Sekretaris Pribadi Levandro
Romance

Sekretaris Pribadi Levandro

by Anonymous · 2026-09-06
6 chapters 9,800 words ~39 min read Indonesian 26 reads

Romansa sekretaris dengan bos tampan dan irit bicara

Table of Contents

  1. 1. Surat Tawaran di Gedung Raksasa
  2. 2. Melawan Diam Levandro dengan Ketelitian
  3. 3. Jejak Pesan Rahasia di Meja Kerja
  4. 4. Rapat Gawat: Kebenaran yang Harus Dipilih
  5. 5. Chapter 6
  6. 6. Pengakuan Pelan di Antara Jadwal

Preview: Surat Tawaran di Gedung Raksasa

A short excerpt from “Surat Tawaran di Gedung Raksasa”. The full book contains 6 chapters and 9,800 words.

Milan Aluna menatap surel tawaran kerja itu untuk ketujuh kalinya, sementara mesin pembuat kopi di belakangnya mendesis seperti sedang memperingatkan sesuatu.


“Kalau kau terus menatap layar begitu, kopinya akan berubah menjadi es,” kata pemilik kafe dari balik meja kasir.


Milan tersentak. Tangannya segera meraih cangkir yang sejak tadi dibiarkan di samping mesin kasir. Aroma pahit kopi bercampur dengan wangi mentega dari croissant yang baru keluar dari oven. Di luar jendela, jalanan pagi di Italia masih basah oleh hujan. Sepeda-sepeda melintas dengan bunyi berderit, sementara mahasiswa berjaket tebal bergegas menuju kampus.


“Aku mendapat tawaran kerja,” ujar Milan.


“Di kafe lain?”


“Perusahaan besar.”


Pemilik kafe mengangkat alis. “Kau bahkan masih harus menyelesaikan kelas sore.”


“Aku tahu.”


“Dan kau belum tahu siapa bosmu?”


Milan menurunkan pandangannya pada surel itu. Nama perusahaan tercetak rapi di bagian atas, diikuti alamat gedung dan jadwal kedatangan. Tidak ada nama calon atasan. Tidak ada keterangan divisi selain sekretaris pribadi eksekutif.


Hanya ada satu kalimat yang terus mengganggunya.


Harap membawa dokumen identitas dan bersedia mengikuti prosedur administrasi internal.


“Belum,” jawab Milan pelan. “Mereka bilang semuanya akan dijelaskan saat orientasi.”


“Kalau begitu, jangan tanda tangan apa pun sebelum membaca.”


“Aku tidak akan gegabah.”


Namun ia membutuhkan pekerjaan itu. Uang dari kafe cukup untuk membayar sebagian biaya kuliah dan kamar sewanya, tetapi tidak cukup untuk membuatnya berhenti menghitung sisa uang setiap akhir bulan. Tawaran itu datang dengan gaji yang hampir tiga kali lipat dari pendapatannya di kafe. Ada asuransi, jadwal yang bisa disesuaikan dengan kuliah, dan kemungkinan kontrak jangka panjang.


Yang tidak ada hanyalah kepastian tentang pria atau wanita yang akan menjadi atasannya.


Milan menyimpan ponsel ketika bel pintu kafe berbunyi. Pelanggan pertama masuk dengan payung meneteskan air ke lantai. Ia mengikat rambutnya lebih erat, mengenakan celemek, lalu kembali bekerja seolah-olah hidupnya belum berubah.


Padahal, sejak surel itu tiba, setiap pesanan kopi terasa seperti hitungan mundur.


*


Dua hari kemudian, Milan berdiri di depan gedung perusahaan itu dengan map biru di dada.


Gedung tersebut menjulang di antara bangunan-bangunan tua, seluruh permukaannya dilapisi kaca gelap yang memantulkan langit kelabu. Pintu putarnya bergerak tanpa henti, membawa orang-orang berjas masuk dan keluar. Di atas pintu utama, lambang perusahaan terukir pada lempengan logam berwarna perak.


Milan menarik napas, lalu masuk.


