Cinta Yang Terpisah Usia
Fiction

Cinta Yang Terpisah Usia

by Dkuswardhana · 2026-10-16

Cinta sejati, perjuangan hidup, keluarga, dan kehilangan sosok ayah

5 chapters 9,765 words ~39 min read Indonesian 40 reads

Read the first chapter

The whole of chapter one, free. About 7 min. Turn the pages with the arrows, your keyboard, or a swipe.

Chapter 1

Hujan di Terminal Lama

Hujan menampar atap seng Terminal Lama ketika Raka turun dari bus dengan uang tiga puluh dua ribu di saku celananya. Sepatunya langsung terbenam dalam genangan hitam bercampur lumpur, sementara bus yang membawanya dari kampung menggeram pergi, meninggalkan asap solar dan suara klakson yang saling tindih.

Raka berdiri sebentar di bawah papan nama terminal yang catnya mengelupas. Di tangan kirinya ada tas kanvas berisi dua potong baju, selembar sarung, dan foto ibunya yang diselipkan di antara lipatan kaus. Di tangan kanan, ia menggenggam kertas kecil bertuliskan alamat rumah seorang kenalan lama yang belum tentu masih tinggal di sana.

Ia tidak punya pekerjaan. Tidak punya tempat tidur. Dan uang yang tersisa hanya cukup untuk makan sekali, mungkin dua kali jika ia menahan lapar.

“Kalau mau hidup, jangan banyak diam,” gumamnya kepada diri sendiri.

Raka menarik napas, lalu berjalan menembus kerumunan. Tujuannya sederhana: menemukan pekerjaan harian sebelum malam turun. Apa saja. Mengangkat barang, mencuci bus, membersihkan kios, atau menjadi buruh angkut. Ia hanya perlu mendapat upah untuk membeli nasi dan mencari kamar murah.

Namun Terminal Lama tidak memberi ruang bagi orang yang berjalan tanpa arah. Penumpang berdesakan di antara bangku plastik, pedagang mi berteriak menawarkan dagangan, dan para calo menyambar lengan orang-orang yang baru turun dari bus.

“Penginapan murah, Mas! Dekat terminal!”

“Bus ke arah timur masih ada!”

“Angkat, Pak! Angkat!”

Suara-suara itu menumpuk di atas bunyi hujan. Air merembes dari celah atap, menetes ke lantai yang licin. Raka mengangkat tasnya ke atas kepala ketika seorang porter berlari membawa karung besar.

“Jangan menghalangi jalan!” bentak lelaki itu.

“Maaf.”

Raka menepi, tetapi bahunya terbentur tiang. Kertas alamat di tangannya terlepas dan jatuh ke genangan. Ia cepat-cepat memungutnya. Tinta biru di atas kertas mulai luntur.

Alamat itu masih terbaca, meski sebagian nomor rumah menghilang.

Raka memandang keluar terminal. Jalan di depan berubah menjadi aliran air. Tidak mungkin ia berjalan jauh dengan sepatu yang sudah basah dan tas yang tak punya pelindung. Ia membutuhkan pekerjaan, tetapi bahkan untuk mencarinya ia harus keluar dari tempat ini.

Seseorang menabrak punggungnya.

“Maaf,” suara perempuan terdengar dari belakang.

Raka berbalik. Seorang perempuan berdiri sambil memegangi koper kecil berwarna cokelat. Usianya mungkin sekitar empat puluh tahun, atau lebih sedikit. Rambutnya yang sebahu mulai basah, beberapa helai menempel di pipi. Ia mengenakan blus putih dan rok panjang berwarna gelap, pakaian yang tampak terlalu rapi untuk terminal yang becek.

“Tidak apa-apa,” kata Raka.

Perempuan itu mengangguk, lalu mencoba menarik kopernya. Salah satu roda koper tersangkut di celah lantai. Ia menarik lebih kuat. Koper itu tidak bergerak, malah tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan.

Raka refleks memegang lengannya.

“Hati-hati.”

Perempuan itu menatap tangan Raka di lengannya, lalu menatap wajahnya. Raka segera melepaskan pegangan.

