Read the first chapter
The whole of chapter one, free. About 7 min. Turn the pages with the arrows, your keyboard, or a swipe.
Chapter 1
Kabut Hutan Memanggil Wina
Wina menggenggam koper tuanya lebih erat ketika roda kereta sewaan itu berhenti di gerbang desa. Ia ingin menangis, tetapi tidak di depan kusir yang sejak tadi memandangnya dengan iba. Ia hanya ingin satu hal: menemukan tempat yang tidak mengusirnya lagi.
Udara desa menusuk lebih dingin daripada yang ia bayangkan. Bau tanah basah, kayu terbakar, dan lumut mengambang di antara rumah-rumah tua. Di balik deretan pagar rendah, hutan gelap membentang seperti dinding hidup. Kabut putih menggantung di antara pepohonan, tebal bahkan pada sore yang belum sepenuhnya runtuh.
Bibi Laras turun lebih dulu. Perempuan itu merapikan selendang hitam di bahunya, lalu mengulurkan tangan.
“Turun, Nak. Jangan menatap hutan itu terlalu lama.”
Wina menerima tangannya, tetapi pandangannya tetap tertancap pada kabut. Ada sesuatu di sana. Bukan suara, bukan pula bayangan yang bisa ditangkap mata. Rasanya seperti seseorang memanggil namanya dari tempat yang sangat jauh - dengan kesabaran yang telah menunggu bertahun-tahun.
“Bibi pernah bilang desa ini tenang,” ujar Wina pelan.
“Tenang bukan berarti aman.” Laras mengambil koper dari tangannya. “Terutama setelah matahari turun.”
Wina menoleh. “Karena hutan?”
“Karena orang-orang yang percaya mereka tahu isi hutan itu.”
Jawaban itu tidak menenangkan. Laras melangkah menuju jalan berbatu, sementara Wina masih berdiri di bawah papan kayu bertuliskan nama desa yang catnya telah mengelupas. Di belakangnya, jalan pulang menuju kota terlihat panjang dan pucat. Di sana ada rumah ayahnya, suara ibunya yang dingin, dan tatapan kakaknya yang selalu membuat Wina merasa seperti tamu di rumah sendiri.
Tuduhan itu masih melekat di telinganya.
Pencuri.
Pembohong.
Anak tidak tahu diri yang ingin merebut harta keluarga.
Ayahnya tidak memberinya kesempatan untuk membela diri. Ia hanya menatap Wina seolah-olah sembilan belas tahun kasih sayang dapat dibuang bersama koper yang dilemparkan ke teras.
“Wina.”
Suara Laras memaksanya bergerak. Ia menyusul, tetapi sebelum meninggalkan gerbang, sesuatu berkilat di antara rumput basah. Wina berhenti dan berjongkok.
Sebuah keping logam hitam terbaring di tanah. Permukaannya dingin, jauh lebih dingin daripada udara. Di tengahnya terukir lambang menyerupai bulan sabit yang dililit duri.
Begitu jarinya menyentuh keping itu, kepalanya berdenyut.
Seorang pria berdiri di aula luas yang diterangi api biru. Rambutnya hitam, wajahnya pucat dan nyaris terlalu sempurna untuk disebut manusia. Ia mengenakan mantel panjang, sementara matanya - merah gelap seperti anggur yang ditinggalkan terlalu lama - menatap seseorang di hadapannya dengan luka yang tak terucapkan.
Wina mendengar suaranya.
“Aku akan menunggumu, meski kau membenciku ketika kembali.”
Kemudian bayangan itu pecah. Rasa kehilangan menghantam dadanya begitu kuat hingga ia terpaksa menarik napas.
“Wina!”
Laras sudah kembali. Ia meraih pergelangan tangan Wina dan menariknya berdiri. Keping logam jatuh ke tanah.
“Jangan sentuh apa pun di sekitar hutan.”
“Bibi tahu lambang ini?”
