Pemuda Desa Jadi CEO
Created with Inkfluence AI
Kisah pemuda desa mengejar mimpi menjadi CEO
Table of Contents
- 1. Iklan Lowongan di Gang Sempit
- 2. Memilih Disiplin Saat Malam
- 3. Bukti Hilang di Arsip Perusahaan
- 4. Kontrak Ditandatangani di Ruang Rapat
- 5. CEO Desa atau Kota? Pilihan Raka
Preview: Iklan Lowongan di Gang Sempit
A short excerpt from “Iklan Lowongan di Gang Sempit”. The full book contains 5 chapters and 10,014 words.
Papan nama stasiun di ujung gang masih bergetar ketika kereta terakhir melintas, membuat genangan di bawah sandal Raka Pratama beriak seperti kaca retak. Ia baru tiba dua jam lalu, tetapi kota besar itu sudah terasa seperti mesin yang tak punya tombol berhenti.
“Kamarnya di atas,” kata pemilik kontrakan, seorang perempuan berkaus lengan panjang yang membawa kunci berkarat. “Jangan berisik. Jangan bawa teman menginap. Bayar sebelum tanggal lima.”
Raka mengangguk sambil memeluk tas ransel yang isinya tak lebih dari tiga pasang pakaian, map ijazah, dan surat rekomendasi dari kepala desa. Uang di dompetnya tinggal dua ratus delapan puluh ribu rupiah. Ia harus mendapat pekerjaan sebelum uang itu habis.
“Kalau belum dapat kerja, boleh dicicil, Bu?” tanyanya.
Perempuan itu menatapnya dari ujung kepala sampai sepatu kanvas yang terkena lumpur. “Di kota ini semua orang bilang begitu. Besok kalau mau makan, cari kerja. Bukan cari alasan.”
Pintu kamar dibuka. Ruangan itu selebar dua langkah orang dewasa, dengan kasur tipis menempel ke dinding dan jendela kecil menghadap atap seng. Kipas angin di sudut berputar tersendat, mengeluarkan bunyi cekikikan setiap beberapa detik. Dari bawah terdengar suara pedagang mi, klakson, dan pengumuman stasiun yang patah-patah tertelan deru kereta.
Raka meletakkan tas di lantai. Ia belum sempat duduk ketika suara lelaki dari gang memanggil.
“Yang mau kerja harian, kumpul di depan warung! Angkut barang! Dibayar sore!”
Raka langsung turun.
Di depan warung, enam orang sudah berdiri di bawah lampu putih yang dikerumuni ngengat. Mandor bertubuh pendek memegang daftar kusut.
“Kamu baru?” tanyanya.
“Baru sampai, Pak.”
“Bisa angkat?”
“Bisa.”
“Bisa tahan dimaki?”
Raka menelan ludah. “Bisa.”
Mandor menunjuk bak truk yang penuh kardus mi instan. “Naik.”
Malam itu Raka mengangkut kardus dari truk ke gudang kecil di belakang pasar. Telapak tangannya panas, bahunya seperti ditarik dari sendi, dan keringat bercampur debu menempel di leher. Setiap kali ia memperlambat langkah, mandor berteriak.
“Jangan seperti orang jalan-jalan! Kota ini bayar orang yang cepat!”
Raka menggigit bagian dalam pipinya. Di desa, ia pernah mengangkat karung gabah, menarik gerobak pupuk, dan membantu ayahnya memperbaiki atap kandang. Namun di sini, tenaga yang sama seolah tak pernah cukup.
Menjelang tengah malam, mandor menyerahkan uang tiga puluh lima ribu.
“Besok ada lagi?” tanya Raka.
“Kalau masih kuat.”
Raka memasukkan uang itu ke dompet. Tiga puluh lima ribu bukan jalan menuju mimpinya. Namun setidaknya cukup untuk nasi, air minum, dan ongkos mencari pekerjaan lain.
