Read the first chapter
The whole of chapter one, free. About 12 min. Turn the pages with the arrows, your keyboard, or a swipe.
Chapter 1
Surat di Laci Kantor
Ujung jemarinya masih panas saat Nadira menutup map tugas di laci meja - bukan karena semangat, melainkan karena rasa lega yang terlambat. Hari pertama di kantor percetakan kecilnya di Glodok, ia diberi tanggung jawab yang terdengar rapi di mulut atasan: merapikan arsip pelanggan lama, menyiapkan template cetak, dan “sekalian” menginventaris surat masuk yang tertinggal. Nadira mengangguk, pura-pura yakin. Ia belum benar-benar mengenal siapa-siapa, apalagi Damar Wicaksana yang namanya sudah sering muncul di daftar pengawas produksi, seperti bayangan yang selalu ada tapi tak pernah ia sentuh.
Di ruang kerja itu, udara selalu lembap oleh tinta dan kertas. Mesin cetak di ujung ruangan berdenyut, mengeluarkan suara berdenting yang menempel di tulang, sementara kipas berputar setengah tenaga, membuat bau logam dan lem kertas terasa lebih tajam. Nadira duduk di dekat rak arsip yang tinggi, menyingkap folder satu per satu. Kertas-kertas tipis berdesis setiap kali ia menariknya, seperti rahasia yang minta dilepaskan tapi juga takut diketahui.
Baru setelah jam istirahat kedua, ia menemukan laci tambahan di sisi meja - laci yang tidak ada keterangan apa pun, tapi kuncinya sudah terpasang, seolah dari awal memang siap dipakai. Nadira menelan ludah, menimbang antara curiga dan kebutuhan. Ia baru saja diberi tugas, pikirnya, jadi mungkin memang begini cara kantor menyimpan barang lama: tersembunyi di tempat yang tak terlihat orang baru.
Ia membuka laci itu pelan. Debu tipis menempel di ujung jari, dan seketika sesuatu menyentil perasaannya - bukan karena bau, melainkan karena bentuk. Di antara kuitansi yang sudah menguning dan lembar kerja yang kusut, ada amplop cokelat dengan tulisan tangan. Tinta masih terlihat utuh, seperti baru ditulis beberapa hari lalu. Nama pengirimnya tidak tertulis di luar, hanya tanggal dan satu kalimat pendek yang membuat dada Nadira mengencang.
“Untuk Nadira Rahma, bila kau sempat membaca tanpa takut.”
Nadira menatap amplop itu lama, sampai suara mesin terdengar lebih jauh. Ia tidak punya kebiasaan menyimpan surat. Ia juga tidak pernah menerima surat dengan nada seperti itu - kalimatnya terlalu tahu cara seseorang bersembunyi di balik senyum sopan. Tangannya ragu, lalu bergerak. Saat amplop dibuka, kertasnya terasa lebih tebal dari surat biasa, dan hangatnya - entah dari mana - membuat Nadira seperti sedang memegang sesuatu yang seharusnya sudah dingin.
Isinya tulisan tangan yang rapi namun tegas. Ada bagian yang menyebut kebiasaan kecil Nadira yang dulu - cara ia selalu mengembalikan pulpen ke tempat semula, cara ia menahan tawa saat orang lain salah menyebut nama. Lalu, ada nama yang membuat ruangan terasa menyempit: Damar Wicaksana.
Nadira membaca sekali lagi, kali ini lebih lambat. Di baris terakhir, ada tanda tangan yang tak bisa ia salahkan: huruf D dan W yang sama dari stempel nama yang ia lihat di laporan produksi dua hari lalu. Ia berdiri dengan amplop masih terbuka, napasnya pendek, dan bau tinta dari mesin tiba-tiba terasa seperti asap yang menyesakkan.
“Kenapa kamu bengong?” suara seseorang memotong. Nadira menoleh cepat.
Raka - teman kerja yang paling sering membantu saat mesin macet - berdiri di dekat rak, memegang stapler. Ia menatap amplop di tangan Nadira, lalu wajah Nadira, lalu kembali ke amplop dengan tatapan yang terlalu cepat dipahami.
“Kamu nemu apa?” Raka berusaha terdengar santai, tapi Nadira menangkap getaran di suaranya. Seolah ia tidak benar-benar penasaran, melainkan sedang mencari celah untuk ikut terlibat.
“Arsip yang terselip,” jawab Nadira. Ia memaksa suaranya stabil. “Kayaknya ini milik bagian lama.”
Raka mengangkat alis. “Laci itu… biasanya nggak dipakai orang baru.”
