Efek Samping Di Kelas
Romance

Efek Samping Di Kelas

by vonie putri · 2026-06-20

Romansa SMA tentang dua siswa yang awalnya saling mengganggu

5 chapters 11,870 words ~47 min read Indonesian 155 reads

Read the first chapter

The whole of chapter one, free. About 12 min. Turn the pages with the arrows, your keyboard, or a swipe.

Chapter 1

Keira Mengunci Jarak dari Daren

Ujung pensil Keira masih menyisakan seret tipis di kertas latihan, padahal bel sudah dua kali berdentang sejak pelajaran terakhir hari itu. Di telapak tangannya, hangat sisa tinta mengering, sementara suara langkah kaki di lorong perlahan menjauh. Keira menutup ranselnya dengan bunyi “klek” yang tegas, seperti bisa mematikan semua hal yang terjadi kemarin. Hari pertama sekolah - selesai. Kejadian bersama Daren juga, selesai. Ia sudah mengunci kepalanya rapat-rapat: kalau ia terus memikirkan itu, ia yang akan jadi bahan pikirannya sendiri. Keira memilih percaya pada keputusan paling sederhana yang bisa ia buat: menghapus gangguan itu dari daftar kepalanya, bahkan kalau tubuhnya masih ingat betul cara Daren menatapnya saat jam istirahat.

Di ruang kelas XI IPA 2 hari ini, panas lampu neon terasa lengket di kulit. Udara berbau kapur dan kertas baru, bercampur aroma minuman sachet yang ditinggalkan di laci meja orang-orang. Kursi-kursi berjajar rapi, tapi keributan tetap bocor dari sela-sela bangku - tawa, bisik-bisik, bunyi penghapus jatuh, dan derit kursi yang diseret setengah sentimeter terlalu keras. Keira duduk di tempatnya, punggung menempel pada sandaran, menyusun buku-buku dengan jarak sedisiplin mungkin. Ia sengaja tidak menoleh ke sisi kanan, ke tempat Daren biasanya menaruh tasnya. Ia sengaja tidak mencari-cari.

Sayangnya, kelas seperti punya telinga.

“Keira.”

Suaranya tidak keras, tapi cukup untuk membuat bahu Keira kaku. Ia menahan diri untuk tidak menoleh, hanya menggeser pandangannya ke halaman buku yang sudah ia baca dua kali tanpa benar-benar masuk ke otak.

“Ini pulpen kamu,” lanjut Daren, nada datar yang terlalu santai untuk situasi yang seharusnya dianggap normal.

Keira baru menyadari ada benda hitam mengilap diletakkan tepat di tepi meja. Pulpen itu - yang kemarin sempat ia cari-cari karena hilang - mengkilap seolah baru dibeli. Keira menatapnya beberapa detik, lalu menatap kembali halaman buku. Ia membuka mulut, tapi kata-kata yang ingin keluar malah terjebak. Ia memilih diam, sebagai perlawanan kecil.

Daren tidak berhenti. Suara kursi berderit pelan mendekat, dan kehangatan yang tidak ia minta tiba-tiba memenuhi ruang di sampingnya. Keira bisa merasakan keberadaan Daren seperti getaran di udara.

“Kalau kamu gak mau dipinjem, bilang aja,” kata Daren, seolah ia baru saja mengerti sesuatu.

Keira akhirnya menoleh - bukan karena ia ingin, tapi karena kalau ia terus pura-pura tuli, kelas akan terasa semakin sempit. Ia menatap Daren dengan mata yang mencoba dingin, mencoba terlihat tidak terpengaruh.

“Kamu pinjem tanpa izin,” ucap Keira. Kalimatnya pendek, tapi ujungnya tajam.

Daren mengangkat bahu ringan, seperti menganggap itu debat kecil yang bisa diselesaikan dengan senyum.

“Tadi aku liat kamu lagi nyari. Aku bantu.”

“Tolong jangan bantu hal-hal yang kamu sendiri bikin hilang,” balas Keira, suaranya tetap stabil meski dadanya memanas.

