Read the first chapter
The whole of chapter one, free. About 8 min. Turn the pages with the arrows, your keyboard, or a swipe.
Chapter 1
Sapaan Pertama di Instagram
Layar ponsel Regar menyala di atas seprai yang kusut. Cahaya putihnya memotong temaram kamar, menyorot satu nama pengguna yang sejak beberapa menit lalu belum juga ia berani sentuh: staoofsuf.
Ia tidak tahu siapa pemiliknya. Hanya ada foto profil yang tidak terlalu jelas, beberapa unggahan, dan bio singkat yang membuat jarinya berhenti menggulir.
“Semoga angin membawaku ke tempat terbaik.”
Di bawahnya, lagu Satu Bulan dari Bernadya berjalan pelan. Suaranya tipis dari pengeras ponsel, bercampur dengan dengung kipas dan bunyi kendaraan yang sesekali lewat di luar jendela. Regar membaca bio itu sekali lagi, seolah-olah ada jawaban tersembunyi di antara kata-katanya.
Ia menemukan akun itu tanpa rencana. Mungkin karena nama pengguna tersebut muncul di antara daftar pengikut, mungkin juga karena rasa ingin tahu yang tidak mau pergi. Yang jelas, sejak tadi ia sudah beberapa kali membuka profil itu, menutupnya, lalu membukanya lagi.
Keinginannya sederhana: mengenal pemilik akun tersebut.
Masalahnya, ia bahkan belum tahu apakah sapaan darinya akan dianggap biasa, mengganggu, atau terlalu berani.
Regar mengusap dagunya. Kursor berkedip di ruang pesan kosong. Ia mengetik satu kalimat, menghapusnya. Menulis lagi, menghapus lagi. “Hai” terasa terlalu pendek. Pertanyaan tentang bio terasa terlalu sok akrab. Ia bahkan sempat mempertimbangkan untuk tidak mengirim apa-apa dan berpura-pura tidak pernah menemukan akun itu.
Namun, jika ia terus menunggu, kesempatan itu mungkin hanya akan tinggal nama pengguna di layar.
Akhirnya ia mengetik:
“Hai kak, boleh kenalan kah?”
Regar menatap kalimat itu lama. Tidak ada yang istimewa, tetapi justru itu yang membuatnya aman. Ia menarik napas, lalu menekan tombol kirim.
Pesan itu meluncur ke ruang obrolan dengan tanda centang kecil. Seketika kamar terasa lebih sunyi. Regar meletakkan ponsel di samping bantal, tetapi matanya tetap tertuju ke layar. Lima detik. Sepuluh detik. Ia mengambilnya lagi.
Belum ada balasan.
Ia mencoba menertawakan dirinya sendiri. Baru juga mengirim satu pesan, sudah seperti menunggu pengumuman penting. Regar menggulir layar tanpa benar-benar membaca apa pun. Lagu di profil itu sudah berhenti, tetapi potongan nadanya masih tertinggal di kepalanya.
Lalu notifikasi muncul.
Akun staoofsuf mengikuti balik.
Regar duduk lebih tegak. Balasan belum datang, tetapi tindakan kecil itu cukup untuk membuat keberaniannya tumbuh sedikit. Ia membuka ruang obrolan kembali. Beberapa saat kemudian, sebuah pesan masuk.
“Haii.”
Satu kata dengan dua huruf i. Regar tersenyum sendiri, lalu buru-buru menahan ekspresi itu ketika menyadari betapa mudahnya seseorang yang belum ia kenal membuat malamnya berubah.
Ia perlu membalas sesuatu. Jangan terlalu cepat. Jangan terlalu dingin. Jangan membuat percakapan berhenti setelah dua kalimat.
“Ehhh, ngomong-ngomong nama kamu Rara kan??”
Balasan datang tidak lama kemudian.
“Iyaa... r a r a”
Nama itu muncul dengan spasi di antara setiap huruf. Regar membacanya dua kali. Ada kesan sengaja menekankan, seolah Rara sedang menunjuk satu per satu huruf namanya dengan ujung jari.
“Wajib banget pakai spasi kak?” tulis Regar. “Udah tau nama aku belum yak kakak ini?”
