Read the first chapter
The whole of chapter one, free. About 9 min. Turn the pages with the arrows, your keyboard, or a swipe.
Chapter 1
Surat Rahasia di Rumah Sewa
Kunci rumah sewa itu patah di antara jari Nadya ketika pintu kayu jati menolak didorong. Dari balik celahnya terdengar bunyi benda jatuh, lalu suara langkah cepat di lantai atas.
“Sebentar,” seru seseorang dari dalam.
Nadya menoleh ke jalan sempit di belakang terminal lama. Matahari sore menggantung pucat di antara kabel listrik. Kardus-kardusnya menumpuk di teras, sementara perutnya yang baru beberapa minggu mulai terasa mual sejak perjalanan tadi. Ia hanya ingin masuk, menaruh tas, lalu menelepon Dokter Mira Hartono tanpa didengar siapa pun.
Pintu terbuka.
Seorang laki-laki berkaus abu-abu berdiri di sana. Rambutnya sedikit basah, seolah baru mencuci muka. Tatapannya jatuh pada perut Nadya, lalu segera beralih ke kardus.
“Raka Suryana,” katanya. “Pemilik rumah. Kamu Nadya?”
Nadya mengangguk. “Saya sudah kirim uang sewanya.”
“Sudah. Tapi rumah ini bukan tempat untuk banyak tanya.”
Kalimat itu terdengar seperti peringatan, bukan sambutan.
Raka mengambil satu kardus tanpa menunggu izin. Nadya meraih sisi lainnya, tetapi ia menahan.
“Biar saya.”
“Saya bisa membawa.”
“Kalau pusing, jangan memaksa.”
Nadya membeku sesaat. Ia tidak pernah mengatakan dirinya pusing.
Raka membawa kardus itu masuk. Nadya mengikuti dengan langkah pelan. Ruang depan rumah sewa itu sempit dan dingin. Cat dindingnya mengelupas di dekat jendela. Di sudut ruangan terdapat lemari kaca tua yang dikunci, penuh map dan kotak-kotak berdebu. Bau kayu lembap bercampur dengan aroma cairan pembersih yang tajam.
“Kamarmu di belakang,” ujar Raka. “Ada satu kamar lain di lantai atas. Jangan naik kalau tidak perlu.”
“Siapa yang tinggal di atas?”
“Tidak ada.”
Jawaban itu terlalu cepat.
Nadya menatap tangga kayu yang mengarah ke lantai dua. Satu anak tangganya retak. Dari atas terdengar bunyi gesekan, seperti kursi diseret.
Raka mengangkat wajah. “Tikus.”
“Rumah kosong bisa punya tikus sebesar itu?”
Sorot mata Raka mengeras. “Kamu mau tinggal atau tidak?”
Nadya menelan rasa tidak nyaman. Ia membutuhkan tempat yang jauh dari rumah keluarganya, jauh dari ayahnya, dari ibu tirinya, dan dari pertanyaan tentang kehamilan yang belum sanggup ia jawab. Ia sudah membayar sebulan penuh. Tidak ada pilihan lain.
“Saya tinggal.”
“Bagus.”
Ia memberikan kunci kecil. Ujung logamnya dingin menyentuh telapak Nadya.
Di kamar belakang, jendela menghadap kebun pisang yang dipagari seng. Suara kendaraan dari jalan besar terdengar samar, diselingi teriakan anak-anak yang bermain di gang. Nadya menaruh tas di atas kasur tipis. Ketika ia membuka laci meja di samping tempat tidur, debu beterbangan dan membuatnya bersin.
Ada sesuatu di bawah lapisan kertas koran.
Nadya menariknya perlahan. Sebuah amplop cokelat muncul dari celah laci. Namanya tertulis di sana dengan tinta hitam.
NADYA AZZAHRA.
Tangannya langsung dingin.
Ia melihat ke pintu. Raka sedang memindahkan kardus di ruang depan. Bunyi benda-benda bergeser membuatnya yakin laki-laki itu belum memperhatikannya. Nadya menutup pintu kamar, lalu mengunci dari dalam.
Amplop itu tidak memiliki perangko atau alamat. Hanya namanya dan satu kalimat kecil di bawahnya.
Jangan percaya alasan tentang kebetulan.
Nadya merobek bagian atas amplop dengan kuku. Di dalamnya ada dua lembar kertas yang dilipat tiga. Kertas pertama berisi tulisan tangan yang miring dan terburu-buru.
Kehamilan Nadya harus tetap terlihat seperti kecelakaan. Jangan biarkan dia tahu siapa yang mengatur pertemuan itu.
Napas Nadya tersangkut.
Ia membaca kalimat berikutnya.
Raka sudah menerima uangnya. Akta asli disimpan di tempat yang tidak akan dicari keluarga. Setelah bayi lahir, semuanya selesai.