Nadira tersenyum tipis, menutup amplop dengan gerakan yang lebih keras dari yang ia niatkan. “Tugas inventaris, kan.”
Raka tidak langsung menjawab. Ia justru menatap ke arah pintu ruang produksi, seolah memastikan siapa saja yang lewat. Lalu ia berkata pelan, “Damar lagi shift sore. Kalau kamu ketemu dia… jangan kaget ya.”
Kalimat itu seperti peringatan yang diselipkan, bukan pemberitahuan. Nadira menahan diri untuk tidak bertanya. Ia tahu kantor ini kecil. Orang-orang bisa melihat dari celah mana saja. Tapi ia juga tahu satu hal: jika surat itu benar dari Damar, maka ada hubungan yang tak ia mengerti, dan gosip akan menemukan jalannya sendiri.
Ia kembali duduk, menata kertas dengan tangan yang berusaha tenang. Di kepalanya berputar satu keinginan sederhana: memastikan maksud surat itu tanpa membuat reputasinya hancur. Ia tidak mau terlihat murahan, tidak mau terlihat terlalu cepat terseret emosi. Ia juga tidak mau tampak seperti orang yang membaca hal-hal yang tidak seharusnya ia sentuh. Namun rasa ingin tahu - dan sesuatu yang lebih tajam, semacam rasa terseret oleh kalimat-kalimat yang menyebut dirinya - mendorongnya untuk mencari penjelasan.
Saat mesin istirahat sebentar, Nadira menyelinap ke ruang kerja Damar. Ruang itu tidak jauh, tapi terasa berbeda - lebih rapi, lebih dingin karena AC kecil yang jarang mati. Di dinding ada papan pengumuman, daftar produksi, dan foto-foto lama yang mulai pudar. Nadira berdiri di depan meja Damar tanpa mengetuk, hanya menunggu momen tepat.
Damar datang dari arah ruang produksi, membawa map hitam. Ia tidak tampan berlebihan, tapi ada sesuatu di cara ia berjalan: tenang, tapi tidak lambat. Saat matanya bertemu dengan Nadira, ia berhenti sepersekian detik - cukup untuk membuat Nadira merasa seperti baru ditandai.
“Cari apa?” tanya Damar.
Nadira menelan ludah. “Saya… baru dapat tugas inventaris. Saya nemu surat lama di laci arsip.”
Damar menatapnya, lalu menatap tangannya - amplop yang Nadira simpan rapat. Nadira mendadak menyadari betapa kecil jarak di antara mereka. Suara mesin dari ruangan utama terdengar seperti gemuruh jauh, sementara napas Damar terdengar jelas, teratur seperti ia sudah memutuskan tidak akan terburu-buru.
“Surat siapa?” Damar bertanya, bukan dengan nada menuduh, tapi dengan kehati-hatian.
Nadira mengangkat mata. “Ada nama kamu di dalamnya.”
Wajah Damar tidak berubah banyak, tapi Nadira melihat kilatan singkat - sesuatu seperti pengakuan yang tidak mau keluar. Ia ingin mundur, menghindari sorotan, tapi kata-kata sudah meluncur.
“Kalau kamu tidak keberatan,” lanjut Nadira, “saya mau tahu maksudnya. Ini… bikin saya bingung.”
Damar meletakkan map hitam di meja. Bunyi map jatuhnya terdengar lebih berat dari yang Nadira kira. Ia lalu mengulurkan tangan - bukan untuk merampas amplop, melainkan meminta izin dengan gestur yang jelas. Nadira menyerahkan amplop itu pelan, seperti menyerahkan bukti yang bisa membalikkan sesuatu.
Damar membuka surat, membaca cepat. Alisnya sedikit mengerut. Ia tidak mengucapkan apa pun selama beberapa detik, sementara Nadira merasakan panas di lehernya. Ia tidak biasa ada dalam posisi seperti ini: memegang rahasia yang bukan miliknya, tapi membuatnya seperti ikut bertanggung jawab.
“Ini tulisan tangan saya,” kata Damar akhirnya. Suaranya rendah, seperti takut suara sendiri terdengar terlalu keras di ruangan kecil itu. “Tapi… amplop ini seharusnya tidak ada di laci kantor.”
Nadira menggigit bagian dalam pipinya. “Jadi ada yang menyimpannya?”
Damar menatap Nadira, dan untuk pertama kali ia terlihat seolah ingin memilih kata yang tepat, bukan kata yang aman. “Atau seseorang menemukannya dulu, lalu menyembunyikannya lagi. Saya tidak tahu.”
