Dari Partner Kerja Menjadi Kita
Romance

Dari Partner Kerja Menjadi Kita

by imutt iko · 2026-09-07
5 chapters 9,244 words ~37 min read Indonesian 28 reads

Perjalanan pasangan dari partner kerja menjadi cinta

Table of Contents

  1. 1. Pertemuan di Ruang Kerja 2020
  2. 2. Dekat Tanpa Menyebut Cinta
  3. 3. Keberanian di Awal Juli 2023
  4. 4. Belajar Menjadi “Kita”
  5. 5. Mengabadikan Luka di 2025

Preview: Pertemuan di Ruang Kerja 2020

A short excerpt from “Pertemuan di Ruang Kerja 2020”. The full book contains 5 chapters and 9,244 words.

Hujan menempel di kaca ruang rapat ketika Rani Wulandari mencoba menyalakan proyektor untuk ketiga kalinya.


“Kalau benda ini punya perasaan, mungkin dia sudah mengajukan pengunduran diri,” gumamnya.


Dimas Pratama, yang sejak tadi berdiri di dekat meja sambil memeriksa berkas, menoleh. “Atau mungkin dia cuma tidak suka diperintah dengan nada tinggi.”


“Aku tidak membentak.”


“Kau bilang, ‘Ayo, nyala.’ Itu sudah terdengar seperti ancaman.”


Rani menahan senyum. Ruang rapat itu dingin, terlalu dingin untuk pagi yang basah. Bau kopi dari gelas kertas di meja bercampur dengan aroma karpet yang lembap. Di luar, suara kendaraan terdengar samar, tertahan hujan dan dinding kaca. Tahun 2020 baru dimulai, dan hari itu sebenarnya tidak punya alasan untuk terasa istimewa.


Ia hanya ingin rapat selesai tanpa masalah.


Ia ingin menyampaikan laporan, menjawab pertanyaan atasan, lalu kembali ke meja kerjanya. Tidak lebih. Dimas adalah rekan kerja yang kebetulan berada dalam tim yang sama, seseorang yang ia kenal seperlunya: teliti, jarang terlambat, dan punya kebiasaan mengetuk pulpen ke meja ketika sedang berpikir.


Tidak ada yang perlu diperhatikan lebih jauh.


“Coba geser kabelnya,” kata Dimas.


“Sudah.”


“Yang sebelah kiri.”


“Sudah juga.”


Dimas mendekat. Lengan kemejanya menyentuh ujung meja saat ia membungkuk, lalu tangannya meraih kabel di belakang laptop Rani. Jarak mereka mendadak terlalu dekat untuk sesuatu yang seharusnya biasa. Rani bisa mencium samar aroma sabun dari bajunya, bersih dan ringan, bercampur dengan wangi kopi yang belum sempat diminum.


“Sekarang?”


Layar di depan mereka menyala.


Rani segera mundur setengah langkah. “Nah. Ternyata memang harus pakai tenaga ahli.”


“Bukan tenaga ahli.” Dimas kembali ke tempatnya. “Cuma orang yang mau membaca label kabel.”


“Jangan mulai merasa hebat hanya karena berhasil menyalakan proyektor.”


“Aku tidak merasa hebat. Aku hanya menyelamatkan rapat.”


“Rapatnya belum mulai.”


“Berarti aku menyelamatkan masa depan rapat.”


Rani akhirnya tertawa kecil. Dimas ikut tersenyum, tetapi hanya sebentar sebelum suara pintu terbuka membuat mereka kembali pada wajah masing-masing yang lebih profesional.


Beberapa orang masuk membawa laptop dan tumpukan dokumen. Rani duduk di sisi kiri meja, Dimas di seberangnya. Di antara mereka ada botol air mineral, kabel-kabel kusut, dan jarak yang seharusnya cukup untuk membuat semuanya tetap sederhana.


Rapat berjalan hampir satu jam. Rani menjelaskan bagian laporan dengan suara tenang, meski telapak tangannya terasa dingin setiap kali seseorang mengajukan pertanyaan. Dimas tidak banyak bicara. Ia hanya sesekali menyelipkan penjelasan ketika pembahasan mulai melebar, atau mendorong kertas tertentu ke arah Rani tanpa suara.


