Read the first chapter
The whole of chapter one, free. About 8 min. Turn the pages with the arrows, your keyboard, or a swipe.
Chapter 1
Arsip yang Menelan Bab Terakhir
Kunci kuningan itu patah di dalam gembok tepat ketika lampu lorong Perpustakaan Kota Jakarta berkedip tiga kali.
Nara Pradipta menahan napas, satu tangan masih menggenggam gagang pintu besi, sementara serpihan kunci jatuh ke lantai dan berdenting di antara pipa-pipa tua. Di layar ponselnya, waktu menunjukkan pukul 23.47, 18 September 2026. Perpustakaan sudah tutup hampir dua jam lalu. Di atas mereka, jalanan Jakarta masih dipenuhi suara kendaraan, tetapi di bawah tanah, yang terdengar hanya dengung listrik dan tetes air dari langit-langit beton.
“Bagus,” bisik Raka dari belakangnya. “Sekarang kita resmi terjebak sebelum masuk.”
Nara mengeluarkan peniti panjang dari saku jaketnya. “Belum. Pintu ini cuma terkunci dari luar.”
“Kalimat itu seharusnya membuatku tenang?”
“Kalau kau mau pulang, naik saja.”
Raka menatap tangga gelap di belakang mereka. Wajahnya diterangi cahaya kebiruan dari ponsel, membuat lingkar hitam di bawah matanya tampak lebih dalam. “Aku ikut karena kau bilang ini cuma mengambil berkas. Bukan membobol ruang bawah tanah yang bahkan tidak tercantum di denah perpustakaan.”
Nara berlutut dan menyelipkan peniti ke lubang kunci. Ujung logam itu menyentuh sesuatu yang dingin dan bergerak sedikit di dalam. Ia memutar perlahan. Gembok mengeluarkan bunyi klik.
“Berkasnya bernama Penutup Musim Ketujuh,” katanya. “Kalau benar masih ada di sini, kita punya waktu kurang dari satu jam sebelum petugas keamanan berkeliling.”
“Dan kalau tidak ada?”
Nara mendorong pintu. Engselnya mengerang panjang, seperti seseorang yang baru dibangunkan dari tidur. “Kita tetap harus memastikan.”
Ia melangkah masuk.
Udara di dalam lebih dingin daripada lorong tangga. Bau kertas lembap bercampur logam karat memenuhi hidungnya. Lampu-lampu tabung menempel di langit-langit rendah, sebagian mati, sebagian menyala redup dengan warna kuning pucat. Rak-rak besi berdiri rapat di kedua sisi lorong, penuh kotak arsip berlabel tahun, nama lembaga, dan kode yang sebagian telah luntur.
Di ujung lorong, sebuah papan kecil bertuliskan ARSIP KOLEKSI TERBATAS menggantung miring.
Nara menyalakan senter ponsel. Cahaya putih menyapu rak paling dekat. Di sana tersusun majalah, cetakan pertama novel, surat-surat pembaca, dan map merah yang diberi tanda tangan tangan. Ia mencari kode yang sudah ia hafal selama tiga minggu terakhir: K-77-PL.
Kirana dan Pintu Ketujuh. Serial fiksi yang membuatnya rela menunggu tujuh tahun, membeli tiga edisi berbeda, dan berdebat sampai dini hari di forum penggemar. Serial itu berhenti tepat sebelum akhir. Penulisnya, Aditra Wisesa, menghilang dari publik empat tahun lalu. Tidak ada wawancara, tidak ada pengumuman, tidak ada naskah penutup.
Hanya satu rumor yang tersisa: naskah terakhir pernah diserahkan ke Perpustakaan Kota Jakarta untuk disimpan sebagai koleksi pribadi.
Nara menemukan kode K-77 pada rak ketiga.
“Di sini,” katanya.
Raka mendekat. Ia memegang senter kecil di antara giginya sambil membantu menggeser kotak-kotak. “K-77-PL. Ini dia.”
Jantung Nara berdegup lebih cepat, bukan karena takut. Ia menarik kotak abu-abu dari celah rak. Debu menempel di lengan jaketnya. Tutup kotak itu dilapisi selotip tua, tetapi label putih di atasnya masih terbaca.
KIRANA DAN PINTU KETUJUH NASKAH PENUTUP AKSES DENGAN IZIN KHUSUS
Nara menyentuh label itu dengan ujung jari.
“Akhirnya,” ucapnya.