Kertas itu bergetar di tangannya.
“Tidak,” bisiknya.
Di bagian bawah ada tanggal dua bulan lalu. Tanggal yang sama dengan malam ketika Nadya bertemu Arman, putra dari pernikahan pertama ayahnya. Malam ketika ia percaya semua yang terjadi di antara mereka adalah kesalahan yang tidak direncanakan, kesalahan yang lahir dari kesepian dan kemarahan.
Arman telah berkata bahwa ia tidak tahu Nadya akan hamil.
Ayah Nadya juga bersumpah tidak pernah mengatur pertemuan itu.
Namun surat itu mengatakan sebaliknya.
Lembar kedua hanya berisi tiga nama.
Raka Suryana.
Mira Hartono.
Dan nama ibu tirinya, Laras.
Nadya menutup mulut agar tidak berteriak. Kursi di luar berderit. Bayangan Raka melewati celah bawah pintu.
“Nadya?” panggilnya. “Kamu baik-baik saja?”
Ia melipat surat itu cepat-cepat dan memasukkannya ke balik lapisan tas kain. Jarinya masih gemetar ketika ia membuka kunci pintu.
“Saya hanya pusing karena perjalanan.”
Raka berdiri di lorong dengan kedua tangan di saku celana. Ia tidak terlihat percaya.
“Dokter melarang kamu bepergian?”
“Dokter tidak melarang.”
“Dokter Mira?”
Nama itu membuat Nadya menatapnya.
Raka mengangkat dagu sedikit. “Kamu menyebut namanya waktu menelepon agen.”
“Saya hanya bilang ingin dekat dengan klinik.”
“Rumah ini jauh dari klinik.”
“Tidak terlalu jauh.”
“Dua puluh menit kalau jalan sepi. Empat puluh kalau hujan.”
Nadya menggenggam ujung bajunya. “Saya sudah membayar. Saya tidak ingin membahasnya.”
Raka menatapnya lama, kemudian mundur. “Jangan buka laci-laci yang bukan milikmu.”
Kalimat itu membuat tengkuk Nadya meremang.
Ia menoleh ke meja. Laci yang tadi dibukanya kini sedikit terbuka. Raka mungkin melihatnya dari lorong.
“Saya mencari kain lap,” katanya.
“Di dapur ada.”
“Saya tidak tahu.”
“Sekarang sudah tahu.”
Raka pergi tanpa menutup percakapan. Nadya menunggu sampai suara langkahnya menjauh. Baru setelah itu ia mengambil surat dari tas dan membacanya lagi di bawah cahaya jendela.
Di luar, suara motor berhenti di depan rumah. Seorang perempuan berteriak dari gang, menanyakan apakah Raka sudah pulang. Beberapa detik kemudian terdengar suara kaca pecah.
Nadya tersentak.
Raka memaki dari ruang depan. “Jangan keluar!”
Teriakan itu justru membuat Nadya membuka pintu. Di teras, seorang anak laki-laki berlari melewati pagar, sementara bola plastik menggelinding di antara pecahan pot. Raka mengejar sampai halaman.
“Siapa yang melempar?” teriaknya.
Tidak ada jawaban. Gang kembali ramai oleh suara orang-orang yang pura-pura tidak melihat.
Nadya memanfaatkan keributan itu. Ia menyelipkan surat ke dalam sarung bantal, lalu merobek bagian amplop yang bertuliskan namanya. Potongan kecil itu ia masukkan ke saku celana. Ia ingin keluar dari rumah, menelepon Mira, dan meminta penjelasan. Namun ponselnya hanya menunjukkan satu garis sinyal.
Dari lantai atas terdengar suara pintu dibanting.
Nadya menatap tangga.
Rumah itu tidak kosong.
Ia mengambil ponsel dan menaiki dua anak tangga. Kayunya mengeluh di bawah berat tubuhnya. Udara di atas lebih panas. Lorong sempit membentang menuju sebuah pintu yang diganjal kursi. Di bawah celahnya tampak cahaya lampu.
Nadya baru mengangkat tangan ketika suara laki-laki terdengar dari balik pintu.
“Dia sudah datang.”
Suara lain menjawab, lebih pelan. “Suratnya jangan sampai ditemukan.”
Nadya mundur. Tumitnya menginjak anak tangga yang retak. Kayu itu patah dengan bunyi keras.
“Siapa di sana?” teriak Raka dari bawah.
Nadya berbalik dan turun terlalu cepat. Kakinya tergelincir. Raka menangkap lengannya sebelum ia jatuh. Pegangannya kuat, tetapi tidak kasar.
“Apa yang kamu lakukan di atas?” tanyanya.
“Saya mendengar suara.”
