Dari Partner Kerja Menjadi Kita
Romance

Dari Partner Kerja Menjadi Kita

by imutt iko · 2026-09-07

Perjalanan pasangan dari partner kerja menjadi cinta

5 chapters 9,244 words ~37 min read Indonesian 65 reads

Read the first chapter

The whole of chapter one, free. About 8 min. Turn the pages with the arrows, your keyboard, or a swipe.

Chapter 1

Pertemuan di Ruang Kerja 2020

Hujan menempel di kaca ruang rapat ketika Rani Wulandari mencoba menyalakan proyektor untuk ketiga kalinya.

“Kalau benda ini punya perasaan, mungkin dia sudah mengajukan pengunduran diri,” gumamnya.

Dimas Pratama, yang sejak tadi berdiri di dekat meja sambil memeriksa berkas, menoleh. “Atau mungkin dia cuma tidak suka diperintah dengan nada tinggi.”

“Aku tidak membentak.”

“Kau bilang, ‘Ayo, nyala.’ Itu sudah terdengar seperti ancaman.”

Rani menahan senyum. Ruang rapat itu dingin, terlalu dingin untuk pagi yang basah. Bau kopi dari gelas kertas di meja bercampur dengan aroma karpet yang lembap. Di luar, suara kendaraan terdengar samar, tertahan hujan dan dinding kaca. Tahun 2020 baru dimulai, dan hari itu sebenarnya tidak punya alasan untuk terasa istimewa.

Ia hanya ingin rapat selesai tanpa masalah.

Ia ingin menyampaikan laporan, menjawab pertanyaan atasan, lalu kembali ke meja kerjanya. Tidak lebih. Dimas adalah rekan kerja yang kebetulan berada dalam tim yang sama, seseorang yang ia kenal seperlunya: teliti, jarang terlambat, dan punya kebiasaan mengetuk pulpen ke meja ketika sedang berpikir.

Tidak ada yang perlu diperhatikan lebih jauh.

“Coba geser kabelnya,” kata Dimas.

“Sudah.”

“Yang sebelah kiri.”

“Sudah juga.”

Dimas mendekat. Lengan kemejanya menyentuh ujung meja saat ia membungkuk, lalu tangannya meraih kabel di belakang laptop Rani. Jarak mereka mendadak terlalu dekat untuk sesuatu yang seharusnya biasa. Rani bisa mencium samar aroma sabun dari bajunya, bersih dan ringan, bercampur dengan wangi kopi yang belum sempat diminum.

“Sekarang?”

Layar di depan mereka menyala.

Rani segera mundur setengah langkah. “Nah. Ternyata memang harus pakai tenaga ahli.”

“Bukan tenaga ahli.” Dimas kembali ke tempatnya. “Cuma orang yang mau membaca label kabel.”

“Jangan mulai merasa hebat hanya karena berhasil menyalakan proyektor.”

“Aku tidak merasa hebat. Aku hanya menyelamatkan rapat.”

“Rapatnya belum mulai.”

“Berarti aku menyelamatkan masa depan rapat.”

Rani akhirnya tertawa kecil. Dimas ikut tersenyum, tetapi hanya sebentar sebelum suara pintu terbuka membuat mereka kembali pada wajah masing-masing yang lebih profesional.

Beberapa orang masuk membawa laptop dan tumpukan dokumen. Rani duduk di sisi kiri meja, Dimas di seberangnya. Di antara mereka ada botol air mineral, kabel-kabel kusut, dan jarak yang seharusnya cukup untuk membuat semuanya tetap sederhana.

Rapat berjalan hampir satu jam. Rani menjelaskan bagian laporan dengan suara tenang, meski telapak tangannya terasa dingin setiap kali seseorang mengajukan pertanyaan. Dimas tidak banyak bicara. Ia hanya sesekali menyelipkan penjelasan ketika pembahasan mulai melebar, atau mendorong kertas tertentu ke arah Rani tanpa suara.

Pada satu titik, Rani kehilangan halaman yang sedang dicari.

“Data bulan Februari,” tanya atasannya. “Yang perbandingan dengan Januari.”

Rani membuka berkas di depannya. Halaman-halaman itu bercampur. Ia membalik terlalu cepat, semakin panik karena semua mata tertuju kepadanya.

Dimas mengetuk pelan sisi meja.

“Halaman tujuh,” bisiknya.

Rani berhenti. Ia menemukan lembar yang dimaksud tepat di bawah tangannya sendiri.

“Terima kasih,” ucapnya, hampir tanpa suara.