Raka meraih kotak tersebut, tetapi Nara menahannya. “Aku yang buka.”
“Kenapa?”
“Karena kalau ini palsu, aku ingin jadi orang pertama yang kecewa.”
Ia melepas selotip perlahan. Suara perekat yang tertarik terdengar terlalu keras di lorong sempit. Tutup kotak terangkat.
Kosong.
Tidak ada naskah. Tidak ada map. Hanya selembar kertas hitam yang terlipat di dasar kotak.
Raka mengumpat pelan. “Kau sudah dibohongi.”
Nara mengambil kertas itu. Permukaannya kasar seperti dibuat dari serat kain. Tidak ada logo perpustakaan, tidak ada nomor inventaris. Di bagian tengah tercetak satu kalimat dengan tinta putih.
JANGAN CARI AKHIRNYA DI TEMPAT YANG MENYIMPANNYA.
“Ini lelucon,” kata Raka.
Nara membalik kertas itu. Bagian belakangnya kosong.
“Bisa jadi petunjuk,” jawabnya.
“Petunjuk menuju apa? Rak lain? Ruang rahasia? Hantu penulis?”
Nara menatap lorong yang membentang di depan mereka. “Penulisnya pernah memakai kalimat ini.”
Raka mengerutkan dahi. “Kapan?”
“Dalam catatan kaki edisi khusus jilid lima. Halaman dua ratus tiga belas.” Ia memasukkan kertas hitam ke saku. “Akhir cerita tidak pernah berada di tempat yang menyimpannya. Aku kira itu cuma metafora.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang aku tidak yakin.”
Dari kejauhan terdengar bunyi gesekan panjang.
Keduanya menoleh.
Rak di ujung lorong bergerak.
Roda-rodanya bergeser di atas rel lantai, berderit seperti tulang yang dipaksa berputar. Rak itu menutup jalan di antara dua lorong, lalu berhenti dengan bunyi benturan berat.
Raka mematikan senternya. “Ada orang lain?”
Nara menahan ponsel di dekat dada. Kegelapan merambat di antara rak-rak. “Tidak mungkin. Pintu masuk tadi - ”
Sebuah rak di belakang mereka bergerak.
Mereka mundur bersamaan. Kotak arsip di atas rak bergoyang. Satu jatuh dan pecah di lantai, menumpahkan lembaran-lembaran tua. Debu naik ke udara. Nara batuk, matanya perih.
“Pintu,” kata Raka. “Kita keluar sekarang.”
Mereka berlari kembali. Namun lorong yang tadi lurus telah berubah. Rak-rak besi bergeser satu demi satu, menutup jalan pulang. Nara melihat ujung pintu besi di antara celah, lalu sebuah rak bergerak melintang dan menghilangkannya dari pandangan.
“Jangan sentuh raknya!” teriak Raka.
Nara sudah lebih dulu menekan bahunya ke sisi besi. Rak itu dingin dan bergetar. Ia mencoba mendorong, tetapi tidak bergerak sedikit pun. Dari balik celah, terdengar bunyi mekanis yang teratur, seolah seluruh ruangan digerakkan oleh mesin yang tidak terlihat.
“Bantu aku!”
Raka ikut mendorong. Rak bergeming.
Di atas mereka, lampu padam.
Seketika gelap menelan lorong.
Nara menyalakan ponsel lagi. Baterainya tinggal tiga puluh dua persen. Cahaya kecil itu memantulkan puluhan label putih. Sebagian nama di label tampak kabur, tetapi satu tulisan di rak sebelahnya terlihat jelas.
PRADIPTA, NARA BERKAS PEMBACA
Nara membeku.
“Raka,” katanya pelan.
“Apa?”
Ia mengarahkan senter ke label itu.
Raka mendekat. “Itu nama belakangmu.”
“Bukan cuma nama belakang.”
Di bawah tulisan tersebut terdapat angka tanggal: 04-11-2008. Tanggal lahir Nara.
Tangannya terasa dingin. Ia menarik salah satu kotak dari rak. Kotak itu tidak berdebu. Terlalu bersih dibandingkan benda-benda lain di sekitarnya.
“Nara, jangan.”
Ia membuka tutupnya.
Di dalam terdapat kartu-kartu lama dari klub pembaca yang pernah ia ikuti saat berusia tiga belas tahun. Kartu anggota, tiket acara peluncuran buku, cetakan komentar forum, bahkan foto dirinya berdiri di depan poster Kirana dan Pintu Ketujuh. Foto itu diambil sebelum Raka mengenalnya.
