Lucas Dan Callysta
Romance

Lucas Dan Callysta

by Anonymous · 2026-09-23

Romansa idol boy grup dengan penggemar fandomnya sendiri

5 chapters 9,837 words ~39 min read Indonesian

Read the first chapter

The whole of chapter one, free. About 9 min. Turn the pages with the arrows, your keyboard, or a swipe.

Chapter 1

Tatapan Lucas di Panggung Besar

Lampu utama menyala tepat ketika Lucas melompat ke tengah panggung.

Suara ribuan penonton menghantam tubuhnya lebih keras daripada dentuman bas. Panas lampu menempel di kulit, keringat segera mengalir dari pelipis, dan layar LED raksasa di belakangnya menampilkan wajah Lucas dalam ukuran yang membuat setiap gerak kecil tampak sempurna. Ia tersenyum lebar, mengangkat tangan, lalu mengikuti hitungan koreografi dengan tenaga penuh.

Malam itu adalah konser terbesar enight.

Lucas tidak boleh melakukan kesalahan.

“Lucas, kiri!” suara pengarah panggung terdengar samar melalui alat kecil di telinganya.

Ia berputar tepat waktu. Bahunya yang lebar mengikuti gerakan Daniel di sebelahnya, lalu seluruh anggota enight berpindah formasi. Sorot lampu menyapu lautan cahaya dari lightstick fandom enhypen. Biru, putih, dan ungu berkelip seperti bintang yang jatuh terlalu dekat dengan panggung.

Lucas biasanya menyukai bagian ini - ketika suara penonton membuat darahnya berlari lebih cepat. Ia hiper, sulit diam, dan selalu menjadi anggota yang paling mudah terbawa suasana. Namun baru beberapa detik lagu dimulai, matanya menangkap sesuatu di antara ribuan wajah.

Seorang perempuan berdiri di baris depan sisi kanan panggung.

Rambutnya lurus, panjang, dan jatuh halus melewati bahu. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, tetapi siluetnya begitu jelas di bawah cahaya layar - pinggang ramping dengan lekuk tubuh hourglass yang membuat Lucas kehilangan satu hitungan. Kulitnya tampak putih diterpa lampu biru. Wajahnya cantik dengan cara yang tidak perlu berusaha menarik perhatian, tetapi tetap membuat tatapan Lucas berhenti.

Callysta Griselda Valerie.

Nama itu belum Lucas ketahui saat itu. Yang ia tahu hanya satu: perempuan itu tidak berteriak paling keras, tidak melompat paling tinggi, dan tidak memegang papan nama yang menyebut dirinya.

Ia hanya menatap Daniel.

Tatapan Callysta berubah setiap kali Daniel berada di dekatnya. Matanya berbinar, bibirnya tersenyum malu, dan lightstick di tangannya bergerak lebih cepat ketika Daniel menyanyikan bagian solo. Bahkan saat Lucas berdiri di depan sisi panggung, Callysta hanya mengangkat ponselnya sedikit lebih tinggi untuk merekam Daniel yang berada dua langkah di belakangnya.

Lucas tetap tersenyum ke arah penonton.

Di dalam kepalanya, sesuatu tersandung.

“Jangan bengong,” bisik Daniel saat mereka berpapasan dalam perpindahan formasi.

“Aku tidak bengong,” balas Lucas, masih mengikuti gerakan.

“Kau baru saja hampir menabrak bahuku.”

“Panggungnya sempit.”

Daniel tertawa kecil, lalu berlari menuju tanda posisinya. Lucas menahan napas, memaksa dirinya kembali pada koreografi. Musik berubah, lampu merah menyala, dan ia menampilkan ekspresi yang sudah dilatih berulang kali di ruang latihan.

Namun matanya terus mencari perempuan itu.

Callysta.

Nama itu muncul di layar ponsel yang ia lihat sekilas ketika kamera penonton menyorot barisan depan. Ia membaca tulisan di papan kecil yang diangkat Callysta saat Daniel mendekat.

DANIEL, LIHAT AKU.

Lucas hampir tersenyum karena kesal.

“Lucas, kamera tiga,” suara pengarah panggung kembali terdengar.

Ia langsung menghadap kamera. Layar LED menampilkan wajahnya yang berkeringat, senyum tajam, dan mata yang seharusnya terlihat penuh percaya diri. Lucas mengedipkan satu mata ke arah kamera, membuat teriakan penonton semakin keras.

Tetapi di antara kilatan cahaya itu, ia tetap melihat Callysta.

Perempuan itu tidak bereaksi.

Tidak seperti penonton lain yang menjerit ketika Lucas menggoda kamera. Callysta malah menoleh ke arah Daniel, yang sedang menerima sorotan lampu dari sisi kiri. Ia tersenyum begitu lembut sampai Lucas merasa ada sesuatu yang asing menekan dadanya.

