Bayang-Bayang Batavia
Created with Inkfluence AI
Misteri urban-fantasi tentang relik pemutar waktu di Batavia.
Table of Contents
- 1. Jurnal Kusuma dan Lorong Tersembunyi
- 2. Baskara Membuka Arsip Menara
- 3. Peta Sunda Kelapa Mengelabui
- 4. Relik Kala Memutar Satu Malam
- 5. Custodes Temporis Menuntut Keputusan
Preview: Jurnal Kusuma dan Lorong Tersembunyi
A short excerpt from “Jurnal Kusuma dan Lorong Tersembunyi”. The full book contains 5 chapters and 10,985 words.
Hujan belum reda ketika Aria menutup pintu kayu perpustakaan kampus yang berdebu dan mengendap di bawah lampu lorong yang berkedip-kedip. Di tangannya, map tipis berlapis kain terasa hangat - bukan karena kertasnya, melainkan karena jari-jarinya masih memegang sesuatu yang terlalu lama ia cari tanpa berani menyebut namanya keras-keras. Kunci kuningan peninggalan Profesor Kusuma berbentuk kecil, beratnya seolah menahan denyut waktu di telapak tangan, sementara di dalam map ada jurnal rahasia yang sampulnya menguning seperti kulit buku tua dari gudang arsip Batavia.
Aria berjalan cepat, langkahnya memukul genangan air di trotoar, memaksa ingatannya mundur ke suara terakhir yang ia dengar dari kakeknya: nada serak yang tertelan sebelum sempat menghabiskan satu kalimat. Profesor Kusuma sudah meninggal, tapi benda-benda yang ia tinggalkan - jurnal itu dan kunci kuningan itu - masih terasa seperti napas yang belum selesai. Di bawah payung yang bocor, hujan menampar ujung rambut Aria dan membuat kaca matanya berkabut; ia mengusapnya dengan punggung tangan, lalu mengencangkan genggaman pada kunci.
“Jangan-jangan ini cuma… kebetulan,” gumam Aria, namun mulutnya sendiri terdengar asing, seolah kata “kebetulan” terlalu ringan untuk benda yang beratnya mengubah cara pikirnya. Ia tak berniat membawa siapa pun. Lorong bawah tanah yang disebut jurnal hanya muncul sebagai beberapa baris - alamat yang singkat, seolah seseorang menulisnya ketika hujan sudah mulai turun di atas batu. Aria ingin membuktikan, ingin membaca sampai tuntas, ingin memastikan apakah Custodes Temporis yang disebut di halaman-halaman itu benar-benar ada, atau sekadar permainan ingatan kakeknya yang sudah terlanjur dipenuhi cerita.
Di rumah kontrakannya dekat pelabuhan lama, lantai kayu berderit setiap kali Aria melangkah. Ia menaruh map di meja, menyalakan lampu belajar yang nyaris mati, dan menarik napas yang terasa dingin di tenggorokan. Jurnal itu dibuka pelan. Kertasnya mengeluarkan aroma lembap yang menempel pada jari, seperti kain yang pernah disimpan terlalu lama di ruang bawah tanah. Tulisan tangan Profesor Kusuma tegas, namun di beberapa bagian tampak seperti tinta pernah diangkat lalu dituliskan lagi - sebuah perlawanan kecil terhadap waktu.
Aria membaca baris pertama dengan lampu yang redup, tetapi saat ia mendekati halaman tengah, huruf-huruf itu berubah kerapatannya. Ada nama organisasi yang tak bisa ia abaikan: Custodes Temporis. Di sela kalimat, Profesor Kusuma menulis bahwa Penjaga Waktu bukan sekadar penjaga catatan, melainkan penjaga sesuatu yang “berjalan di bawah Batavia” ketika permukaan kota tidur. Aria menelan ludah. Ia tak pernah berani mempercayai cerita-cerita seperti itu - terlalu liar untuk seorang mahasiswi sejarah - namun jurnal itu menaruhnya di depan mata, dingin dan nyata, seperti batu nisan yang masih menyimpan ukiran.
