Dari Pertemuan Ke Kehilangan
Created with Inkfluence AI
Romansa antara Kahfi dan Yani, termasuk mantan suami Edo.
Table of Contents
- 1. Nomor HP di Ruang Marketing
- 2. Kejujuran yang Tertahan di Kafe
- 3. Mencari Jawaban tentang Edo
- 4. Pengakuan yang Mengubah Segalanya
- 5. Menunggu Tanpa Kepastian
Preview: Nomor HP di Ruang Marketing
A short excerpt from “Nomor HP di Ruang Marketing”. The full book contains 5 chapters and 8,799 words.
Kahfi baru saja menaruh map penawaran di meja ketika suara kursi bergeser dari sudut ruang marketing.
“Maaf, ini meja untuk tim pemasaran, ya?”
Kahfi menoleh. Seorang perempuan berdiri sambil memegang kardus kecil berisi alat tulis. Kerudungnya berwarna cokelat muda, rapi meski ujungnya sedikit tertarik tali tas. Wajahnya tampak menahan gugup, seperti seseorang yang belum hafal harus tersenyum kepada siapa.
“Iya,” jawab Kahfi. “Kalau yang kosong, meja sebelah sana. Tapi biasanya dipakai untuk menyimpan berkas.”
Perempuan itu melihat ke arah meja yang dimaksud, lalu kembali menatapnya.
“Berarti saya duduk di antara berkas?”
Kahfi tersenyum. “Untuk hari pertama, mungkin berkasnya yang harus mengalah.”
Tawa kecil keluar dari mulut perempuan itu. Tidak keras, tetapi cukup membuat suasana ruang marketing yang penuh suara ketikan dan dering telepon terasa berubah.
“Saya Yani,” katanya.
“Kahfi.”
Mereka berjabat tangan singkat. Telapak tangan Yani dingin, mungkin karena pendingin ruangan yang terlalu kuat. Kahfi segera menarik kursi kosong dan membantu memindahkan kardus dari tangannya.
“Terima kasih, Kahfi.”
Nama itu terdengar berbeda ketika diucapkan Yani. Kahfi tidak tahu mengapa ia memperhatikannya, tetapi sejak pagi, ia beberapa kali mendapati pandangannya berbelok ke meja baru di dekat jendela.
Yani berusaha mengikuti penjelasan kepala tim tentang daftar calon pelanggan, target mingguan, dan cara memasukkan laporan ke sistem. Ia mencatat cepat dengan pulpen biru. Sesekali alisnya mengerut, lalu ia melirik layar komputer Kahfi ketika menemukan bagian yang tidak dipahaminya.
Pada pandangan ketiga, Kahfi menangkap matanya.
“Bingung?” bisiknya.
“Sedikit.”
“Bagian laporan?”
“Bagian semuanya.”
Kahfi menahan tawa. “Itu normal. Saya juga masih sering bingung, cuma sudah lebih pandai pura-pura.”
Yani menunduk agar senyumnya tidak terlihat oleh kepala tim. Bahunya bergerak kecil. Kahfi ikut menunduk, seolah-olah mereka sedang membicarakan hal penting tentang pekerjaan.
Namun, sebelum percakapan itu berkembang, telepon di meja Yani berdering. Ia mengangkatnya dengan cepat.
“Selamat siang, dengan Yani dari bagian marketing… iya, Pak, saya catat dulu.”
Kahfi kembali menatap layar. Ia mencoba menyelesaikan daftar pelanggan yang tertunda, tetapi suara Yani di sebelahnya membuat konsentrasinya mudah pecah. Bukan karena suaranya istimewa. Justru karena Yani berbicara dengan hati-hati, memilih setiap kata, seperti takut memberi kesan yang salah kepada orang yang baru dikenalnya.
Menjelang makan siang, ruang marketing semakin ramai. Beberapa karyawan keluar membawa dompet dan ponsel. Sebagian lain memesan makanan melalui aplikasi. Kahfi masih memeriksa data karena ada satu angka yang tidak cocok.
