dalam setiap pelajaran sejarah, maknanya dianggap tak terbantahkan.

Dan di setiap salinan, ayahku disebut sebagai orang yang menemukan pengkhianatan Vareth - sebelum akhirnya dituduh memalsukan bukti.

Aku tidak datang ke arsip ini demi rasa ingin tahu. Aku datang untuk membersihkan nama Mara Vale tanpa menarik perhatian Lord Severin Valecroft atau siapa pun yang menganggap kebenaran sebagai penyakit menular.

Caelan mendorong gulungan itu kepadaku.

“Uji.”

“Aku tidak menggunakan Binding di luar prosedur.”

“Tidak ada prosedur untuk memeriksa sumpah yang disembunyikan selama empat puluh tahun.”

“Justru karena itu aku tidak akan menyentuhnya.”

Ia mencondongkan tubuh. Cahaya lampu minyak memotong wajahnya menjadi bidang-bidang tajam: tulang pipi, mulut yang terlalu tenang, dan mata kelabu yang tampak lebih lelah daripada yang seharusnya dimiliki seorang pangeran.

“Kau sudah menyentuhnya kemarin.”

Aku membeku.

Kemarin, aku menemukan gulungan itu di antara daftar saksi perang, terbungkus kulit kambing dan salah label sebagai catatan pajak. Aku hanya mengangkatnya. Hanya itu. Namun Binding di bawah kulitku bergerak seperti benang yang ditarik dari jauh - sakit singkat di pergelangan tangan, lalu hilang sebelum pengawas datang.

Tidak seorang pun melihat.

Setidaknya, kupikir begitu.

“Kau mengawasi pekerja arsip?” tanyaku.

“Aku mengawasi orang yang mencuri dari ruang bukti.”

“Aku tidak mencuri.”

“Belum.”

Aku benci caranya mengucapkan kata itu seolah-olah ia sudah mengetahui versi terburuk diriku dan sedang menunggu aku mengejarnya.

Aku menarik sarung tangan linen dari saku. “Kalau sumpah ini menyentuhku, kau tidak menyentuhku.”

“Perintah?”

“Peringatan.”

“Bedanya?”

“Perintah bisa kau abaikan dengan anggun. Peringatan akan tetap berlaku setelah kau menyesal.”

Ada kilatan kecil di matanya. Bukan tawa. Caelan tampaknya terlalu terlatih untuk tertawa di tempat yang mungkin memiliki telinga di balik dinding. Tetapi mulutnya melunak sepersekian detik, dan itu cukup mengganggu konsentrasiku.

Aku membenci bahwa aku memperhatikannya.

Ruang arsip hukum kerajaan berada di bawah sayap timur istana, jauh dari aula yang menerima cahaya matahari dan tamu penting. Di sini udara dingin, lembap, dan berbau kulit tua. Rak-rak menjulang sampai langit-langit, dikunci dengan rantai perak. Setiap rantai memiliki sumpah penjagaan sendiri. Aku bisa merasakan getarannya di gigi.

Aku membuka segel gulungan.

Bahasa lama mengalir dalam baris-baris rapat, lebih kaku daripada bahasa hukum modern. Aku membacanya perlahan.

“Di bawah kesaksian mahkota dan tanah yang dibagi,” bacaku, “kami bersumpah untuk menghentikan darah di Sungai Nareth, mengembalikan para tawanan, dan mengakui hak setiap kerajaan atas sejarahnya sendiri.”

Caelan berdiri di seberang meja. “Itu bukan teks yang kubawa.”

“Kalau begitu, kau membawa dokumen yang salah.”

“Tidak. Aku membawa salinan dari arsip kerajaan Vareth.”

Ia mengeluarkan lembaran lain. Kertasnya lebih gelap, tepinya terbakar. Aku membandingkan kedua teks itu.

Perbedaannya hanya dua kata.

Dalam salinan Averra: di bawah kesaksian mahkota dan tanah yang dibagi.

Dalam salinan Vareth: di bawah kesaksian mahkota dan mereka yang menyaksikan.

Aku mengangkat pandangan.

Caelan tidak berkedip. “Maknanya berubah.”

