Sora Dan Janji Rahasia
Romance

Sora Dan Janji Rahasia

by Anonymous · 2026-06-25

Romansa remaja tentang perjodohan rahasia, beasiswa, dan cemburu.

5 chapters 10,990 words ~44 min read Indonesian 148 reads

Read the first chapter

The whole of chapter one, free. About 11 min. Turn the pages with the arrows, your keyboard, or a swipe.

Chapter 1

Gerbang Sekolah Ternama

Sepatu Sora masih terasa hangat dari langkah pertama tadi pagi, tapi hangat itu cepat hilang begitu ia berdiri di bawah gerbang Sekolah Menengah Cahaya Insani. Cat putih yang mengilap, papan nama besar, dan deretan pohon rindang yang baru saja menyiram udara membuatnya seperti masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan bisa disentuh. Di dadanya ada satu suara yang terus mengulang: bertahan. Bukan sekadar bertahan hidup - bertahan supaya beasiswanya tidak jadi angan-angan, supaya ia bisa tetap sekolah tanpa menunggu uang dari rumah yang tak pernah lebih dari cukup untuk beras.

Ia menggenggam map tipis berisi berkas pendaftaran beasiswa yang diselipkan seseorang dari pihak yayasan. Map itu licin di telapak jari, dan bau kertasnya bercampur aroma pembersih lantai yang wangi menyengat. Sora menunduk sebentar, mengingat rencana yang sudah ia susun semalam: mulai dari menghubungi sekretariat yayasan lewat jalur yang benar, lalu ikut tes tambahan jika diminta, dan kalau pun ada wawancara - ia harus terlihat rapi, dewasa, dan yakin. Tidak boleh goyah. Ia anak kampung, beragama, dan cita-citanya tidak bisa ditukar dengan gengsi.

“Mauli Shoranda?” suara seorang petugas penjaga pos gerbang memotong lamunan. Suaranya datar, seperti kebiasaan menempel di setiap wajah yang lewat.

Sora mengangkat kepala. “Iya, Bu.”

Petugas itu menatap map yang ia bawa, lalu mengangguk kecil tanpa senyum. “Lewat lobi utama. Ada pemberitahuan untuk siswa baru. Jangan telat.”

Sora hanya mengangguk lagi. Ia melangkah melewati gerbang, melewati garis cat di lantai yang rapi sampai mengilap. Suara sepatu siswa lain memantul di dinding, bercampur tawa yang seolah tidak pernah kehabisan bahan. Ia merasakan panas matahari di bahu, dan angin dari halaman belakang yang membawa bau tanah basah. Semua terasa terlalu bersih - seolah sekolah ini tidak punya tempat untuk orang yang hidupnya bergantung pada uang yang selalu dihitung.

Di lobi utama, kaca-kaca tinggi memantulkan bayangan anak-anak yang berjalan seperti rombongan. Ada karpet tebal berwarna krem, dan tiang-tiang marmer yang dinginnya terasa bahkan dari kejauhan. Sora menahan napas saat melihat papan pengumuman berukuran besar, lampu-lampu kecil di sekelilingnya membuat kertas-kertas terlihat seperti dipajang untuk sesuatu yang lebih penting dari sekadar jadwal pelajaran.

Ia mencari. Nama beasiswa - Yayasan Bintang Merah - ia sudah tahu harus ada. Tapi yang pertama menarik matanya bukan amplop berlogo yayasan, melainkan selembar kertas yang ditempel lebih tinggi dari yang lain. Kertas itu tidak diberi judul besar. Hanya kalimat singkat, hurufnya rapi, dan ada cap yang membuat Sora merinding tanpa alasan yang bisa ia jelaskan.

“Pemberitahuan khusus. Mohon tidak dibahas di luar lingkungan sekolah.”

Sora menelan ludah. Di bawah kalimat itu ada daftar nama dengan tinta hitam. Ia tidak bisa membaca semuanya dari jarak, tapi satu bagian membuat kepalanya berdenyut: ada kata-kata yang tidak ia harapkan ada di sekolah, di antara jadwal dan aturan seragam. Kata “pertunangan” muncul seperti pisau yang diselipkan di sela kertas.

