Read the first chapter
The whole of chapter one, free. About 9 min. Turn the pages with the arrows, your keyboard, or a swipe.
Chapter 1
Brankas Terbuka di SeaBreeze
Nadia memasukkan kunci ke pintu belakang SeaBreeze Bakery ketika langit masih berwarna biru kelabu dan ombak memukul pemecah gelombang dengan suara berat. Ia ingin mendengar bunyi kunci berputar, bunyi kecil yang selama bertahun-tahun menandai bahwa semuanya masih berada di tempatnya.
Namun pintu itu sudah terbuka setengah jengkal.
Angin asin menyusup ke celahnya, membawa aroma rumput laut dan pasir basah ke dalam dapur. Nadia berhenti dengan satu tangan masih menggenggam gagang pintu. Di baliknya, lantai ubin yang biasanya ia sapu sampai mengilap tampak ternoda jejak-jejak pasir.
Ia tidak langsung masuk.
“Tidak,” bisiknya, seolah satu kata itu cukup untuk mengembalikan pagi ke jalurnya.
Di dalam toko, pendingin tua berdengung. Rak-rak kayu berdiri dalam remang, loyang-loyang tergantung seperti bayangan lonjong di dinding. Tidak ada suara langkah, tidak ada benda jatuh. Hanya laut, napasnya sendiri, dan pintu rusak yang bergerak perlahan diterpa angin.
Nadia meraih ponsel dari saku apron. Jarinya sudah membuka nomor polisi ketika pandangannya jatuh pada meja kerja. Adonan untuk roti pagi belum dibuat. Pesanan sudah menunggu. Jika ia menelepon sekarang, dalam satu jam seluruh kota akan tahu ada sesuatu yang terjadi di SeaBreeze.
Rumor lebih cepat daripada pasang.
Ia menurunkan ponsel.
“Periksa dulu,” katanya kepada dirinya sendiri.
Nadia menyelipkan tubuh melewati pintu tanpa menyentuh bagian yang terkelupas. Bau laut semakin kuat di dalam. Pasir menempel pada ubin, membentuk garis patah dari ambang pintu menuju lorong sempit yang mengarah ke ruang penyimpanan dan brankas.
Ia mengangkat ujung apron agar tidak menyapu jejak itu.
Setiap langkah terasa seperti pengkhianatan terhadap tempat yang ia kenal lebih baik daripada wajahnya sendiri. Di sinilah ibunya pernah mengajarinya mengukur gula dengan telapak tangan. Di sinilah Nadia, setelah pemakaman, menyalakan oven sendirian dan menangis di balik pintu pendingin agar pelanggan tidak mendengar.
Brankas itu berada di balik rak tepung, tersembunyi di dinding bata yang sudah dicat putih. Nadia menyingkirkan dua karung tepung dengan hati-hati, lalu menyalakan lampu kecil di atasnya.
Pintunya terbuka.
Kunci digitalnya menggantung dengan goresan panjang di sisi logam. Ada serpihan cat di lantai. Nadia tidak menyentuh apa pun. Ia hanya menatap ruang kosong di dalam brankas, berharap matanya keliru.
Buku resep itu seharusnya berada di sana, dibungkus kain biru tua yang telah memudar di bagian lipatannya. Buku dengan sudut kulit retak, noda karamel di halaman terakhir, dan tulisan tangan ibunya yang miring - satu-satunya benda yang masih menyimpan suara perempuan itu.
Tidak ada buku.
Nadia menahan napas sampai dadanya terasa nyeri. Ia meraih rak di sampingnya ketika lututnya melemah, tetapi berhenti sebelum jarinya menyentuh permukaan.
“Bukan ini,” katanya.
Suara itu terdengar terlalu kecil di dapur yang luas.
Ia memeriksa kembali. Ruang kosong. Kain biru tidak ada. Buku itu tidak ada. Formula Pastry Karamel Garam Laut yang selama ini tidak pernah ia tulis ulang, tidak pernah ia simpan di tempat lain, telah lenyap.
Dari luar terdengar bunyi pasir terinjak.
Nadia berbalik tajam.
Sosok seorang pria berdiri di ambang pintu dapur. Tinggi, bahunya lebar, kemeja putihnya digulung sampai siku. Rambutnya sedikit berantakan oleh angin pantai, dan ada aroma citrus bercampur kayu yang tidak seharusnya berada di antara tepung dan mentega.
Nadia meraih penggilas adonan dari meja.
“Toko belum buka.”
Pria itu tidak melihat penggilas di tangannya. Tatapannya justru bergerak ke pintu belakang, lalu ke jejak pasir di lantai.
“Aku tahu.”
“Kalau begitu keluar.”
“Kalau aku keluar, kau mungkin akan menghapus satu-satunya bukti yang bisa menjelaskan siapa yang mengambil sesuatu dari brankasmu.”