Di bagian belakang foto, seseorang menulis dengan tinta biru:
PEMBACA PERTAMA AKAN MENEMUKAN PINTU TERAKHIR.
Raka merebut foto itu dari tangannya. “Bagaimana arsip ini bisa punya barang-barangmu?”
“Aku tidak pernah menyerahkannya.”
“Berarti seseorang menyerahkannya untukmu.”
“Siapa?”
Tidak ada jawaban. Hanya suara rel besi yang kembali bergerak.
Kali ini rak di depan mereka membuka celah sempit. Di baliknya tampak lorong baru yang tidak ada sebelumnya. Dindingnya lebih tua, terbuat dari bata merah yang menghitam. Di ujung lorong, cahaya putih berdenyut pelan.
Raka menggeleng. “Kita tidak masuk ke sana.”
Nara menatap foto di tangannya. Wajahnya sendiri yang berusia tiga belas tahun tersenyum tanpa mengetahui apa pun. Ia membayangkan semua malam yang dihabiskan untuk menunggu akhir serial itu, semua teori yang disusun bersama penggemar lain, semua kalimat Aditra Wisesa yang dibaca berulang-ulang sampai ia hafal jedanya.
Jika ada naskah penutup di tempat ini, ia harus menemukannya.
“Kalau kita tetap di sini, rak-rak itu akan menutup jalan,” katanya.
“Dan kalau kita masuk?”
“Kita mencari jalan keluar dari sisi lain.”
Raka mencengkeram pergelangan tangannya. “Kau tidak tahu apa yang ada di sana.”
Nara menatap tangan Raka, lalu melepaskannya dengan hati-hati. “Aku tahu apa yang kucari.”
Ia melangkah ke lorong bata.
Raka menghela napas kasar dan mengikuti. Begitu mereka melewati celah, rak di belakang menutup dengan bunyi hantaman. Suaranya menggema panjang, lalu lenyap.
Lorong itu menurun. Lantainya basah dan licin. Air menetes dari sela bata, mengenai tengkuk Nara. Di dinding, coretan-coretan memenuhi permukaan: nama-nama tokoh, kutipan dari novel, dan simbol pintu dengan tujuh garis di tengahnya.
Nara menyentuh salah satu coretan. Catnya masih lembap.
“Ini baru dibuat,” katanya.
Raka menyorotkan senter ke lantai. Ada jejak sepatu menuju cahaya di depan mereka.
“Setidaknya kita tidak sendirian.”
Mereka berjalan tanpa bicara. Cahaya putih itu berasal dari ruangan kecil di ujung lorong. Pintu kayu terbuka setengah. Di dalamnya terdapat meja baca, lampu gantung, dan satu mesin tik tua yang diletakkan di atas meja.
Di samping mesin tik itu ada tumpukan kertas.
Nara berhenti di ambang pintu.
Kertas paling atas memuat lambang yang ia kenal: lingkaran hitam dengan tujuh titik putih. Lambang yang selalu muncul di sudut halaman Kirana dan Pintu Ketujuh.
“Naskahnya,” bisiknya.
Raka berdiri di belakangnya. “Ambil, lalu pergi.”
Nara masuk. Setiap langkah menimbulkan bunyi lembut dari lantai kayu. Ia mendekati meja. Tumpukan kertas itu tidak dijilid. Halaman-halamannya putih, bersih, tanpa bekas usia. Di bagian atas halaman pertama tertulis:
KIRANA DAN PINTU KETUJUH BAGIAN TERAKHIR DILANJUTKAN OLEH PEMBACA
Nara merasakan tenggorokannya tercekat.
“Ini bukan tulisan Aditra,” kata Raka.
“Bagaimana kau tahu?”
“Karena kalimatnya tidak masuk akal.”
Nara mengangkat halaman pertama. Di bawah judul, baris-baris cerita mulai muncul. Ia membaca cepat.
Kirana berdiri di depan pintu yang tidak pernah berhasil ia buka. Di balik pintu itu, seseorang telah menunggu sejak pembaca pertama menyebut namanya.
Nara berhenti.
Kalimat berikutnya belum ada.
Tinta hitam merembes perlahan dari permukaan kertas, membentuk huruf demi huruf di depan mata mereka.
Kirana menoleh kepada Nara Pradipta.
Raka menarik napas tajam. “Itu namamu.”
