This book was created with Inkfluence AI · Create your own book in minutes. Start Writing Your Book
Dunia Untuk Ali
Fiction

Dunia Untuk Ali

by arieality · Published 2026-08-04

Created with Inkfluence AI

5 chapters 8,992 words ~36 min read Indonesian

Perjalanan hidup Ali tuli-bisu menjadi pelukis naratif sukses

Table of Contents

  1. 1. Singkong Rebus dan Penerimaan Pertama
  2. 2. Belajar Melukis dari Kotak Pensil Tua
  3. 3. Mengejar Jejak Laras di Galeri
  4. 4. Tong Sampah Basah dan Peringatan Terakhir
  5. 5. Menulis Dunia Untuk Ali sebagai Jimat

Preview: Singkong Rebus dan Penerimaan Pertama

A short excerpt from “Singkong Rebus dan Penerimaan Pertama”. The full book contains 5 chapters and 8,992 words.

Pintu gubuk itu bergetar ketika angin dari perbukitan menyusup lewat celah papan. Sebilah bambu penyangga atap bergesekan dengan seng, bergerak naik turun seperti tulang tua yang menahan beban terlalu lama. Ali terbangun di atas tikar pandan, tangannya masih menggenggam ujung selimut tipis.


Di sampingnya, Nek Asih tidur meringkuk dekat tungku yang apinya hampir padam. Cahaya bara membuat keriput di wajahnya tampak semakin dalam. Ali menoleh ke pintu. Di luar, malam menutup jalan setapak dan ladang-ladang warga. Tak ada lampu, kecuali bulan yang terpotong awan.


Tiga ketukan terdengar.


Ali tidak mendengarnya. Ia merasakan getarannya merambat dari pintu ke lantai papan, lalu naik ke telapak tangannya yang menempel pada tikar.


Ia bangkit.


Sejak kecil, Ali belajar mengenali dunia melalui getaran, gerak, dan wajah. Ia tidak pernah mendengar suara hujan, tetapi tahu hujan turun dari dingin yang menempel di kulit dan garis-garis air di ambang pintu. Ia tidak pernah mendengar orang memanggil namanya, tetapi tahu kapan warga menyebutnya dari cara kepala-kepala mereka menoleh lalu cepat-cepat berpaling.


Orang hutan.


Begitu mereka menamainya.


Ali meraih tongkat pendek di dekat dinding. Tujuannya sederhana: memastikan Nek Asih aman, lalu membuat siapa pun di luar pergi sebelum mereka membawa masalah ke dalam gubuk.


Ketukan itu datang lagi. Kali ini lebih cepat.


Nek Asih terbangun dan mengangkat kepala. “Siapa?”


Ali memberi isyarat ke pintu, lalu menunjuk dirinya.


“Jangan dibuka dulu.” Nek Asih berusaha duduk. “Mungkin orang kampung.”


Ali menggeleng. Ia tahu orang kampung tidak datang malam-malam ke gubuk mereka. Mereka biasanya berdiri jauh di batas kebun, berteriak tanpa menunggu jawaban. Kadang melempar batu ke dinding. Kadang hanya menunjuk-nunjuk Ali sambil menutup hidung, seolah-olah kemiskinan memiliki bau yang bisa menular.


Ketukan ketiga membuat daun pintu bergeser sedikit dari kaitnya.


Ali berdiri di depan Nek Asih.


“Ali,” kata Nek Asih, meski cucunya tak bisa mendengar. “Jangan cari ribut.”


Ali memandang tangan tua itu, lalu pintu. Ia ingin aman. Hanya itu. Aman di dalam gubuk, bersama satu-satunya orang yang tidak pernah menyebutnya orang hutan. Kalau pintu dibuka, ia mungkin akan kembali melihat tatapan yang membuat dadanya terasa sempit. Kalau tidak dibuka, orang di luar bisa pergi.


Namun ketukan itu tidak berhenti.


Ali menurunkan tongkat. Ia menggeser palang kayu perlahan, lalu membuka pintu selebar telapak tangan.


Seorang perempuan berdiri di bawah hujan.


Kainnya basah menempel pada tubuh. Rambutnya melekat di pipi. Satu tangannya menggenggam bahu seorang anak perempuan yang bersembunyi di belakangnya. Anak itu sebaya dengan Ali, mungkin sedikit lebih muda. Wajahnya pucat, matanya merah, dan kedua tangannya memeluk tubuh sendiri.


