Dua Kali Jatuh Hati
Created with Inkfluence AI
Kisah cinta yang berulang: jatuh hati lalu patah hati.
Table of Contents
- 1. Surat di Laci Kantor
- 2. Kopi yang Tak Pernah Dipesan
- 3. Jejak Akun yang Disembunyikan
- 4. Pesta Keluarga dan Rahasia Terbuka
- 5. Memilih Lagi Setelah Patah
Preview: Surat di Laci Kantor
A short excerpt from “Surat di Laci Kantor”. The full book contains 5 chapters and 12,089 words.
Ujung jemarinya masih panas saat Nadira menutup map tugas di laci meja - bukan karena semangat, melainkan karena rasa lega yang terlambat. Hari pertama di kantor percetakan kecilnya di Glodok, ia diberi tanggung jawab yang terdengar rapi di mulut atasan: merapikan arsip pelanggan lama, menyiapkan template cetak, dan “sekalian” menginventaris surat masuk yang tertinggal. Nadira mengangguk, pura-pura yakin. Ia belum benar-benar mengenal siapa-siapa, apalagi Damar Wicaksana yang namanya sudah sering muncul di daftar pengawas produksi, seperti bayangan yang selalu ada tapi tak pernah ia sentuh.
Di ruang kerja itu, udara selalu lembap oleh tinta dan kertas. Mesin cetak di ujung ruangan berdenyut, mengeluarkan suara berdenting yang menempel di tulang, sementara kipas berputar setengah tenaga, membuat bau logam dan lem kertas terasa lebih tajam. Nadira duduk di dekat rak arsip yang tinggi, menyingkap folder satu per satu. Kertas-kertas tipis berdesis setiap kali ia menariknya, seperti rahasia yang minta dilepaskan tapi juga takut diketahui.
Baru setelah jam istirahat kedua, ia menemukan laci tambahan di sisi meja - laci yang tidak ada keterangan apa pun, tapi kuncinya sudah terpasang, seolah dari awal memang siap dipakai. Nadira menelan ludah, menimbang antara curiga dan kebutuhan. Ia baru saja diberi tugas, pikirnya, jadi mungkin memang begini cara kantor menyimpan barang lama: tersembunyi di tempat yang tak terlihat orang baru.
Ia membuka laci itu pelan. Debu tipis menempel di ujung jari, dan seketika sesuatu menyentil perasaannya - bukan karena bau, melainkan karena bentuk. Di antara kuitansi yang sudah menguning dan lembar kerja yang kusut, ada amplop cokelat dengan tulisan tangan. Tinta masih terlihat utuh, seperti baru ditulis beberapa hari lalu. Nama pengirimnya tidak tertulis di luar, hanya tanggal dan satu kalimat pendek yang membuat dada Nadira mengencang.
“Untuk Nadira Rahma, bila kau sempat membaca tanpa takut.”
Nadira menatap amplop itu lama, sampai suara mesin terdengar lebih jauh. Ia tidak punya kebiasaan menyimpan surat. Ia juga tidak pernah menerima surat dengan nada seperti itu - kalimatnya terlalu tahu cara seseorang bersembunyi di balik senyum sopan. Tangannya ragu, lalu bergerak. Saat amplop dibuka, kertasnya terasa lebih tebal dari surat biasa, dan hangatnya - entah dari mana - membuat Nadira seperti sedang memegang sesuatu yang seharusnya sudah dingin.
Isinya tulisan tangan yang rapi namun tegas. Ada bagian yang menyebut kebiasaan kecil Nadira yang dulu - cara ia selalu mengembalikan pulpen ke tempat semula, cara ia menahan tawa saat orang lain salah menyebut nama. Lalu, ada nama yang membuat ruangan terasa menyempit: Damar Wicaksana.