Udara di dalam jauh lebih dingin daripada di luar. Aroma batu yang dipoles, parfum mahal, dan kopi dari kedai lobi bercampur di bawah langit-langit tinggi. Suara langkah kaki memantul dari lantai marmer. Di sisi kanan, meja resepsionis membentang panjang dengan tiga petugas yang berbicara melalui telepon secara bersamaan.


Milan mendekati meja paling ujung.


“Saya Milan Aluna. Saya datang untuk proses penerimaan sekretaris.”


Petugas itu menatap layar, lalu menatap Milan. “Divisi?”


“Sekretaris pribadi.”


“Nama eksekutif?”


Milan terdiam sepersekian detik. “Saya belum diberi tahu.”


Petugas itu mengetik sesuatu. Alisnya berkerut.


“Nomor undangan?”


Milan menyerahkan surel yang sudah dicetak. Petugas itu membacanya, lalu memberikan kartu tamu berwarna putih.


“Lantai tiga puluh dua. Administrasi personalia. Gunakan lift sebelah kiri.”


“Terima kasih.”


“Jangan lewat lift eksekutif.”


Milan menoleh. “Apa bedanya?”


Petugas itu menunjuk dua deretan lift. Empat pintu berlapis baja berada di sebelah kiri, sedangkan dua pintu hitam tanpa tombol lantai berdiri di ujung lobi, dijaga seorang pria bersetelan gelap.


“Yang hitam hanya untuk eksekutif.”


Milan mengangguk dan berjalan menuju lift kiri. Baru tiga langkah, ia mendengar petugas itu memanggil.


“Nona Aluna.”


Milan menoleh.


“Kalau Anda tidak tahu nama eksekutifnya, sebaiknya jangan menyebut posisi itu terlalu keras.”


Nada suaranya terdengar biasa, tetapi cukup untuk membuat tengkuk Milan terasa dingin.


Lift dipenuhi orang. Milan berdiri di sudut, memeluk map birunya ketika angka-angka lantai menyala satu demi satu. Di lantai dua puluh, sebagian besar penumpang turun. Di lantai dua puluh delapan, tinggal Milan dan seorang pria yang memegang tablet.


“Lantai tiga puluh dua?” tanyanya.


“Ya.”


“Administrasi personalia ada di lantai tiga puluh. Lantai tiga puluh dua untuk kantor eksekutif.”


Milan menekan tombol berhenti ketika pintu terbuka. “Mereka mengarahkan saya ke sana.”


Pria itu memandang kartu tamunya. Wajahnya berubah sedikit, seolah baru menyadari sesuatu yang tidak ingin ia komentari.


“Kalau begitu, semoga beruntung.”


Pintu tertutup sebelum Milan sempat bertanya maksudnya.


Di lantai tiga puluh dua, suasananya berbeda. Tidak ada suara telepon yang bersahutan. Karpet abu-abu meredam langkah kaki, dan dinding kaca memisahkan ruang-ruang kantor yang tampak hampir kosong....

About this book

"Sekretaris Pribadi Levandro" is a romance book by Anonymous with 6 chapters and approximately 9,800 words. Romansa sekretaris dengan bos tampan dan irit bicara.

This book was created using Inkfluence AI, an AI-powered book generation platform that helps authors write, design, and publish complete books. It was made with the AI Romance Novel Writer.

Frequently Asked Questions

What is "Sekretaris Pribadi Levandro" about?

Romansa sekretaris dengan bos tampan dan irit bicara

How many chapters are in "Sekretaris Pribadi Levandro"?

The book contains 6 chapters and approximately 9,800 words. Topics covered include Surat Tawaran di Gedung Raksasa, Melawan Diam Levandro dengan Ketelitian, Jejak Pesan Rahasia di Meja Kerja, Rapat Gawat: Kebenaran yang Harus Dipilih, and more.

Who wrote "Sekretaris Pribadi Levandro"?

This book was written by Anonymous and created using Inkfluence AI, an AI book generation platform that helps authors write, design, and publish books.

How can I create a similar romance book?

You can create your own romance book using Inkfluence AI. Describe your idea, choose your style, and the AI writes the full book for you. It's free to start.

Write your own romance book with AI

Describe your idea and Inkfluence writes the whole thing. Free to start.

Start writing

Created with Inkfluence AI