Notifikasi Wechat Dan Janji
Created with Inkfluence AI
Kisah cinta LDR lintas budaya, agama, dan bahasa
Table of Contents
- 1. Notifikasi Yeetalk yang Mengubah Hari
- 2. WeChat Membuat Rasa Jadi Teratur
- 3. 26 Juli 2024, Pengakuan yang Mengikat
- 4. Hadiah Kecil dan Pertengkaran yang Diperbaiki
- 5. Hadiah 26 Juli 2026 dan Janji Bertemu
Preview: Notifikasi Yeetalk yang Mengubah Hari
A short excerpt from “Notifikasi Yeetalk yang Mengubah Hari”. The full book contains 5 chapters and 8,969 words.
Layar ponsel Chaca masih memantulkan cahaya biru yang dingin di ujung jarinya. Di Yeetalk, percakapan mereka baru saja selesai dengan cara yang terasa ringan - belum romantis, belum spesifik, tapi ada jeda-jeda kecil yang membuat dadanya hangat sendiri. Chaca bisa merasakan kebiasaan itu: ketika ia mengetik, ada balasan yang datang tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat, seolah Weibing juga sedang menunggu momen yang pas untuk masuk. Malam itu, ia ingin terus latihan bahasa tanpa merasa sedang “belajar”. Ia ingin seseorang yang ikut dengannya, yang bisa mengoreksi tanpa membuatnya malu.
Ia menggeser layar sedikit, membaca ulang kalimat-kalimat mereka sambil merapikan hafalan. Suara kipas angin di kamar terdengar pelan, udara malamnya terasa lembap di kulit lengan, dan ponselnya hangat karena layar terus menyala. Chaca lalu mengetik lagi, memilih kata yang sederhana agar tidak terdengar maksa. “Kalau besok kamu sibuk, aku nggak ganggu ya. Aku cuma mau latihan sedikit bahasa.”
Belum sempat ia mengirim, notifikasi Yeetalk tiba-tiba menabrak ritmenya. Bunyi ting yang biasanya netral berubah jadi lebih sering - dua, tiga kali berturut-turut - seakan aplikasi itu sedang ingin membuktikan bahwa ia tak pernah benar-benar tenang. Chaca mengernyit, lalu melihat waktu pesan-pesan masuk dari Weibing. Ada jeda yang harusnya tidak ada. Pesannya terbaca seperti tersendat, lalu datang lagi, lalu menghilang sebentar di layar sebelum akhirnya muncul utuh.
Di tengah gangguan itu, Weibing menulis sesuatu yang membuat Chaca berhenti setengah napas.
“Latihan kamu lucu,” katanya, dengan nada yang tidak terlalu mengada, tapi cukup untuk membuat Chaca tersenyum sendiri. “Kamu takut ganggu? Aku justru nunggu.”
Chaca merasa pipinya panas. Ia menatap layar terlalu lama, seperti kalau ia berkedip lebih sering, perasaan itu akan turun. Ia ingin menjawab dengan kalimat yang rapi, tapi jari-jarinya sempat ragu. Ia tahu, ritme Yeetalk bisa membuat semuanya terasa kabur: pesan datang tidak sesuai urutan, kadang bagian tertentu harus dibaca dua kali karena tertinggal loading. Di kepalanya, muncul pertanyaan yang tidak ia siapkan jawabannya: kalau komunikasi saja bisa kacau, bagaimana ia nanti bisa menilai niat seseorang?
Tetap saja, ia mengirim balasan. “Nunggu itu… enak. Tapi aku juga perlu belajar, jadi jangan terlalu cepat ya. Nanti aku bingung.”
Balasan Weibing datang lebih lambat dari biasanya - atau mungkin hanya terlihat begitu karena notifikasi tadi membuat Chaca kehilangan patokan. Saat akhirnya muncul, tulisannya pendek, tapi subteksnya terasa jelas seperti kain hangat di tangan.
“Kalau bingung, tanya. Aku bantu.”
Chaca meneguk ludah, mendadak sadar bahwa ia sedang menunggu sesuatu yang lebih dari sekadar koreksi kosakata. Ia menulis, mengatur kata-kata supaya terdengar santai, padahal di dadanya ada riak yang ingin ia sembunyikan.
