Notifikasi Wechat Dan Janji
Romance

Notifikasi Wechat Dan Janji

by 21_Salsabila Naylah Safitri · 2026-07-13

Kisah cinta LDR lintas budaya, agama, dan bahasa

5 chapters 8,969 words ~36 min read Indonesian 112 reads

Read the first chapter

The whole of chapter one, free. About 7 min. Turn the pages with the arrows, your keyboard, or a swipe.

Chapter 1

Notifikasi Yeetalk yang Mengubah Hari

Layar ponsel Chaca masih memantulkan cahaya biru yang dingin di ujung jarinya. Di Yeetalk, percakapan mereka baru saja selesai dengan cara yang terasa ringan - belum romantis, belum spesifik, tapi ada jeda-jeda kecil yang membuat dadanya hangat sendiri. Chaca bisa merasakan kebiasaan itu: ketika ia mengetik, ada balasan yang datang tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat, seolah Weibing juga sedang menunggu momen yang pas untuk masuk. Malam itu, ia ingin terus latihan bahasa tanpa merasa sedang “belajar”. Ia ingin seseorang yang ikut dengannya, yang bisa mengoreksi tanpa membuatnya malu.

Ia menggeser layar sedikit, membaca ulang kalimat-kalimat mereka sambil merapikan hafalan. Suara kipas angin di kamar terdengar pelan, udara malamnya terasa lembap di kulit lengan, dan ponselnya hangat karena layar terus menyala. Chaca lalu mengetik lagi, memilih kata yang sederhana agar tidak terdengar maksa. “Kalau besok kamu sibuk, aku nggak ganggu ya. Aku cuma mau latihan sedikit bahasa.”

Belum sempat ia mengirim, notifikasi Yeetalk tiba-tiba menabrak ritmenya. Bunyi ting yang biasanya netral berubah jadi lebih sering - dua, tiga kali berturut-turut - seakan aplikasi itu sedang ingin membuktikan bahwa ia tak pernah benar-benar tenang. Chaca mengernyit, lalu melihat waktu pesan-pesan masuk dari Weibing. Ada jeda yang harusnya tidak ada. Pesannya terbaca seperti tersendat, lalu datang lagi, lalu menghilang sebentar di layar sebelum akhirnya muncul utuh.

Di tengah gangguan itu, Weibing menulis sesuatu yang membuat Chaca berhenti setengah napas.

“Latihan kamu lucu,” katanya, dengan nada yang tidak terlalu mengada, tapi cukup untuk membuat Chaca tersenyum sendiri. “Kamu takut ganggu? Aku justru nunggu.”

Chaca merasa pipinya panas. Ia menatap layar terlalu lama, seperti kalau ia berkedip lebih sering, perasaan itu akan turun. Ia ingin menjawab dengan kalimat yang rapi, tapi jari-jarinya sempat ragu. Ia tahu, ritme Yeetalk bisa membuat semuanya terasa kabur: pesan datang tidak sesuai urutan, kadang bagian tertentu harus dibaca dua kali karena tertinggal loading. Di kepalanya, muncul pertanyaan yang tidak ia siapkan jawabannya: kalau komunikasi saja bisa kacau, bagaimana ia nanti bisa menilai niat seseorang?

Tetap saja, ia mengirim balasan. “Nunggu itu… enak. Tapi aku juga perlu belajar, jadi jangan terlalu cepat ya. Nanti aku bingung.”

Balasan Weibing datang lebih lambat dari biasanya - atau mungkin hanya terlihat begitu karena notifikasi tadi membuat Chaca kehilangan patokan. Saat akhirnya muncul, tulisannya pendek, tapi subteksnya terasa jelas seperti kain hangat di tangan.

“Kalau bingung, tanya. Aku bantu.”

Chaca meneguk ludah, mendadak sadar bahwa ia sedang menunggu sesuatu yang lebih dari sekadar koreksi kosakata. Ia menulis, mengatur kata-kata supaya terdengar santai, padahal di dadanya ada riak yang ingin ia sembunyikan.

