Read the first chapter
The whole of chapter one, free. About 6 min. Turn the pages with the arrows, your keyboard, or a swipe.
Chapter 1
Pohon Peta yang Hilang
Pagi itu, Lili si tupai kecil melompat dari dahan ke dahan sambil mengunyah daun muda yang rasanya manis segar. Angin hutan berembus halus, dan suara burung-burung terdengar seperti lagu kecil yang tidak pernah berhenti. Di kejauhan, pohon tua yang selalu ia lihat berdiri seperti penjaga, batangnya besar dan kulitnya penuh garis-garis keriting.
Biasanya, di pohon itu ada “peta jejak” yang muncul seperti gambar dari lumut. Setiap kali Lili melewati tempat itu, ia bisa melihat arah mana yang harus diingat: ke kiri ada akar besar, ke kanan ada batu pipih, dan lurus ada semak yang wanginya seperti buah. Tapi hari ini, saat Lili mendekat, ia hanya melihat batang pohon yang biasa saja. Garis lumut yang dulu terlihat jelas, kini tampak pudar, seperti pensil yang digosok pakai ujung daun.
“Wah…” Lili mengerjap. Ia menempelkan hidungnya dekat kulit pohon. Lumutnya masih lembap, tapi tidak membentuk gambar apa pun. Lili menggigit ujung jarinya sendiri, bukan karena marah, tapi karena bingung. Ia merasakan dingin lembap menempel di bulunya.
Dari arah semak, terdengar suara langkah kecil. Seekor kelinci muda melompat keluar, matanya bulat dan cemas. “Lili! Kamu juga lihat pohon itu? Peta jejaknya hilang!”
Lili menoleh cepat. “Iya. Biasanya ada gambar lumut. Sekarang… polos saja.”
Kelinci itu mengusap telinganya yang panjang. “Aku mau mengantar rumput kering ke sarang nenek kelinci, tapi aku biasa ingat jalannya dari peta itu. Kalau hilang, aku takut tersesat.”
Lili merasakan dadanya hangat, seperti ada matahari kecil di dalam dada. Ia tidak mau kelinci muda merasa sendirian. “Kita cari petunjuk lain,” kata Lili pelan. Kata-kata itu terdengar berani, tapi Lili tetap menahan napas sebentar. Ia tahu keberanian itu bukan karena tidak takut, melainkan karena tetap bergerak meski takut.
Mereka berjalan pelan melewati akar-akar yang menyembul dari tanah. Bau daun basah tercium jelas. Lili memperhatikan setiap detail: ada cendawan kecil di sisi batang, ada bekas gigitan tupai di kulit pohon muda, dan ada jejak kaki yang terlihat samar di tanah yang lembut. Kelinci muda menunjuk semak yang aromanya mirip buah.
“Kalau biasanya peta jejak menunjukkan lurus ke semak ini,” kelinci muda berkata, “mungkin jalannya ada di bau ini.”
Lili mengangguk. “Bau itu bisa jadi tanda. Kita ikuti pelan-pelan.”
Tiba-tiba, terdengar bunyi “krek” dari dekat batu pipih. Lili menoleh. Di sana ada serpihan kulit kayu yang terlihat seperti bekas garukan, dan tanah di sekelilingnya sedikit terangkat. Sepertinya ada sesuatu yang pernah diseret melewati tempat itu.
Kelinci muda menelan ludah. “Kalau ada bekas… berarti jalannya memang pernah dipakai. Tapi siapa yang lewat dulu?”
Lili menunduk, meraba tanah dengan ujung kakinya. Ia merasa teksturnya lebih lembut, seperti ada lapisan rumput yang baru. Lili mulai teringat sesuatu. Beberapa hari lalu, ia melihat burung kecil hinggap di cabang dekat pohon tua, lalu terbang sambil membawa sehelai daun kering. Daun itu ia jatuhkan dekat batu pipih, seolah menandai.
“Kalau kita melihat lagi,” Lili berkata, “kita mungkin menemukan jejak yang dibuat burung itu.”