“Terus… kamu juga belajar bahasa Indonesia kan?” tanya Chaca. “Kamu ngomong ‘aku bantu’ itu pakai cara yang benar ya?”
Weibing membalas dengan nada yang sedikit menggodanya. “Cara benar kalau kamu nggak marah.”
Chaca tertawa kecil tanpa suara. Ia menutup mulut dengan telapak tangan, seolah tawa itu bisa bocor ke kamar dan mengundang pertanyaan dari siapa pun. Tapi tidak ada siapa-siapa selain suara kipas, dan jarinya yang terus bergerak.
“Aku nggak marah,” tulisnya. “Aku cuma… kadang sedih kalau kamu nggak balas cepat.”
Begitu kalimat itu terkirim, Chaca langsung menyesal. Ia tidak ingin terdengar menuntut. Ia juga tidak ingin terlihat terlalu mudah tersentuh. Namun, sebelum ia sempat menarik kembali, Weibing sudah mengetik.
“Sedih itu manusia,” balasnya. “Tapi kamu jangan sendirian menanggungnya. Kalau notifikasi kacau, bilang. Aku bisa jelasin.”
Chaca menatap kata “jelasin” sejenak. Ia merasakan sesuatu yang aneh: bukan hanya perhatian, tapi kesediaan untuk berdiri di sisi yang sama ketika ada masalah. Gangguan notifikasi yang tadi mengganggu malah berubah jadi bukti kecil bahwa komunikasi mereka memang sedang diuji, dan Weibing tidak pura-pura semuanya baik-baik saja.
Ia mengetik lagi, kali ini lebih pelan. “Di Yeetalk, kadang pesan masuk nggak sesuai urutan. Aku takut… aku salah paham.”
“Takut salah paham itu wajar,” tulis Weibing. “Tapi kamu nggak salah paham kalau kamu tanya. Kita pelan-pelan.”
Kalimat “kita pelan-pelan” membuat Chaca ingin menjadikannya pegangan. Ia menekan tombol kirim, lalu menunggu. Dalam penantian itu, ia mendengar detak jam dinding yang entah kenapa terdengar lebih keras dari biasanya. Setiap ting dari ponsel menjadi semacam bunyi yang memancing harapan, sekaligus rasa curiga.
Keinginan Chaca saat itu sederhana: ia ingin koneksi ini nyata, bukan sekadar kebetulan yang lewat. Ia ingin seseorang bisa ia panggil “kamu” tanpa merasa ia sedang bersembunyi di balik layar. Di sela-sela ragu, ada dorongan yang lebih kuat - untuk membuat pertemanan ini tidak mudah putus hanya karena aplikasi.
...
About this book
"Notifikasi Wechat Dan Janji" is a romance book by 21_Salsabila Naylah Safitri with 5 chapters and approximately 8,969 words. Kisah cinta LDR lintas budaya, agama, dan bahasa.
This book was created using Inkfluence AI, an AI-powered book generation platform that helps authors write, design, and publish complete books. It was made with the AI Romance Novel Writer.
Frequently Asked Questions
What is "Notifikasi Wechat Dan Janji" about?
Kisah cinta LDR lintas budaya, agama, dan bahasa
How many chapters are in "Notifikasi Wechat Dan Janji"?
The book contains 5 chapters and approximately 8,969 words. Topics covered include Notifikasi Yeetalk yang Mengubah Hari, WeChat Membuat Rasa Jadi Teratur, 26 Juli 2024, Pengakuan yang Mengikat, Hadiah Kecil dan Pertengkaran yang Diperbaiki, and more.
Who wrote "Notifikasi Wechat Dan Janji"?
This book was written by 21_Salsabila Naylah Safitri and created using Inkfluence AI, an AI book generation platform that helps authors write, design, and publish books.
How can I create a similar romance book?
You can create your own romance book using Inkfluence AI. Describe your idea, choose your style, and the AI writes the full book for you. It's free to start.
Write your own romance book with AI
Describe your idea and Inkfluence writes the whole thing. Free to start.
Start writingCreated with Inkfluence AI