Nadira membaca sekali lagi, kali ini lebih lambat. Di baris terakhir, ada tanda tangan yang tak bisa ia salahkan: huruf D dan W yang sama dari stempel nama yang ia lihat di laporan produksi dua hari lalu. Ia berdiri dengan amplop masih terbuka, napasnya pendek, dan bau tinta dari mesin tiba-tiba terasa seperti asap yang menyesakkan.
“Kenapa kamu bengong?” suara seseorang memotong. Nadira menoleh cepat.
Raka - teman kerja yang paling sering membantu saat mesin macet - berdiri di dekat rak, memegang stapler. Ia menatap amplop di tangan Nadira, lalu wajah Nadira, lalu kembali ke amplop dengan tatapan yang terlalu cepat dipahami.
“Kamu nemu apa?” Raka berusaha terdengar santai, tapi Nadira menangkap getaran di suaranya. Seolah ia tidak benar-benar penasaran, melainkan sedang mencari celah untuk ikut terlibat.
“Arsip yang terselip,” jawab Nadira. Ia memaksa suaranya stabil. “Kayaknya ini milik bagian lama.”
Raka mengangkat alis. “Laci itu… biasanya nggak dipakai orang baru.”
Nadira tersenyum tipis, menutup amplop dengan gerakan yang lebih keras dari yang ia niatkan. “Tugas inventaris, kan.”
Raka tidak langsung menjawab. Ia justru menatap ke arah pintu ruang produksi, seolah memastikan siapa saja yang lewat. Lalu ia berkata pelan, “Damar lagi shift sore. Kalau kamu ketemu dia… jangan kaget ya.”
Kalimat itu seperti peringatan yang diselipkan, bukan pemberitahuan. Nadira menahan diri untuk tidak bertanya. Ia tahu kantor ini kecil. Orang-orang bisa melihat dari celah mana saja. Tapi ia juga tahu satu hal: jika surat itu benar dari Damar, maka ada hubungan yang tak ia mengerti, dan gosip akan menemukan jalannya sendiri.
Ia kembali duduk, menata kertas dengan tangan yang berusaha tenang. Di kepalanya berputar satu keinginan sederhana: memastikan maksud surat itu tanpa membuat reputasinya hancur. Ia tidak mau terlihat murahan, tidak mau terlihat terlalu cepat terseret emosi. Ia juga tidak mau tampak seperti orang yang membaca hal-hal yang tidak seharusnya ia sentuh. Namun rasa ingin tahu - dan sesuatu yang lebih tajam, semacam rasa terseret oleh kalimat-kalimat yang menyebut dirinya - mendorongnya untuk mencari penjelasan.
Saat mesin istirahat sebentar, Nadira menyelinap ke ruang kerja Damar....
About this book
"Dua Kali Jatuh Hati" is a romance book by Anonymous with 5 chapters and approximately 12,089 words. Kisah cinta yang berulang: jatuh hati lalu patah hati..
This book was created using Inkfluence AI, an AI-powered book generation platform that helps authors write, design, and publish complete books. It was made with the AI Romance Novel Writer.
Frequently Asked Questions
What is "Dua Kali Jatuh Hati" about?
Kisah cinta yang berulang: jatuh hati lalu patah hati.
How many chapters are in "Dua Kali Jatuh Hati"?
The book contains 5 chapters and approximately 12,089 words. Topics covered include Surat di Laci Kantor, Kopi yang Tak Pernah Dipesan, Jejak Akun yang Disembunyikan, Pesta Keluarga dan Rahasia Terbuka, and more.
Who wrote "Dua Kali Jatuh Hati"?
This book was written by Anonymous and created using Inkfluence AI, an AI book generation platform that helps authors write, design, and publish books.
How can I create a similar romance book?
You can create your own romance book using Inkfluence AI. Describe your idea, choose your style, and the AI writes the full book for you. It's free to start.
Write your own romance book with AI
Describe your idea and Inkfluence writes the whole thing. Free to start.
Start writingCreated with Inkfluence AI