“Sudah kubilang jangan naik.”
“Katamu tidak ada siapa-siapa.”
Wajah Raka berubah. Sesaat, ketakutan melintas di matanya sebelum tertutup oleh marah.
“Kamu salah dengar.”
“Kalau begitu, buka pintunya.”
Raka berdiri di antara Nadya dan tangga. “Kamu baru datang satu jam. Jangan membuat keributan.”
“Saya tidak membuat keributan. Saya menemukan surat di laci kamar.”
Raka terdiam.
Nadya merasakan darahnya mengalir cepat. “Surat yang menyebut nama saya. Surat yang menyebut kehamilan saya.”
Dari luar terdengar bunyi klakson panjang. Rumah itu seperti mengecil di sekeliling mereka.
“Berikan suratnya,” kata Raka.
“Kenapa?”
“Karena itu bukan milikmu.”
“Nama saya tertulis di sana.”
“Justru karena itu.”
Nadya mundur setapak. “Kamu tahu isinya.”
Raka tidak menjawab.
“Kamu menerima uang?” tanyanya.
Rahang Raka menegang. “Siapa yang memberitahumu?”
Pertanyaan itu lebih jujur daripada pengakuan.
Nadya merogoh saku, menyentuh potongan amplop yang tadi disobek. Ia hampir mengeluarkannya, tetapi suara pintu depan tiba-tiba digedor.
“Raka! Buka!”
Seorang perempuan tua berteriak dari luar. “Ada orang dari keluarga Nadya di gang!”
Raka menoleh ke pintu. Nadya melihat kesempatan itu. Ia berlari ke kamarnya, mengambil tas, lalu memasukkan surat ke dalam lapisan jaket. Ponselnya jatuh ke lantai, tetapi ia tidak berhenti.
Raka mengejarnya.
“Kamu mau ke mana?”
“Keluar.”
“Jangan.”
Tangannya meraih bahu Nadya tepat ketika Nadya membuka pintu belakang. Dari luar, suara hujan mulai turun, menitik di atap seng. Tanah kebun licin dan gelap. Di balik pagar, lampu sebuah mobil menyala, menyorot rumah sewa itu.
Nadya menepis tangan Raka. “Aku tidak akan tinggal di sini kalau semua orang berbohong.”
“Kalau kamu keluar sekarang, orang yang mencarimu akan melihatmu.”
“Siapa mereka?”
Raka tidak menjawab.
Gedoran di pintu depan terdengar lagi, lebih keras.
“Nadya!” suara laki-laki dari luar memanggil. “Kami tahu kamu di dalam!”
Nadya mengenali suara itu. Bima, sopir ayahnya.
Raka menutup pintu belakang dan menguncinya. “Masuk ke kamar.”
“Aku tidak mau bersembunyi.”
“Kalau mereka membawamu pulang malam ini, surat itu tidak akan pernah sampai ke tanganmu lagi.”
Nadya memandangnya. “Kamu mengancamku?”
“Aku memperingatkanmu.”
“Bedanya tidak ada.”
Raka mendekat, suaranya turun. “Surat itu bukan seluruh kebenaran. Tapi cukup untuk membuat keluargamu saling menghancurkan.”
“Dan kamu bagian dari itu.”
Raka menatap jaket Nadya, tepat ke tempat surat disembunyikan. “Aku bagian dari alasan kamu masih hidup tenang sampai hari ini.”
“Tenang?” Nadya tertawa pendek, getir. “Aku hamil anak laki-laki yang seharusnya menjadi saudara tiriku. Aku diusir dari rumah oleh ibu tiriku sendiri. Lalu aku menemukan surat yang mengatakan semua itu dirancang. Jangan sebut hidupku tenang.”
Raka terdiam. Untuk pertama kalinya, wajahnya kehilangan ketegasan.
Gedoran berubah menjadi ketukan. Bima mencoba terdengar sabar.
“Nona Nadya, Tuan meminta Anda pulang. Ini bukan tempat yang aman.”
Nadya memejamkan mata. Ia ingin percaya pada siapa pun, tetapi setiap nama dalam surat itu telah membuat kepercayaan terasa seperti pintu tanpa kunci.
Raka menunjuk kamar. “Sembunyikan suratnya.”
“Aku tidak akan memberikannya.”
“Aku tidak memintanya.”
“Lalu apa maumu?”
“Bertahan sampai pagi.”
Di luar, hujan turun lebih deras. Air mengalir dari talang yang bocor, jatuh seperti tirai di depan jendela. Nadya kembali ke kamar. Ia mengeluarkan surat dari jaket, lalu menyelipkannya di balik papan longgar di bawah kasur. Papan itu berdebu dan meninggalkan garis hitam di jarinya.
Ia baru berdiri ketika Raka masuk tanpa mengetuk.