“Secara tata bahasa, sedikit.”

“Secara Binding?”

“Jangan memaksa istilah yang belum terbukti.”

“Liora.”

Cara ia menyebut namaku membuat ruang itu terasa lebih kecil. Tidak lembut. Tidak juga kasar. Hanya terlalu langsung, seolah namaku bukan nama pekerja tingkat rendah yang bisa dihapus dari daftar, melainkan sesuatu yang ia simpan untuk saat-saat tertentu.

Aku meletakkan telapak tangan di atas teks Averra.

Binding menyala.

Bukan cahaya. Tidak pernah sesederhana itu. Rasanya seperti benang panas menjulur dari tulang jariku, menembus kulit, lalu mencari ujung kalimat. Biasanya aku hanya merasakan simpul sumpah - tarikan halus yang menunjukkan apakah seseorang berbicara benar, keliru, atau sengaja menghindar.

Kali ini, sesuatu menggigit balik.

Aku tersentak. Meja batu berderit. Gulungan itu bergeser, dan Caelan langsung meraih pergelangan tanganku.

“Lepaskan.”

Ia melepaskan, tetapi tidak mundur. Jari-jarinya meninggalkan panas di atas kulitku.

“Apa yang kau lihat?”

“Jangan sentuh aku saat Binding aktif.”

“Jawab.”

“Kalau kau terus memerintah, aku akan membiarkan sumpah ini membakar alismu.”

“Alisku tidak terikat pada sumpah.”

“Sayang sekali. Itu mungkin membuatmu lebih mudah diajak bekerja sama.”

Aku menekan telapak tangan kembali ke meja. Kali ini aku membuka diri sedikit lebih lebar.

Rasa sakit menembus sampai bahu.

Sumpah itu memiliki lapisan. Kalimat pertama terikat pada mahkota Averra, seperti yang seharusnya. Kalimat kedua terikat pada tanah yang dibagi. Namun kata dibagi tidak memiliki saksi, tidak memiliki kehendak, bahkan tidak memiliki bentuk hukum yang bisa menerima janji. Ia adalah lubang yang dipaksa memakai pakaian.

Di bawahnya ada sesuatu yang lain.

Sebuah gema.

Aku mendengar suara - bukan suara manusia, melainkan bekas suara yang tersimpan dalam Binding. Seseorang mengucapkan kalimat yang berbeda. Kata-katanya terpotong oleh bunyi logam dan jeritan jauh.

Di bawah kesaksian mereka yang menyaksikan -

Lalu kalimat itu dilipat.

Bukan dihapus. Dilipat, dipaksa masuk ke celah antara dua kata.

Aku menarik napas terlalu cepat. Ruangan berputar.

Caelan menangkap siku kiriku sebelum aku jatuh. “Apa yang terjadi?”

“Jangan - ”

“Aku tidak akan membiarkanmu menghantam lantai.”

“Lantai ini lebih jujur daripada kau.”

“Lantai ini penuh jamur.”

Aku ingin membalas, tetapi Binding kembali menarikku.

Kali ini aku melihat sebuah meja panjang, noda lilin, dan tiga bayangan. Satu mengenakan jubah mahkota Averra. Satu membawa cincin Vareth. Yang ketiga berdiri di belakang mereka, tidak terlihat wajahnya.

“Ulangi sumpahnya,” kata suara itu.

“Di bawah kesaksian mereka yang menyaksikan,” jawab suara lain.

“Bukan itu yang akan masuk arsip.”

Gema itu pecah.

Aku terlepas dari gulungan dengan suara tercekat. Caelan masih memegang lenganku. Wajahnya hanya beberapa inci dari wajahku, napasnya hangat di pipi. Untuk satu detik yang menyebalkan, aku lupa bahwa ia adalah pangeran musuh dan ingat bahwa ia punya mata yang sangat indah ketika ketakutan.

Lalu rasa nyeri menjalar dari telapak tanganku ke kepala.

Sesuatu terhapus.

Aku tahu karena kehilangan itu terasa seperti kursi kosong di meja makan. Tidak besar. Tidak dramatis. Hanya sebuah tempat yang seharusnya ditempati seseorang.

