Kelahiran Di Kota Canglan
Fiction

Kelahiran Di Kota Canglan

by Cadra · 2026-09-13

Pembantaian misterius yang mengubah kota saat kelahiran seorang pewaris

5 chapters 7,340 words ~29 min read Indonesian Recommended by 1 author

Read the first chapter

The whole of chapter one, free. About 7 min. Turn the pages with the arrows, your keyboard, or a swipe.

Chapter 1

Festival Canglan, Takdir Tertusuk

Pita-pita biru bergantung dari atap-atap Kota Canglan, masing-masing membawa lonceng kecil yang beradu setiap kali angin melewati alun-alun. Di bawahnya, ribuan lentera menyala seperti bintang yang diturunkan ke bumi. Genderang festival dipukul bertalu-talu, sementara rakyat bersorak menyebut nama yang baru lahir malam itu.

“Li Xuan!”

Suara itu menggetarkan jendela-jendela istana.

Di balkon paviliun kerajaan, Xu Ning berdiri dengan kedua tangan bertumpu pada pagar batu. Dari sana ia melihat penari naga melingkar di antara kerumunan, pedagang membagikan kue beras, dan anak-anak berlarian membawa topeng singa. Api obor memantul di mata mereka. Tidak ada wajah muram. Tidak ada pedang terhunus. Hanya kegembiraan yang begitu penuh sampai Xu Ning hampir percaya malam itu tidak mungkin disentuh oleh kemalangan.

Di belakangnya, Li Ning menggendong bayi yang dibungkus kain putih bersulam benang perak. Wajahnya tampak letih, tetapi senyumnya belum pudar. Li Xuan tidur dengan satu tangan mengepal di dekat pipi, napasnya kecil dan teratur.

Xu Ning berbalik. Ia mendekat, lalu menyentuhkan satu jari ke telapak tangan putranya.

Jari mungil itu bergerak.

Senyum Xu Ning melebar tanpa ia sadari. “Dia mendengar suara seluruh kota.”

“Bukan,” kata Li Ning pelan. “Dia hanya tahu ayahnya datang terlalu dekat.”

Xu Ning tertawa pendek. Untuk sesaat, mahkota, urusan kerajaan, dan segala ancaman di luar tembok lenyap dari pikirannya. Ia hanya melihat tangan kecil yang menggenggam jarinya.

“Aku akan memastikan dia tumbuh tanpa mengenal perang,” ujar Xu Ning.

Li Ning menatapnya. “Jangan berjanji pada malam yang terlalu banyak menyaksikan manusia.”

Sebelum Xu Ning sempat menjawab, sebuah lentera di alun-alun padam.

Satu saja.

Lalu menyala kembali.

Ia mengerutkan kening. Di antara sorak-sorai, sesuatu yang dingin menyentuh tengkuknya. Bukan angin. Bukan pula firasat yang bisa ia jelaskan. Hanya tekanan tipis, seperti tatapan dari tempat yang tidak terlihat.

“Xu Ning?” Li Ning memanggil.

“Aku di sini.” Ia memaksa pandangannya kembali pada mereka. “Tetap di dalam paviliun. Aku akan memeriksa penjagaan.”

“Kota sedang berpesta. Apa yang hendak kau periksa?”

Xu Ning menoleh ke arah tembok luar. Di kejauhan, menara penjagaan tampak tenang, obornya menyala seperti biasa.

“Justru karena semua orang merasa aman.”

• * *

Jauh di bawah tanah, di tempat yang tidak dijangkau cahaya lentera, darah menetes dari ujung meja batu.

Tetes itu jatuh ke genangan hitam dan menimbulkan lingkaran kecil. Di sekeliling ruangan, beberapa mayat terbaring dengan leher tertekuk dan dada terbuka. Sebagian masih mengenakan pakaian penjaga kota. Mata mereka membeku dalam ketakutan, seolah kematian datang sebelum mereka sempat memahami siapa yang menyerang.