Dimas hanya mengangguk. Namun setelah itu, setiap kali Rani hendak menjawab, ia merasa ada seseorang di seberang meja yang diam-diam memastikan ia tidak sendirian menghadapi ruangan tersebut.

Perasaan itu mengganggu.

Bukan karena tidak menyenangkan. Justru karena terlalu nyaman.

Saat rapat selesai, orang-orang keluar satu per satu. Ada yang masih membicarakan target, ada yang mengeluhkan jadwal, ada pula yang langsung mengangkat telepon begitu melewati pintu. Rani tetap duduk, merapikan kertas yang sebenarnya sudah tersusun rapi.

Ia tidak ingin buru-buru keluar bersama Dimas. Entah mengapa, sejak canda kecil di depan proyektor tadi, keberadaan lelaki itu terasa berbeda. Bukan berbeda dalam arti yang besar. Hanya lebih mudah disadari.

Dimas mengumpulkan kabel di atas meja.

“Kau mau menginap di sini?” tanyanya.

“Tidak. Aku sedang memastikan tidak ada dokumen yang tertinggal.”

“Dokumenmu sudah masuk map dari lima menit lalu.”

Rani menatapnya. “Kau memperhatikan?”

“Sulit tidak memperhatikan kalau kau memasukkan kertas yang sama ke map sebanyak tiga kali.”

Ia menunduk, pura-pura memeriksa tas. “Aku sedang lelah.”

“Karena rapat?”

“Karena orang-orang.”

Dimas menyandarkan tubuh ke tepi meja. “Orang-orang memang melelahkan.”

“Termasuk kau?”

“Terutama aku.”

Jawaban itu membuat Rani kembali tersenyum. Ia tidak tahu mengapa Dimas bisa membuat percakapan sederhana terdengar seperti sesuatu yang layak disimpan. Mungkin karena ia tidak memaksa. Tidak berusaha membuat dirinya menarik. Ia hanya mengatakan hal-hal kecil dengan wajah tenang, lalu membiarkan Rani memutuskan apakah ingin tertawa atau tidak.

“Kau selalu seperti ini?” tanya Rani.

“Seperti apa?”

“Banyak bicara setelah rapat selesai, tapi hampir tidak pernah bicara saat rapat berlangsung.”

“Karena saat rapat berlangsung, orang-orang masih mau mendengarkan.”

“Jadi sekarang mereka tidak mau?”

“Sekarang cuma ada kau.”

Kalimat itu jatuh begitu saja, ringan, tanpa nada khusus. Namun Rani merasakan sesuatu bergerak kecil di dalam dadanya. Ia segera menutup resleting tas.

“Kalau begitu, aku harus pergi sebelum kau mulai mengatakan hal-hal yang tidak perlu.”

Dimas mengangkat alis. “Aku belum mengatakan apa-apa.”

“Itu justru masalahnya.”

Untuk sesaat, mereka saling memandang. Tidak lama, tetapi cukup untuk membuat Rani sadar bahwa ia sedang memperhatikan mata Dimas, bukan berkas di tangannya. Ada kelelahan di sana, juga sesuatu yang sulit ia namai - mungkin sekadar sisa konsentrasi, mungkin juga pantulan cahaya dari jendela.

Pintu ruang rapat terbuka lagi.

“Rani, nanti kirim revisinya, ya,” kata salah satu rekan mereka dari ambang pintu.

Rani langsung berdiri. “Iya.”

Dimas mundur dari meja. Jarak di antara mereka kembali seperti semula.

Di lorong, kantor terasa lebih ramai. Telepon berdering dari beberapa meja, suara kursi digeser, suara printer bekerja tanpa henti. Rani berjalan menuju ruang kerjanya dengan langkah sedikit lebih cepat. Ia berusaha mengembalikan pikirannya pada pekerjaan, pada angka-angka yang harus diperiksa, pada surel yang belum dibalas.

Namun percakapan tadi terus muncul di sela-selanya.

Sekarang cuma ada kau.

Kalimat yang sebenarnya tidak berarti apa-apa.

Mungkin.

Menjelang siang, atasan mereka mengirim pesan bahwa revisi laporan harus selesai sebelum sore. Rani menatap layar komputernya, lalu menghela napas. Ia baru membuka berkas ketika Dimas datang membawa dua gelas kopi.

“Yang satu untukmu,” katanya.

Rani menatap gelas itu. “Aku tidak pesan.”

“Aku tahu.”

“Kenapa dibelikan?”

“Karena kau terlihat seperti orang yang akan memarahi komputer.”