Kalimat “saya tidak tahu” seharusnya membuat Nadira lega. Namun justru menambah rasa takut. Jika Damar memang menulis surat itu, berarti ada niat di baliknya. Dan jika amplop itu hilang selama ini lalu kini ditemukan di laci kantor - maka surat itu sedang dimainkan oleh orang yang tahu cara membuatnya jadi masalah.
“Kamu kenal saya dari mana?” Nadira bertanya, lebih tajam dari niatnya. Ia membenci dirinya sendiri karena terdengar seperti interogasi, tapi rasa curiga sudah telanjur bangun.
Damar menghela napas pelan. Ada bau kertas baru dari mapnya, bercampur aroma kopi yang ia bawa dari kantin. “Kami pernah kerja sama dulu. Waktu proyek kecil. Kamu selalu datang tepat waktu. Aku cuma… memperhatikan.”
Nadira menatapnya, menahan keinginan untuk percaya dan keinginan untuk menolak sekaligus. “Itu terdengar seperti pujian.”
Damar mengangkat sudut bibir, tidak sampai tersenyum. “Kalau kamu tidak pernah membaca dulu, ya. Puasnya cuma ada di tulisan.”
Detik itu membuat dada Nadira terasa berat. Kalimat Damar terdengar seperti pengakuan yang sengaja setengah matang. Ia hampir bisa membayangkan versi masa lalu yang Nadira tidak ikut di dalamnya - versi dirinya yang mungkin pernah menerima sesuatu tapi tidak pernah sempat menjawab.
Raka muncul di ambang pintu tanpa mengetuk. Ia menatap Nadira dan Damar bergantian, seperti orang yang baru saja menangkap momen yang tidak seharusnya ia saksikan.
“Damar,” Raka berkata, nada suara dibuat ceria. “Gosipnya udah nyampe sini.”
Damar tidak menoleh pada Raka. Ia menatap Nadira. “Kamu cerita ke siapa?”
Nadira mengangkat tangan, defensif. “Saya baru bilang ke Raka, itu pun - ”
Raka menyela, cepat. “Bukan cuma Raka. Tadi aku lewat, terus… aku lihat kamu bawa amplop. Dan - ya ampun - orang-orang di bagian administrasi langsung heboh.”
Nadira menahan napas. Ia bisa merasakan panas menyebar di wajahnya, bukan karena malu saja, tapi karena takut. Kantor ini seperti jaringan saraf: informasi merambat cepat, dan biasanya yang paling cepat sampai adalah bagian yang paling mengandung asumsi.
Damar berdiri, menutup surat dengan gerakan tegas. “Kamu mau apa?” Nadira bertanya, karena ia butuh pegangan. “Kamu ingin saya diam?”
Damar menatapnya, lalu menjawab pelan, “Saya ingin kamu aman.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi Nadira tahu cara Damar mengucapkannya - seolah ia sudah pernah memikirkan akibat sebelum mengambil langkah. Dan itu membuat Nadira semakin gelisah: kalau Damar sudah merencanakan cara menjaga dirinya, kenapa suratnya justru berakhir di laci kantor, seperti umpan yang siap dipancing?
“Amankan reputasi saya,” Nadira berkata, berusaha menahan air mata yang tidak ia mau tumpahkan di ruangan kerja. “Tapi saya juga butuh tahu: surat itu ditulis untuk saya. Kalau memang untuk saya, kenapa sampai hilang?”
Damar menatap pintu yang menghubungkan ruangannya ke kantor utama. Suara mesin kembali terdengar keras, seperti punggung kereta yang melintas. Ia menjawab, “Karena saya pernah berharap… kamu akan menemukan dan mengerti. Tapi ternyata - saya tidak sempat memastikan.”
Nadira menelan ludah. Kata-kata itu seperti membuka pintu yang tidak ia minta, tapi juga tidak bisa ia tutup lagi.
“Jadi kamu pernah menunggu saya?” Nadira bertanya, dan ia benci suaranya sendiri yang terdengar rapuh.
Damar tidak langsung menjawab. Ia meraih amplop, tapi bukan untuk menyembunyikan. Ia meletakkannya kembali di meja, di depan Nadira, seperti menawarkan pilihan.
“Kalau kamu mau, kita bisa cari pengirimnya,” kata Damar. “Tapi aku tidak mau kamu ikut jadi bahan cerita.”
Nadira menatap amplop itu lagi. Di kertas, ada lipatan kecil bekas terbuka-pasca-tutup - bekas tangan yang pernah memegangnya dengan hati-hati. Ia bisa merasakan betapa mudahnya sebuah surat berubah jadi senjata saat orang-orang membayangkan hal-hal yang tidak pernah terjadi.