Sora menahan diri untuk tidak mendekat terlalu lama. Ia ingat pesan dari orang rumah yang terdengar setengah-setengah: “Kalau ada urusan yang tidak bisa kamu pilih, kamu cukup jalani dulu sambil cari jalan keluar.” Kalimat itu diucapkan dengan suara tertahan, seolah yang mengatakan pun tidak yakin bisa tetap tenang.

Ia menggeser posisi, lalu melangkah lebih dekat. Ujung sepatu karpetnya terasa menyerap bunyi. Ia memaksa mata untuk membaca samar-samar baris yang paling bawah - dan di sana, di antara nama-nama yang lain, ada satu nama yang ia kenali dari bisikan yang pernah mampir ke telinganya sejak ia masih kecil: nama calon tunangan yang disebut orang-orang sebagai “anak kawan ayah.”

Sora tidak langsung menangkap wajahnya. Ia hanya menangkap bunyi namanya sendiri dalam satu baris itu, lalu - setelahnya - nama calon itu disebut, tapi ditutup dengan bagian yang disamarkan. Huruf tertentu ditutup tinta tebal, seperti sengaja dibuat agar orang yang membaca tidak bisa menyimpulkan utuh. Namun tetap saja, kesamarannya membuat dada Sora terasa sesak.

“Mauli… Shoranda?” sebuah suara memanggil dari samping.

Sora menoleh cepat. Seorang siswi lebih tua beberapa langkah di belakangnya, rambutnya diikat rapi dan seragamnya tampak baru. Ia menatap papan itu dengan ekspresi datar, tapi matanya bergerak cepat seperti orang yang sudah tahu lebih banyak daripada yang ia katakan.

“Kenapa kamu lihat itu lama banget?” tanya siswi itu, nada suaranya tidak menyerang, tapi ada batas yang ia pakai untuk mengukur.

Sora berusaha tersenyum sopan. “Saya… baru masuk. Saya cari info beasiswa.”

Siswi itu mengangguk pelan, lalu menurunkan suaranya. “Kalau soal beasiswa, ikut jalurnya. Tapi soal pengumuman itu…” Ia menggeser pandangannya ke arah lorong kiri. “Jangan terlalu banyak tanya. Di sini, orang-orang yang tanya duluan biasanya cuma bikin diri sendiri repot.”

Kalimat itu menggantung seperti asap. Sora ingin bertanya kenapa, ingin menolak, ingin bilang kalau ia tidak takut. Tapi lidahnya kelu. Ia hanya bisa membalas dengan nada yang lebih aman, “Terima kasih.”

Sora berjalan pergi sejenak, menahan langkah agar tidak terlihat panik. Ia meremas map berisi berkas beasiswa sampai pinggirnya menekan kulit. Di lobi, angin dari ventilasi AC terasa dingin di pergelangan tangan. Ia mengatur napas pelan, mencoba mengembalikan fokus: beasiswa. Ia harus tetap bisa masuk ke Yayasan Bintang Merah, harus mendapat jawaban yang jelas.

Di ujung lobi, ada meja informasi dengan papan kecil “Sekretariat Yayasan Bintang Merah.” Meja itu ramai oleh siswa yang suaranya bergaung di lantai marmer. Sora mendekat, mencoba menjaga agar suaranya tidak terdengar terlalu kecil.

“Permisi,” ucapnya pada petugas yang duduk di balik meja. Seragamnya rapi, namun ekspresinya seperti sudah lelah dari pagi.

Petugas itu mengangkat kepala. “Kamu Mauli Shoranda?”

Sora mengangguk. “Iya, Bu. Saya dapat arahan lewat - ”

“Tunggu.” Petugas itu menyela, lalu menggeser map di hadapannya. Saat tangan Sora bergerak untuk menyerahkan berkas, ujung jarinya sempat menyentuh tangan petugas. Dingin. Terlalu dingin untuk ruangan yang terasa hangat.

“Ini kamu yang minta akses awal?” tanya petugas itu.

Sora menarik napas. “Saya butuh akses awal beasiswa. Orang tua saya - ”

Petugas itu tidak menunggu selesai. Ia mengambil selembar kertas kecil, lalu menandai sesuatu dengan pulpen. “Akses awal diberikan, tapi kamu harus datang sore ini ke ruang administrasi lantai dua. Bawa surat tanggungan dari wali - yang ditandatangani pihak keluarga.”