“Maaf. Saya hanya - ”

“Tidak apa-apa.” Suaranya tenang, tetapi matanya bergerak gelisah. “Bisa bantu mengangkat koper ini?”

Raka berjongkok. Roda koper itu terjepit di antara lantai semen dan besi penutup saluran air. Ia mengangkat bagian depan koper, lalu menariknya dengan tenaga penuh. Besi itu berderit. Koper akhirnya terlepas.

“Terima kasih,” kata perempuan itu.

Raka berdiri dan menyeka air dari keningnya. “Mau ke mana?”

“Pintu keluar sebelah timur. Saya dijemput.”

“Sebelah timur lewat sana.” Raka menunjuk lorong sempit di antara dua kios. “Tapi jalannya penuh. Saya bisa bantu bawakan.”

Perempuan itu tampak ragu. Tatapannya turun ke pakaian Raka yang lusuh, ke tas kanvas yang basah, lalu kembali ke wajahnya.

“Tidak perlu merepotkan.”

“Bukan merepotkan.”

Raka meraih koper itu sebelum perempuan tersebut sempat menjawab. Beratnya tidak seberapa, tetapi gagangnya dingin dan licin. Ia berjalan lebih dulu, membuka jalan dengan bahu.

Baru beberapa langkah, seorang lelaki bertubuh besar menghadang.

“Biar saya saja, Bu. Ke pintu timur?” katanya, lalu hendak mengambil koper.

“Tidak usah,” jawab perempuan itu.

Lelaki itu tersenyum miring. “Di sini kalau tidak pakai bantuan, bisa tersesat.”

Raka berhenti. “Dia bersama saya.”

Kalimat itu keluar begitu saja. Ia sendiri terkejut mendengarnya.

Lelaki tersebut memandang Raka dari kepala sampai kaki. “Bersama? Kamu siapa?”

“Orang yang sedang membantunya.”

“Kalau begitu, bayar uang jalan.”

“Uang jalan apa?”

Lelaki itu mendekat. Bau rokok dan pakaian basah menyengat. “Jangan sok tahu, anak muda. Terminal ini bukan tempat bermain.”

Perempuan di belakang Raka menarik napas pelan. Raka merasakan jari-jarinya mengencang pada gagang koper. Ia tidak ingin mencari masalah. Uang di sakunya terlalu sedikit untuk berurusan dengan siapa pun. Tetapi jika ia mundur, lelaki itu mungkin akan terus menekan perempuan tersebut.

“Saya tidak punya uang untuk membayar hal yang tidak ada,” kata Raka.

Senyum lelaki itu lenyap. Tangannya bergerak hendak mencengkeram kerah Raka.

Raka mundur setengah langkah, tetapi lantai licin. Bahunya membentur koper. Sebelum tangan itu menyentuhnya, peluit panjang terdengar dari arah loket. Seorang petugas keamanan berlari mendekat sambil berteriak.

“Hei! Jangan bikin keributan!”

Lelaki besar itu mengumpat dan menyelinap ke antara penumpang. Raka masih berdiri kaku, telapak tangannya terasa panas.

Perempuan itu mendekat. “Kamu tidak apa-apa?”

“Tidak apa-apa.”

“Kamu terluka?”

Raka menggeleng. “Cuma hampir jatuh.”

Petugas keamanan memandang mereka bergantian. “Pintu timur sedang tergenang. Kalau mau keluar, lewat jalur belakang, dekat ruang tunggu lama.”

Perempuan itu tampak makin cemas. “Saya harus ke sana. Mobil yang menjemput ada di luar.”

“Kalau hujan begini, jalan belakang juga licin,” kata petugas. “Jangan sendirian.”

Raka menatap lorong menuju ruang tunggu lama. Lampunya berkedip-kedip. Di ujung sana, air hujan mengalir dari atap yang bocor.

“Saya antar,” katanya.

Perempuan itu kembali menatapnya. Kali ini lebih lama.

“Kamu sendiri mau ke mana?”

“Belum tahu.”

“Belum tahu?”

“Saya baru tiba. Sedang mencari pekerjaan.”