“Pengirimnya?” Nadira mengulang. “Kamu bilang ini tulisan tangan kamu.”
Damar mengangguk pelan. “Tulisan saya. Tapi pengiriman… bisa jadi lewat orang lain. Itu sebabnya saya tidak tahu amplop ini masuk laci kantor.”
Nada Damar terdengar jujur, tapi Nadira juga menangkap sesuatu yang lebih dalam: kejujuran itu tidak menghapus fakta bahwa surat ini sudah mengaitkan namanya ke Damar. Dan sekarang, gosip sudah berjalan - tidak peduli siapa yang menyembunyikan amplop atau siapa yang salah menyimpan.
Raka menutup pintu setengah, suaranya dari luar seperti kabut. “Mereka bilang Nadira sama Damar… cocok.”
“Kamu dengar dari mana?” Damar bertanya, datar.
Raka tertawa kecil tanpa lucu. “Dari mulut ke mulut. Katanya kamu sering lihat Nadira dari jauh, katanya kamu nulis surat terus - ”
“Cukup,” Nadira memotong, suaranya naik. Semua suara di ruang itu seolah menunggu reaksi. Nadira menatap Raka, lalu Damar, dan untuk pertama kalinya ia menyadari sesuatu yang paling menakutkan: ia tidak bisa menghentikan gosip dengan marah. Gosip butuh bahan, dan hari ini bahan itu sudah ia pegang sendiri.
Ia meraih amplop kembali, kali ini lebih tegas. “Kalau pengirimnya ada di balik ini,” Nadira berkata pada Damar, “saya mau tahu. Tapi saya juga tidak mau kamu melindungi saya dengan cara menyuruh saya diam.”
Damar menatapnya lama. Tatapannya membuat Nadira merasa seperti sedang ditarik ke arah yang sama - bukan karena Damar ingin mendekat, tapi karena Nadamar sendiri sudah mulai mendekat tanpa sadar.
“Kalau begitu,” Damar berkata, “kita mulai dari tempat surat itu masuk.”
Nadira menatap meja, laci, dan rak arsip yang baru ia sentuh. Ia ingat cara orang-orang bergerak di kantor ini, siapa yang sering berkeliaran, siapa yang merasa punya hak atas dokumen lama. Ia juga ingat satu hal kecil: saat ia membuka laci, ada goresan tipis di sisi kayu - goresan yang bukan karena usia, melainkan karena seseorang pernah mencoba membuka kunci tanpa izin.
“Laci itu,” Nadira bergumam. “Ada bekas… pernah dipaksa.”
Damar mengangguk, dan Nadira melihat sesuatu berubah di wajahnya - ketegangan yang selama ini ia tahan mulai jadi fokus. Ia tidak lagi terlihat seperti pria yang hanya mengakui surat; ia terlihat seperti seseorang yang bersiap menghadapi konsekuensi.
Namun ketika Nadira melangkah keluar dari ruang Damar, suara-suara di kantor utama sudah menyusul. Ada bisik-bisik yang sengaja dipatahkan saat Nadira melintas. Ada tawa yang terlalu cepat berhenti. Nadira merasakan panas di telapak tangannya, amplop masih di genggamannya, seperti benda yang bisa meledak kapan saja.
Di depan rak arsip, ia berhenti. Ia bisa memastikan maksud surat itu - tanda tangan dan tulisan sudah memberi jawaban awal. Tapi gosip kantor sudah mengubah jawaban itu jadi pertanyaan lain: mengapa Nadira baru saja memegang sesuatu yang seharusnya tidak ia temukan? Mengapa Damar tiba-tiba begitu tenang saat surat itu disebut? Dan yang paling sulit - mengapa kalimat-kalimat di dalam surat itu terasa seperti mengenal dirinya lebih dalam daripada orang-orang yang selama ini hidup berdampingan dengannya?
Nadira menatap kunci laci tambahan itu. Tangannya bergerak tanpa ia minta: ia mengusap sisi kayu, mencari bekas goresan, lalu berhenti di satu titik. Ada sedikit noda tinta hitam yang menempel di sela. Bukan tinta surat yang ia baca - ini tinta jenis lain, lebih pekat, sering dipakai untuk stempel atau penandaan dokumen.
Ia menelan ludah. Ada kemungkinan pengirimnya bukan Damar, tapi seseorang yang bekerja dekat dengan alur arsip. Dan jika itu benar, maka surat itu tidak hanya memancing perasaan - ia sedang mengikat Nadira dalam rangkaian orang-orang yang tahu terlalu banyak.