“Saya punya - ” Sora tersentak saat kata “wali” itu terdengar terlalu berat. Ia punya surat yang disiapkan ayah, tapi ia tidak tahu apakah itu cukup. Ia juga tidak tahu kenapa surat tanggungan diminta, padahal ia hanya ingin beasiswa.

Petugas itu menatap Sora lama, lalu menurunkan suaranya. “Kalau ada yang mencoba mengatur kamu dari luar sekolah, bilang saja kamu sudah punya jadwal administrasi. Paham?”

Sora mengangguk cepat, terlalu cepat. Pertanyaan petugas itu mengendap di kepalanya: “diatur dari luar.” Siapa? Orang rumah? Orang yang selama ini disebut-sebut sebagai “balas budi”?

Sora menahan dorongan untuk menanyakan lebih detail. Ia hanya menerima kertas kecil yang sudah distempel, dan rasa lega menyusul sesaat - akses awal beasiswa ada. Ia berhasil satu langkah.

Tapi lega itu runtuh saat ia keluar dari meja informasi dan melihat kerumunan di dekat tangga. Ada siswa yang berdiri dengan nada berisik, salah satunya tinggi dengan rambut yang diatur seperti sengaja ingin menonjol. Ia tertawa, lalu menepuk bahu temannya, dan dari gerakannya ada sesuatu yang membuat Sora langsung menebak: orang ini bukan tipe yang bisa diam.

Ketika Sora lewat, mata orang itu menangkapnya. Tatapannya tajam, seperti menilai dari ujung kepala sampai ujung sepatu. Sora cepat menunduk, berusaha tidak terlihat menantang.

Namun orang itu - tanpa meminta izin - menghalangi langkahnya dengan satu langkah.

“Eh. Kamu yang baru.” Suaranya lantang, tapi tidak kering. Seolah ia menikmati perhatian. “Nama kamu Mauli ya?”

Sora menegakkan bahu sedikit. Ia tidak tahu harus takut atau tetap sopan. “Iya, Mas.”

Orang itu tersenyum miring. “Satu sekolah sama aku. Enak.”

Sora merasakan telapak tangannya dingin. Ia pernah mendengar nama orang ini dari kabar-kabar yang melintas, disebut sebagai anak bandal yang bikin sekolah sering ribut. Tapi Sora juga pernah mendengar sesuatu yang lebih aneh: bahwa orang-orang dewasa menyimpan urusan masa depan di belakang kejadian-kejadian sepele.

“Kalau kamu mau cari kelas, tanya aja sama aku,” kata orang itu lagi, nada suaranya mendekat. “Tapi jangan cuma cari beasiswa. Nanti kamu lupa urusan yang lebih penting.”

Sora membeku. Kalimat itu tidak terdengar seperti candaan. Ada nada lain di belakangnya, seperti peringatan yang dibungkus manis. Sora menelan ludah, lalu memaksa dirinya bertanya pelan, “Urusan yang lebih penting maksudnya apa, Mas?”

Orang itu menatapnya lebih lama. Tawa dari teman-temannya terdengar jauh, seperti dipadamkan. “Kamu nanti tahu sendiri,” jawabnya, lalu ia meletakkan satu kertas kecil - tanpa tulisan jelas - ke telapak tangan Sora. “Sore. Jangan telat.”

Sora ingin menarik tangannya, tapi ia tidak bisa. Kertas itu terasa kertas biasa, tapi tekanan jarinya membuatnya seperti sedang memegang sesuatu yang tidak seharusnya ia sentuh. Ia melangkah mundur setengah langkah, napasnya terasa cepat.

“Mas… saya cuma cari beasiswa,” ujar Sora, lebih untuk dirinya daripada untuk orang itu.

Orang bandal itu mengangkat alis, matanya tidak kehilangan kilat. “Beasiswa itu bagus. Tapi orang yang ngatur hidup kamu bukan beasiswa.”

Kalimatnya membuat tenggorokan Sora terasa sempit. Ia mencoba mengingat petunjuk yang ia pegang: akses awal sore ini, ruang administrasi lantai dua. Kalau ada pihak yang mengatur dari luar, ia harus lebih cepat melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Sora berjalan menjauh sambil menahan gemetar yang tidak ingin terlihat. Saat melewati koridor samping menuju ruang kelas, ia menangkap aroma parfum yang kuat bercampur bau roti dari kantin yang baru buka. Suara langkahnya terdengar jelas di lantai yang lebih keras, dan udara terasa lebih sejuk dari lobi.

