Putri Langit, Putri Bumi
Created with Inkfluence AI
Romansa fantasi tentang tiga putri menyatukan cinta sejati.
Table of Contents
- 1. Tangisan di Gerbang Tenebris
- 2. Cahaya Bintang Menenangkan Dendam
- 3. Menyusuri Jejak Kristal Hitam
- 4. Bunga Hitam Pecah oleh Tiga Kuasa
- 5. Tiga Bintang Menandai Cinta Abadi
Preview: Tangisan di Gerbang Tenebris
A short excerpt from “Tangisan di Gerbang Tenebris”. The full book contains 5 chapters and 11,338 words.
Bulan purnama menggantung seperti keping perak yang terlalu terang untuk jurang, sementara telapak tangan Erin masih terasa hangat dari kristal kecil yang ia simpan di balik mantel. Cahaya bintang-bintang di dalamnya berdenyut pelan, mengikuti napasnya, seolah menolak pelan-pelan untuk padam. Di sampingnya, Angel berjalan dengan langkah tenang - namun bahunya sedikit tegang, seperti seseorang yang sudah mencium badai sebelum awan datang. Tangisan yang mereka dengar tadi malam tidak benar-benar pergi; ia tinggal di sela-sela bunyi angin, tipis namun menusuk, membuat suara Erin yang biasanya mudah tersusun terasa tertahan.
Malam ini, gerbang ajaib yang hanya terbuka pada bulan purnama telah mengantarkan mereka dari hangatnya Aetheria dan semerbak tanah Gaia. Kini mereka berdiri tepat di depan gerbang Tenebris: dua lengkung hitam yang menjulang dari tebing jurang, mengilap seperti obsidian yang menyerap cahaya sampai ke tulang. Tidak ada lumut, tidak ada akar, tidak ada serangga. Yang ada hanya dingin yang menempel di kulit, dan bau lembap batu tua yang seperti menahan napas bertahun-tahun. Tangisan itu datang dari balik gerbang, namun setiap kali Erin mendekat, suaranya berubah - lebih dekat, lebih jauh - seakan sesuatu di dalam menyesuaikan jarak agar mereka tak pernah benar-benar menangkap sumbernya.
Erin mengangkat tangan. Cahaya bintang-bintang merayap dari jari-jarinya, membentuk garis tipis seperti benang sutra yang siap ditenun menjadi jalan. Ia merasakan Angel di dekatnya, hangat dan hidup, membawa kesegaran yang seharusnya membuat udara jurang terasa kurang mematikan. “Kita cari aula itu,” bisiknya, bukan karena ia ragu pada niatnya, tetapi karena ia takut jika ia berhenti berbicara, tangisan itu akan mengubah pikirannya menjadi sesuatu yang bukan dirinya.
Angel menatap gerbang dengan sorot yang tajam tapi tidak menakutkan. “Kalau cahaya menolak, jangan paksa sendirian.” Nada suaranya lembut, namun ada perintah tersembunyi di balik kelembutan itu - perintah agar Erin tetap menjadi Erin, bukan berubah menjadi nyala yang membakar dirinya sendiri.
Erin tersenyum sekilas, senyum yang biasanya mampu melenturkan kegelapan menjadi sesuatu yang dapat dipahami. Namun senyum itu hanya setipis kaca. “Aku akan tetap menahan arah,” jawabnya. Ia mengarahkan cahaya bintang-bintang ke celah gerbang, berharap permukaan hitam itu mengenali niat baik. Ketika benang cahaya menyentuh ukiran pada batu, gerbang Tenebris tidak bergetar. Ia justru - menggigil.
Bunyi bukan seperti retakan, melainkan seperti tawa kecil yang dipendam di tenggorokan batu. Cahaya yang Erin lepaskan melengkung, lalu tersedot masuk ke dalam ukiran, hilang seolah tidak pernah ada. Erin menarik napas, merasakan dingin menusuk lebih dalam, sampai ke sela-sela tulang. Angel melangkah setengah maju, menyentuh permukaan gerbang dengan ujung jarinya. Tanpa perubahan nyata pada batu, udara di sekitar mereka mendadak beraroma tanah basah - seperti musim hujan yang mendadak diingat oleh dunia.