Kelinci muda mengangguk, lalu bersama-sama mereka menelusuri sekitar batu pipih. Angin meniup daun-daun kecil, dan suara daun bergesek membuat hutan terdengar seperti sedang berbisik. Lili menemukan sehelai daun kering yang tersangkut di akar. Di permukaannya ada garis-garis kecil seperti bekas kerokan, tapi bukan dari cakar liar. Garis itu tersusun rapi, seperti gambar yang dibuat dengan hati-hati.
Kelinci muda mengangkat daun itu dengan hati-hati. “Ini seperti… tanda.”
Lili menatapnya lama. Ia tidak langsung percaya. Ia mengingat pelajaran yang ia lihat dari ibunya: kejujuran itu penting. Kalau tidak yakin, jangan asal mengira. Jadi Lili berkata, “Kita belum tahu ini tanda apa. Tapi kita bisa menggunakannya sebagai petunjuk, bukan sebagai kepastian.”
Kelinci muda tersenyum kecil. “Oke. Kita coba.”
Mereka menyusuri arah yang kira-kira sesuai dengan tanda daun itu. Lili melompat setapak demi setapak, sementara kelinci muda berjalan dengan langkah yang ringan. Sekali-sekali, kelinci muda berhenti dan menempelkan hidungnya ke udara, seperti sedang mencium rahasia hutan.
Tidak semua berjalan mudah. Di tikungan kecil, jalan tanah bercabang dua. Cabang kiri dipenuhi daun yang lebih basah dan lengket. Cabang kanan justru lebih kering dan berbau tanah hangat. Kelinci muda ragu, wajahnya berubah khawatir.
“Kalau salah jalan…” kelinci muda berbisik.
Lili merasakan bulunya sedikit berdiri. Ia ingin cepat, tapi ia juga tahu cepat tanpa pikir bisa membuat tersesat. Ia mengingat cara ia biasanya menilai arah dari peta jejak. Ia bukan hanya melihat, tapi juga mencocokkan.
“Biar kita cocokkan bau dan suara,” kata Lili. “Kalau dekat sarang nenek kelinci, biasanya ada suara pelan dari daun yang bergesek saat angin. Kalau kita dengar itu, berarti kita mendekat.”
Mereka diam sebentar. Angin lewat, terdengar “sruut” lembut. Dari cabang kanan, terdengar suara itu lebih jelas. Dari cabang kiri, semuanya seperti terlalu sunyi.
Lili mengangguk, lalu berkata jujur, “Aku merasa cabang kanan lebih dekat. Tapi kita masih bisa cek lagi. Kalau ternyata tidak, kita balik pelan-pelan.”
Kelinci muda menarik napas lega. “Kamu bilang jujur. Itu membuatku tenang.”
Mereka memilih cabang kanan. Perjalanan terasa lebih singkat karena mereka berjalan dengan hati-hati, tidak terburu-buru. Tak lama kemudian, mereka melihat sebuah tumpukan rumput kering yang rapi, seperti tempat menaruh barang. Di dekatnya ada pohon kecil yang kulitnya berwarna lebih terang. Lili juga melihat bekas jejak kelinci yang mengarah ke sana.
Kelinci muda meloncat kecil, suaranya hampir tertahan karena senang. “Ini! Sarangnya dekat!”
Saat mereka tiba, terdengar suara pelan dari balik semak. Seorang kelinci tua muncul, bulunya putih kecokelatan. Matanya menyipit lembut saat melihat rumput kering dan kelinci muda.
“Ah, kamu akhirnya datang,” kata kelinci tua. Suaranya tidak keras, tapi hangat seperti selimut. “Aku sudah menunggu. Terima kasih.”
Kelinci muda menyerahkan rumput kering. “Aku tadi bingung karena peta jejak hilang. Tapi Lili bantu aku mencari tanda-tandanya.”
Lili menunduk sedikit. Ia merasa bangga, tapi juga ingat bahwa keberanian tidak selalu berarti paling dulu. Kejujuran juga berarti tidak membanggakan diri, hanya melakukan yang bisa.