Di sana, di dekat jendela besar yang menghadap taman, Gus Rahmat Kurnia berdiri seperti tempat yang selalu ia datangi tanpa ia sadari. Gus memakai baju koko yang rapi dengan lengan digulung sedikit, dan sarung yang dilipat rapi di pinggangnya. Wajahnya tenang, seperti sudah terbiasa menghadapi keramaian.

Sora teringat kedekatan mereka - cara Gus menegur tanpa menghakimi, cara ia mendengar tanpa membuat Sora merasa diuji. Sora mendekat, mencoba menata napas.

“Gus,” panggilnya.

Gus menoleh. Senyum tipisnya muncul, hangat. “Kamu dari lobi? Kelihatan buru-buru.”

Sora mengangkat mapnya, lalu menahan diri agar tidak langsung menceritakan semuanya. “Saya dapat akses awal beasiswa. Tapi… ada pengumuman khusus di papan. Dan tadi - ” Ia berhenti, karena kata-kata yang ingin ia ucapkan terasa terlalu berbahaya.

Gus menatap map itu, lalu wajah Sora. “Tadi kamu ketemu siapa?”

Sora menelan ludah. “Anak yang… bandel itu.”

Gus tidak langsung bereaksi dengan marah. Ia hanya mengerutkan kening sedikit, seolah sedang menghitung sesuatu. “Raka?”

Nama itu keluar dari mulut Gus dengan nada datar, tapi Sora bisa merasakan ada jarak yang dibuat Gus dengan kata itu.

Sora menatap Gus, rasa dingin di kulitnya kembali. “Dia sempat ngomong… soal urusan yang lebih penting. Terus dia nyuruh saya ke tempat administrasi sore ini. Dan - ” Sora merapatkan mapnya ke dada. “Pengumuman di lobi itu nyebut pertunangan. Namanya… samar. Tapi saya tahu itu tentang keluarga saya.”

Gus terdiam beberapa detik. Suara bel sekolah belum berbunyi, tapi terdengar percakapan siswa dari jauh seperti ombak yang tidak pernah benar-benar berhenti. Sora merasa telinganya panas, seperti ia sedang mengaku dosa pada seseorang yang terlalu baik untuk mendengar.

“Kenapa kamu baru sekarang dengar?” tanya Gus pelan.

Pertanyaan itu membuat dada Sora makin sesak. Ia ingin bilang karena ia tidak diberi tahu, tapi suara itu terlalu menyakitkan untuk diucapkan. Ia hanya bisa menjawab jujur, “Saya pikir… urusan itu masih jauh. Saya fokus cari cara biar bisa kuliah keluar negeri. Saya pikir saya bisa menunda.”

Gus menatapnya lebih lama. Lalu ia berkata, “Kadang urusan keluarga datang lebih cepat dari rencana anaknya.”

Sora ingin memeluk kata-kata itu agar terasa seperti doa, tapi ia menahan diri. Ia menatap Gus, mencari celah untuk memastikan. “Gus… apakah benar saya dijodohkan?”

Gus tidak menjawab langsung. Ia hanya meraih tangan Sora - sebentar, hangat di atas dingin map - lalu melepaskannya lagi seperti menjaga jarak yang sopan. “Kamu sudah dapat akses awal beasiswa. Itu bagus. Tapi jangan sendirian sore nanti.”

Sora menelan ludah. “Kenapa harus - ”

“Karena kamu bukan satu-satunya yang menunggu kamu mengambil keputusan,” potong Gus, suaranya tetap tenang tapi ada ketegasan yang membuat Sora menoleh otomatis.

Sora menoleh ke arah suara langkah yang mendekat.

Raka berdiri beberapa meter dari mereka, wajahnya tidak tersenyum lagi. Tatapannya langsung jatuh ke tangan Gus yang tadi sempat menyentuh tangan Sora. Sora bisa merasakan udara berubah - seperti AC menjadi lebih dingin, seperti lobi tadi hanya menunggu dipindahkan ke koridor ini.

Raka membuka mulut, tapi suaranya justru keluar lebih rendah. “Gus, kamu ngapain di sini sama dia?”

Gus menatap Raka dengan sabar yang tipis. “Menjaga adab. Kamu juga.”

Raka mengangkat dagu. “Adab itu buat orang yang paham batas. Dia belum tentu.”

