Putri Langit, Putri Bumi
Romance

Putri Langit, Putri Bumi

by Tim. Tam · 2026-06-25

Romansa fantasi tentang tiga putri menyatukan cinta sejati.

5 chapters 11,338 words ~45 min read Indonesian 117 reads

Read the first chapter

The whole of chapter one, free. About 9 min. Turn the pages with the arrows, your keyboard, or a swipe.

Chapter 1

Tangisan di Gerbang Tenebris

Bulan purnama menggantung seperti keping perak yang terlalu terang untuk jurang, sementara telapak tangan Erin masih terasa hangat dari kristal kecil yang ia simpan di balik mantel. Cahaya bintang-bintang di dalamnya berdenyut pelan, mengikuti napasnya, seolah menolak pelan-pelan untuk padam. Di sampingnya, Angel berjalan dengan langkah tenang - namun bahunya sedikit tegang, seperti seseorang yang sudah mencium badai sebelum awan datang. Tangisan yang mereka dengar tadi malam tidak benar-benar pergi; ia tinggal di sela-sela bunyi angin, tipis namun menusuk, membuat suara Erin yang biasanya mudah tersusun terasa tertahan.

Malam ini, gerbang ajaib yang hanya terbuka pada bulan purnama telah mengantarkan mereka dari hangatnya Aetheria dan semerbak tanah Gaia. Kini mereka berdiri tepat di depan gerbang Tenebris: dua lengkung hitam yang menjulang dari tebing jurang, mengilap seperti obsidian yang menyerap cahaya sampai ke tulang. Tidak ada lumut, tidak ada akar, tidak ada serangga. Yang ada hanya dingin yang menempel di kulit, dan bau lembap batu tua yang seperti menahan napas bertahun-tahun. Tangisan itu datang dari balik gerbang, namun setiap kali Erin mendekat, suaranya berubah - lebih dekat, lebih jauh - seakan sesuatu di dalam menyesuaikan jarak agar mereka tak pernah benar-benar menangkap sumbernya.

Erin mengangkat tangan. Cahaya bintang-bintang merayap dari jari-jarinya, membentuk garis tipis seperti benang sutra yang siap ditenun menjadi jalan. Ia merasakan Angel di dekatnya, hangat dan hidup, membawa kesegaran yang seharusnya membuat udara jurang terasa kurang mematikan. “Kita cari aula itu,” bisiknya, bukan karena ia ragu pada niatnya, tetapi karena ia takut jika ia berhenti berbicara, tangisan itu akan mengubah pikirannya menjadi sesuatu yang bukan dirinya.

Angel menatap gerbang dengan sorot yang tajam tapi tidak menakutkan. “Kalau cahaya menolak, jangan paksa sendirian.” Nada suaranya lembut, namun ada perintah tersembunyi di balik kelembutan itu - perintah agar Erin tetap menjadi Erin, bukan berubah menjadi nyala yang membakar dirinya sendiri.

Erin tersenyum sekilas, senyum yang biasanya mampu melenturkan kegelapan menjadi sesuatu yang dapat dipahami. Namun senyum itu hanya setipis kaca. “Aku akan tetap menahan arah,” jawabnya. Ia mengarahkan cahaya bintang-bintang ke celah gerbang, berharap permukaan hitam itu mengenali niat baik. Ketika benang cahaya menyentuh ukiran pada batu, gerbang Tenebris tidak bergetar. Ia justru - menggigil.

Bunyi bukan seperti retakan, melainkan seperti tawa kecil yang dipendam di tenggorokan batu. Cahaya yang Erin lepaskan melengkung, lalu tersedot masuk ke dalam ukiran, hilang seolah tidak pernah ada. Erin menarik napas, merasakan dingin menusuk lebih dalam, sampai ke sela-sela tulang. Angel melangkah setengah maju, menyentuh permukaan gerbang dengan ujung jarinya. Tanpa perubahan nyata pada batu, udara di sekitar mereka mendadak beraroma tanah basah - seperti musim hujan yang mendadak diingat oleh dunia.

Tangisan itu seketika mengeras, bergetar, seperti seseorang yang sedang memanggil dari dasar sumur.

“Lihat,” kata Angel, suaranya cepat. Ada garis samar pada permukaan gerbang - bukan retakan, melainkan bayangan lorong yang mulai menampakkan bentuk, seolah kegelapan sedang membuka mata.

Erin menghela napas lega yang hampir jatuh menjadi harapan. Ia mengulurkan tangannya lagi, kali ini lebih pelan, lebih lembut. Cahaya bintang-bintang menyusup ke bayangan lorong, dan gerbang akhirnya bergeser - tidak dengan suara berat, melainkan seperti lembar kain hitam yang ditarik perlahan.