Penggilas adonan terasa licin di telapak Nadia. “Kau siapa?”
“Julian.”
“Julian siapa?”
“Detektif swasta.”
Nadia tertawa pendek, tanpa rasa geli. “Tentu saja.”
“Aku baru pindah dari kota besar.” Ia mengangkat kedua tangan sedikit, menunjukkan bahwa ia tidak berniat mendekat. “Dan sebelum matahari terbit, aku melihat seseorang masuk dari arah pantai.”
Ada sesuatu dalam cara ia mengucapkan kalimat itu - tenang, tidak berlebihan, seolah ia telah mengulangnya kepada dirinya sendiri untuk memastikan semua detail tetap utuh.
Nadia menatapnya dari ujung kepala sampai sepatu. Sepatu botnya basah, bagian solnya dipenuhi pasir pucat.
“Kau melihat seseorang membobol tokoku, lalu menunggu sampai aku datang?”
“Aku tidak tahu apakah kau pemiliknya.”
“Kau tahu namaku.”
“Nama SeaBreeze tertulis di papan depan. Nama Nadia tertulis di kartu pesanan yang tertinggal di jendela.”
Ia menyipitkan mata. “Itu tidak membuatmu berhak masuk.”
“Pintu belakangmu sudah terbuka.”
“Dan itu tidak membuatmu berhak menyentuh apa pun.”
“Aku tidak menyentuh apa pun.” Julian memandang penggilas adonan di tangannya. “Kau juga sebaiknya tidak.”
Nadia ingin membantah, tetapi bunyi kecil dari ponselnya memotong mereka. Layar menampilkan pengingat pembukaan toko. Lima puluh menit lagi. Lima puluh menit sebelum pelanggan pertama datang, sebelum aroma roti memenuhi jalan, sebelum siapa pun bisa melihat bahwa sesuatu yang tidak tergantikan telah direnggut darinya.
Julian melihat wajahnya berubah.
“Apa yang hilang?”
“Bukan urusanmu.”
“Kalau pencurinya masuk dari pantai, dan kau tidak melapor, ini bisa menjadi urusanmu lebih buruk daripada sekarang.”
“Polisi akan menutup toko.”
“Belum tentu.”
“Di kota ini, cukup satu orang melihat mobil polisi di depan SeaBreeze dan mereka akan mengira aku menjual makanan basi.” Nadia menurunkan penggilas itu, tetapi tidak meletakkannya. “Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi.”
Julian mengamati brankas terbuka di belakangnya. “Kau lebih takut pada gosip daripada pencuri?”
“Aku takut kehilangan toko yang dibangun ibuku.”
Kalimat itu keluar sebelum Nadia sempat menahannya.
Untuk pertama kalinya, tatapan Julian berubah. Bukan menjadi lembut - Nadia tidak menyukai kelembutan dari orang asing - melainkan lebih terarah, seolah ia baru saja menemukan bagian penting dari peta.
“Buku resep,” katanya.
Nadia membeku.
Julian tidak bergerak mendekat. “Yang hilang itu buku resep, bukan uang.”
“Kau tidak tahu apa-apa.”
“Brankasmu terbuka, tetapi tidak ada laci yang dibongkar. Tidak ada tepung yang ditumpahkan kecuali di dekat jalan masuk. Orang itu datang untuk satu benda.”
Nadia memeluk dirinya sendiri. “Kau menguping?”
“Aku mengamati.”
“Bedanya tipis.”
“Bedanya, aku tidak perlu mendengar tangisanmu untuk tahu kau sedang berusaha keras agar tidak menangis.”
Udara di dapur mendadak terasa lebih panas. Nadia membenci ketepatan kalimat itu. Lebih dari itu, ia membenci kenyataan bahwa Julian berdiri cukup dekat untuk melihat hal-hal yang selama ini ia sembunyikan dari pelanggan, pemasok, bahkan dirinya sendiri.
Ia memalingkan wajah ke brankas.
“Buku itu milik ibuku,” katanya. “Dia meninggal tiga tahun lalu. Itu satu-satunya benda yang masih menyimpan tulisan tangannya.”
Julian diam.
Nadia menyentuh lehernya sendiri, mencoba menelan rasa sesak yang tidak mau turun. “Formula di dalamnya tidak pernah dijual. Pastry Karamel Garam Laut dibuat dari catatan yang dia tinggalkan sebelum sakit. Aku satu-satunya orang yang tahu cara membacanya.”
“Jadi pencurinya mungkin tidak hanya menginginkan resep.”
“Jangan membuatnya terdengar seperti permainan.”
“Aku tidak sedang bermain.”
Nada suaranya rendah. Tegas. Tidak meminta Nadia percaya, tetapi juga tidak memaksanya memberikan kepercayaan itu.