Pagi berikutnya, sebelum matahari muncul di antara gedung-gedung, Raka berjalan menyusuri gang. Ia mencari tempat yang disebut pemilik kontrakan semalam: papan pengumuman lowongan di dekat pintu belakang stasiun. Kata perempuan itu, banyak orang datang ke sana membawa map, lalu pergi membawa wajah yang lebih pucat.
Gang itu semakin sempit mendekati stasiun. Motor melintas tanpa memberi ruang. Seorang penjual bubur memukul mangkuk dengan sendok, sementara tukang koran berteriak menyebut harga saham dan berita politik. Raka harus menempel ke tembok ketika dua petugas kebersihan mendorong tong sampah besar.
Papan pengumuman itu berada di bawah tangga beton, terlindung kanopi plastik yang sobek. Kertas-kertas ditempel bertumpuk, sebagian basah, sebagian menguning. Ada lowongan pelayan, penjaga gudang, kurir, operator mesin, dan pekerja bongkar muat.
Raka mendekat.
Matanya berhenti pada selembar kertas putih yang masih bersih.
DICARI: CALON CEO PROGRAM PERCEPATAN USAHA.
Ia membaca baris berikutnya dua kali.
Sebuah perusahaan distribusi bernama Arunika Niaga membuka jalur seleksi untuk calon pemimpin operasional. Pelamar harus memiliki kemampuan mengatur tim, membaca laporan keuangan, dan menyelesaikan masalah lapangan. Pengalaman kerja menjadi nilai tambah, tetapi bukan syarat mutlak.
Di bagian bawah tertulis alamat surel dan tenggat pengiriman berkas: pukul dua puluh tiga lima puluh sembilan, tiga hari lagi.
Raka memegang ujung kertas itu. Kata CEO tampak terlalu besar untuk papan kusam di gang sempit. Terlalu tinggi untuk seseorang yang semalam mengangkut kardus dan tidur dengan suara kereta.
Seorang pemuda berjaket hitam menyenggol bahunya.
“Jangan lama-lama, Mas. Mau daftar atau cuma baca?”
Raka mundur sedikit. “Ini lowongan sungguhan?”
Pemuda itu tertawa pendek. “Kalau mau jadi CEO, biasanya bukan berdiri di gang begini.”
“Alamat perusahaannya ada.”
“Alamat bisa dicetak siapa saja.”
Raka kembali menatap kertas itu. Di pojok kanan bawah tercetak lambang Arunika Niaga, sama seperti logo pada kendaraan pengiriman yang sering melewati pasar desa. Ia pernah melihatnya ketika membantu ayah mengantar hasil panen ke pengepul. Perusahaan itu besar. Barang-barangnya masuk ke banyak warung.
“Mas, ada komputer?” tanya Raka.
“Di stasiun ada tempat cetak.”
Raka merobek pelan bagian bawah iklan yang memuat alamat surel....
About this book
"Pemuda Desa Jadi CEO" is a fiction book by Anonymous with 5 chapters and approximately 10,014 words. Kisah pemuda desa mengejar mimpi menjadi CEO.
This book was created using Inkfluence AI, an AI-powered book generation platform that helps authors write, design, and publish complete books. It was made with the AI Novel Writer.
Frequently Asked Questions
What is "Pemuda Desa Jadi CEO" about?
Kisah pemuda desa mengejar mimpi menjadi CEO
How many chapters are in "Pemuda Desa Jadi CEO"?
The book contains 5 chapters and approximately 10,014 words. Topics covered include Iklan Lowongan di Gang Sempit, Memilih Disiplin Saat Malam, Bukti Hilang di Arsip Perusahaan, Kontrak Ditandatangani di Ruang Rapat, and more.
Who wrote "Pemuda Desa Jadi CEO"?
This book was written by Anonymous and created using Inkfluence AI, an AI book generation platform that helps authors write, design, and publish books.
How can I create a similar fiction book?
You can create your own fiction book using Inkfluence AI. Describe your idea, choose your style, and the AI writes the full book for you. It's free to start.
Write your own fiction book with AI
Describe your idea and Inkfluence writes the whole thing. Free to start.
Start writingCreated with Inkfluence AI