Daren mendekatkan wajahnya sedikit, cukup dekat sampai Keira bisa mencium aroma sabun yang dipakai - segar, seperti baru keluar dari kamar mandi pagi. Keira tidak menyukainya. Keira tidak ingin kedekatan itu punya nama.

“Aku gak bikin hilang,” kata Daren, lalu menambahkan dengan nada seolah-olah itu fakta: “Kamu cuma gak ingat taruhannya.”

Keira membuka mulut lagi, tapi suara di belakang kelas memotong. Seorang teman bertukar buku, meja berantakan, dan bel masuk memantul di dinding. Keira menelan rasa kesal dan memaksa dirinya kembali pada latihan. Ia mengatur napas, menahan agar ekspresinya tidak kebaca. Ia sudah hafal bagaimana Daren suka mengomentari mimiknya - komentar kecil yang membuatnya merasa seperti sedang ditelanjangi oleh perhatian.

Satu jam pertama berlalu dengan cara yang paling mungkin: Keira menulis cepat, menutup buku saat guru mendekat, dan menolak menoleh ke kanan. Ia berhasil - hampir. Saat istirahat pertama, ia berdiri mengambil botol minumnya, lalu berhenti sepersekian saat karena bayangan Daren sudah lebih dulu berada di dekat rak minuman. Keira merasakan hal itu sebelum melihatnya. Seperti ada magnet yang menarik keberadaan Daren ke sekitarnya.

“Apa kamu gak capek jadi masalah hidup orang?” tanya Keira pelan tanpa menoleh penuh, hanya menatap botol di tangannya.

Daren berdiri miring. Di tangan kirinya ada tisu yang sudah digulung rapi, di tangan kanannya gelas kecil berisi air. Ia menatap Keira dari samping.

“Aku gak jadi masalah,” jawab Daren. “Kamu aja yang terlalu rewel.”

Keira menggigit bibir. Rewel. Kata itu terdengar konyol untuk orang yang kemarin membuatnya kesal sampai telinga panas. Keira memalingkan wajah, memusatkan diri pada tutup botol yang harus diputar.

Tapi Daren tidak memberi ruang untuk selesai.

“Kamu lagi mikirin aku,” katanya tiba-tiba.

Keira membeku. Bukan karena kata-katanya terdengar manis - tidak. Kata itu terdengar seperti tuduhan yang sengaja dibumbui. Keira menahan diri untuk tidak menoleh, tapi pantulan wajahnya di kaca jendela memperlihatkan betapa sulitnya menutup ekspresi.

“Kamu salah,” jawab Keira akhirnya, suaranya sedikit lebih cepat dari yang ia rencanakan.

“Aku gak salah,” Daren menyandarkan punggung ke dinding, cukup jauh untuk tidak mengganggu, tapi cukup dekat untuk membuat Keira sadar. “Kamu selalu tahu aku ada di mana.”

Keira menarik napas, menahan emosi yang ingin meledak. Ia tidak ingin membahasnya. Ia tidak ingin mengakui apa pun yang bisa dijadikan pegangan oleh Daren.

“Kalau aku tahu kamu ada di mana, itu karena kamu selalu muncul,” ujar Keira, menekankan setiap kata, seolah sedang mengikat simpul.

Daren tersenyum tipis. Senyum yang bukan kemenangan, lebih seperti kepuasan karena berhasil memancing.

“Yaudah,” katanya. “Kalau begitu, jangan khawatir. Hari ini aku bakal lebih sopan.”

Keira hampir tertawa karena mendengar kata sopan dari mulut Daren. Tapi sebelum ia sempat merespons, bel istirahat usai memekik, dan semua orang bergerak seperti digerakkan tali. Keira kembali duduk dengan punggung lurus, berharap sopan yang Daren maksud hanyalah jeda singkat sebelum keusilan berikutnya.

Harapannya tidak bertahan lama.

Pelajaran berikutnya dimulai dengan suara papan tulis yang digores kasar. Guru fisika masuk tanpa basa-basi, membawa tumpukan kertas yang tampak terlalu tebal untuk sebuah jam pelajaran biasa. Ia menulis sesuatu di papan, lalu mengumumkan pembagian kelompok.