Yani berdiri di dekat printer sambil menunggu kertas keluar. Ketika mesin itu mengeluarkan suara berderit, ia menepuk sisi printer dengan telapak tangan.
“Jangan rusak hari pertama saya,” gumamnya.
“Dia memang begitu,” kata Kahfi dari belakang. “Kalau tidak dipukul, dia merasa tidak dihargai.”
Yani menoleh. “Kahfi selalu memukul barang yang rusak?”
“Tidak semua. Komputer saya pernah saya bujuk selama lima menit.”
“Berhasil?”
“Tidak. Dia tetap mati.”
Yani tertawa lagi. Kali ini lebih lepas. Kahfi menyukai suara itu, dan kesadaran tersebut membuatnya buru-buru mengambil kertas dari printer.
“Kalau mau makan, di belakang kantor ada tempat nasi campur,” katanya. “Murah dan sambalnya cukup berbahaya.”
Yani menerima kertas yang disodorkannya. Jari mereka bersentuhan sebentar.
“Biasanya Kahfi makan di sana?”
“Biasanya. Tapi kalau hari pertama, terserah Yani mau ikut siapa.”
Kalimat itu terdengar lebih terbuka daripada yang ia rencanakan. Yani memandangnya beberapa detik, lalu mengalihkan mata ke kertas di tangannya.
“Saya ikut teman-teman yang lain saja. Biar sekalian kenalan.”
“Oh.”
Jawaban Kahfi terlalu pendek. Yani mungkin menyadarinya, sebab ia segera menambahkan, “Besok mungkin saya ikut. Kalau Kahfi tidak keberatan.”
“Tidak keberatan.”
“Padahal sambalnya berbahaya.”
“Kalau Yani pingsan, saya antar kembali ke kantor.”
“Berarti Kahfi sudah berpengalaman menyelamatkan orang?”
“Belum. Tapi saya bisa belajar.”
Yani tersenyum, lalu berjalan bersama dua karyawan perempuan menuju pintu. Kahfi memperhatikannya sampai kerudung cokelat muda itu menghilang di balik pintu kaca.
Ia merasa bodoh karena menunggu sesuatu yang tidak dijanjikan. Hanya satu percakapan singkat, beberapa tawa, dan rencana makan yang belum tentu terjadi. Namun sepanjang siang, setiap kali ponselnya menyala, Kahfi berharap ada nama Yani di layar.
Tidak ada.
Sore turun bersama hujan. Air menampar kaca jendela, membuat gedung-gedung di luar tampak kabur. Di ruang marketing, sebagian lampu sudah dimatikan. Hanya meja yang masih dipakai yang tetap terang.
Yani masih duduk di tempatnya. Ia mengusap kening, lalu menatap layar komputer dengan wajah lelah. Kahfi menyelesaikan laporan dan melihat jam di sudut monitor. Lewat pukul enam....
About this book
"Dari Pertemuan Ke Kehilangan" is a romance book by Anonymous with 5 chapters and approximately 8,799 words. Romansa antara Kahfi dan Yani, termasuk mantan suami Edo..
This book was created using Inkfluence AI, an AI-powered book generation platform that helps authors write, design, and publish complete books. It was made with the AI Romance Novel Writer.
Frequently Asked Questions
What is "Dari Pertemuan Ke Kehilangan" about?
Romansa antara Kahfi dan Yani, termasuk mantan suami Edo.
How many chapters are in "Dari Pertemuan Ke Kehilangan"?
The book contains 5 chapters and approximately 8,799 words. Topics covered include Nomor HP di Ruang Marketing, Kejujuran yang Tertahan di Kafe, Mencari Jawaban tentang Edo, Pengakuan yang Mengubah Segalanya, and more.
Who wrote "Dari Pertemuan Ke Kehilangan"?
This book was written by Anonymous and created using Inkfluence AI, an AI book generation platform that helps authors write, design, and publish books.
How can I create a similar romance book?
You can create your own romance book using Inkfluence AI. Describe your idea, choose your style, and the AI writes the full book for you. It's free to start.
Write your own romance book with AI
Describe your idea and Inkfluence writes the whole thing. Free to start.
Start writingCreated with Inkfluence AI