Ia menekan kirim, lalu mendadak merasa kalimat itu mungkin terdengar terlalu lancang. Ruang obrolan kembali sunyi. Regar menggeser tubuhnya ke sandaran tempat tidur, telapak tangannya mulai hangat.
Rara membalas:
“Wkwk, penekanan doang.”
Tawa singkat itu membuat kecanggungan di antara mereka sedikit mencair. Regar membayangkan Rara sedang mengetik sambil tersenyum, meski ia tahu bayangan itu bisa saja keliru. Ia tidak ingin buru-buru mempercayai kesan pertama, tetapi cara Rara menulis terasa ringan - tidak menjaga jarak sepenuhnya, juga belum mengundangnya terlalu dekat.
“Nggak, jadi?” Regar melanjutkan. “Kenalin kak namaku Regar, bisa dipanggil mamas juga boleh kok 😊. Kamu temannya Adel kah kak?”
Ia menambahkan emotikon setelah berpikir cukup lama. Terlalu banyak pertimbangan untuk satu wajah tersenyum, pikirnya. Namun, setelah pesan terkirim, tidak ada lagi yang bisa ia ubah.
Rara tidak langsung menjawab.
Kali ini jedanya lebih panjang. Regar menatap tanda terakhir dilihat yang tidak berubah. Ia sempat merasa pertanyaannya salah. Mungkin ia terlalu cepat membawa nama Adel. Mungkin Rara tidak mengenalnya sedekat yang ia kira. Mungkin sapaan pertama tadi hanya dibalas karena sopan.
Ia bangkit mengambil air minum di meja. Gelas itu terasa dingin di telapak tangannya. Ketika ia kembali ke tempat tidur, notifikasi baru muncul.
“Iyaa, aku teman sekelas Adel.”
Regar berhenti sebelum duduk.
Simpul kecil itu akhirnya terbuka. Adel adalah alasan namanya bisa bersinggungan dengan Rara, meski sebelumnya mereka hidup di lingkaran yang berbeda. Ada perasaan lega yang tidak sepenuhnya bisa ia jelaskan. Setidaknya, ia bukan orang asing yang muncul tanpa jejak apa pun.
“Ohh pantes,” balasnya. “Berarti memang satu kelas sama Adel?”
“Iyaa. Sering juga bareng kalau ada tugas.”
Regar membaca jawaban itu sambil memikirkan langkah berikutnya. Ia ingin bertanya banyak hal, tetapi tidak mau membuat Rara merasa sedang diwawancarai. Ia ingin tahu seperti apa Rara di luar layar, tetapi percakapan mereka baru saja dimulai. Setiap pertanyaan terasa seperti berjalan di lantai yang belum ia kenal - salah pijak sedikit, semuanya bisa berhenti.
“Kalau begitu, nanti kalau ketemu Adel, titip salam,” tulisnya.
“Salamnya buat aku juga boleh?”
Regar tersenyum lebar. Ia tidak menyangka Rara akan membalas dengan candaan lebih dulu. Namun, sebelum ia sempat menjawab, Rara mengirim pesan berikutnya.
“Bercanda.”
“Telanjur,” jawab Regar. “Salamnya sudah aku titipkan lewat angin.”
“Bio aku dibaca, ya?”
Regar memandang kalimat itu cukup lama.
Pertanyaan tersebut terdengar sederhana, tetapi membuatnya merasa ketahuan. Ia memang membaca bio Rara. Ia juga mendengarkan lagu yang terpasang di profil itu, memperhatikan unggahan-unggahannya, bahkan menebak-nebak alasan Rara memilih nama pengguna tersebut.
“Sedikit,” katanya akhirnya.
“Sedikit itu berapa?”
“Cuma sampai habis.”
Rara mengirim tawa. Kali ini lebih panjang.
Regar ikut tertawa, meski sendirian di kamar. Ada sesuatu dalam ritme obrolan mereka yang membuatnya ingin terus berada di sana. Rara tidak menjawab dengan kalimat panjang, tetapi selalu menyisakan celah untuk dibalas. Ia seperti membuka pintu sedikit, lalu menunggu apakah Regar akan masuk dengan sopan atau justru menerobos.