“Kelompok berisi empat orang. Materinya Hukum Newton. Minggu depan ada presentasi singkat. Kalian kerjakan bersama, bahas, dan tulis solusi.”

Kelas langsung riuh. Kursi diseret, orang-orang saling menoleh, dan Keira merasakan sesuatu yang dingin merambat di punggungnya. Ia tidak tahu kenapa, tapi instingnya langsung mengingat hari pertama - hari ketika ia pernah berpikir kejadian bersama Daren bisa dianggap kecelakaan.

“Keira,” panggil guru fisika, menunjuk tanpa menunggu. “Daren. Nadhira. Aurelia.”

Keira menatap kertas pembagian kelompok yang tidak ia pegang - karena nama-namanya sudah ditulis di udara, dibacakan, dan memaksa kelas mengingat bahwa hidupnya tidak bisa sesederhana jarak.

Daren menoleh ke arah Keira seolah ia baru saja mendengar kabar baik. Keira menahan diri untuk tidak menatap terlalu lama; ia tidak mau memberi Daren kepuasan. Tapi Daren sudah membaca ketegangan itu dari cara Keira memegang ujung pensil terlalu keras.

“Wah,” kata Daren, suaranya cukup untuk didengar Keira saja. “Kamu gak mungkin bisa kabur.”

Keira mendesah pelan, menahan geram.

“Aku gak pernah mau kabur,” dustanya sendiri keluar terlalu cepat.

Daren mengangkat alis, menatapnya dengan cara yang membuat Keira merasa seperti sedang diperiksa.

“Kamu juga gak pernah mau mengaku,” balas Daren.

Aurelia dan Nadhira sudah menunggu di meja kelompok mereka. Aurelia menata buku dengan rapi, seolah bisa mengatur semesta. Nadhira tersenyum kecil, tapi senyumnya tidak sampai ke mata - dia seperti sedang mengamati sesuatu yang tidak ia sebutkan. Keira bisa merasakan tatapan mereka seperti kertas yang diletakkan terlalu dekat di wajah: mengganggu, tapi juga membuatnya sadar.

“Kalian udah siap?” tanya Nadhira, nada santai.

Keira mengangguk, tapi tangannya tetap gemetar halus saat membentangkan kertas tugas. Daren mengambil pensilnya sendiri, lalu - tanpa meminta - menggeser posisi kertas Keira sedikit lebih dekat ke tengah meja. Keira refleks menahan pergelangan tangan, tapi gerakannya terlalu kecil untuk menghentikan apa pun.

Daren mengangkat wajah.

“Kenapa?” tanyanya.

Keira menatap kertas yang baru saja digeser. Ia ingin bilang jangan sentuh-sentuh. Tapi ia juga tahu, kalau ia meladeni, Daren akan menjadikan itu bahan tontonan.

“Biar enak,” kata Daren, seolah ia hanya memperbaiki ergonomi meja.

Keira menggerakkan kertasnya kembali ke posisi semula. “Enak buat kamu.”

Daren tertawa kecil, tapi tidak mengejek - lebih seperti ia menikmati pertengkaran yang akhirnya kembali lagi setelah sempat ia pikir bisa ditunda.

“Aku cuma gak suka kertas terlalu jauh,” katanya.

“Karena kamu gak bisa baca kalau harus miring?” Keira balas cepat.

Keheningan sesaat turun, hanya diisi bunyi kipas angin kelas yang berputar pelan. Keira menyesal sedetik setelah kata-katanya keluar. Ia terlalu tajam, terlalu kebiasaan. Ia ingin menjaga jarak, tapi cara paling mudah untuk menghindari kedekatan adalah dengan membuat jarak lewat pertengkaran. Dan Daren - Daren justru seperti selalu menunggu ia terpancing.

Guru fisika lewat di depan meja kelompok, menepuk punggung bangku, lalu berhenti sebentar. “Kalian mulai dari yang paling dasar dulu.”

Setelah guru pergi, Daren menunduk pada kertas, benar-benar menatapnya seperti ada sesuatu yang bisa ia tangkap. Keira masih menunggu Daren membuat kesalahan lagi - menunggu pulpen hilang lagi, menunggu komentar ekspresi lagi. Tapi yang terdengar justru garis pensil yang bergerak, bunyi halus “srk srk” di atas kertas.