Perempuan itu langsung mengangkat telapak tangan.


“Maaf,” katanya. “Kami tidak tahu harus ke mana.”


Ali tidak mendengar kata-katanya. Ia melihat bibir yang bergerak, melihat napas yang terburu-buru, dan melihat ketakutan di mata anak perempuan itu. Ketakutan yang tidak dibuat-buat.


Perempuan itu menunjuk ke arah jalan menurun, lalu menoleh ke belakang. Tubuhnya menegang setiap kali melihat kegelapan di antara pohon-pohon.


Nek Asih sudah berdiri di belakang Ali. Ia menatap keduanya, kemudian membuka pintu lebih lebar.


“Masuklah.”


Ali menoleh tajam. Ia mengangkat tangan, memberi isyarat agar Nek Asih berhati-hati.


“Aku tahu,” kata Nek Asih. “Tapi mereka kedinginan.”


Perempuan itu membawa anaknya masuk. Air menetes dari ujung bajunya ke lantai tanah. Anak perempuan itu berhenti di ambang, matanya menyapu gubuk: tungku kecil, tikar, rak bambu, dan dinding yang ditambal karung bekas.


Tatapannya berhenti pada Ali.


Ali menunggu perubahan yang biasa. Kerutan hidung. Langkah mundur. Bisikan yang tak dapat ia dengar tetapi bisa ia baca dari gerak bibir.


Anak itu hanya menatapnya.


Perempuan di sampingnya menunduk. “Namaku Mira. Orang-orang memanggilku Bu Mira.”


Ia menunjuk dirinya sendiri, lalu anaknya.


“Ini Laras.”


Laras mengangkat tangan kecil-kecil. Bukan lambaian yang riang, hanya gerakan pelan seperti permintaan izin untuk tetap berada di sana.


Ali menatap tangan itu. Ia tidak membalas.


Dari luar, sebuah ranting patah. Bu Mira tersentak dan segera memeluk Laras. Laras menutup mulut dengan kedua tangan. Wajahnya berubah seketika, seolah bayangan seseorang baru saja muncul di hadapan mereka.


Nek Asih menarik palang pintu.


“Siapa yang mengejar?”


Bu Mira menatap pintu. Bibirnya bergerak cepat. Ali tidak memahami semua kata, tetapi satu nama yang berulang terbaca dari bentuk mulutnya.


Suami.


Bu Mira menunjuk bekas lebam di dekat pelipisnya, kemudian memegang lengan Laras. Di sana tampak noda kebiruan yang belum pudar.


Nek Asih memandang Ali. “Mereka lari dari rumah.”


Ali menatap Laras. Anak itu menunduk, menggigit bibir sampai warnanya memutih.


Di luar, cahaya kecil bergerak di antara pepohonan. Lentera atau lampu minyak....

About this book

"Dunia Untuk Ali" is a fiction book by arieality with 5 chapters and approximately 8,992 words. Perjalanan hidup Ali tuli-bisu menjadi pelukis naratif sukses.

This book was created using Inkfluence AI, an AI-powered book generation platform that helps authors write, design, and publish complete books. It was made with the AI Novel Writer.

Frequently Asked Questions

What is "Dunia Untuk Ali" about?

Perjalanan hidup Ali tuli-bisu menjadi pelukis naratif sukses

How many chapters are in "Dunia Untuk Ali"?

The book contains 5 chapters and approximately 8,992 words. Topics covered include Singkong Rebus dan Penerimaan Pertama, Belajar Melukis dari Kotak Pensil Tua, Mengejar Jejak Laras di Galeri, Tong Sampah Basah dan Peringatan Terakhir, and more.

Who wrote "Dunia Untuk Ali"?

This book was written by arieality and created using Inkfluence AI, an AI book generation platform that helps authors write, design, and publish books.

How can I create a similar fiction book?

You can create your own fiction book using Inkfluence AI. Describe your idea, choose your style, and the AI writes the full book for you. It's free to start.

Write your own fiction book with AI

Describe your idea and Inkfluence writes the whole thing. Free to start.

Start writing

Created with Inkfluence AI