Nara menjatuhkan halaman tersebut ke meja. Mesin tik tua di sampingnya tiba-tiba bergerak sendiri. Tuasnya menghantam, menghasilkan bunyi keras yang memecah ruangan. Kertas kosong terpasang di dalamnya, lalu huruf-huruf muncul satu per satu tanpa ada tangan yang menyentuh tombol.
NARA PRADIPTA TELAH MEMBUKA PINTU.
“Keluar!” Raka berteriak.
Nara meraih tumpukan naskah. Halaman-halaman itu terasa hangat, seolah baru saja dicetak. Ia memasukkannya ke dalam tas, tetapi satu lembar terlepas dan jatuh ke lantai.
Di sana tertulis satu kalimat lain.
PEMBACA TIDAK BOLEH MEMBAWA AKHIRNYA SENDIRIAN.
Pintu kayu di belakang mereka menutup.
Raka memutar gagangnya. Tidak bergerak.
“Bantu aku!”
Nara berlari ke pintu, menariknya bersama Raka. Kayunya bergetar, tetapi tetap terkunci. Dari balik dinding, terdengar suara rak-rak bergeser, semakin dekat, semakin berat.
Ponsel Nara bergetar.
Satu pesan masuk dari nomor tanpa nama.
JANGAN PERCAYA ORANG YANG MEMBAWA KAMU KE SINI.
Nara perlahan menoleh kepada Raka.
Wajah Raka pucat. “Aku tidak mengirim itu.”
“Aku tahu.”
“Dari mana kau tahu?”
Nara belum sempat menjawab. Di belakang mereka, lembaran yang jatuh ke lantai mulai dipenuhi tinta baru. Huruf-hurufnya membentuk kalimat dengan cepat, seolah seseorang menulis dari sisi lain kertas.
RAKA SUDAH PERNAH MEMBACA HALAMAN INI.
Raka mundur satu langkah.
“Nara, dengarkan aku - ”
Lampu gantung padam.
Dalam kegelapan, mesin tik kembali berbunyi.
Ketika cahaya ponsel menyala, halaman terakhir telah berubah. Di bagian bawahnya, tepat di bawah nama Nara, muncul kalimat yang membuat tangannya kehilangan tenaga.
PENJAGA ARSIP AKAN TIBA DALAM TUJUH MENIT. JIKA NARA MASIH DI DALAM, PINTU AKAN DIKUNCI DARI LUAR.
Dari balik pintu terdengar suara kunci diputar.
Sekali.
Dua kali.
Lalu langkah kaki menjauh di lorong.
Nara menggenggam halaman bertuliskan namanya, sementara Raka berdiri di sampingnya tanpa suara. Di atas kertas itu, tinta baru mulai bergerak lagi, menuliskan satu kalimat yang belum selesai.
DAN KETIKA NARA MEMBACA BARIS TERAKHIR - Mesin tik berhenti.
Pintu keluar terkunci dari luar.
End of chapter one. 4 more chapters in the full book.
Swipe or use the arrows to turn the page
What's inside: 5 chapters
- 1. Arsip yang Menelan Bab Terakhir
- 2. Pilihan Nara di Balik Sampul
- 3. Kode di Konvensi Fiksi
- 4. Malam Saat Cerita Bocor
- 5. Halaman Terakhir Belum Ditulis
About this book
"The Last Page Unwritten" is a fiction book by Anonymous with 5 chapters and approximately 9,386 words. A memorable novel about passionate fiction fans and an open-ended story.
This book was created using Inkfluence AI, an AI-powered book generation platform that helps authors write, design, and publish complete books. It was made with the AI Novel Writer.
Frequently Asked Questions
What is "The Last Page Unwritten" about?
A memorable novel about passionate fiction fans and an open-ended story
How many chapters are in "The Last Page Unwritten"?
The book contains 5 chapters and approximately 9,386 words. Topics covered include Arsip yang Menelan Bab Terakhir, Pilihan Nara di Balik Sampul, Kode di Konvensi Fiksi, Malam Saat Cerita Bocor, and more.
Who wrote "The Last Page Unwritten"?
This book was written by Anonymous and created using Inkfluence AI, an AI book generation platform that helps authors write, design, and publish books.
How can I create a similar fiction book?
You can create your own fiction book using Inkfluence AI. Describe your idea, choose your style, and the AI writes the full book for you. It's free to start.
Write your own fiction book with AI
Describe your idea and Inkfluence writes the whole thing. Free to start.
Start writingCreated with Inkfluence AI