Ada sesuatu yang berubah di wajah perempuan itu. Bukan iba, pikir Raka. Ia tidak ingin dikasihani. Namun perempuan itu memandangnya seolah sedang melihat seseorang yang berdiri di tepi jurang, sama seperti dirinya beberapa saat lalu.

“Kalau begitu, jangan sampai kamu kehilangan waktu karena saya,” katanya.

“Saya memang sedang kehilangan waktu.”

Perempuan itu hampir tersenyum. “Namaku Laras.”

“Raka.”

“Baik, Raka. Antar saya sampai mobil.”

Raka mengangguk. Ia mengangkat koper Laras dan berjalan melewati lorong belakang. Lantai di sana lebih gelap dan lebih licin. Air menetes dari pipa tua, mengenai tengkuknya. Laras berjalan di belakang, sesekali memegang dinding.

“Pegang lengan saya kalau takut jatuh,” kata Raka.

“Saya tidak takut.”

“Bukan berarti tidak bisa jatuh.”

Laras terdiam sebentar, lalu memegang lengan Raka. Sentuhannya ringan, tetapi cukup membuat langkah Raka berubah kaku. Ia tidak biasa berjalan sedekat itu dengan perempuan. Apalagi perempuan seperti Laras, yang cara bicaranya tenang dan pakaiannya menunjukkan bahwa ia datang dari kehidupan yang berbeda.

Di depan mereka, seorang anak kecil menangis karena terpisah dari ibunya. Orang-orang berteriak memanggil nama, sementara petugas mengarahkan penumpang agar tidak berhenti di tengah jalan.

Raka meletakkan koper dan membantu mengangkat seorang nenek melewati genangan. Setelah itu ia kembali kepada Laras.

“Kamu terbiasa menolong semua orang?” tanya Laras.

“Tidak.”

“Lalu kenapa menolong saya?”

Raka mengangkat koper lagi. “Karena waktu itu kamu hampir jatuh.”

“Kalau orang lain?”

“Mungkin saya tetap menolong.”

“Jadi bukan karena saya?”

Raka menoleh. Laras sedang tersenyum tipis. Di tengah keributan terminal, senyum itu terasa seperti ruang yang tiba-tiba sunyi.

“Jangan terlalu percaya diri,” jawab Raka.

Laras tertawa kecil. Suaranya tertahan, seakan ia sudah lama tidak tertawa di tempat seperti itu.

Mereka tiba di pintu belakang. Di luar, hujan turun lebih deras. Sebuah mobil hitam berhenti di bahu jalan, lampu hazard berkedip di antara kabut air. Seorang lelaki berpayung turun dan berlari menghampiri Laras.

“Bu Laras! Saya sudah mencari dari tadi.”

“Saya di dalam,” jawab Laras.

Lelaki itu mengambil koper dari tangan Raka. “Biar saya.”

Raka menyerahkannya. Ketika tangannya terlepas dari gagang koper, ia baru menyadari jemarinya memutih karena terlalu lama menggenggam.

Laras berdiri di bawah payung. Ia menoleh kepada Raka yang masih berada di bawah hujan.

“Kamu mau ke mana setelah ini?”

Raka mengeluarkan kertas alamat yang sudah lembek. “Mencari alamat ini. Kalau orangnya masih tinggal di sana, mungkin saya bisa menumpang beberapa hari.”

“Dan kalau tidak?”

“Cari pekerjaan dulu.”

“Dengan uang berapa?”

Raka tersenyum hambar. “Tiga puluh dua ribu.”

Laras menatapnya, lalu membuka tas tangan. Raka segera menggeleng.

“Jangan.”

“Aku belum menawarkan apa-apa.”

“Saya tidak butuh uang.”

“Semua orang butuh uang.”

“Bukan dari orang yang baru saya kenal.”

Laras terdiam. Hujan membentuk tirai di antara mereka. Lelaki yang memegang payung memandang Laras dengan wajah tidak sabar, tetapi Laras tidak segera masuk ke mobil.

“Kalau begitu, ambil ini,” katanya sambil menyodorkan sebuah kartu nama.

Raka menerimanya. Kertas itu tebal, putih, dengan tulisan hitam yang rapi.