Dari belakang, suara Damar terdengar lagi, lebih dekat sekarang. “Nadira.”
Nadira berbalik. Damar berdiri beberapa langkah dari rak, wajahnya masih tenang, tapi matanya menyimpan sesuatu yang baru: kesadaran bahwa langkah kecil Nadira tadi - membuka laci - menciptakan gelombang yang tidak bisa ia kendalikan sendiri.
“Apa?” Nadira bertanya, berusaha tidak terdengar gugup.
Damar menatap amplop di tangan Nadira, lalu menatap gosip yang bergerak di kepala orang-orang di sekitar mereka, seperti angin yang tidak terlihat. “Kalau kamu terus mencari,” katanya, “kamu mungkin menemukan jawaban yang kamu tidak siap.”
Nadira menarik napas. Ia sudah membuka amplop, sudah tahu nama Damar ada di sana. Ia sudah terlanjur merasa terseret oleh kalimat yang seharusnya hanya menjadi masa lalu. Tapi ia juga tidak mau jadi korban cerita.
“Kalau saya berhenti,” Nadira menjawab pelan, “cerita itu tetap jalan. Jadi lebih baik saya tahu siapa yang memegang kendali.”
Damar tidak menahan. Ia hanya mengangguk, dan dalam gerakan kecil itu Nadira merasakan semacam janji - bukan janji romantis yang manis, melainkan janji untuk tetap berdiri di sisi yang sama saat masalah mulai menebal.
Namun saat Nadira hendak memasukkan amplop ke dalam tasnya, ia menyadari sesuatu yang membuat perutnya turun: ujung amplop yang tadi ia pegang - sebagian - seperti tidak utuh. Lipatan terakhir ada bekas sobek halus, seakan kertas di dalamnya pernah dikeluarkan dan dimasukkan lagi.
Di antara rasa ingin tahu dan takut, Nadira menatap Damar, lalu kembali ke amplop. Ia berhasil menemukan pengirimnya - setidaknya nama yang menulisnya - tapi surat itu ternyata bukan sekadar kenangan. Surat itu memancing gosip yang tak bisa ia hentikan, dan sekarang ia punya potongan informasi yang mungkin sengaja ditinggalkan untuk mengarahkan orang lain.
Di kantor percetakan Glodok yang berbau tinta dan kertas, Nadira memegang amplop yang sudah kembali utuh namun tidak lagi bersih dari niat orang. Ia ingin tenang, ingin reputasinya aman, ingin memegang jawaban tanpa harus membayar terlalu mahal.
Tapi saat suara langkah mendekat dari arah lorong - dan ia mengenali siapa yang datang hanya dari cara sepatu menghantam lantai - Nadira sadar: biaya dari pilihannya sudah mulai jatuh, dan pertanyaan baru sudah menunggu untuk dijawab.
End of chapter one. 4 more chapters in the full book.
Swipe or use the arrows to turn the page
What's inside: 5 chapters
- 1. Surat di Laci Kantor
- 2. Kopi yang Tak Pernah Dipesan
- 3. Jejak Akun yang Disembunyikan
- 4. Pesta Keluarga dan Rahasia Terbuka
- 5. Memilih Lagi Setelah Patah
About this book
"Dua Kali Jatuh Hati" is a romance book by Anonymous with 5 chapters and approximately 12,089 words. Kisah cinta yang berulang: jatuh hati lalu patah hati..
This book was created using Inkfluence AI, an AI-powered book generation platform that helps authors write, design, and publish complete books. It was made with the AI Romance Novel Writer.
Frequently Asked Questions
What is "Dua Kali Jatuh Hati" about?
Kisah cinta yang berulang: jatuh hati lalu patah hati.
How many chapters are in "Dua Kali Jatuh Hati"?
The book contains 5 chapters and approximately 12,089 words. Topics covered include Surat di Laci Kantor, Kopi yang Tak Pernah Dipesan, Jejak Akun yang Disembunyikan, Pesta Keluarga dan Rahasia Terbuka, and more.
Who wrote "Dua Kali Jatuh Hati"?
This book was written by Anonymous and created using Inkfluence AI, an AI book generation platform that helps authors write, design, and publish books.
How can I create a similar romance book?
You can create your own romance book using Inkfluence AI. Describe your idea, choose your style, and the AI writes the full book for you. It's free to start.
Write your own romance book with AI
Describe your idea and Inkfluence writes the whole thing. Free to start.
Start writingCreated with Inkfluence AI