Wajah Laras berubah. Hanya sesaat, tetapi cukup untuk membuat Wina menyadarinya.
“Tidak.”
Kebohongan itu terlalu cepat.
Wina memasukkan tangan ke saku mantelnya. Keping logam tadi telah berada di telapak tangannya tanpa ia sadari. Dingin benda itu merambat hingga ke tulang.
Mereka berjalan menuju rumah Laras di ujung desa. Rumah itu kecil, beratap rendah, dengan jendela-jendela sempit yang menghadap ke hutan. Tidak ada rumah lain yang berdiri sedekat itu dengan pepohonan berkabut.
“Kenapa Bibi memilih rumah seperti ini?” tanya Wina.
“Karena ini rumah yang bisa kubeli.”
“Bibi tinggal sendirian bertahun-tahun di sini?”
“Sejak suamiku pergi untuk selamanya.” Laras tidak menoleh. “Aku sudah terbiasa.”
Nada suaranya menutup percakapan, tetapi Wina mendengar kesepian di baliknya. Kesepian yang anehnya terasa akrab, seperti bekas luka yang pernah ia miliki sebelum lahir.
Di dalam rumah, tungku menyala kecil. Laras menyuruh Wina duduk dan menuangkan teh panas. Uapnya membawa aroma kayu manis, tetapi jemari Wina tetap dingin.
“Orang desa bilang hutan itu milik pengusaha kaya,” kata Laras sambil membuka peti kayu. “Tanahnya luas. Ia membiarkannya menjadi belantara karena tidak suka kebisingan kota.”
“Siapa namanya?”
“Tidak ada yang menyebut nama pemiliknya.”
“Kenapa?”
Laras menutup peti terlalu keras. “Karena orang-orang yang pernah mencoba masuk tidak pernah kembali untuk bercerita.”
Wina menatapnya.
“Bibi percaya cerita itu?”
“Aku percaya pada rasa takut yang membuat seluruh desa mengunci pintu sebelum malam.” Laras duduk di hadapannya. “Ada yang bilang harta karun disimpan di dalam hutan. Ada yang bilang pemiliknya membuang musuh-musuhnya ke sana.”
“Dan Bibi?”
“Aku percaya kau harus menjauh.”
Wina menunduk pada teh yang tak disentuhnya. Di balik kaca jendela, kabut bergerak perlahan, menyusup di antara batang-batang pohon. Setiap kali kabut menebal, dada Wina terasa sesak oleh kerinduan yang tidak memiliki wajah.
“Bibi,” katanya, “aku pernah datang ke sini?”
Laras diam.
“Rasanya seperti mengenal tempat itu.”
“Kenangan bisa menipu.”
“Begitu juga keluarga.” Suara Wina bergetar, tetapi ia tidak menariknya kembali. “Ayah percaya Ibu dan Kak Raina ketika mereka bilang aku mencuri surat-surat pentingnya. Mereka tahu aku tidak melakukannya. Mereka hanya ingin aku pergi sebelum Ayah membagi hartanya.”
Laras memalingkan wajah.
“Bibi tahu?”
“Aku tahu keluargamu tidak pernah memperlakukanmu dengan adil.”
“Bibi tetap menyuruhku datang ke sini.”
“Karena aku satu-satunya orang yang masih akan membuka pintu untukmu.”
Kalimat itu seharusnya menghangatkan hati. Namun Wina justru merasa semakin kecil. Seolah-olah hidupnya telah dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain tanpa pernah benar-benar menjadi miliknya.
Malam turun cepat. Laras mengunci pintu depan, menutup jendela, lalu memperingatkan Wina agar tidak keluar. Wina mengangguk, menunggu sampai napas bibinya teratur di kamar sebelah.
Kemudian panggilan itu datang lagi.
Bukan suara. Bukan kata-kata.
Hanya tarikan lembut di balik tulang rusuknya.