Seorang master berdiri di tengah ruangan. Jubah hitamnya panjang hingga menyentuh lantai, dihiasi corak pucat menyerupai urat retak pada tulang. Wajahnya tertutup topeng tanpa mulut. Hanya sepasang mata yang terlihat, tenang dan dingin.

Di hadapannya, sebuah baskom batu berisi air keruh bergetar tanpa disentuh.

Bayangan kota muncul di permukaannya. Lentera. Alun-alun. Istana. Lalu wajah bayi yang sedang tertidur dalam dekapan Li Ning.

Master itu menatap pantulan tersebut cukup lama.

“Jadi kau benar-benar lahir,” katanya.

Seseorang yang berlutut di dekat mayat menundukkan kepala. “Apakah itu anak yang diramalkan?”

Master mengangkat tangan. Air di baskom mendidih. Pantulan wajah Li Xuan pecah menjadi riak-riak gelap.

“Takdir yang diperkirakan itu sudah datang, tepat di kota Canglan.”

Suara itu tidak keras, tetapi dinding batu seakan menyimpannya dan mengulanginya dari segala arah.

Orang yang berlutut menelan ludah. “Haruskah kita bergerak sekarang?”

“Belum.” Master menatap satu mayat yang masih menggenggam pecahan belati. “Biarkan mereka tertawa. Biarkan mereka menyalakan seluruh lentera. Cahaya yang berlebihan membuat orang lupa memeriksa kegelapan di bawah kakinya.”

Ia mengulurkan dua jari ke permukaan air.

Seketika, gambar kota berubah. Garis-garis merah menyebar dari bawah tembok, menjalar seperti akar menuju setiap jalan.

“Ketika formasi selesai,” lanjutnya, “tidak akan ada seorang pun yang keluar dari Canglan.”

• * *

Di luar gerbang timur, seorang penjaga kota duduk bersandar pada tiang kayu. Wajahnya merah, matanya setengah tertutup. Guci sake kosong terguling di antara kedua kakinya.

“Minum lagi,” gumam temannya dari atas menara. “Kalau kau jatuh, aku tak akan mengangkatmu.”

Penjaga itu berdiri dengan susah payah. Lututnya goyah. “Aku tidak jatuh. Aku hanya… perlu buang air kecil.”

“Jangan pergi jauh.”

“Bahkan pohon pun tidak akan lari.”

Ia tertawa sendiri, lalu berjalan sempoyongan menuju hutan di luar tembok. Rumput basah menyentuh sepatu botnya. Cahaya dari gerbang segera tertinggal di belakang, digantikan pepohonan yang berdiri rapat seperti barisan prajurit bisu.

Ia membuka ikat pinggang sambil menguap.

Saat itulah ia melihat bayangan hitam di antara batang-batang pohon.

Sosok berjubah itu berdiri membelakanginya. Corak pucat pada jubahnya tampak jelas di bawah cahaya bulan: garis-garis melengkung yang saling bertaut seperti cakar.

Penjaga itu menyipitkan mata. Kepalanya berdenyut karena sake.

“Hei,” panggilnya. “Kau dari mana?”

Sosok itu tidak bergerak.

Penjaga menggaruk pipi. “Ahh, mungkin cuma perasaanku.”

Ia baru melangkah setengah langkah ketika kilatan tipis memotong malam.

Tebasan itu mengenai tepat di kepala.

Tubuh penjaga tersebut jatuh tanpa suara. Kepalanya terpisah dan menggelinding di atas tanah lembap sebelum berhenti di antara akar pohon.

Sosok berjubah menangkapnya dengan satu tangan.

Dari menara, temannya menunggu beberapa saat. Ketika penjaga itu tidak kembali, ia turun sambil membawa tombak.

“Dasar pemabuk,” gerutunya. “Kalau kau pingsan di hutan, aku akan - ”

Kalimatnya terputus.

Di antara pepohonan, ia melihat kepala temannya berada di tangan bayangan hitam.