“Terus… kamu juga belajar bahasa Indonesia kan?” tanya Chaca. “Kamu ngomong ‘aku bantu’ itu pakai cara yang benar ya?”

Weibing membalas dengan nada yang sedikit menggodanya. “Cara benar kalau kamu nggak marah.”

Chaca tertawa kecil tanpa suara. Ia menutup mulut dengan telapak tangan, seolah tawa itu bisa bocor ke kamar dan mengundang pertanyaan dari siapa pun. Tapi tidak ada siapa-siapa selain suara kipas, dan jarinya yang terus bergerak.

“Aku nggak marah,” tulisnya. “Aku cuma… kadang sedih kalau kamu nggak balas cepat.”

Begitu kalimat itu terkirim, Chaca langsung menyesal. Ia tidak ingin terdengar menuntut. Ia juga tidak ingin terlihat terlalu mudah tersentuh. Namun, sebelum ia sempat menarik kembali, Weibing sudah mengetik.

“Sedih itu manusia,” balasnya. “Tapi kamu jangan sendirian menanggungnya. Kalau notifikasi kacau, bilang. Aku bisa jelasin.”

Chaca menatap kata “jelasin” sejenak. Ia merasakan sesuatu yang aneh: bukan hanya perhatian, tapi kesediaan untuk berdiri di sisi yang sama ketika ada masalah. Gangguan notifikasi yang tadi mengganggu malah berubah jadi bukti kecil bahwa komunikasi mereka memang sedang diuji, dan Weibing tidak pura-pura semuanya baik-baik saja.

Ia mengetik lagi, kali ini lebih pelan. “Di Yeetalk, kadang pesan masuk nggak sesuai urutan. Aku takut… aku salah paham.”

“Takut salah paham itu wajar,” tulis Weibing. “Tapi kamu nggak salah paham kalau kamu tanya. Kita pelan-pelan.”

Kalimat “kita pelan-pelan” membuat Chaca ingin menjadikannya pegangan. Ia menekan tombol kirim, lalu menunggu. Dalam penantian itu, ia mendengar detak jam dinding yang entah kenapa terdengar lebih keras dari biasanya. Setiap ting dari ponsel menjadi semacam bunyi yang memancing harapan, sekaligus rasa curiga.

Keinginan Chaca saat itu sederhana: ia ingin koneksi ini nyata, bukan sekadar kebetulan yang lewat. Ia ingin seseorang bisa ia panggil “kamu” tanpa merasa ia sedang bersembunyi di balik layar. Di sela-sela ragu, ada dorongan yang lebih kuat - untuk membuat pertemanan ini tidak mudah putus hanya karena aplikasi.

Ia membuka kotak obrolan dan mengetik pertanyaan yang sudah lama ia simpan.

“Kamu… boleh pindah ke WeChat nggak?” Chaca berhenti sejenak, lalu menambah, “Biar nggak terganggu notifikasi. Aku pengin latihan chat yang lebih jelas.”

Ada jeda. Jeda yang biasanya cuma sepersekian detik tiba-tiba terasa panjang, seperti pintu yang belum dibuka walau kuncinya sudah ada di tangan. Chaca memeluk bantal, menyandarkan punggung, memandang layar yang terasa terlalu terang untuk sebuah permintaan seperti itu.

Notifikasi lain muncul - membuatnya refleks menoleh - tapi kali ini bukan pesan Weibing. Yeetalk mengirim pengingat yang tidak penting, semacam iklan kecil yang berlari di pinggir layar. Chaca menghela napas pelan, lalu kembali fokus.

Akhirnya, Weibing membalas.

“Kalau pindah, artinya kita lebih serius,” tulisnya. “Kamu siap?”

Pertanyaan itu tidak terdengar menekan. Justru seperti Weibing memberi Chaca ruang untuk menolak dengan jujur. Namun, di dalamnya ada sesuatu yang menakutkan: kata “lebih serius” membuat Chaca sadar bahwa ia sedang bergerak ke arah yang tak bisa lagi disebut “sekadar teman ngobrol bahasa”.