Pada satu titik, Rani kehilangan halaman yang sedang dicari.


“Data bulan Februari,” tanya atasannya. “Yang perbandingan dengan Januari.”


Rani membuka berkas di depannya. Halaman-halaman itu bercampur. Ia membalik terlalu cepat, semakin panik karena semua mata tertuju kepadanya.


Dimas mengetuk pelan sisi meja.


“Halaman tujuh,” bisiknya.


Rani berhenti. Ia menemukan lembar yang dimaksud tepat di bawah tangannya sendiri.


“Terima kasih,” ucapnya, hampir tanpa suara.


Dimas hanya mengangguk. Namun setelah itu, setiap kali Rani hendak menjawab, ia merasa ada seseorang di seberang meja yang diam-diam memastikan ia tidak sendirian menghadapi ruangan tersebut.


Perasaan itu mengganggu.


Bukan karena tidak menyenangkan. Justru karena terlalu nyaman.


Saat rapat selesai, orang-orang keluar satu per satu. Ada yang masih membicarakan target, ada yang mengeluhkan jadwal, ada pula yang langsung mengangkat telepon begitu melewati pintu. Rani tetap duduk, merapikan kertas yang sebenarnya sudah tersusun rapi.


Ia tidak ingin buru-buru keluar bersama Dimas. Entah mengapa, sejak canda kecil di depan proyektor tadi, keberadaan lelaki itu terasa berbeda. Bukan berbeda dalam arti yang besar. Hanya lebih mudah disadari.


Dimas mengumpulkan kabel di atas meja.


“Kau mau menginap di sini?” tanyanya.


“Tidak. Aku sedang memastikan tidak ada dokumen yang tertinggal.”


“Dokumenmu sudah masuk map dari lima menit lalu.”


Rani menatapnya. “Kau memperhatikan?”


“Sulit tidak memperhatikan kalau kau memasukkan kertas yang sama ke map sebanyak tiga kali.”


Ia menunduk, pura-pura memeriksa tas. “Aku sedang lelah.”


“Karena rapat?”


“Karena orang-orang.”


Dimas menyandarkan tubuh ke tepi meja. “Orang-orang memang melelahkan.”


“Termasuk kau?”


“Terutama aku.”


Jawaban itu membuat Rani kembali tersenyum. Ia tidak tahu mengapa Dimas bisa membuat percakapan sederhana terdengar seperti sesuatu yang layak disimpan. Mungkin karena ia tidak memaksa. Tidak berusaha membuat dirinya menarik. Ia hanya mengatakan hal-hal kecil dengan wajah tenang, lalu membiarkan Rani memutuskan apakah ingin tertawa atau tidak.


“Kau selalu seperti ini?” tanya Rani.


“Seperti apa?”

...

About this book

"Dari Partner Kerja Menjadi Kita" is a romance book by imutt iko with 5 chapters and approximately 9,244 words. Perjalanan pasangan dari partner kerja menjadi cinta.

This book was created using Inkfluence AI, an AI-powered book generation platform that helps authors write, design, and publish complete books. It was made with the AI Romance Novel Writer.

Frequently Asked Questions

What is "Dari Partner Kerja Menjadi Kita" about?

Perjalanan pasangan dari partner kerja menjadi cinta

How many chapters are in "Dari Partner Kerja Menjadi Kita"?

The book contains 5 chapters and approximately 9,244 words. Topics covered include Pertemuan di Ruang Kerja 2020, Dekat Tanpa Menyebut Cinta, Keberanian di Awal Juli 2023, Belajar Menjadi “Kita”, and more.

Who wrote "Dari Partner Kerja Menjadi Kita"?

This book was written by imutt iko and created using Inkfluence AI, an AI book generation platform that helps authors write, design, and publish books.

How can I create a similar romance book?

You can create your own romance book using Inkfluence AI. Describe your idea, choose your style, and the AI writes the full book for you. It's free to start.

Write your own romance book with AI

Describe your idea and Inkfluence writes the whole thing. Free to start.

Start writing

Created with Inkfluence AI