Wajahnya kehilangan warna. Tombaknya terangkat, tetapi ujungnya bergetar.

“Siapa kau?”

Sosok itu menoleh.

Dari belakangnya, bayangan lain keluar. Jubahnya memiliki corak yang sama. Langkahnya ringan, hampir tidak menimbulkan suara di tanah.

Penjaga kedua mundur. Tumitnya tersangkut akar.

“Tunggu,” katanya. “Aku bisa membunyikan alarm. Kalian masih punya waktu untuk - ”

Bayangan kedua sudah berada di depannya.

Tebasan lurus membelah kepala penjaga itu. Darah menyembur ke batang pohon. Tubuhnya jatuh menimpa tombak yang terlepas, sementara kepala itu terhempas ke sisi lain.

Di kejauhan, festival masih berlangsung.

Genderang terus dipukul.

Tidak seorang pun mendengar apa pun.

• * *

Kabut turun ketika malam melewati puncaknya.

Mula-mula ia merayap di sepanjang parit. Kemudian menutupi kaki-kaki tembok, menyusup ke gang, dan menggantung di antara lentera. Api yang tadi terang berubah menjadi noda kuning pucat.

Di bawah jalan-jalan Canglan, garis merah mulai menyala.

Sebuah formasi raksasa terbentuk mengelilingi kota. Polanya menjalar dari gerbang timur menuju utara, selatan, lalu barat, menyatu tepat di bawah tempat rakyat berpijak. Batu-batu jalan bergetar. Gelas-gelas sake beradu di meja. Beberapa lentera terlepas dari tali dan jatuh pecah.

“Apa itu?”

“Tanahnya bergerak!”

“Jangan dorong aku!”

Sorak-sorai berubah menjadi pekikan.

Di gerbang utama, api mendadak meledak. Pilar-pilar besi memerah, lalu terbakar dari bawah sampai ke puncaknya. Seorang penjaga yang berdiri terlalu dekat tersambar api. Ia jatuh sambil mencengkeram wajahnya.

“Tolong!”

Jeritannya menembus alun-alun.

Orang-orang berhamburan. Pedagang meninggalkan gerobak. Anak-anak tersandung di antara kaki orang dewasa. Topeng-topeng singa terinjak dan hancur. Seekor kuda meringkik liar, menarik kereta hingga menabrak kios lentera.

Di paviliun, Xu Ning mendengar jeritan itu.

Tangannya masih menyentuh Li Xuan ketika suara tersebut mencapai telinganya. Bayi itu terbangun dan mulai menangis. Li Ning memeluknya lebih erat.

“Apa yang terjadi?” tanyanya.

Xu Ning sudah bergerak menuju pintu. “Kunci paviliun. Jangan keluar.”

“Xu Ning, tunggu!”

Ia berhenti sesaat dan menatap Li Ning. Wajah perempuan itu pucat, tetapi sorot matanya tajam. Li Xuan menangis di dadanya, jemari kecilnya mencengkeram kain.

“Bawa dia ke ruang dalam,” kata Xu Ning. “Jangan percaya siapa pun yang tidak kau kenal.”

“Dan kau?”

Xu Ning menggenggam pedang di pinggangnya. “Aku akan mencari tahu siapa yang membuat kota kita menjerit.”

Ia menuruni tangga dengan cepat. Para prajurit istana berusaha menyusul, tetapi kabut telah memenuhi halaman. Dari luar tembok terdengar benturan logam, disusul jeritan demi jeritan.

Saat gerbang paviliun terbuka, seorang rakyat berlari melewati halaman dengan lengan berlumur darah. Ia jatuh sebelum mencapai tangga.

“Jubah…” katanya tersengal. “Mereka memakai jubah bercorak…”

Xu Ning berlutut di sampingnya. “Berapa banyak?”

Rakyat itu membuka mulut, tetapi suara tidak keluar. Matanya kosong. Tubuhnya lunglai.

Xu Ning berdiri.

Amarah naik dari dadanya seperti bara yang disiram minyak.