Keira melirik dari sudut mata. Daren tidak menoleh. Ia menulis dengan cepat, lalu menghapus bagian tertentu, lalu menulis lagi.

“Apa yang kamu tulis?” tanya Keira, suaranya curiga.

Daren berhenti sejenak, lalu menunjuk salah satu rumus di kertasnya. “Ini. Newton pertama. Konsepnya tetap.”

Keira menatap rumus itu, tapi kepalanya terasa kosong seperti ruang kelas tanpa suara. Ia mengerti teori saat guru menjelaskan - atau setidaknya ia merasa mengerti - tapi begitu kertas tugas meminta penerapan, semuanya berubah jadi kabut.

“Konsepnya tetap apa?” Keira memaksa nada suaranya tidak menyerah.

Daren menatapnya akhirnya. Kali ini tidak ada senyum iseng. Hanya tatapan yang fokus, seperti ia sedang menahan dirinya untuk tidak mengatakan sesuatu yang bisa mempermalukan Keira.

“Benda cenderung mempertahankan keadaan geraknya,” jawab Daren pelan. “Kalau resultan gaya nol, kecepatannya gak berubah. Tapi kalau ada gaya - ”

“Ya, aku tahu,” potong Keira, terlalu cepat. Ia membenci betapa mudahnya Daren membuatnya merasa bodoh.

Daren mengangguk, tapi tidak terpancing. Ia mengalihkan ujung pensil ke bagian berikutnya.

“Kalau kamu tahu, coba jelasin ke aku,” kata Daren.

Keira terdiam.

Ia bisa menjelaskan. Tapi saat lidahnya ingin bergerak, ada rasa yang menahan - rasa takut salah di depan orang yang selalu membuatnya jadi bahan komentar. Keira tidak ingin terlihat lemah. Ia tidak ingin Daren punya cerita lain tentang ekspresinya.

“Kamu yang jelasin aja,” Keira menggerutu, memutar pensilnya di sela jari.

Daren tidak marah. Ia hanya menatap kertas, lalu mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat, cukup untuk membuat Keira bisa mencium bau kertas dan tinta yang baru - dan cukup untuk membuat Keira kembali sadar bahwa ia tidak bisa sepenuhnya menghilangkan Daren dari ruang pikirannya.

“Newton kedua,” Daren mulai, seperti mempersiapkan kalimat agar tidak jatuh ke tempat yang salah. “Kalau resultan gaya ada, percepatannya sebanding dengan gaya dan berbanding terbalik dengan massa.”

Keira menyipitkan mata. Bagian itu sebenarnya pernah ia dengar. Tapi cara Daren mengucapkannya membuatnya terasa lebih nyata, lebih “di sini”, bukan sekadar definisi di buku.

Keira membuka mulut, ingin menyangkal bahwa ia paham karena Daren. Tapi kenyataannya mengganggu: ia mulai mengikuti.

“Nggak sesulit itu,” kata Daren, tanpa menatap Keira lama-lama.

Keira menelan ludah. “Kamu ngomongnya gampang.”

Daren mengangkat bahu. “Kadang yang bikin susah itu cara orang jelasin.”

Keira ingin membalas dengan sesuatu yang tajam. Tapi sebelum kata-katanya tersusun, Nadhira bersuara dari sisi lain meja, nada datar namun penuh pengamatan.

“Keira, kamu kelihatan… bingung.”

Keira menegang. Ia tahu Nadhira tidak bermaksud jahat. Tapi kalimat itu seperti membuka pintu yang seharusnya tetap terkunci. Keira menatap kertas, pura-pura fokus, padahal yang ia rasakan justru hangat di telinga.

“Aku gak bingung,” Keira berbohong. “Aku cuma cari cara.”

Daren menoleh, kali ini menatap Keira lebih lama. Ada sesuatu di matanya yang tidak bisa Keira sebut sebagai baik atau buruk - hanya terlihat seperti Daren sedang menahan diri dari mengolok. Dan itu, entah kenapa, lebih membuat Keira tidak nyaman daripada komentar-komentar iseng sebelumnya.