Julian berjongkok di dekat pintu belakang. Ia mengeluarkan saputangan putih dari saku dan menggunakannya untuk mengangkat sesuatu dari lantai tanpa menyentuhnya langsung. Sebuah serpihan kayu kecil, berwarna gelap, terselip di antara butir pasir.
“Engselnya dipaksa dari luar,” katanya. “Tapi lihat ini.”
Nadia mendekat meski ia tidak mengundangnya. Bahunya hampir menyentuh bahu Julian. Dari jarak itu, aroma citrus-kayunya terasa lebih jelas, hangat dan tajam seperti kulit jeruk yang diperas di atas papan kayu.
Ia membungkuk. “Apa?”
“Pasirnya tidak hanya di ambang pintu.”
Julian menyorotkan senter ponselnya ke lantai. Jejak-jejak itu memang berlanjut melewati dapur, tetapi tidak semuanya mengarah ke brankas. Sebagian membelok ke lorong, lalu kembali lagi ke area meja kerja. Ada noda lembap di sana, seperti seseorang berdiri cukup lama sambil menunggu sesuatu.
Nadia menahan napas.
“Dia berjalan ke dalam,” katanya.
“Ya.”
“Lalu keluar lewat pintu yang sama.”
Julian menggeleng.
Ia menunjuk lantai di depan meja kerja. Di sana, jejak pasir berhenti. Setelahnya hanya tampak ubin bersih, kemudian dua noda kecil di dekat rak bahan kering - seolah seseorang melepas sepatu, berjalan tanpa alas kaki, lalu mengenakannya kembali sebelum menuju pintu.
Nadia merasakan dingin menjalar dari telapak kakinya.
“Berarti dia tahu dapur ini,” katanya.
“Atau tahu ada tempat untuk membersihkan jejak.”
“Tidak ada yang seperti itu.”
Julian berdiri. Jarak mereka kini terlalu dekat. Nadia mundur setengah langkah, dan punggungnya menyentuh tepi meja. Julian berhenti segera, menyisakan ruang di antara mereka.
Gerakan kecil itu membuat Nadia lebih waspada daripada jika ia terus maju.
“Kau tidak perlu mundur dariku,” katanya.
“Aku tidak mundur darimu. Aku mundur dari orang asing yang muncul di dapurku.”
“Masuk akal.”
“Jangan terdengar seolah kau menikmati bantahanku.”
“Aku menikmati orang yang tidak mudah dibohongi.”
Mata mereka bertemu. Di luar, ombak pecah dengan suara panjang. Nadia sadar bahwa ia masih menggenggam penggilas adonan, tetapi tidak lagi mengarahkannya. Julian menyadari hal yang sama. Pandangannya turun sekilas ke tangan Nadia, lalu kembali ke wajahnya.
“Kalau kau detektif,” ujar Nadia, “kenapa tidak langsung menelepon polisi?”
“Karena orang yang kulihat menutupi wajahnya. Aku hanya melihat jaket gelap dan cara dia berjalan.”
“Itu tidak cukup.”
“Tidak untuk penangkapan.” Julian menoleh ke jejak pasir. “Tapi cukup untuk mulai mencari.”
Nadia menatap brankas. Kehilangan itu masih terasa seperti lubang yang terbuka di dalam dirinya. Ia ingin menelepon polisi. Ia ingin mengunci toko, membatalkan semua pesanan, dan duduk di lantai sampai rasa sakitnya berhenti. Namun ia juga tahu apa yang akan terjadi setelah laporan dibuat: pertanyaan, foto, pelanggan yang berbisik, dan mungkin seseorang yang menganggap resep ibunya sekadar barang bukti.
“Kalau aku setuju,” katanya perlahan, “kau tidak boleh mengatakan apa pun kepada siapa pun.”
“Termasuk polisi?”
“Untuk sementara.”
“Dan kau akan membiarkanku memeriksa toko.”
“Dengan syarat aku ikut setiap langkah.”
Julian menatapnya cukup lama hingga Nadia merasa permintaannya sedang ditimbang, bukan hanya sebagai syarat penyelidikan, tetapi sebagai batas di antara mereka.
“Baik,” katanya. “Kita bekerja diam-diam.”
“Kita?”
“Kalau kau menyelidiki sendirian, kau akan menginjak jejak yang tersisa.”
Nadia hampir tersenyum, tetapi tidak jadi. “Kau selalu searogan ini?”
“Tidak. Kadang aku lebih buruk.”
Jawaban itu terlalu ringan untuk situasi mereka, tetapi justru membuat ketegangan di bahu Nadia sedikit mengendur. Ia meletakkan penggilas adonan di meja.
“Pintu depan akan kubuka seperti biasa,” katanya. “Tidak ada yang boleh tahu buku itu hilang.”
Julian mengangguk. “Dan malam nanti, setelah toko tutup, kita periksa semua jalur masuk.”