Udara di baliknya tidak sekadar dingin. Ia terasa seperti malam yang terlalu lama disimpan di dalam botol. Bau besi halus dan arang menempel di lidah. Erin melangkah melintasi ambang, dan pada detik pertama, tangisannya berubah menjadi bisikan yang merambat di sepanjang punggung. Angel menyusul, jaraknya hanya sejengkal, cukup dekat untuk memastikan mereka tak benar-benar dipisahkan.

Agar lebih terang, Erin menyalakan cahaya bintang-bintang dengan intensitas yang ia kendalikan sendiri - bukan demi menantang kegelapan, melainkan agar jalan tak menelan langkah mereka. Namun ketika cahaya menyentuh lantai batu, pantulannya tidak memanjang ke depan. Ia memantul ke samping, membentuk dua jalur yang berbeda seperti cermin yang bertengkar. Dinding di kiri dan kanan berkilau sebentar, lalu menghilang, memberi ruang pada lorong ilusi yang tidak sepenuhnya nyata.

Erin menoleh. “Angel - ”

Angel belum sempat menjawab. Gerakan kecilnya seperti tersangkut di udara yang tak terlihat. Sebelum Erin sempat menangkap lengannya, lorong itu memutar arah. Dunia bergeser satu langkah, seolah seseorang menarik sudut karpet dari bawah kaki mereka. Tangisan berubah menjadi dua nada: satu dekat, satu jauh. Erin merasakan hangatnya Angel menjauh, lalu - hilang dari jangkauan cahaya.

“Angel!” Erin memanggil, suaranya memantul dan kembali padanya dengan jeda yang salah, seperti gema yang belajar meniru.

Dinding di depan Erin tiba-tiba menampakkan permukaan baru, seperti tirai hitam yang terbentang. Di tengahnya, bayangan seolah membentuk sosok perempuan - rambut gelap berkilau seperti tinta, mata seperti lubang tanpa dasar. Erin tahu ia tidak boleh percaya pada bentuk-bentuk itu, tapi tubuhnya bereaksi dengan insting lama: ingin melindungi, ingin memastikan yang ia sayangi tetap utuh.

Sosok itu tidak berbicara. Ia hanya mengangkat tangan, dan seluruh lorong mengeluarkan suara halus seperti kertas sobek.

Erin mengepalkan jari. Cahaya bintang-bintang berdenyut, ingin menerobos tirai. Namun tirai itu memantulkan cahaya dengan cara yang membuat Erin pusing - seolah bintang-bintang yang ia kendalikan tiba-tiba menjadi banyak pintu, dan setiap pintu mengarah pada kenangan yang berbeda.

Angel dulu berdiri di depan pintu gerbang ajaib, menahan tangis ketika Erin harus pergi lebih dulu menjelang upacara Aetheria. Angel juga yang menempelkan telapak tangan pada luka kecil Erin saat ia tergelincir di tangga istana - membuat kulitnya pulih tanpa membuat ia merasa lemah. Erin menelan kenangan itu, menahan agar tidak menjadi umpan bagi ilusi.

“Ini jebakan,” gumamnya, lebih pada dirinya sendiri daripada pada lorong.

Lorong menjawab dengan dingin yang menetes dari langit-langit, seperti kabut beku yang jatuh tanpa suara. Di sela kabut, Erin melihat kilatan lain: bukan bayangan Angel, melainkan sesuatu yang menyerupai pintu kecil, memanjang, dan - anehnya - memancarkan cahaya yang tidak berasal dari bintang-bintang. Cahaya itu lebih redup, lebih dalam, seperti cahaya yang lahir dari kesedihan.

Tangisan berubah arah, seakan menunjuk. Erin menyipitkan mata. Jika itu jebakan, ia akan tetap harus menemukan titik asal tangisan. Ia tidak bisa membiarkan suara itu terus menyesatkan; bahkan jika ia sendirian, ia harus sampai pada aula tempat sumbernya lahir.

Erin mengayunkan tangan, membuat seberkas cahaya bintang-bintang meluncur ke arah kilatan pintu kecil tadi. Kali ini ia tidak menyalakan terang penuh. Ia menahan, memaksa cahaya menjadi tipis, terarah, seperti jarum. Cahaya menembus tirai ilusi, dan kabut beku berputar - menggulung, lalu terpecah.

Lorong itu menunjukkan jalan lurus sesaat. Erin melompat maju, merasakan batu di bawah telapak seolah berbeda suhu setiap langkah - hangat tipis saat ia berada dekat dengan “kebenaran” yang ia cari, lalu membeku lagi ketika ilusi mencoba menggodanya untuk berbelok.