Malam bergeser. Percakapan mereka berpindah dari Adel ke tempat-tempat yang biasa didatangi. Regar bertanya tentang tempat nongkrong yang disukai Rara. Rara menyebut beberapa tempat, lalu mengaku tidak terlalu suka suasana yang ramai.
“Berarti sukanya tempat yang tenang?” tanya Regar.
“Yang nggak terlalu penuh orang. Bisa ngobrol tanpa harus teriak.”
“Wah, cocok. Aku juga bisa ngobrol tanpa teriak.”
“Serius?”
“Serius. Kecuali kalau saldo habis.”
Rara membalas dengan tawa. Regar memandangi layar sambil menahan senyum. Ia ingin menjaga suasana tetap ringan, tetapi di balik candaan itu ada pertanyaan yang belum berani ia ajukan: apakah Rara mau bertemu dengannya, bukan hanya membalas pesan?
Kesempatan itu muncul ketika Regar menulis:
“Kapan-kapan ajakin ngopi aku dong, boleh nggak? Hehehe.”
Setelah mengirimnya, ia langsung menyesal. Kalimat itu terdengar santai, tetapi maksudnya terlalu jelas. Ia meletakkan ponsel menghadap kasur, seakan-akan dengan begitu ia bisa menghindari jawaban.
Beberapa detik berlalu.
Lalu satu menit.
Regar mengambil ponsel lagi. Belum ada balasan. Di bagian atas layar, status Rara tampak aktif beberapa saat lalu menghilang. Dada Regar terasa penuh oleh kemungkinan-kemungkinan yang tidak menyenangkan. Barangkali Rara sedang bingung membalas. Barangkali ia menganggap ajakan itu hanya candaan dan memilih membiarkannya lewat. Barangkali Regar telah merusak percakapan yang sebelumnya mengalir.
Ia mengetik, “Bercanda kok,” tetapi tidak jadi mengirim. Jika ia menarik kembali ajakannya, ia akan terlihat tidak yakin. Jika ia membiarkannya, ia harus menerima apa pun jawaban Rara.
Pukul mendekati enam sore ketika pesan itu akhirnya masuk.
“Iyaa ayo, kalau aku ngopi sama Adel kamu ikut sih.”
Regar membaca kalimat tersebut dengan teliti. Ada kata “kalau”. Ada nama Adel di tengahnya. Rara belum benar-benar mengajaknya pergi berdua. Ia hanya membuka kemungkinan jika nanti ia bersama Adel.
Namun, bagi Regar, kemungkinan itu sudah cukup untuk membuat ruangan terasa lebih terang.
“Serius, kak?”
“Iyaa, kenapa?”
“Takutnya cuma kasihan sama aku.”
“Bukan kasihan. Biar ada teman ngobrol juga.”
Jawaban itu membuat senyum Regar tertahan. Ia tahu Rara sedang menjaga jarak. Ajakan tersebut bukan janji khusus, bukan tanda bahwa mereka sudah memiliki hubungan tertentu. Hanya sebuah kesempatan bertemu dalam lingkaran yang aman, dengan Adel sebagai penghubung di antara mereka.
Anehnya, justru karena itulah Regar merasa lebih tenang.
“Kalau begitu aku tunggu kabarnya,” tulisnya.
“Jangan nunggu sambil berdiri.”
“Kalau duduk boleh?”
“Boleh. Asal jangan berharap terlalu tinggi.”
Regar terdiam sejenak. Candaan itu ringan, tetapi ada batas yang jelas di dalamnya. Rara tidak ingin ia salah paham. Ia sedang bersedia mengenal, bukan memberikan kepastian.
Regar mengetik perlahan.
“Aku ngerti kok. Kita kenalan dulu saja.”
Kali ini Rara tidak langsung membalas. Regar memperhatikan kalimatnya sendiri. Ada kejujuran yang terasa lebih telanjang daripada candaan-candaan sebelumnya. Ia memang ingin mendekati Rara, tetapi tidak ingin membuat gadis itu merasa dikejar sampai tidak punya ruang untuk memilih.
Beberapa saat kemudian, Rara mengirim:
“Bagus kalau ngerti.”
Dua kata yang tampak biasa, tetapi membuat Regar mengembuskan napas lega. Setidaknya ia belum melewati batas.