“Aku tidak pernah memarahi komputer.”

“Pagi tadi kau mengancam proyektor.”

“Itu berbeda.”

“Benda elektronik tetap punya perasaan.”

Rani menerima kopi tersebut. Hangatnya meresap ke telapak tangannya. “Terima kasih.”

Dimas menarik kursi kosong di sebelah mejanya, tetapi tidak langsung duduk. “Bagian revisi yang ini sudah selesai?”

“Belum. Aku masih harus mencocokkan angka dari rapat.”

“Aku bisa bantu.”

Rani menoleh. “Kau juga punya pekerjaan.”

“Pekerjaanku tidak akan hilang dalam sepuluh menit.”

“Kalau begitu, duduklah. Tapi jangan membuatku harus berutang kopi.”

“Ini bukan utang.”

“Semua hal di kantor biasanya punya catatan.”

“Kalau begitu, catat saja sebagai bantuan.”

Ia duduk. Mereka bekerja berdampingan dalam diam yang tidak sepenuhnya canggung. Sesekali Dimas menunjuk baris angka di layar Rani. Sesekali Rani bertanya, dan Dimas menjawab tanpa membuatnya merasa bodoh karena tidak tahu. Di luar, hujan mulai reda. Cahaya pucat masuk melalui celah tirai dan jatuh di atas meja, membentuk garis tipis di antara tangan mereka.

Ketika Rani meraih dokumen, jarinya tidak sengaja menyentuh punggung tangan Dimas.

Keduanya berhenti.

“Maaf,” kata Rani cepat.

“Tidak apa-apa.”

Dimas menarik tangannya lebih dulu. Gerakannya sederhana, tetapi Rani menangkap sesuatu di wajahnya - keraguan singkat, seolah ia juga tidak tahu harus menaruh perhatian ke mana.

Rani menunduk pada layar. “Kita harus selesai sebelum sore.”

“Iya.”

Mereka kembali bekerja. Namun setelah itu, jarak yang sama terasa seperti sesuatu yang sedang mereka sadari bersama.

Sore datang dengan langit kelabu. Revisi laporan akhirnya terkirim beberapa menit sebelum batas waktu. Rani bersandar di kursinya, memejamkan mata sebentar. Bahunya pegal, kepalanya penuh angka dan percakapan yang tidak seharusnya ia ingat terlalu lama.

Dimas berdiri di samping mejanya.

“Pulang?”

“Sebentar lagi.”

“Sebentar lagi itu berapa lama?”

“Lima menit.”

“Kau bilang begitu sejak sepuluh menit lalu.”

Rani membuka mata. “Kau mau memastikan aku benar-benar pulang?”

“Tidak. Aku mau memastikan lampu kantor tidak mati sementara kau masih duduk di sini.”

“Alasan yang bagus.”

“Aku memang sering punya alasan.”

“Untuk apa?”

Dimas tidak langsung menjawab. Ia memandang layar komputer Rani yang sudah gelap, lalu kembali menatapnya.

“Untuk mengajakmu makan.”

Rani terdiam.

Dimas segera mengangkat kedua tangannya sedikit, seperti ingin menarik kembali kalimat itu sebelum terdengar terlalu jauh. “Maksudku, makan di kantin. Aku belum makan siang dengan benar.”

Rani tahu ia sedang memberi penjelasan karena melihat wajahnya berubah. Itu seharusnya membuat semuanya kembali biasa. Namun justru membuatnya semakin sadar bahwa ajakan tadi sempat terdengar seperti sesuatu yang lain.

“Kantin hampir tutup,” katanya.

“Kalau begitu, kita makan di luar.”

Kita.

Satu kata yang tidak seharusnya membuatnya berhenti bernapas sesaat.

Rani menatap tasnya. Ia ingin berkata iya. Hari itu melelahkan, dan ada bagian kecil dalam dirinya yang ingin memperpanjang percakapan dengan Dimas di luar ruang kantor - di tempat yang tidak memiliki meja rapat, dokumen, atau orang-orang yang mungkin memperhatikan.

Tetapi keinginan itu juga membuatnya waspada.

Mereka baru mulai bekerja bersama. Mereka bahkan belum benar-benar berteman. Jika ia menerima ajakan tersebut, apakah Dimas akan menganggapnya sebagai sesuatu? Atau justru dirinya sendiri yang akan mulai menganggap terlalu banyak?

“Aku harus pulang,” kata Rani akhirnya.

Dimas mengangguk, meski senyumnya tidak lagi selebar tadi. “Baik.”