Sora ingin membalas, tapi lidahnya kelu. Ia tidak mengerti kenapa kata-kata Raka terasa seperti menekan, seperti ia sudah ditetapkan posisinya sejak awal - sejak pengumuman rahasia itu.

Raka menatap Sora lagi, kali ini tatapannya seperti menahan sesuatu yang ingin meledak. “Sore administrasi, ya. Jangan bikin orang nunggu.”

Sora hendak bertanya “orang” yang dimaksud siapa, tapi sebelum ia bisa, Raka berjalan pergi, langkahnya cepat dan bising di lantai koridor.

Sora berdiri mematung. Map di tangannya terasa makin berat, seolah kertas-kertas itu menyimpan jawaban yang sengaja disembunyikan.

Gus menatapnya, lembut tapi serius. “Sekarang kamu tahu kenapa kamu harus hati-hati, kan?”

Sora mengangguk pelan. Ia ingin berkata ia baik-baik saja, ia bisa mengurus beasiswa dan membatalkan semuanya dengan cara yang benar. Tapi bayangan baris pengumuman di lobi - nama yang samar, pertunangan yang ditulis tanpa judul - membuat harapannya seperti terkunci di dalam kaca.

“Ada yang terikat,” gumam Sora. “Dan saya… mulai curiga itu bukan cuma antara saya dan calon tunangan.”

Gus tidak membenarkan atau membantah. Ia hanya menatap taman lewat jendela, seperti sedang membaca sesuatu yang tidak terlihat. “Kalau begitu, jangan cuma cari beasiswa. Cari juga siapa yang menulis rahasia itu.”

Sora ingin bertanya lagi, tapi bel sekolah akhirnya berbunyi. Suara nyaringnya memecah jarak, siswa mulai bergerak serentak, dan koridor kembali ramai. Saat Sora menunduk mengikuti arus orang-orang, kertas kecil dari tangan Raka masih terselip di mapnya.

Kertas itu terasa hangat di balik lipatan. Sora tidak berani membukanya di depan siapa pun, tapi ia tahu satu hal: akses beasiswa yang ia dapatkan sore ini membawa pintu terbuka - namun pintu itu juga mengarah ke tempat yang lebih dalam, tempat nama calon tunangannya sengaja dibuat samar, dan tempat keputusan keluarga bisa datang lebih cepat daripada doa-doa yang ia panjatkan.

Di balik keramaian, Sora terus bertanya satu hal yang mengganjal sejak tadi pagi: kalau pertunangan itu benar-benar sedang berjalan, mengapa Raka terlihat seperti… lebih cemburu daripada sekadar menjalankan perjodohan?

End of chapter one. 4 more chapters in the full book.

1 / 12

Swipe or use the arrows to turn the page

What's inside: 5 chapters

  1. 1. Gerbang Sekolah Ternama
  2. 2. Doa yang Memicu Cemburu
  3. 3. Jejak Beasiswa di Arsip Yayasan
  4. 4. Pertemuan Rahasia di Balai Kota
  5. 5. Sahabat Gus Menguatkan Sora

About this book

"Sora Dan Janji Rahasia" is a romance book by Anonymous with 5 chapters and approximately 10,990 words. Romansa remaja tentang perjodohan rahasia, beasiswa, dan cemburu..

This book was created using Inkfluence AI, an AI-powered book generation platform that helps authors write, design, and publish complete books. It was made with the AI Romance Novel Writer.

Frequently Asked Questions

What is "Sora Dan Janji Rahasia" about?

Romansa remaja tentang perjodohan rahasia, beasiswa, dan cemburu.

How many chapters are in "Sora Dan Janji Rahasia"?

The book contains 5 chapters and approximately 10,990 words. Topics covered include Gerbang Sekolah Ternama, Doa yang Memicu Cemburu, Jejak Beasiswa di Arsip Yayasan, Pertemuan Rahasia di Balai Kota, and more.

Who wrote "Sora Dan Janji Rahasia"?

This book was written by Anonymous and created using Inkfluence AI, an AI book generation platform that helps authors write, design, and publish books.

How can I create a similar romance book?

You can create your own romance book using Inkfluence AI. Describe your idea, choose your style, and the AI writes the full book for you. It's free to start.

Write your own romance book with AI

Describe your idea and Inkfluence writes the whole thing. Free to start.

Start writing

Created with Inkfluence AI