Di ujung jalan, ada lengkung kedua yang lebih besar daripada gerbang tadi. Namun lengkung ini tidak menunggu. Ia menutup kembali sebelum Erin sempat merayakan celah. Saat Erin mendekat, permukaan hitam di lengkung itu memunculkan ukiran yang berdenyut, seperti kulit yang bernapas.

Erin merapatkan mantel agar tubuhnya tetap hangat, tetapi dingin tetap menemukan celah. Ia mendengar tangisan semakin jelas. Bukan tangisan yang memohon perhatian, melainkan tangisan yang menyimpan sesuatu yang tak pernah selesai: kerinduan yang tidak punya penerima.

“Jika kau ingin aku masuk,” kata Erin pelan, meski ia tidak tahu apakah ada telinga yang pantas mendengar, “maka tunjukkan sumbernya. Jangan jadikan Angel sebagai umpan.”

Kalimat itu membuat udara bergoyang. Ukiran di lengkung hitam seolah berkedip - seperti sesuatu di dalam merasakan kata-kata Erin.

Kemudian, sebuah bayangan muncul lagi. Kali ini bukan perempuan, melainkan tangan - tangan yang memegang kristal gelap. Erin mengenali bentuknya dari cerita yang mereka dengar sebelum berangkat: kristal hitam milik Elis, tempat Orion terkurung. Bayangan itu bergerak, kristal berputar dalam genggaman, dan tangisan melipat ke dalam dirinya sendiri, menjadi lebih tajam.

Erin menelan. Ia tidak pernah ingin berpikir Orion terkurung karena ia tidak ingin membayangkan seseorang yang masih bernapas di tempat yang tak memberi napas. Tetapi ilusi memaksanya melihat - dan melihat itu menyakitkan.

“Aku harus mencari aula,” bisiknya, namun suara itu terdengar seperti janji yang terlalu rapuh untuk melawan jebakan.

Lengkung itu akhirnya terbuka. Namun bukan untuk memberinya jalan menuju pusat. Di dalam, lorong memanjang dengan lantai yang dipenuhi garis-garis cahaya - garis yang tampak seperti bintang-bintang, namun setiap garis bergerak seperti serangga kecil. Erin tahu itu bukan cahaya biasa. Itu semacam peta yang sengaja dibuat agar ia hanya bisa mengikuti satu arah, sementara arah lain akan memisahkannya lebih jauh dari apa pun yang ia cari.

Erin melangkah, dan garis-garis itu menyesuaikan. Ia merasakan dirinya ditarik, bukan oleh tubuh, melainkan oleh rasa ingin tahu yang terlalu manusiawi. Tangisan menuntun menuju satu titik, namun setiap kali Erin mencoba mengubah langkah, garis-garis itu menyala lebih terang, seolah mengancam memutuskan cahaya bintang-bintangnya.

Di tengah lorong, Erin berhenti. Ia menutup mata sejenak, memaksa dirinya merasakan udara, bukan melihat ilusi. Bau arang dan besi tetap ada, tetapi di antara keduanya ada sesuatu lain - keringat dingin yang bukan miliknya. Itu membuat tengkuknya merinding.

“Angel...” panggilnya, kali ini lebih lirih, seperti takut suara keras akan membuat gema kembali mempermainkannya. Ia menunggu jawaban. Tidak ada. Yang ada hanya tangisan yang kini berubah menjadi gema yang seolah datang dari belakang, padahal lorongnya lurus.

Erin membuka mata. Di dinding kiri, ada pantulan - seolah cermin air gelap. Pantulan itu memperlihatkan Angel, berdiri beberapa langkah darinya, menatapnya. Erin merasakan harapan menjalar, namun dalam harapan itu ada duri. Angel tidak bergerak; pantulan itu seperti gambar yang lupa cara hidup.

Erin maju setengah langkah, lalu berhenti lagi ketika pantulan Angel menoleh - bukan ke Erin, melainkan ke arah yang lain. Gerak itu terlalu lambat, terlalu tidak alamiah, seperti ilusi yang mencoba meniru kesedihan untuk membuatnya lengah. Tangisan ikut bergeser, mengikuti pantulan.

“Jangan,” Erin berbisik, bukan pada ilusi, melainkan pada dirinya sendiri. Ia mengangkat tangan dan mengarahkannya bukan ke pantulan Angel, melainkan ke garis-garis cahaya yang bergerak di lantai. Ia mengubah pola cahaya bintang-bintang, membuatnya tidak lagi memanjang lurus, melainkan berputar di satu titik kecil - membentuk lingkaran tipis.

Lingkaran itu memaksa garis lantai berhenti sejenak. Erin memanfaatkan celah itu untuk melangkah ke arah yang tidak ditunjukkan tangisan, menebak bahwa sumber suara sengaja diputar agar ia mengejar bayangan.