“Besok masih banyak pekerjaan.”

“Benar.”

“Aku tidak sedang menolak karena - ”

Rani berhenti. Ia tidak tahu hendak melanjutkan dengan apa.

Dimas menunggu sebentar, lalu berkata, “Karena apa?”

“Tidak ada.”

“Kalau begitu, tidak apa-apa.”

Nada suaranya tetap ringan, tetapi ada jarak baru yang muncul setelahnya. Rani merasakannya seperti udara dingin dari pendingin ruangan yang tiba-tiba diarahkan tepat ke tengkuk.

Dimas mengambil gelas kopi kosong dari meja. “Sampai besok, Ran.”

“Dimas.”

Ia menoleh.

Rani ingin mengatakan sesuatu yang bisa menghapus kaku di antara mereka. Ingin bilang bahwa ia sebenarnya senang diajak, hanya belum terbiasa menerima perhatian dari seseorang yang baru dikenalnya. Namun kata-kata itu terasa terlalu jujur untuk hubungan yang bahkan belum memiliki nama selain partner kerja.

Akhirnya ia hanya berkata, “Hati-hati di jalan.”

Dimas mengangguk. “Kau juga.”

Rani melihatnya pergi melewati lorong, membawa dua gelas kosong dan percakapan yang belum selesai. Setelah sosoknya menghilang di balik pintu, Rani merapikan meja sekali lagi, meski tidak ada yang perlu dirapikan.

Ia mendapatkan apa yang ia inginkan hari itu: pekerjaan selesai, rapat berjalan lancar, dan tidak ada masalah besar yang harus dibawa pulang.

Namun ketika akhirnya keluar dari kantor, udara setelah hujan terasa lebih segar daripada biasanya. Lampu-lampu jalan memantul di genangan, dan suara langkahnya terdengar pelan di trotoar. Di dalam tasnya ada laporan yang sudah selesai. Di dalam pikirannya ada tawa Dimas, gelas kopi hangat, serta ajakan makan yang ia tolak dengan alasan pekerjaan.

Rani tahu ia harus menjaga jarak.

Bukan karena Dimas melakukan sesuatu yang salah. Justru karena ia mulai menyadari hal-hal kecil yang seharusnya tidak ia perhatikan: cara Dimas menunggu sampai ia menemukan halaman laporan, cara ia mengingat kopi yang disukai Rani, cara suaranya berubah ketika berkata, “Sekarang cuma ada kau.”

Semua itu mungkin tidak berarti apa-apa.

Rani berjalan lebih cepat menuju halte, seolah jarak beberapa langkah bisa membuat perasaan hangat di dadanya ikut tertinggal di depan kantor.

Tetapi malam itu, untuk pertama kalinya, Dimas tidak lagi terasa seperti sekadar rekan kerja.

End of chapter one. 4 more chapters and about 9,244 words in the full book.

1 / 9

Swipe or use the arrows to turn the page

What's inside: 5 chapters

  1. 1. Pertemuan di Ruang Kerja 2020
  2. 2. Dekat Tanpa Menyebut Cinta
  3. 3. Keberanian di Awal Juli 2023
  4. 4. Belajar Menjadi “Kita”
  5. 5. Mengabadikan Luka di 2025

About this book

"Dari Partner Kerja Menjadi Kita" is a romance book by imutt iko with 5 chapters and approximately 9,244 words. Perjalanan pasangan dari partner kerja menjadi cinta.

This book was created using Inkfluence AI, an AI-powered book generation platform that helps authors write, design, and publish complete books. It was made with the AI Romance Novel Writer.

Frequently Asked Questions

What is "Dari Partner Kerja Menjadi Kita" about?

Perjalanan pasangan dari partner kerja menjadi cinta

How many chapters are in "Dari Partner Kerja Menjadi Kita"?

The book contains 5 chapters and approximately 9,244 words. Topics covered include Pertemuan di Ruang Kerja 2020, Dekat Tanpa Menyebut Cinta, Keberanian di Awal Juli 2023, Belajar Menjadi “Kita”, and more.

Who wrote "Dari Partner Kerja Menjadi Kita"?

This book was written by imutt iko and created using Inkfluence AI, an AI book generation platform that helps authors write, design, and publish books.

How can I create a similar romance book?

You can create your own romance book using Inkfluence AI. Describe your idea, choose your style, and the AI writes the full book for you. It's free to start.

Write your own romance book with AI

Describe your idea and Inkfluence writes the whole thing. Free to start.

Start writing

Created with Inkfluence AI