Chaca menulis, tapi tangannya sedikit gemetar. Ia tidak mau berbohong. Ia juga tidak mau menyembunyikan perasaannya terlalu rapat.

“Aku nggak tahu aku siap atau nggak,” balasnya jujur. “Aku cuma… merasa ada koneksi. Tapi aku takut hubungan ini cepat dekat. Aku takut salah langkah.”

Begitu mengirim, Chaca menunggu lagi. Kali ini, ia tidak lagi memikirkan betapa notifikasi Yeetalk bisa mengganggu urutan pesan. Ia memikirkan betapa cepat ia sudah menempel pada rasa aman yang tumbuh dari cara Weibing membalas.

Weibing lama membalas, lalu muncul satu kalimat yang seperti menurunkan dinding kecil di dalam dada Chaca.

“Jangan takut cepat dekat kalau kamu tetap jujur,” tulisnya. “Kita bisa jaga batas. Tapi aku juga mau kamu tahu - aku nggak cuma main-main di sini.”

Chaca membaca ulang berkali-kali. Ia merasakan hangatnya kata “aku nggak cuma main-main”, tapi sekaligus dingin dari kenyataan: kalau ia menerima, ia ikut masuk ke wilayah yang lebih dalam. Ia bisa terseret oleh keinginan sendiri, bisa terluka oleh ekspektasi yang belum sempat ia susun.

Ia ingin memastikan. Ia ingin tahu apakah Weibing akan tetap ada ketika komunikasi tidak lagi disamarkan oleh algoritma dan gangguan notifikasi.

Chaca mengetik dengan sangat hati-hati, seperti memilih kain untuk gaun yang akan dipakai ke acara penting.

“Kalau kamu nggak main-main… kamu juga bersedia jelasin kalau nanti ada hal yang bikin kamu kecewa? Bukan cuma diam.”

Ia menatap layar, menahan napas. Ia tidak tahu bagaimana orang-orang di Jiangxi mengucapkan “kecewa” dalam bahasa yang sopan. Ia hanya tahu bagaimana dirinya sendiri merasakan: ketika sesuatu tidak dikatakan, ia akan mengisi celahnya dengan ketakutan.

Jawaban Weibing tidak panjang. Tapi ada kelembutan yang membuat Chaca terdiam.

“Aku bisa jelasin,” balasnya. “Dan kalau kamu nangis karena salah paham, aku nggak akan pergi.”

Chaca menelan ludah, tiba-tiba merasa matanya panas. Ia tidak menangis saat itu - ia masih kuat menahan air mata, seperti kebiasaan yang sudah ia latih lama. Namun kalimat itu membuatnya seperti sedang berdiri di ambang jurang yang ternyata ada tangan yang bisa menolong.

Ia mengetik balasan, kali ini lebih cepat karena ia takut kalau terlalu lama, keberaniannya akan hilang.

“Aku setuju pindah ke WeChat,” tulis Chaca. “Tapi kita pelan-pelan ya. Biar aku nggak keburu berharap berlebihan.”

Weibing membalas segera setelah itu, seolah ia sudah menunggu persetujuan Chaca sejak awal.

“Pelan-pelan,” tulisnya lagi. “Tapi aku juga pengin kita saling ketemu di tempat yang lebih jelas.”

Chaca menatap ponsel. Di luar jendela, suara kendaraan jauh terdengar samar. Di dalam kamar, udara terasa sedikit lebih hangat, dan bunyi kipas masih berputar, tapi kini ritmenya tidak lagi mengganggu. Ia merasa seperti membuka pintu, meski masih belum tahu apa yang ada di baliknya.

Ia menutup mata sebentar, lalu mengetuk satu hal lagi, sebagai penguat bahwa ia tidak sedang menyerahkan dirinya sepenuhnya tanpa pegangan.