Ia terbiasa disukai.

Terbiasa melihat orang-orang memanggil namanya, mengangkat slogan, atau berebut mendapat tatapannya. Namun perempuan itu seolah memiliki pusat dunia sendiri, dan pusat itu bukan Lucas.

“Lucas, maju dua langkah!” teriak salah satu anggota dari belakang.

Ia terlambat sepersekian detik. Formasi berubah, dan tubuh Lucas terdorong melewati garis yang sudah ditentukan. Seorang penari latar hampir menyenggolnya. Musik terus berjalan tanpa memberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.

Lucas menggigit bagian dalam pipinya, lalu melompat mengikuti ketukan terakhir.

Ketika lagu selesai, napasnya berat. Keringat membasahi tengkuk, sementara sorak-sorai dari penonton membuat lantai panggung terasa bergetar. Para anggota enight berdiri sejajar dan membungkuk. Lucas menunduk, tetapi saat bangkit, pandangannya kembali menyusuri barisan depan.

Callysta masih di sana.

Kali ini ia tidak merekam Daniel. Ia sedang menatap panggung secara keseluruhan, seolah mencari seseorang.

Lucas refleks melangkah setengah langkah ke depan.

Mungkin sekarang.

Mungkin ia bisa membuat Callysta menatapnya, walau hanya sebentar.

Segmen berikutnya seharusnya dimulai dengan sapaan singkat. Lucas mengambil mikrofon dari dudukannya, lalu mendekatkannya ke bibir.

“Halo, enhypen!” serunya.

Teriakan membalas dari segala arah.

Lucas memiringkan kepala, matanya tetap tertuju pada sisi kanan. “Kalian menikmati konser malam ini?”

Callysta mengangkat wajah.

Tatapan mereka bertemu.

Hanya satu detik.

Tetapi satu detik itu terasa lebih panjang daripada seluruh lagu yang baru saja ia nyanyikan. Mata Callysta membesar sedikit, seolah baru menyadari Lucas sedang melihatnya. Tangannya berhenti menggenggam lightstick. Wajahnya yang semula tenang berubah gugup.

Lucas merasakan senyum di bibirnya berubah menjadi sesuatu yang lebih pribadi.

Ia ingin mengatakan sesuatu. Menanyakan namanya. Menanyakan mengapa ia menyukai Daniel. Menanyakan apakah tatapannya akan tetap sama jika Lucas berdiri lebih dekat.

Namun kamera bergerak di jalur rel depan panggung.

“Lucas, kamera satu. Sekarang,” perintah pengarah panggung.

Lucas menoleh ke depan dengan enggan. Kamera sudah mengarah kepadanya. Ia harus tersenyum, melambaikan tangan, dan menjalankan bagian yang telah ditentukan. Tidak ada ruang untuk tatapan kedua.

Saat ia kembali melihat ke barisan depan, Callysta sudah tertutup oleh kamera besar dan dua staf yang melintas di tepi panggung.

“Lucas, posisi tengah!” teriak seseorang.

Ia berlari.

Langkahnya panjang dan cepat, tetapi panggung yang luas terasa seperti labirin. Jarak antara dirinya dan Callysta hanya beberapa meter, tetapi aturan blocking membuatnya tidak bisa melewati garis. Ia tidak boleh mendekati sisi panggung sebelum giliran segmen berikutnya. Tidak boleh memanggil penonton secara pribadi. Tidak boleh membiarkan kamera menangkap sesuatu yang tidak direncanakan.

Lucas benci aturan itu untuk pertama kalinya.

Ia menyelesaikan bagian tari dengan tenaga yang lebih besar, seakan gerakan tubuhnya dapat menarik perhatian Callysta dari mana pun perempuan itu berdiri. Bahunya bergerak tajam, pinggangnya mengikuti irama, dan setiap kali kamera menyorotnya, Lucas menatap lensa dengan senyum yang terlalu berani.

Tetapi ia tidak tahu apakah Callysta melihatnya.

Di akhir lagu, Daniel berdiri di sisi Lucas. Daniel menerima sorotan khusus dan para penonton kembali menjerit. Callysta termasuk di antara mereka. Suaranya tidak terdengar jelas, tetapi Lucas melihat gerak bibirnya menyebut nama Daniel.

Ada rasa panas yang aneh di tenggorokannya.

“Kenapa wajahmu seperti mau menantang seseorang?” Daniel bertanya ketika mereka berjalan menuju bagian belakang panggung.

“Aku selalu terlihat seperti ini.”

“Tidak. Biasanya kau terlihat seperti ingin memeluk semua orang.”

Lucas menatapnya tajam. “Jangan banyak bicara.”