Nadia menatapnya. “Kau akan datang?”
“Aku sudah di sini.”
“Itu bukan jawaban.”
“Ya, Nadia. Aku akan datang.”
Cara ia menyebut namanya membuat sesuatu bergerak pelan di bawah tulang rusuknya - bukan rasa aman, belum, melainkan kesadaran yang mengganggu bahwa suara Julian dapat membuat namanya terdengar seperti sesuatu yang lebih pribadi daripada sekadar tulisan di kartu pesanan.
Ia berbalik menuju meja kerja, mengambil sapu kecil, lalu berhenti.
“Jangan sentuh jejak itu,” kata Julian.
“Aku harus membuat roti.”
“Kalau kau menyapu sekarang, kau menghapus jalur pencuri.”
“Kalau aku tidak membuat roti, seluruh kota akan bertanya kenapa.”
Julian menatap rak oven, lalu kembali kepadanya. “Buat roti. Jangan sapu.”
Nadia mendengus. “Kau pikir aku bisa bekerja dengan dapur seperti ini?”
“Aku pikir kau bisa melakukan apa pun yang harus dilakukan, lalu menyesalinya nanti.”
Ia membenci bahwa kalimat itu terdengar seperti pengenalan, bukan penilaian.
Nadia mengambil mangkuk adonan. Saat melewati Julian, lengannya menyentuh lengannya. Hanya sekilas, tetapi panas tubuh pria itu menembus kain tipis kemejanya. Julian tidak meraih, tidak menahan. Ia hanya menoleh, dan tatapan mereka bertemu cukup lama untuk membuat Nadia lupa pada tepung di tangannya.
“Jangan menghalangi jalanku,” katanya.
“Aku sedang berusaha tidak melakukannya.”
“Usahamu belum meyakinkan.”
Sudut mulut Julian terangkat sedikit. “Aku baru pindah ke kota ini untuk mencari ketenangan. Sejauh ini, kau membuatnya sulit.”
Nadia menyalakan lampu oven. Cahaya kuning memantul di wajah mereka.
“Kalau begitu,” katanya, “kau datang ke toko yang salah.”
Ia mulai menimbang tepung, sementara Julian kembali berjongkok di dekat jejak pasir. Untuk beberapa menit, hanya terdengar bunyi sendok mengaduk, dengung pendingin, dan kamera ponsel Julian yang sesekali memotret lantai.
Nadia memaksa dirinya bekerja. Namun ketika ia membuka laci gula, ia melihat sesuatu yang membuat tangannya berhenti.
Di bawah rak paling rendah, jauh dari jalur pintu belakang, ada tiga butir pasir basah.
Bukan di atas jejak.
Di bawah rak.
Seolah seseorang telah masuk ke dapur dari arah yang tidak mungkin, berjalan melewati ruang kerja, lalu meninggalkan sebagian pantai di tempat yang hanya diketahui oleh orang yang mengenal setiap sudut SeaBreeze.
Julian mengikuti arah pandangnya.
Nadia menatapnya, dan kali ini ia tidak perlu mengatakan apa pun.
Mereka berdua memahami hal yang sama: pencuri itu memang datang dari pantai.
Tetapi jejak terakhirnya mengarah lebih jauh ke dalam toko.
End of chapter one. 4 more chapters and about 11,266 words in the full book.
Swipe or use the arrows to turn the page
What's inside: 5 chapters
- 1. Brankas Terbuka di SeaBreeze
- 2. Kesepakatan di Dapur Malam
- 3. Jejak di Gudang Pasang
- 4. Kunci yang Tak Seharusnya Ada
- 5. Malam Ketika Oven Padam
About this book
"Manis Yang Mencurigakan" is a romance book by Anonymous with 5 chapters and approximately 11,266 words. A baker and private detective investigate a stolen family recipe.
This book was created using Inkfluence AI, an AI-powered book generation platform that helps authors write, design, and publish complete books. It was made with the AI Romance Novel Writer.
Frequently Asked Questions
What is "Manis Yang Mencurigakan" about?
A baker and private detective investigate a stolen family recipe
How many chapters are in "Manis Yang Mencurigakan"?
The book contains 5 chapters and approximately 11,266 words. Topics covered include Brankas Terbuka di SeaBreeze, Kesepakatan di Dapur Malam, Jejak di Gudang Pasang, Kunci yang Tak Seharusnya Ada, and more.
Who wrote "Manis Yang Mencurigakan"?
This book was written by Anonymous and created using Inkfluence AI, an AI book generation platform that helps authors write, design, and publish books.
How can I create a similar romance book?
You can create your own romance book using Inkfluence AI. Describe your idea, choose your style, and the AI writes the full book for you. It's free to start.
Write your own romance book with AI
Describe your idea and Inkfluence writes the whole thing. Free to start.
Start writingCreated with Inkfluence AI