Dengan setiap langkah, dingin menekan lebih dalam. Namun kali ini, tekanan itu tidak terasa seperti musuh yang ingin menghentikannya; ia terasa seperti ujian yang menuntut keputusan. Erin merasakan dada sesak - bukan karena takut, melainkan karena rasa kehilangan yang menempel pada nama Angel meski Angel tidak terlihat.

Ia ingin memanggil lagi, ingin berlari, ingin memastikan bahwa tangisan itu bukan jeritan yang sedang menahan Angel di tempat yang sama gelapnya. Tetapi jika ia mengikuti gema, ia mungkin akan terjebak lebih lama, dan itu akan membuat waktu menjadi mata pisau untuk semua yang ia sayangi.

Erin menahan napas, lalu menghembuskannya perlahan. “Aku akan sampai ke aula,” katanya, suara kini lebih tegas. “Kalau Angel terpisah, maka aku tidak boleh ikut terbagi.”

Tangisan meredup sesaat, seperti seseorang yang kehilangan cara berteriak karena kata-kata Erin mengubah bentuk permainan. Di depan, lengkung batu berikutnya tampak. Di sekelilingnya, udara lebih panas tipis - bukan dari api, melainkan dari sesuatu yang menyimpan kekuatan hidup. Erin merasakan harumnya tidak seperti bunga, tetapi seperti tanah yang baru dibuka setelah hujan. Itu menenangkan, sekaligus membuatnya lebih yakin bahwa ia sedang mendekati tempat yang tepat.

Ketika Erin melangkah melewati lengkung itu, cahaya bintang-bintangnya tiba-tiba padam satu tarikan napas. Gelap menelan penglihatan, dan tangisan berganti menjadi suara yang lebih halus - seperti seseorang menangis sambil tertawa kecil, sebuah ironi yang membuat perut Erin meringkuk.

Dan di tengah gelap, sebuah suara pria bergema dari sangat dekat, tidak seperti gema, melainkan seperti seseorang berbicara dari dalam kristal.

“Terang... masih mencari jalan?”

Erin tidak tahu apakah ia sedang mendengar Orion atau ilusi yang memakai nada itu untuk menuntunnya. Namun sesuatu di dalam dirinya - naluri yang lahir dari persahabatan dengan Angel dan keteguhan yang ia simpan untuk malam bulan purnama - menolak mundur.

Ia mengangkat tangan, meraba dalam gelap, memanggil sisa cahaya bintang-bintangnya dengan cara yang berbeda: bukan untuk menerangi, melainkan untuk menandai keberadaannya. Di saat jari-jarinya menyentuh permukaan dingin yang bukan batu biasa, tangisan tiba-tiba berhenti.

Hanya ada satu pertanyaan yang menggantung di udara, terlalu berat untuk ditelan: jika sumber tangisan kini diam, apa yang sebenarnya sedang menunggu Erin di aula Tenebris - dan apakah Angel sudah selamat dari jebakan yang sama, atau justru sedang dipanggil dengan suara yang tidak bisa Erin jangkau lagi?

End of chapter one. 4 more chapters in the full book.

1 / 10

Swipe or use the arrows to turn the page

What's inside: 5 chapters

  1. 1. Tangisan di Gerbang Tenebris
  2. 2. Cahaya Bintang Menenangkan Dendam
  3. 3. Menyusuri Jejak Kristal Hitam
  4. 4. Bunga Hitam Pecah oleh Tiga Kuasa
  5. 5. Tiga Bintang Menandai Cinta Abadi

About this book

"Putri Langit, Putri Bumi" is a romance book by Tim. Tam with 5 chapters and approximately 11,338 words. Romansa fantasi tentang tiga putri menyatukan cinta sejati..

This book was created using Inkfluence AI, an AI-powered book generation platform that helps authors write, design, and publish complete books. It was made with the AI Romance Novel Writer.

Frequently Asked Questions

What is "Putri Langit, Putri Bumi" about?

Romansa fantasi tentang tiga putri menyatukan cinta sejati.

How many chapters are in "Putri Langit, Putri Bumi"?

The book contains 5 chapters and approximately 11,338 words. Topics covered include Tangisan di Gerbang Tenebris, Cahaya Bintang Menenangkan Dendam, Menyusuri Jejak Kristal Hitam, Bunga Hitam Pecah oleh Tiga Kuasa, and more.

Who wrote "Putri Langit, Putri Bumi"?

This book was written by Tim. Tam and created using Inkfluence AI, an AI book generation platform that helps authors write, design, and publish books.

How can I create a similar romance book?

You can create your own romance book using Inkfluence AI. Describe your idea, choose your style, and the AI writes the full book for you. It's free to start.

Write your own romance book with AI

Describe your idea and Inkfluence writes the whole thing. Free to start.

Start writing

Created with Inkfluence AI