Daniel mengangkat kedua tangan, masih tersenyum. “Aku hanya bilang - ”

“Lucas, minum!” seru staf dari sisi panggung.

Botol air disodorkan kepadanya. Lucas mengambilnya, tetapi tidak langsung minum. Ia menoleh ke layar samping yang menampilkan siaran langsung konser. Kamera sedang memperbesar wajah Callysta.

Jantungnya tersentak.

Di layar, Callysta tampak lebih jelas. Rambut panjangnya memantulkan cahaya putih. Wajahnya cantik, tetapi sorot matanya bukan untuk kamera. Ia sedang menatap Daniel yang melambaikan tangan kepada penonton.

Lucas menekan botol air sampai plastiknya berkerut.

“Dia cantik, ya?” Daniel berkata pelan.

Lucas menoleh cepat. “Siapa?”

Daniel melirik layar. “Penggemar yang dari tadi kau lihat.”

“Aku tidak melihat siapa-siapa.”

“Kalau begitu, layar itu kebetulan selalu ada di arah matamu?”

Lucas membuka tutup botol. Tangannya terlalu kuat memutar sampai suara plastik berderak. Ia meneguk air, membiarkan dinginnya mengalir ke tenggorokan.

“Dia penggemarmu,” katanya.

“Kelihatannya begitu.”

“Dia bahkan membawa papan namamu.”

Daniel memandangnya beberapa detik, lalu tersenyum miring. “Kau terdengar kecewa.”

Lucas hendak menjawab, tetapi musik pembuka segmen spesial terdengar dari panggung. Staf memberi isyarat agar mereka kembali ke posisi. Waktu untuk berbicara sudah habis.

Lucas menarik napas panjang.

Segmen spesial itu adalah bagian yang paling ia tunggu malam itu. Ia akan berdiri di tengah panggung bersama seluruh anggota enight, menyanyikan lagu balada yang belum pernah mereka bawakan dalam konser sebelumnya. Lampu akan diredupkan. Layar LED akan menampilkan langit malam. Setiap anggota mendapat bagian untuk berbicara kepada penggemar.

Kesempatan untuk mendekat secara emosional.

Kesempatan untuk mencari Callysta lagi.

Lucas berdiri di tengah lingkaran cahaya. Musik piano mengalun lembut, berbeda dari dentuman lagu sebelumnya. Udara terasa lebih dingin setelah lampu panggung diturunkan. Dari ribuan penonton, terdengar suara tangis kecil dan panggilan nama yang saling bertumpuk.

Ia memegang mikrofon dengan kedua tangan.

“Terima kasih sudah datang,” ucap Lucas, suaranya terdengar lebih rendah melalui pengeras suara. “Kadang kami melihat banyak wajah dari atas panggung, tetapi ada beberapa tatapan yang… entah kenapa, sulit dilupakan.”

Daniel menoleh kepadanya.

Lucas tidak membalas tatapan itu. Matanya sudah menemukan Callysta lagi.

Kini Callysta tidak memegang ponsel. Ia berdiri diam, menatap Lucas secara langsung. Cahaya dari lightstick di tangannya memantul di pipi. Tidak ada papan nama Daniel diangkat. Tidak ada senyum untuk anggota lain.

Hanya tatapan mereka.

Lucas merasakan napasnya tertahan.

Ia ingin percaya bahwa kali ini tatapan itu miliknya. Namun di detik berikutnya, Callysta melihat ke arah Daniel yang berdiri di sampingnya. Senyumnya kembali muncul, lembut dan penuh kekaguman.

Lucas menunduk sebentar, menyembunyikan perubahan wajahnya.

Ia tidak boleh merasa cemburu kepada Daniel. Daniel adalah sahabatnya, rekan satu grupnya, orang yang berdiri bersamanya di setiap panggung. Callysta bahkan belum mengenalnya. Mereka hanya bertukar satu tatapan di antara ribuan orang.

Namun ketika Lucas menyanyikan bagian terakhir, ia hanya menyanyi untuk satu titik di tengah kerumunan.

Callysta.

Setelah lagu berakhir, confeti turun dari atas panggung. Kertas-kertas tipis berkilau menempel di rambut dan bahu para anggota. Lucas tertawa, melompat, lalu kembali menjadi dirinya yang hiper di hadapan penonton. Ia memimpin teriakan, berlari dari satu sisi panggung ke sisi lain, dan melambaikan tangan sampai lengannya pegal.

Tetapi setiap kali ia berhenti, matanya mencari perempuan itu.

Satu kali ia menemukannya. Callysta sedang tersenyum sambil memegang ponsel, mungkin merekam Daniel. Kali berikutnya, ia hanya melihat rambut panjangnya sebelum kerumunan bergerak dan menutup pandangan.

Konser terus berjalan.