Aku mencari ingatan terakhir yang kumiliki tentang pagi ini.

Nama penjaga di pintu.

Aku tahu ia ada. Aku tahu aku melihatnya. Namun namanya hilang.

“Liora.” Caelan mengguncang bahuku pelan. “Lihat aku.”

“Aku melihatmu.”

“Tidak. Kau melihat sesuatu di belakangku.”

Aku memaksa pandangan kembali kepadanya. “Sumpah ini cacat.”

“Cacat bagaimana?”

“Bukan dipalsukan setelah ditulis.” Aku menelan rasa logam di mulut. “Binding-nya dipaksa menerima kalimat yang tidak pernah disepakati. Seseorang mengubah saksi menjadi tanah.”

“Siapa?”

“Aku tidak tahu.”

“Kau melihatnya.”

“Aku melihat gema.”

“Nama.”

“Aku tidak punya nama.”

Kemarahan menegang di wajahnya. “Kau tahu apa yang terjadi pada keluargaku karena sumpah ini?”

“Tidak, karena aku baru saja kehilangan nama penjaga pintu akibat membacanya.”

Ia terdiam.

Itulah pertama kalinya ia tampak benar-benar tidak memiliki jawaban. Bukan pangeran yang menyusun tuntutan. Bukan bangsawan Vareth yang datang membawa luka sejarah seperti senjata. Hanya seorang lelaki yang mendengar bahwa bukti yang dicarinya dapat memakan ingatan orang lain, dan mendapati orang itu berdiri tepat di depannya.

Tangannya masih berada di sikuku.

“Kau bisa mati?” tanyanya.

“Pertanyaan yang sangat menghibur.”

“Liora.”

“Bisa. Kalau aku memaksa Binding lebih jauh.”

“Dan kau tetap melakukannya.”

“Aku tidak tahu kalau ia akan melawan.”

“Kau selalu melakukan sesuatu sebelum mengetahui harganya?”

Aku tertawa pendek. “Kau baru mengenalku dua hari.”

“Aku mengenal orang-orang yang menyembunyikan ketakutan di balik aturan.”

Kata-kata itu mengenai tempat yang tidak ingin kusentuh. Aku menarik lenganku dari tangannya.

“Aku tidak takut.”

“Tidak. Kau hanya kehilangan sebagian ingatan dan masih ingin menyentuh dokumen yang sama.”

Aku memandang gulungan itu. Tinta di atasnya bergerak sangat pelan, seperti darah yang belum memutuskan apakah akan mengering.

“Aku ingin membersihkan nama ayahku,” kataku.

Pengakuan itu keluar sebelum sempat kutahan.

Caelan tidak bertanya ayah siapa. Ia sudah tahu. Semua orang yang membaca arsip perang tahu nama Mara Vale, meski kebanyakan orang meludah setelah menyebutnya.

“Dia tidak memalsukan bukti,” lanjutku. “Aku tahu itu.”

“Mengetahui bukan membuktikan.”

“Karena itu aku bekerja di sini.”

“Diam-diam.”

“Karena aku menyukai pekerjaan ini.”

“Tidak ada yang menyukai pekerjaan di ruang bawah tanah.”

“Aku menyukai raknya. Rak tidak mengajukan pertanyaan.”

“Rak juga tidak bisa membantumu.”

“Rak tidak menyeretku ke ruang terlarang.”

Caelan mendekat lagi, tetapi kali ini ia berhenti sebelum menyentuhku. Jarak kecil itu terasa lebih sadar daripada sentuhan sebelumnya.

“Bantu aku,” katanya.

“Tidak.”

“Bantu aku, dan aku akan memberimu akses ke catatan Vareth yang tidak pernah dikirim ke Averra.”

“Aku tidak percaya padamu.”

“Bagus. Kepercayaan membuat orang ceroboh.”

“Lalu apa yang kau tawarkan?”

“Bukti.”

“Bukti bisa dipalsukan.”

“Kalau begitu, kita uji.”

Kita.

Satu kata pendek, dan mendadak ruangan ini memiliki dua pintu: satu menuju pekerjaan kecil yang aman, satu lagi menuju sesuatu yang dapat menghapus sisa hidupku dengan sangat efisien.