Tangisan itu seketika mengeras, bergetar, seperti seseorang yang sedang memanggil dari dasar sumur.
“Lihat,” kata Angel, suaranya cepat. Ada garis samar pada permukaan gerbang - bukan retakan, melainkan bayangan lorong yang mulai menampakkan bentuk, seolah kegelapan sedang membuka mata.
Erin menghela napas lega yang hampir jatuh menjadi harapan. Ia mengulurkan tangannya lagi, kali ini lebih pelan, lebih lembut. Cahaya bintang-bintang menyusup ke bayangan lorong, dan gerbang akhirnya bergeser - tidak dengan suara berat, melainkan seperti lembar kain hitam yang ditarik perlahan.
Udara di baliknya tidak sekadar dingin. Ia terasa seperti malam yang terlalu lama disimpan di dalam botol. Bau besi halus dan arang menempel di lidah. Erin melangkah melintasi ambang, dan pada detik pertama, tangisannya berubah menjadi bisikan yang merambat di sepanjang punggung. Angel menyusul, jaraknya hanya sejengkal, cukup dekat untuk memastikan mereka tak benar-benar dipisahkan.
Agar lebih terang, Erin menyalakan cahaya bintang-bintang dengan intensitas yang ia kendalikan sendiri - bukan demi menantang kegelapan, melainkan agar jalan tak menelan langkah mereka. Namun ketika cahaya menyentuh lantai batu, pantulannya tidak memanjang ke depan. Ia memantul ke samping, membentuk dua jalur yang berbeda seperti cermin yang bertengkar. Dinding di kiri dan kanan berkilau sebentar, lalu menghilang, memberi ruang pada lorong ilusi yang tidak sepenuhnya nyata.
Erin menoleh. “Angel - ”
Angel belum sempat menjawab. Gerakan kecilnya seperti tersangkut di udara yang tak terlihat. Sebelum Erin sempat menangkap lengannya, lorong itu memutar arah. Dunia bergeser satu langkah, seolah seseorang menarik sudut karpet dari bawah kaki mereka. Tangisan berubah menjadi dua nada: satu dekat, satu jauh. Erin merasakan hangatnya Angel menjauh, lalu - hilang dari jangkauan cahaya.
“Angel!” Erin memanggil, suaranya memantul dan kembali padanya dengan jeda yang salah, seperti gema yang belajar meniru.
...
About this book
"Putri Langit, Putri Bumi" is a romance book by Tim. Tam with 5 chapters and approximately 11,338 words. Romansa fantasi tentang tiga putri menyatukan cinta sejati..
This book was created using Inkfluence AI, an AI-powered book generation platform that helps authors write, design, and publish complete books. It was made with the AI Romance Novel Writer.
Frequently Asked Questions
What is "Putri Langit, Putri Bumi" about?
Romansa fantasi tentang tiga putri menyatukan cinta sejati.
How many chapters are in "Putri Langit, Putri Bumi"?
The book contains 5 chapters and approximately 11,338 words. Topics covered include Tangisan di Gerbang Tenebris, Cahaya Bintang Menenangkan Dendam, Menyusuri Jejak Kristal Hitam, Bunga Hitam Pecah oleh Tiga Kuasa, and more.
Who wrote "Putri Langit, Putri Bumi"?
This book was written by Tim. Tam and created using Inkfluence AI, an AI book generation platform that helps authors write, design, and publish books.
How can I create a similar romance book?
You can create your own romance book using Inkfluence AI. Describe your idea, choose your style, and the AI writes the full book for you. It's free to start.
Write your own romance book with AI
Describe your idea and Inkfluence writes the whole thing. Free to start.
Start writingCreated with Inkfluence AI