“Kalau kamu bingung, bilang,” kata Daren.

Keira mengangkat kepala cepat. “Biar kamu makin banyak ngomong?”

Daren tersenyum tipis, kali ini tidak mengejek. “Kalau kamu bilang, aku bisa bantu tanpa kamu merasa dijahatin.”

Kalimat itu membuat Keira mendadak tidak punya jawaban. Karena ia tidak pernah berpikir Daren bisa mengucapkan sesuatu yang terdengar seperti perhatian yang sungguh-sungguh. Ia selalu menganggap Daren hanya gangguan berjalan - efek samping yang tidak bisa ia hapus dari jadwal sekolah.

Tapi tugas itu menuntut mereka bekerja sama. Dan semakin Daren membantu, semakin Keira merasa posisinya goyah. Bukan karena ia mulai menyukai Daren - Keira tidak mau sampai ke sana. Ia cuma… merasa terjebak dalam siklus yang sama: Daren membuatnya kesal, tapi Daren juga yang membuatnya mengerti.

Di sela diskusi, guru fisika berhenti sebentar untuk melihat progres. Ia menunjuk pada kertas kelompok, lalu meminta mereka menjelaskan langkah berikutnya. Keira menunduk, memegang pulpen, berusaha menemukan kata-kata yang tidak membuatnya terlihat bodoh.

Guru menatap Keira. “Keira, kamu yang jelasin.”

Jantung Keira memukul keras di tulang rusuk. Ia ingin menolak, tapi nada guru sudah seperti pintu yang tidak memberi ruang. Keira membuka mulut, tapi sebelum suaranya keluar, Daren menggeser kertasnya - bukan merampas, hanya menunjukkan baris yang harus ia baca.

Keira menatap baris itu. Bunyi kipas terdengar lebih kencang, dan bau kapur di udara terasa tajam di hidung. Keira mengerti kenapa Daren melakukan itu - kenapa ia tidak membiarkan Keira tenggelam sendirian.

Keira menghela napas, lalu berbicara. Kalimatnya tidak sempurna, tapi cukup jelas. Guru mengangguk, membiarkan mereka lanjut.

Begitu guru pergi, Keira menarik napas panjang yang terasa seperti baru keluar dari tenggorokan sendiri. Ia menatap Daren dengan marah yang berubah bentuk - marah karena Daren membuatnya butuh. Marah karena bantuan itu datang dari orang yang terlalu sering membuatnya kesal.

“Apa kamu sengaja?” tanya Keira pelan, tajamnya bersembunyi di bawah suara yang terkendali.

Daren menatap balik, kali ini lebih serius. “Sengaja apa?”

“Sengaja bikin aku kesal, terus pura-pura jadi penyelamat,” balas Keira. Ia meremas ujung kertas. “Supaya aku… supaya aku - ”

Kata berikutnya menggantung. Keira tidak mau menyebut apa pun yang sebenarnya ingin keluar. Bahwa ia mulai membenci betapa sulitnya memutus jarak ketika Daren justru ada saat ia paling butuh.

Daren tidak tertawa. Ia hanya menggeser pulpen di tangannya, lalu berkata, “Aku gak pernah minta kamu butuh aku.”

Keira tersenyum pahit. “Tapi kamu selalu muncul.”

Daren mendekat sedikit, cukup untuk membuat Keira merasa panas di leher. “Aku muncul karena kamu gak pernah beneran ngelihat aku,” katanya, nada suaranya rendah. “Kamu cuma liat gangguan.”

Keira ingin membantah, tapi saat ia membuka mulut, bel kedua berbunyi, menandai pergantian jam. Kelas mulai bergerak, suara tas ditutup, kursi diseret. Momen serius itu terputus oleh kebisingan.

Keira merapikan kertas tugas dengan gerak yang terlalu rapi. Ia merasa tenang, setenang orang yang baru saja berhasil menutup pintu. Ia ingin percaya ini masih bisa ia kendalikan: hari ini ia berhasil tetap fokus, tetap waras, tetap tidak memberi Daren celah.