“Datang ke alamat itu besok pagi,” kata Laras. “Tanyakan pekerjaan kepada Pak Darto. Katakan kamu bertemu saya di Terminal Lama.”

Raka membaca kartu itu. Di bawah nama Laras tercetak nama sebuah perusahaan konstruksi dan alamat kantor di pusat kota.

“Ini kantor Anda?”

“Ya.”

“Saya tidak punya pengalaman.”

“Pekerjaan yang tersedia tidak semuanya membutuhkan pengalaman.”

Raka mengangkat wajah. “Kenapa membantu saya?”

Laras memandang sepatu Raka yang basah, tas kanvas yang hampir robek, lalu matanya kembali bertemu mata Raka.

“Mungkin karena tadi kamu membantu saya tanpa bertanya siapa saya.”

Raka ingin menjawab, tetapi tidak menemukan kata yang tepat.

Laras membuka pintu mobil. Sebelum masuk, ia berkata, “Jangan terlambat.”

Mobil itu bergerak perlahan meninggalkan terminal. Raka berdiri memegang kartu nama di antara dua jarinya. Lampu belakang mobil menghilang di balik hujan dan bus-bus yang keluar masuk.

“Raka!”

Ia menoleh. Petugas keamanan yang tadi menolongnya berdiri di bawah teras.

“Kalau cari kerja, coba ke gudang sebelah utara. Kadang mereka butuh buruh malam.”

Raka memandang kartu nama di tangannya, lalu ke arah gudang yang ditunjuk petugas. Perutnya berbunyi pelan. Bajunya menempel di kulit. Hujan belum menunjukkan tanda akan berhenti.

Ia berhasil mengantar Laras ke tempat aman. Ia bahkan mendapat kemungkinan pekerjaan untuk esok hari.

Namun nama di kartu itu membuatnya sadar: Laras bukan perempuan yang sekadar tersesat di terminal. Ia memiliki mobil, kantor, dan kehidupan yang tertata, sementara Raka baru saja datang ke kota dengan uang yang hampir habis dan alamat yang luntur.

Raka memasukkan kartu itu ke saku paling dalam, dekat dengan foto ibunya. Lalu ia mengangkat tas kanvas dan berjalan menuju gudang utara, membawa lapar, hujan, dan perasaan asing yang mulai tumbuh kepada seorang perempuan yang usianya mungkin jauh di atasnya.

End of chapter one. 4 more chapters and about 9,765 words in the full book.

1 / 8

Swipe or use the arrows to turn the page

What's inside: 5 chapters

  1. 1. Hujan di Terminal Lama
  2. 2. Pilihan di Balik Perbedaan Usia
  3. 3. Kontrakan yang Nyaris Roboh
  4. 4. Rahasia di Buku Tabungan
  5. 5. Badai Menghantam Usaha Kecil

About this book

"Cinta Yang Terpisah Usia" is a fiction book by Dkuswardhana with 5 chapters and approximately 9,765 words. Cinta sejati, perjuangan hidup, keluarga, dan kehilangan sosok ayah.

This book was created using Inkfluence AI, an AI-powered book generation platform that helps authors write, design, and publish complete books. It was made with the AI Novel Writer.

Frequently Asked Questions

What is "Cinta Yang Terpisah Usia" about?

Cinta sejati, perjuangan hidup, keluarga, dan kehilangan sosok ayah

How many chapters are in "Cinta Yang Terpisah Usia"?

The book contains 5 chapters and approximately 9,765 words. Topics covered include Hujan di Terminal Lama, Pilihan di Balik Perbedaan Usia, Kontrakan yang Nyaris Roboh, Rahasia di Buku Tabungan, and more.

Who wrote "Cinta Yang Terpisah Usia"?

This book was written by Dkuswardhana and created using Inkfluence AI, an AI book generation platform that helps authors write, design, and publish books.

How can I create a similar fiction book?

You can create your own fiction book using Inkfluence AI. Describe your idea, choose your style, and the AI writes the full book for you. It's free to start.

Write your own fiction book with AI

Describe your idea and Inkfluence writes the whole thing. Free to start.

Start writing

Created with Inkfluence AI