Wina mengenakan mantel dan menyelinap keluar melalui pintu belakang. Tanah di halaman lembek, membasahi ujung sepatunya. Udara malam menggigit kulit, tetapi kabut di tepi hutan terasa hangat - hampir seperti napas seseorang yang berdiri terlalu dekat.
Ia berhenti beberapa langkah dari pepohonan.
“Siapa di sana?” bisiknya.
Tidak ada jawaban.
Namun di tanah, jejak-jejak kecil berwarna keperakan membentuk garis menuju hutan. Jejak itu tidak menyerupai kaki manusia. Setiap tanda terdiri atas tiga lengkung tajam, sama persis dengan ukiran pada keping logam di sakunya.
Wina tahu ia seharusnya kembali.
Ia juga tahu sejak tiba di desa ini, sesuatu di dalam dirinya telah menunggu kesempatan untuk berjalan ke arah itu.
Satu langkah.
Kabut menyentuh pergelangan kakinya.
Langkah kedua.
Dari dalam hutan terdengar suara ranting patah.
Wina menahan napas. Di antara pepohonan, sesosok bayangan tinggi berdiri sesaat, lalu lenyap. Ia tidak melihat wajahnya, tetapi tubuhnya mengingat sesuatu yang tidak pernah dialami Wina dalam hidup ini: sepasang lengan yang memeluknya ketika ia menangis, telapak tangan dingin yang menyentuh rambutnya, dan suara seorang pria yang memohon agar ia tidak meninggalkannya.
Rasa rindu itu begitu tajam hingga lututnya melemah.
“Kenapa aku merindukanmu?” bisiknya kepada kegelapan.
Keping logam di tangannya mendadak panas.
Kabut terbelah, memperlihatkan batu besar di antara akar-akar tua. Pada permukaannya terukir lambang yang sama, tetapi kali ini lambang itu berpendar merah redup. Wina mendekat, seolah ditarik oleh benang tak kasatmata.
Ketika telapak tangannya menyentuh batu, ingatan lain menerjang.
Pria bermata merah itu berlutut di hadapannya. Wajahnya tidak lagi dingin. Ada darah di kerah bajunya dan kehancuran di matanya.
“Aku mengkhianatimu,” katanya.
Wina - atau perempuan yang pernah menjadi dirinya - menangis tanpa suara.
“Aku tahu.”
“Aku memilih orang yang salah.”
“Dan sekarang kau ingin aku memaafkanmu?”
Pria itu menundukkan kepala. “Tidak. Aku hanya ingin kau hidup cukup lama untuk membenciku.”
Ingatan itu menghilang sebelum Wina sempat melihat akhir percakapan. Ia terhuyung mundur, menekan dada yang terasa kosong sekaligus penuh.
Di kejauhan, lonceng desa berbunyi tiga kali.
Lalu terdengar suara laki-laki.
“Hei! Siapa di sana?”
Wina menoleh. Dua lentera bergerak di antara kabut. Para penjaga desa. Salah satunya membawa tombak pendek, yang lain menggenggam senapan tua.
“Keluar dari wilayah itu!” teriak pria pertama. “Kau mau mati?”
Wina mundur, tetapi tumitnya tersangkut akar. Keping logam terlepas dari tangan dan jatuh ke tanah. Cahaya merah pada batu padam seketika.
Para penjaga semakin dekat.
“Kau gadis baru dari rumah Laras?” tanya pria kedua. “Apa yang kau lakukan di sini?”
“Aku tersesat.”
“Tidak ada orang yang tersesat ke hutan. Mereka memilih masuk.”
Nada tuduhannya mengingatkan Wina pada ayahnya. Seketika rasa takut berubah menjadi marah.
“Aku tidak mengambil apa pun.”
“Jangan bergerak!” Penjaga pertama mengangkat senjatanya. “Pemilik tanah tidak suka penyusup.”
Kabut di belakang Wina bergerak. Kali ini bukan seperti angin. Ia berputar mengelilingi batu, kemudian merayap ke arah kakinya. Dari dalam hutan terdengar suara rendah, nyaris seperti geraman tertahan.