Aku mengambil kain, membungkus gulungan itu, lalu memasukkannya ke dalam kotak bukti.

“Besok malam,” kataku.

Caelan mengangkat alis. “Itu persetujuan?”

“Itu syarat. Kita memeriksa catatan Vareth di tempat yang tidak memiliki penjaga bersenjata.”

“Tempat seperti itu tidak ada.”

“Kalau begitu, pilih tempat dengan penjaga yang bisa disuap.”

“Kau ternyata punya standar yang fleksibel.”

“Aku bekerja di arsip kerajaan.”

Ia hampir tersenyum lagi. Hampir.

Aku mengunci kotak itu. Saat jariku menyentuh kunci, Binding berdenyut sekali di bawah kulit. Ingatan tentang penjaga pintu tetap hilang. Lubang kecil itu terasa lebih mengerikan daripada rasa sakitnya.

Caelan memandang tanganku.

“Kau kehilangan sesuatu yang lain.”

Aku menatapnya tajam. “Jangan mulai mengenalku terlalu cepat.”

“Aku hanya mengatakan - ”

“Jangan.”

Ia berhenti. Untuk pertama kalinya, ia mematuhi tanpa perdebatan.

Itu seharusnya membuatku lega. Sebaliknya, keheningan di antara kami terasa seperti janji baru - belum diucapkan, tetapi sudah menunggu harga.

Dari balik pintu terdengar langkah penjaga mendekat.

Caelan mengambil kotak bukti dari tanganku.

“Aku bisa membawanya.”

“Tidak.”

“Liora.”

“Kalau kau tertangkap membawa arsip kerajaan, kau akan dipenjara. Kalau aku tertangkap memberikannya, aku akan dihapus dari daftar Vowkeeper.” Aku merebut kembali kotak itu. “Jangan membuatku memilih mana yang lebih menyusahkan.”

Langkah itu berhenti di luar.

Kami saling memandang.

Aku tidak tahu apakah Caelan akan menyerahkan diri, memaksaku bersumpah, atau melakukan sesuatu yang lebih bodoh dan lebih berani. Aku hanya tahu bahwa ketika palang pintu mulai terangkat, ia berdiri di sisiku - bukan di depanku, bukan di belakangku.

Di sisiku.

Dan sekarang aku tidak bisa lagi berpura-pura bahwa penyelidikan ini hanya miliknya.

End of chapter one. 4 more chapters and about 10,375 words in the full book.

1 / 9

Swipe or use the arrows to turn the page

What's inside: 5 chapters

  1. 1. Sumpah Retak di Arsip Kerajaan
  2. 2. Kepercayaan Tanpa Jaminan
  3. 3. Kesaksian di Balik Halaman Kosong
  4. 4. Pilihan di Hadapan Mahkota
  5. 5. Janji yang Dipilih Sendiri

About this book

"The Vowkeeper’s Daughter" is a romance book by Anonymous with 5 chapters and approximately 10,375 words. A young Vowkeeper uncovers a royal historical deception amid war and forbidden trust.

This book was created using Inkfluence AI, an AI-powered book generation platform that helps authors write, design, and publish complete books. It was made with the AI Romance Novel Writer.

Frequently Asked Questions

What is "The Vowkeeper’s Daughter" about?

A young Vowkeeper uncovers a royal historical deception amid war and forbidden trust

How many chapters are in "The Vowkeeper’s Daughter"?

The book contains 5 chapters and approximately 10,375 words. Topics covered include Sumpah Retak di Arsip Kerajaan, Kepercayaan Tanpa Jaminan, Kesaksian di Balik Halaman Kosong, Pilihan di Hadapan Mahkota, and more.

Who wrote "The Vowkeeper’s Daughter"?

This book was written by Anonymous and created using Inkfluence AI, an AI book generation platform that helps authors write, design, and publish books.

How can I create a similar romance book?

You can create your own romance book using Inkfluence AI. Describe your idea, choose your style, and the AI writes the full book for you. It's free to start.

Write your own romance book with AI

Describe your idea and Inkfluence writes the whole thing. Free to start.

Start writing

Created with Inkfluence AI