This book was created with Inkfluence AI · Create your own book in minutes. Start Writing Your Book
Pertemuan Seorang Santri Di Makkah
Children's

Pertemuan Seorang Santri Di Makkah

by Anonymous · Published 2026-08-02

Created with Inkfluence AI

5 chapters 6,993 words ~28 min read Indonesian

Anak 15 tahun di Makkah bertemu ustadzah tahfidz

Table of Contents

  1. 1. Bertemu Ustadzah Saat Umroh
  2. 2. Keputusan Mondok di Pesantren
  3. 3. Mencari Hafalan yang Hilang
  4. 4. Ujian Tahfidz Saat Ramai
  5. 5. Wisuda Tahfidz Bersama Ustadzah

Preview: Bertemu Ustadzah Saat Umroh

A short excerpt from “Bertemu Ustadzah Saat Umroh”. The full book contains 5 chapters and 6,993 words.

Pada 27 April, suara azan menggema di antara gedung-gedung tinggi Makkah ketika Rafi Al-Farisi merapikan kain ihramnya. Udara pagi terasa hangat. Aroma kopi dan roti dari kedai dekat hotel bercampur dengan wangi sabun dari pakaian para jamaah.


“Rafi, jangan jauh dari rombongan,” pesan Ayah sambil memeriksa tas kecilnya. “Kalau berhenti, tunggu di dekat pintu yang sudah disepakati.”


Rafi mengangguk. Usianya baru lima belas tahun, tetapi ia merasa sangat bersemangat. Hari itu ia akan menjalankan umroh bersama keluarganya. Lebih dari itu, ia mendengar kabar bahwa ustadzah yang selama ini ia kagumi juga berada di Makkah bersama suaminya.


Ustadzah Maryam dikenal sebagai pengajar tahfiz yang sabar. Suaranya sering didengar Rafi dari rekaman kajian dan setoran hafalan. Rafi menyukai cara ustadzah itu menjelaskan ayat dengan lembut. Ia ingin sekali menyapa, walau hanya sebentar.


Rombongan berjalan menuju Masjidil Haram. Langkah mereka mengikuti arus jamaah yang bergerak dengan tertib. Sandal Rafi terasa ringan di telapak kakinya. Dari kejauhan, menara masjid tampak putih dan tinggi di bawah langit yang cerah.


Di dekat salah satu pintu, Ayah menunjuk sebuah tempat.


“Nanti setelah salat, kita berkumpul di sini,” katanya. “Jangan berpindah tanpa memberi tahu.”


“Baik, Yah,” jawab Rafi.


Mereka lalu masuk bersama jamaah lain. Rafi memandang ke arah Ka’bah dengan takjub. Cahaya lampu memantul pada lantai marmer yang bersih. Suara doa terdengar dari berbagai arah, tetapi suasananya tetap terasa damai.


Setelah berdoa, Rafi melihat rombongan lain di sisi halaman. Beberapa orang memakai tanda kain berwarna biru. Di antara mereka, ia mengenali sosok yang sangat ia kenal.


“Itu Ustadzah Maryam!” bisik Rafi.


Ustadzah Maryam berjalan bersama suaminya. Ia mengenakan pakaian ihram perempuan yang sederhana dan membawa tas kecil. Wajahnya tampak cerah. Rafi ingin segera menyapa, tetapi rombongan keluarganya bergerak ke arah berbeda.


“Rafi, ikut Ayah,” panggil Ayah.


Rafi menoleh sebentar. Ia melihat Ustadzah Maryam semakin jauh. Rafi ingin mengejar, tetapi ia ingat pesan Ayah. Ia pun mengikuti keluarganya menuju tempat berkumpul.


Namun, ketika sampai di lorong, Rafi tidak lagi melihat Ayah dan Ibu. Orang-orang berjalan di depannya dengan arah yang berbeda. Ada papan petunjuk dengan tulisan Arab dan beberapa tanda panah. Rafi membaca salah satu papan, lalu memilih lorong yang menurutnya menuju pintu tempat mereka berjanji.


Ia berjalan beberapa langkah.