“Kamu benar,” kata kelinci tua sambil menepuk tanah dekat rumput. “Pohon tua memang sering menampilkan peta jejak. Kalau hilang, biasanya karena lumutnya sedang berganti. Tapi kita tidak perlu panik. Kita bisa mencari petunjuk lain dan tetap saling menolong.”
Lili mengangguk. Ia memandang pohon tua dari kejauhan. Kini ia tidak merasa pohon itu menghilangkan sesuatu yang buruk. Ia merasa pohon itu sedang “berubah tanda” seperti saat warna daun berubah.
Sesudah kelinci tua makan sedikit daun yang wangi, Lili dan kelinci muda duduk di dekat batu pipih. Lili mengusap daun kering yang tadi mereka temukan. “Kita harus ingat,” kata Lili, “kalau peta jejak hilang, kita tidak boleh asal menebak. Kita lihat, kita cium, kita dengar, lalu kita cocokkan.”
Kelinci muda mengangguk kuat-kuat. “Dan kalau ragu, kita bilang ragu. Itu jujur.”
Angin kembali berhembus. Di kejauhan, pohon tua terlihat tetap berdiri, tenang dan kokoh. Lili yakin, besok atau lusa lumutnya mungkin akan membentuk gambar lagi. Tapi hari ini, mereka sudah menemukan jalan dengan cara yang baik: sabar, teliti, dan saling percaya.
Saat senja mulai menguning seperti pisang matang, Lili memandang kelinci muda yang sudah tidak gelisah lagi. Ia merasa hutan seperti rumah bersama, tempat teman bisa saling membantu saat tanda berubah.
Pesan moralnya sederhana: keberanian itu tetap berjalan saat bingung, dan kejujuran itu berani mengatakan apa yang kita tahu dan apa yang belum kita tahu.
Lili tersenyum kecil. Kamu mau ikut bermain? Coba gambar di buku gambarmu pohon tua itu, lalu buat tiga “peta jejak” versi kamu: satu pakai gambar lumut, satu pakai jejak kaki, dan satu pakai tanda bau (misalnya gambar buah). Setelah itu, ceritakan pada temanmu mana yang menurutmu paling membantu saat tanda hilang.
End of chapter one. 4 more chapters in the full book.
Swipe or use the arrows to turn the page
What's inside: 5 chapters
- 1. Pohon Peta yang Hilang
- 2. Roti Jujur dari Rubah Rumi
- 3. Jembatan Daun untuk Beruang Bima
- 4. Batu Penjaga yang Tak Boleh Bohong
- 5. Lonceng Malam untuk Sahabat
About this book
"Kisah Keberanian Dan Persahabatan" is a children's book by I Gede Sujana with 5 chapters and approximately 7,743 words. Kumpulan 10 dongeng hewan bertema nilai positif untuk anak SD.
This book was created using Inkfluence AI, an AI-powered book generation platform that helps authors write, design, and publish complete books. It was made with the AI Children's Book Creator.
Frequently Asked Questions
What is "Kisah Keberanian Dan Persahabatan" about?
Kumpulan 10 dongeng hewan bertema nilai positif untuk anak SD
How many chapters are in "Kisah Keberanian Dan Persahabatan"?
The book contains 5 chapters and approximately 7,743 words. Topics covered include Pohon Peta yang Hilang, Roti Jujur dari Rubah Rumi, Jembatan Daun untuk Beruang Bima, Batu Penjaga yang Tak Boleh Bohong, and more.
Who wrote "Kisah Keberanian Dan Persahabatan"?
This book was written by I Gede Sujana and created using Inkfluence AI, an AI book generation platform that helps authors write, design, and publish books.
How can I create a similar children's book?
You can create your own children's book using Inkfluence AI. Describe your idea, choose your style, and the AI writes the full book for you. It's free to start.
Write your own children's book with AI
Describe your idea and Inkfluence writes the whole thing. Free to start.
Start writingCreated with Inkfluence AI