Para penjaga ikut mendengarnya.
Wajah mereka pucat.
“Bawa dia pergi,” bisik penjaga kedua.
“Jangan mendekat,” kata yang pertama, tetapi suaranya kehilangan keberanian.
Wina menatap keping logam di tanah. Ia bisa mengambilnya dan kembali ke rumah Laras. Ia bisa berpura-pura malam ini tidak pernah terjadi.
Namun di balik kabut, ia merasakan kehadiran pria dari ingatannya. Jauh, tetapi nyata. Seperti seseorang yang telah menunggu di balik pintu selama lima ratus tahun dan baru saja mendengar kunci diputar.
Wina membungkuk, mengambil keping itu.
Pada permukaannya kini muncul satu kata yang tidak ia kenal, tetapi entah bagaimana dapat ia baca.
Dorian.
Nama itu menyalakan kerinduan yang bukan milik gadis sembilan belas tahun yang baru diusir keluarganya. Kerinduan itu lebih tua, lebih dalam, dan terluka oleh pengkhianatan yang belum ia pahami.
“Wina!” teriak Laras dari arah halaman. “Jangan ikuti kabut itu!”
Wina menatap jalan pulang. Di sana ada bibinya, rumah kecil, dan keselamatan yang dibangun dari ketakutan.
Di hadapannya, hutan membuka celah sempit di antara pepohonan. Kabut mengalir ke dalamnya, seolah menunjukkan jalan.
Para penjaga mulai bergerak mendekat.
Wina menggenggam keping logam hingga tepinya menekan kulit. Setitik darah muncul di telapak tangannya, lalu meresap ke lambang hitam itu.
Dari kedalaman hutan, sesuatu menjawab.
Bukan suara.
Sebuah detak.
Wina melangkah mundur - bukan menuju para penjaga, melainkan menuju kabut. Ia belum tahu siapa Dorian, mengapa hatinya mengenali nama itu, atau dosa apa yang membuat ingatan tersebut terasa seperti luka terbuka.
Tetapi untuk pertama kalinya sejak diusir dari rumah, ada sesuatu yang benar-benar memanggilnya pulang.
End of chapter one. 4 more chapters in the full book.
Swipe or use the arrows to turn the page
What's inside: 5 chapters
- 1. Kabut Hutan Memanggil Wina
- 2. Raja Darah Menguji Kesetiaan
- 3. Bukti Palsu Ibu dan Kakak
- 4. Pernikahan Paksa di Tanah Pengusaha
- 5. Janji Manusia, Dendam Vampir
About this book
"Raja Vampir Dan Takdirnya" is a romance book by yeyen wulandari with 5 chapters and approximately 9,586 words. Romansa dark tentang raja vampir, kelahiran kembali, dan dendam..
This book was created using Inkfluence AI, an AI-powered book generation platform that helps authors write, design, and publish complete books. It was made with the AI Romance Novel Writer.
Frequently Asked Questions
What is "Raja Vampir Dan Takdirnya" about?
Romansa dark tentang raja vampir, kelahiran kembali, dan dendam.
How many chapters are in "Raja Vampir Dan Takdirnya"?
The book contains 5 chapters and approximately 9,586 words. Topics covered include Kabut Hutan Memanggil Wina, Raja Darah Menguji Kesetiaan, Bukti Palsu Ibu dan Kakak, Pernikahan Paksa di Tanah Pengusaha, and more.
Who wrote "Raja Vampir Dan Takdirnya"?
This book was written by yeyen wulandari and created using Inkfluence AI, an AI book generation platform that helps authors write, design, and publish books.
How can I create a similar romance book?
You can create your own romance book using Inkfluence AI. Describe your idea, choose your style, and the AI writes the full book for you. It's free to start.
Write your own romance book with AI
Describe your idea and Inkfluence writes the whole thing. Free to start.
Start writingCreated with Inkfluence AI