Papan berikutnya membuatnya ragu. Tanda panah menunjuk ke kanan, sementara jamaah di depannya bergerak ke kiri. Rafi berhenti di dekat tiang. Ia membuka tas kecil dan mencari kertas catatan dari Ayah. Kertas itu ada, tetapi tulisan arah yang dibuat Ayah tampak samar karena terlipat.


“Seharusnya pintunya di dekat tangga,” gumam Rafi.


Ia mencoba kembali ke lorong sebelumnya. Akan tetapi, lorong itu sudah dipenuhi jamaah. Rafi tidak ingin mendorong siapa pun. Ia mundur ke sisi dinding dan menunggu sampai jalan sedikit longgar.


Suara langkah terdengar di sekelilingnya. Ada suara roda koper kecil, suara sandal menyentuh lantai, dan suara anak-anak memanggil orang tua. Rafi merasa bingung. Masjidil Haram begitu luas. Semua pintu tampak hampir sama.


Ia menarik napas pelan.


“Aku harus tetap tenang,” katanya kepada diri sendiri. “Ayah pasti mencariku.”


Rafi mencoba bertanya kepada seorang petugas. Ia menunjukkan kertas catatan itu dan menyebut nama pintu yang ia ingat. Petugas tersebut tersenyum ramah, lalu menunjuk ke arah lain. Rafi mengucapkan terima kasih dan mengikuti petunjuk itu.


Sayangnya, setelah berjalan cukup jauh, ia kembali menemukan dua lorong. Papan petunjuk di atas kepalanya terasa sulit dibaca karena banyak tulisan. Rafi memilih satu arah, tetapi beberapa menit kemudian ia tiba di tempat yang tidak dikenalnya.


Di sana ada deretan tiang putih dan sebuah pintu besar. Rafi memandang ke belakang. Ia tidak melihat wajah keluarganya.


Rasa sedih mulai muncul. Ia duduk di tepi dinding, tetapi tidak menangis. Ia memegang tas kecilnya erat-erat. Di dalam tas itu ada botol air, sapu tangan, dan buku kecil berisi ayat yang sedang ia hafalkan.


“Kalau aku terus berjalan tanpa tahu arah, aku bisa semakin jauh,” pikirnya.


Rafi kemudian memperhatikan arus jamaah. Sebagian orang berhenti di dekat petugas. Ia pun berdiri dan mendekat. Kali ini ia tidak hanya menunjukkan kertas, tetapi juga menyebutkan nama hotel tempat keluarganya menginap.


Seorang petugas perempuan mendengarkan dengan sabar. Ia menunjuk tempat tunggu di dekat pintu dan memberi isyarat agar Rafi tetap berada di sana. Rafi mengangguk. Petugas itu lalu berbicara kepada petugas lain melalui alat komunikasi.


Rafi duduk di tempat yang ditunjukkan. Lantai marmer terasa sejuk di bawah kakinya. Ia minum sedikit air. Setelah itu, ia membuka buku kecilnya dan membaca ayat dengan suara pelan.


Beberapa baris ayat membuat pikirannya lebih tenang....

About this book

"Pertemuan Seorang Santri Di Makkah" is a children's book by Anonymous with 5 chapters and approximately 6,993 words. Anak 15 tahun di Makkah bertemu ustadzah tahfidz.

This book was created using Inkfluence AI, an AI-powered book generation platform that helps authors write, design, and publish complete books. It was made with the AI Children's Book Creator.

Frequently Asked Questions

What is "Pertemuan Seorang Santri Di Makkah" about?

Anak 15 tahun di Makkah bertemu ustadzah tahfidz

How many chapters are in "Pertemuan Seorang Santri Di Makkah"?

The book contains 5 chapters and approximately 6,993 words. Topics covered include Bertemu Ustadzah Saat Umroh, Keputusan Mondok di Pesantren, Mencari Hafalan yang Hilang, Ujian Tahfidz Saat Ramai, and more.

Who wrote "Pertemuan Seorang Santri Di Makkah"?

This book was written by Anonymous and created using Inkfluence AI, an AI book generation platform that helps authors write, design, and publish books.

How can I create a similar children's book?

You can create your own children's book using Inkfluence AI. Describe your idea, choose your style, and the AI writes the full book for you. It's free to start.

Write your own children's book with AI

Describe your idea and Inkfluence writes the whole thing. Free to start.

Start writing

Created with Inkfluence AI