Jadwal tidak peduli pada rasa penasaran Lucas. Lampu berganti, lagu berganti, dan posisi mereka diatur dengan ketat. Ketika Lucas akhirnya berdiri di sisi panggung yang paling dekat dengan Callysta, perempuan itu sudah tidak ada di sana.

Barisan depan dipenuhi penonton lain.

Lucas menatap kosong selama satu ketukan musik.

“Lucas!” panggil Daniel dari tengah panggung.

Ia tersadar, lalu berlari kembali.

Pertunjukan berakhir dengan sempurna. Mereka membungkuk bersama, menerima sorakan terakhir dari enhypen. Lucas tersenyum sampai pipinya terasa kaku, tetapi pandangannya tetap menyusuri area penonton yang mulai kosong.

Ia berhasil memberikan performa terbaiknya.

Ia juga berhasil mendapatkan satu tatapan dari Callysta.

Namun ia pulang dari panggung tanpa mengetahui apa pun tentang perempuan itu, selain fakta yang paling mengganggunya: Callysta menyukai Daniel, bukan dirinya.

Di belakang panggung, Lucas melepas alat komunikasinya dan menyeka keringat dari leher. Suara penonton masih terdengar dari luar, samar dan jauh.

Daniel datang sambil membawa handuk. “Kau mencari dia?”

Lucas menerima handuk itu, lalu mengusap wajahnya. “Aku hanya melihat penonton.”

“Namanya Callysta Griselda Valerie.”

Lucas berhenti bergerak.

Daniel menyebut nama itu dengan santai, seolah tidak tahu bahwa Lucas telah menyimpannya sejak melihatnya di layar. “Staf bilang dia salah satu penggemar yang terpilih untuk acara fancall setelah konser.”

Lucas menatap Daniel. “Kau tahu?”

“Dia sering muncul di acara kami. Biasanya membawa slogan untukku.”

Jari Lucas mengencang pada handuk.

“Kalau begitu,” katanya pelan, “aku akan mengingat wajahnya.”

Daniel terkekeh. “Untuk apa?”

Lucas menoleh ke arah pintu yang mengarah kembali ke panggung. Di luar sana, kursi-kursi mulai kosong. Callysta mungkin sudah pergi. Mungkin ia tidak akan pernah menoleh lagi.

Tetapi untuk pertama kalinya, Lucas tidak ingin membiarkan seseorang menghilang begitu saja dari hidupnya.

“Karena aku belum selesai menatapnya.”

Daniel tidak menjawab.

Di layar monitor ruang tunggu, gambar terakhir konser masih membeku: Lucas berdiri di bawah cahaya putih, sementara jauh di antara kerumunan, Callysta menatap Daniel.

Lucas melihat gambar itu lama sekali.

Ia mendapatkan apa yang ia inginkan - sebuah tatapan.

Namun sekarang, tatapan itu justru meninggalkan pertanyaan yang tidak bisa ia singkirkan: bagaimana caranya membuat Callysta melihat dirinya, jika sejak awal hati perempuan itu sudah memilih orang lain?

End of chapter one. 4 more chapters in the full book.

1 / 10

Swipe or use the arrows to turn the page

What's inside: 5 chapters

  1. 1. Tatapan Lucas di Panggung Besar
  2. 2. Gigi Bibir Saat Fancall Dimulai
  3. 3. Mencari Daniel di Balik Foto
  4. 4. Staf Mengubah Jadwal, Lucas Terpukul
  5. 5. Lucas Mengaku Tanpa Menyebut Daniel

About this book

"Lucas Dan Callysta" is a romance book by Anonymous with 5 chapters and approximately 9,837 words. Romansa idol boy grup dengan penggemar fandomnya sendiri.

This book was created using Inkfluence AI, an AI-powered book generation platform that helps authors write, design, and publish complete books. It was made with the AI Romance Novel Writer.

Frequently Asked Questions

What is "Lucas Dan Callysta" about?

Romansa idol boy grup dengan penggemar fandomnya sendiri

How many chapters are in "Lucas Dan Callysta"?

The book contains 5 chapters and approximately 9,837 words. Topics covered include Tatapan Lucas di Panggung Besar, Gigi Bibir Saat Fancall Dimulai, Mencari Daniel di Balik Foto, Staf Mengubah Jadwal, Lucas Terpukul, and more.

Who wrote "Lucas Dan Callysta"?

This book was written by Anonymous and created using Inkfluence AI, an AI book generation platform that helps authors write, design, and publish books.

How can I create a similar romance book?

You can create your own romance book using Inkfluence AI. Describe your idea, choose your style, and the AI writes the full book for you. It's free to start.

Write your own romance book with AI

Describe your idea and Inkfluence writes the whole thing. Free to start.

Start writing

Created with Inkfluence AI