“Kalau nanti kamu marah, kamu bilang ya,” tulisnya. “Aku bisa tahan, tapi aku nggak mau dibiarkan menebak-nebak.”

Saat Weibing membalas, ada jeda yang lebih tenang - bukan jeda tergesa, bukan pula jeda yang menghindar.

“Kalau aku marah, aku akan tenang dulu,” jawabnya. “Lalu kita diskusi. Jalan tengah.”

Chaca tersenyum, tapi senyumnya tidak sepenuhnya lega. Ada bagian dirinya yang sudah menyadari bahwa setiap “jalan tengah” yang ditawarkan berarti mereka sedang menyiapkan cara hidup bersama, meski masih lewat layar. Dan justru di situlah ketakutannya tumbuh: kalau mereka mulai terlalu nyaman, jarak akan terasa lebih sakit nanti.

Chaca mengirim izin lagi untuk pindah kanal, lalu menunggu Weibing menuliskan sesuatu setelah itu - entah tautan, entah id, entah langkah berikutnya. Notifikasi Yeetalk masih sesekali ting, tapi kini bunyinya seperti latar yang tidak lagi menentukan.

Di tengah malam yang sunyinya terasa seperti selimut tipis, Chaca merasa koneksi itu nyata. Namun ia juga tahu, nyata bukan berarti aman. Pindah ke WeChat akan membuat mereka lebih mudah saling mendengar - dan mungkin juga lebih mudah saling melukai.

Tetap saja, ia mengirim pesan terakhir sebelum layar kembali menggelap: “Oke. Mulai dari sekarang kita coba di tempat yang lebih jelas.”

Begitu pesan itu terkirim, ponselnya bergetar sekali - bukan notifikasi Yeetalk yang mengganggu, melainkan respons yang seolah menandai pintu benar-benar mulai dibuka. Chaca menatap layar, menunggu, dan untuk pertama kalinya malam itu ia merasakan dua hal sekaligus: harap yang menghangat, dan ragu yang menggigit pelan, seperti takut kalau kedekatan ini ternyata lebih cepat daripada yang sanggup ia jaga.

End of chapter one. 4 more chapters in the full book.

1 / 8

Swipe or use the arrows to turn the page

What's inside: 5 chapters

  1. 1. Notifikasi Yeetalk yang Mengubah Hari
  2. 2. WeChat Membuat Rasa Jadi Teratur
  3. 3. 26 Juli 2024, Pengakuan yang Mengikat
  4. 4. Hadiah Kecil dan Pertengkaran yang Diperbaiki
  5. 5. Hadiah 26 Juli 2026 dan Janji Bertemu

About this book

"Notifikasi Wechat Dan Janji" is a romance book by 21_Salsabila Naylah Safitri with 5 chapters and approximately 8,969 words. Kisah cinta LDR lintas budaya, agama, dan bahasa.

This book was created using Inkfluence AI, an AI-powered book generation platform that helps authors write, design, and publish complete books. It was made with the AI Romance Novel Writer.

Frequently Asked Questions

What is "Notifikasi Wechat Dan Janji" about?

Kisah cinta LDR lintas budaya, agama, dan bahasa

How many chapters are in "Notifikasi Wechat Dan Janji"?

The book contains 5 chapters and approximately 8,969 words. Topics covered include Notifikasi Yeetalk yang Mengubah Hari, WeChat Membuat Rasa Jadi Teratur, 26 Juli 2024, Pengakuan yang Mengikat, Hadiah Kecil dan Pertengkaran yang Diperbaiki, and more.

Who wrote "Notifikasi Wechat Dan Janji"?

This book was written by 21_Salsabila Naylah Safitri and created using Inkfluence AI, an AI book generation platform that helps authors write, design, and publish books.

How can I create a similar romance book?

You can create your own romance book using Inkfluence AI. Describe your idea, choose your style, and the AI writes the full book for you. It's free to start.

Write your own romance book with AI

Describe your idea and Inkfluence writes the whole thing. Free to start.

Start writing

Created with Inkfluence AI