Matanya langsung tertuju pada kasur yang bergeser.
“Kamu menyembunyikan sesuatu,” katanya.
Nadya merapikan selimut dengan tangan yang kaku. “Aku menyembunyikan rasa takut.”
“Jangan bohong.”
“Kenapa? Bukankah semua orang di rumah ini terbiasa melakukannya?”
Raka menutup pintu di belakangnya. Suara Bima masih terdengar dari depan, tetapi semakin jauh. Mungkin ia pergi mencari jalan lain. Mungkin ia sedang menelepon ayah Nadya.
Raka berdiri di dekat pintu, memandangi Nadya seolah sedang menghitung setiap gerakannya.
“Surat itu dari siapa?” tanyanya.
“Aku tidak tahu.”
“Kamu tahu.”
“Aku tahu namamu ada di sana.”
Raka menghela napas panjang. “Kalau kamu ingin tahu kebenarannya, jangan bertindak seperti orang yang sudah memilikinya.”
Nadya merasakan ujung papan kayu menekan lututnya melalui kasur. Surat itu ada tepat di bawahnya, dekat sekali, tetapi terasa seperti sesuatu yang bisa membakar seluruh rumah.
“Besok aku akan menemui Dokter Mira,” katanya.
“Jangan.”
“Dia juga disebut dalam surat.”
“Justru itu.”
“Kalau dia terlibat, aku harus tahu. Kalau dia tidak terlibat, aku harus meminta bantuannya.”
Raka memandangnya dengan sorot yang sulit dibaca. “Mira bukan orang yang bisa kamu datangi tanpa membawa akibat.”
“Akibatnya sudah ada sejak aku hamil.”
Untuk beberapa saat, hanya hujan yang terdengar.
Kemudian Raka berkata, “Pagi-pagi sekali, aku akan mengantarmu.”
“Aku tidak percaya padamu.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa menawarkan?”
Raka menatap papan lantai di bawah kasur. “Karena orang yang menulis surat itu tidak ingin kamu sampai ke klinik.”
Nadya menahan napas.
Raka membuka pintu, tetapi sebelum keluar ia berhenti. “Dan karena kalau kamu terus menyembunyikan sesuatu dariku, aku harus meminta penjelasan dengan cara yang tidak akan kamu sukai.”
Pintu menutup.
Nadya tetap berdiri di tengah kamar, mendengar langkah Raka menjauh. Ia menyentuh perutnya yang masih rata. Di balik papan kayu, surat itu menunggu, membawa nama-nama yang akan menghancurkan keluarganya.
Di luar kamar, Raka berhenti.
“Nadya,” katanya dari balik pintu. “Kenapa ada dua cangkir di lantai atas, kalau katanya rumah ini kosong?”
Nadya tidak menjawab.
Tangannya menekan papan kasur, memastikan surat itu masih tersembunyi. Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah keluarganya, ia tidak lagi hanya mencari tahu masa depannya.
Ia sedang menyembunyikan bukti pengkhianatan.
Dan Raka sudah tahu bahwa ia berbohong.
End of chapter one. 4 more chapters in the full book.
Swipe or use the arrows to turn the page
What's inside: 5 chapters
- 1. Surat Rahasia di Rumah Sewa
- 2. Memilih Percaya pada Dokter Mira
- 3. Jejak Akta yang Hilang di Notaris
- 4. Konfrontasi di Pesta Keluarga Raka
- 5. Membangun Hidup Baru dengan Kejujuran
About this book
"Ibu Tiriku Hamil Anakku" is a fiction book by Anonymous with 5 chapters and approximately 9,276 words. A dramatic family romance involving pregnancy and betrayal.
This book was created using Inkfluence AI, an AI-powered book generation platform that helps authors write, design, and publish complete books. It was made with the AI Novel Writer.
Frequently Asked Questions
What is "Ibu Tiriku Hamil Anakku" about?
A dramatic family romance involving pregnancy and betrayal
How many chapters are in "Ibu Tiriku Hamil Anakku"?
The book contains 5 chapters and approximately 9,276 words. Topics covered include Surat Rahasia di Rumah Sewa, Memilih Percaya pada Dokter Mira, Jejak Akta yang Hilang di Notaris, Konfrontasi di Pesta Keluarga Raka, and more.
Who wrote "Ibu Tiriku Hamil Anakku"?
This book was written by Anonymous and created using Inkfluence AI, an AI book generation platform that helps authors write, design, and publish books.
How can I create a similar fiction book?
You can create your own fiction book using Inkfluence AI. Describe your idea, choose your style, and the AI writes the full book for you. It's free to start.
Write your own fiction book with AI
Describe your idea and Inkfluence writes the whole thing. Free to start.
Start writingCreated with Inkfluence AI