Tapi saat ia mengangkat kepala, ia melihat pulpen Daren meluncur ke genggaman Keira lagi - bukan dilempar ceroboh seperti kemarin, melainkan diletakkan di tepat posisi yang mudah dijangkau, seolah Daren tahu persis kapan tangan Keira butuh sesuatu.

“Gak usah terima,” Keira bergumam, tapi suaranya tidak sekeras tadi.

Daren menahan pandangan. “Bukan buat diterima. Biar kamu gak salah tempat lagi.”

Keira menatap pulpen itu, lalu menatap Daren. Untuk sesaat, semua keusilan Daren terasa seperti bayangan yang masih menempel di dinding kelas ini - tidak hilang, hanya menunggu kesempatan berikutnya.

Dan di saat Keira mencoba memejamkan pikirannya pada keputusan lama - bahwa kejadian hari pertama hanyalah kesalahan kecil - sebuah kenyataan baru menekan masuk: Daren tidak berhenti di hari pertama. Ia bahkan semakin sering muncul, kali ini bukan hanya untuk mengganggu, tapi untuk memastikan Keira tidak jatuh.

Keira tetap tenang di luar. Tapi di dalam, ada siklus yang mulai terasa seperti lingkaran: semakin ia menghindar, semakin Daren menemukan cara untuk masuk. Keira tidak tahu apakah ia sedang berhasil menjaga jarak, atau justru sedang terjebak di dalamnya.

Saat bel akhir pelajaran berdentang dan siswa-siswa berhambur keluar kelas XI IPA 2, Keira mengunci ranselnya lagi. Ia siap pulang dengan kepala dingin.

Sayangnya, sebelum ia sempat berdiri, Daren menahan selembar kertas kecil di ujung meja - kertas yang belum pernah Keira lihat sebelumnya. Di sana ada tulisan rumus Newton yang dibuat rapi, plus satu kalimat pendek di bawahnya yang seperti sengaja dibuat agar hanya Keira yang membacanya.

Keira menatapnya lama, lalu mengangkat kepala.

“Aku gak minta,” katanya, suaranya serak sedikit.

Daren tidak menjawab langsung. Ia hanya menatap Keira, dan senyum isengnya muncul lagi - tipis, seperti umpan yang menunggu reaksi.

“Ya,” kata Daren akhirnya. “Tapi kamu tetap akan nerima, kan?”

End of chapter one. 4 more chapters in the full book.

1 / 13

Swipe or use the arrows to turn the page

What's inside: 5 chapters

  1. 1. Keira Mengunci Jarak dari Daren
  2. 2. Tugas Newton Memaksa Satu Kelompok
  3. 3. Daren Menjelaskan Newton Tanpa Banyak Bicara
  4. 4. Keanehan Diperhatikan Nadhira dan Aurelia
  5. 5. Keira Mengakui Daren Bisa Diandalkan

About this book

"Efek Samping Di Kelas" is a romance book by vonie putri with 5 chapters and approximately 11,870 words. Romansa SMA tentang dua siswa yang awalnya saling mengganggu.

This book was created using Inkfluence AI, an AI-powered book generation platform that helps authors write, design, and publish complete books. It was made with the AI Romance Novel Writer.

Frequently Asked Questions

What is "Efek Samping Di Kelas" about?

Romansa SMA tentang dua siswa yang awalnya saling mengganggu

How many chapters are in "Efek Samping Di Kelas"?

The book contains 5 chapters and approximately 11,870 words. Topics covered include Keira Mengunci Jarak dari Daren, Tugas Newton Memaksa Satu Kelompok, Daren Menjelaskan Newton Tanpa Banyak Bicara, Keanehan Diperhatikan Nadhira dan Aurelia, and more.

Who wrote "Efek Samping Di Kelas"?

This book was written by vonie putri and created using Inkfluence AI, an AI book generation platform that helps authors write, design, and publish books.

How can I create a similar romance book?

You can create your own romance book using Inkfluence AI. Describe your idea, choose your style, and the AI writes the full book for you. It's free to start.

Write your own romance book with AI

Describe your idea and Inkfluence writes the whole thing. Free to start.

Start writing

Created with Inkfluence AI