Ia menerobos ke jalan utama. Kabut menggigit kulit, dinginnya menembus lapisan jubah. Lentera-lentera bergoyang liar. Di antara kerumunan yang melarikan diri, sosok-sosok berjubah hitam bergerak dengan ketenangan mengerikan.

Salah satu dari mereka menebas seorang penjual kue. Bilahnya menembus bahu hingga dada. Tubuh korban terlempar ke meja, menumpahkan kue dan darah ke lantai.

Xu Ning mencabut pedangnya.

“Berhenti!”

Sosok itu menoleh.

Corak pucat di jubahnya berkilat di bawah api. Ia mengangkat pedang, tetapi Xu Ning sudah tiba di hadapannya.

Bilah Xu Ning menghantam dari samping. Tebasan pertama menangkis senjata lawan. Tebasan kedua memotong lengan berjubah itu dari siku. Sosok tersebut mundur, matanya menyipit di balik kain penutup.

Xu Ning tidak memberinya kesempatan.

Ia memutar tubuh, menjejak batu jalan yang licin oleh darah, lalu menusukkan pedang lurus ke tenggorokan lawan. Ujung baja menembus kain, kulit, dan tulang. Darah hangat menyembur ke tangan Xu Ning.

Sosok itu mencengkeram pedang dengan kedua tangan. Jarinya berkedut. Dari balik penutup wajahnya keluar suara serak.

“Dia… sudah datang…”

Xu Ning menarik pedangnya. Tubuh berjubah itu jatuh di antara pecahan lentera.

Di sekelilingnya, rakyat masih berlari. Api terus membakar gerbang. Formasi merah di bawah jalan berdenyut seperti nadi raksasa.

Dari paviliun, tangisan Li Xuan terdengar menembus kabut.

Xu Ning menoleh ke arah suara itu.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia memahami bahwa serangan ini bukan sekadar pembantaian. Seseorang telah datang ke Canglan untuk mencari putranya.

Di atas kota, genderang festival kembali dipukul oleh tangan yang panik. Bunyi itu terdengar seperti perayaan yang dipaksa tetap hidup.

Dan jauh di tempat gelap, suara seorang master menyebut takdir Li Xuan sekali lagi.

End of chapter one. 4 more chapters in the full book.

1 / 8

Swipe or use the arrows to turn the page

What's inside: 5 chapters

  1. 1. Festival Canglan, Takdir Tertusuk
  2. 2. Kepala di Tangan Bayangan
  3. 3. Kabut Membelah Formasi Terlarang
  4. 4. Sentuhan Raja, Jeritan Pecah
  5. 5. Xu Ning Menutup Jalan Takdir

About this book

"Kelahiran Di Kota Canglan" is a fiction book by Cadra with 5 chapters and approximately 7,340 words. Pembantaian misterius yang mengubah kota saat kelahiran seorang pewaris.

This book was created using Inkfluence AI, an AI-powered book generation platform that helps authors write, design, and publish complete books. It was made with the AI Novel Writer.

Frequently Asked Questions

What is "Kelahiran Di Kota Canglan" about?

Pembantaian misterius yang mengubah kota saat kelahiran seorang pewaris

How many chapters are in "Kelahiran Di Kota Canglan"?

The book contains 5 chapters and approximately 7,340 words. Topics covered include Festival Canglan, Takdir Tertusuk, Kepala di Tangan Bayangan, Kabut Membelah Formasi Terlarang, Sentuhan Raja, Jeritan Pecah, and more.

Who wrote "Kelahiran Di Kota Canglan"?

This book was written by Cadra and created using Inkfluence AI, an AI book generation platform that helps authors write, design, and publish books.

How can I create a similar fiction book?

You can create your own fiction book using Inkfluence AI. Describe your idea, choose your style, and the AI writes the full book for you. It's free to start.

Write your own fiction book with AI

Describe your idea and Inkfluence writes the whole thing. Free to start.

Start writing

Created with Inkfluence AI