Alamat lorong bawah tanah muncul di bagian bawah halaman, singkat, seperti potongan peta yang sengaja dipatahkan. Aria membacanya dua kali, lalu menahan kertas agar tidak bergeser saat tangannya gemetar. Di luar, hujan makin deras. Suara air di talang terdengar seperti hitungan yang tak punya akhir.
Ketika ia mengangkat kunci kuningan dari map, cahaya lampu belajar memantul di permukaannya. Pada logam itu terukir pola kecil - bukan sekadar hiasan, melainkan semacam rangkaian garis yang jika dilihat dari sudut tertentu tampak seperti huruf yang terpotong. Aria mengusapnya, dan pada saat itu, udara di ruangan seakan menekan dari sisi lain. Ia tak yakin, tapi ia merasa ada getaran halus, sangat pelan, seperti mesin tua yang baru diaktifkan - bukan suara, lebih kepada rasa di tulang.
Aria memutuskan bergerak sebelum pikirannya sempat menolak. Ia memasukkan jurnal dan kunci ke dalam tas selempang, menelan rasa takut yang menggigit, lalu keluar lagi ke malam. Hujan masih menulis garis-garis di aspal, memantulkan lampu jalan menjadi pita-pita kuning yang goyah. Di kejauhan, bangunan kolonial dekat pelabuhan lama berdiri seperti saksi yang tak pernah diminta bicara. Aria berjalan menyusuri sisi pagar, mencari titik yang disebut jurnal, memeriksa setiap lengkung dinding bata tua yang tampak terlalu rapih untuk sekadar dibiarkan.
Lorong itu tidak menunggu; lorong itu menyembunyikan diri dengan cara yang kejam. Ia menemukan sepasang batu bata yang tampak baru dibanding bagian sekitarnya, tetapi hujan membuat semuanya tampak sama - lembap, licin, dan memaafkan kesalahan. Aria meraba celah di antara dinding, merasakan dingin merayap dari retakan halus. Ketika ia menempelkan telapak tangan, batu itu terasa lebih dingin dari udara luar. Seolah lorong bawah tanah masih bernapas.
Ia mengeluarkan kunci kuningan dan menatapnya di bawah kilat petir yang singkat. Pola terukir di logam itu seperti menunggu dicocokkan. Aria menahan napas, lalu memasukkan kunci ke celah yang ia kira sesuai - dan saat logam menyentuh bagian dalam, ada bunyi kecil, nyaris seperti serpihan kaca yang pecah di tempat yang salah.
...
About this book
"Bayang-Bayang Batavia" is a fiction book by Anonymous with 5 chapters and approximately 10,985 words. Misteri urban-fantasi tentang relik pemutar waktu di Batavia..
This book was created using Inkfluence AI, an AI-powered book generation platform that helps authors write, design, and publish complete books. It was made with the AI Novel Writer.
Frequently Asked Questions
What is "Bayang-Bayang Batavia" about?
Misteri urban-fantasi tentang relik pemutar waktu di Batavia.
How many chapters are in "Bayang-Bayang Batavia"?
The book contains 5 chapters and approximately 10,985 words. Topics covered include Jurnal Kusuma dan Lorong Tersembunyi, Baskara Membuka Arsip Menara, Peta Sunda Kelapa Mengelabui, Relik Kala Memutar Satu Malam, and more.
Who wrote "Bayang-Bayang Batavia"?
This book was written by Anonymous and created using Inkfluence AI, an AI book generation platform that helps authors write, design, and publish books.
How can I create a similar fiction book?
You can create your own fiction book using Inkfluence AI. Describe your idea, choose your style, and the AI writes the full book for you. It's free to start.
Write your own fiction book with AI
Describe your idea and Inkfluence writes the whole thing. Free to start.
Start writingCreated with Inkfluence AI