Sejak malam itu, obrolan mereka tidak selalu panjang. Kadang Rara hanya membalas beberapa pesan sebelum menghilang karena kesibukan. Kadang Regar membuka Instagram berkali-kali, menimbang apakah ia perlu mengirim pesan baru atau membiarkan Rara memiliki waktunya sendiri. Jarak yang masih tipis itu ternyata mudah terasa lebar ketika tidak ada notifikasi.
Suatu hari, Regar mengirim pesan singkat.
“Semangat yaa kerjanya.”
Ia tidak menambahkan pertanyaan. Tidak memaksa percakapan terus berjalan. Hanya sebuah perhatian kecil yang ia kirim tanpa tahu apakah akan diterima sebagai sesuatu yang berarti.
Balasan Rara datang menjelang sore.
“Makasih, kamu juga.”
Regar menatap layar. Hanya tiga kata, tetapi cukup untuk membuatnya kembali berharap. Ia tahu harapan itu harus dijaga agar tidak berubah menjadi tuntutan. Rara belum menjadi siapa-siapa dalam hidupnya selain seorang gadis yang ia kenal melalui Instagram, teman sekelas Adel, pemilik bio tentang angin dan tempat terbaik.
Namun, sekarang Rara juga seseorang yang mungkin akan duduk semeja dengannya sambil menikmati kopi.
Malam berikutnya, ketika obrolan mereka kembali berhenti di tengah percakapan, Regar membuka profil staoofsuf. Bio itu masih sama. Lagu romantis yang sama masih terpasang. Ia membaca kalimat tentang angin itu dengan perasaan berbeda.
Regar sudah mendapatkan apa yang ia inginkan pada awal malam itu: sapaan dibalas, namanya dikenal, dan sebuah peluang untuk bertemu terbuka di hadapannya.
Tetapi peluang itu datang bersama syarat yang tidak bisa ia abaikan. Rara bersedia mengajaknya ngopi jika ia pergi bersama Adel. Bukan berdua. Bukan sebagai pasangan. Bahkan belum tentu dalam waktu dekat.
Regar mengunci layar ponselnya, lalu membiarkannya tergeletak di samping bantal.
Untuk pertama kalinya, ia tidak ingin memaksa angin membawa Rara langsung kepadanya. Ia hanya ingin tahu apakah, ketika mereka akhirnya duduk di tempat yang sama, Rara akan tetap membuka pintu kecil yang tadi ia sisakan di ruang obrolan Instagram.
End of chapter one. 3 more chapters and about 7,806 words in the full book.
Swipe or use the arrows to turn the page
What's inside: 4 chapters
- 1. Sapaan Pertama di Instagram
- 2. Nomor WhatsApp dan Ajakan Teazzi
- 3. Dari Candaan ke Janji Bertemu
- 4. Sketsa Pertama di Sentra UMKM
About this book
"Kisah Kita: Mengejar Hati Rara" is a romance book by Anonymous with 4 chapters and approximately 7,806 words. Regar’s growing courtship with Rara, from social media messages to their first date.
This book was created using Inkfluence AI, an AI-powered book generation platform that helps authors write, design, and publish complete books. It was made with the AI Romance Novel Writer.
Frequently Asked Questions
What is "Kisah Kita: Mengejar Hati Rara" about?
Regar’s growing courtship with Rara, from social media messages to their first date
How many chapters are in "Kisah Kita: Mengejar Hati Rara"?
The book contains 4 chapters and approximately 7,806 words. Topics covered include Sapaan Pertama di Instagram, Nomor WhatsApp dan Ajakan Teazzi, Dari Candaan ke Janji Bertemu, Sketsa Pertama di Sentra UMKM.
Who wrote "Kisah Kita: Mengejar Hati Rara"?
This book was written by Anonymous and created using Inkfluence AI, an AI book generation platform that helps authors write, design, and publish books.
How can I create a similar romance book?
You can create your own romance book using Inkfluence AI. Describe your idea, choose your style, and the AI writes the full book for you. It's free to start.
Write your own romance book with AI
Describe your idea and Inkfluence writes the whole thing. Free to start.
Start writingCreated with Inkfluence AI