Novel Tanpa Judul
Created with Inkfluence AI
Penulisan novel fiksi
Table of Contents
- 1. Surat Hilang di Pasar Malam
- 2. Memilih Nama Samaran yang Selamat
- 3. Jejak Dimas Hartono di Arsip Kota
- 4. Kunci Rumah Tulis Lintang Terbuka
- 5. Novel Tanpa Judul Diberi Nafas
Preview: Surat Hilang di Pasar Malam
A short excerpt from “Surat Hilang di Pasar Malam”. The full book contains 5 chapters and 10,724 words.
Uang kembalian kurir masih terasa dingin di telapak tangan Nara ketika suara trompet kecil dari panggung di ujung gang mulai memecah keramaian. Pasar Malam Cendana berdiri seperti mulut yang tak pernah tutup - lampu-lampu warna-warni berkedip di atas tenda, kain spanduk menampar angin panas, dan derit troli pedagang beradu dengan tawa orang-orang yang saling menyenggol. Nara baru saja melangkah turun dari motor yang berhenti di pinggir jalan, dan amplop cokelat yang ia terima - tebal, bersudut rapi, dengan cap lilin yang sudah mengeras - masih menekan dadanya seolah amplop itu bernapas.
Ia tidak sempat menanyakan apa pun. Kurir hanya menunjuk ke tangga kecil menuju kios-kios di belakang, lalu pergi tanpa menoleh. “Bawa ini sampai ada yang cocok,” katanya singkat, seolah kalimat itu bagian dari pekerjaan yang sudah mengunyahnya. Di amplop itu tertulis namanya dengan tinta hitam yang tidak bergetar, dan di bagian belakang ada goresan kecil seperti kode - hanya cukup jelas bagi orang yang pernah menatap halaman-halaman yang harus diselamatkan.
Nara menggenggam amplop itu lebih erat saat ia menembus kerumunan. Kertasnya kasar, dan ketika ia membelokkan bahu agar tidak terseret tangan orang yang lewat, amplopnya menggesek kain jaketnya dengan suara pelan yang terdengar terlalu jelas di tengah kebisingan. Ia menelan ludah, merasakan panas dari bara sate yang mengintip dari tenda samping, tetapi fokusnya bukan pada makanan - melainkan pada petunjuk yang seharusnya mengarah pada penulisan novel fiksinya. Ia sudah menyusun ulang bab pembuka dalam kepala sejak pesan itu datang, memikirkan nama samaran yang mungkin dipakai, bahkan mengukur kemungkinan-kemungkinan yang bisa membuat identitasnya aman. Sekarang, amplop ini yang menentukan langkah berikutnya.
“Dek, cari apa?” Suara seorang penjaga mendadak muncul di dekat telinga Nara, memotong arus orang.
Nara menoleh cepat. Seorang pria paruh baya berjaket tebal, dengan kumis yang disisir rapi tapi matanya tajam, berdiri di samping pintu besi kecil yang menandai gang belakang kios buku bekas. Di tangannya ada senter dan kunci-kunci yang bergemerincing setiap ia menggeser berat badan. “Saya…” Nara berhenti setengah detik, cukup lama untuk merasakan amplop itu seperti batu di tangan. “Cari buku bekas.”
Pria itu menilai dari cara Nara memegang amplop - terlalu dekat dengan tubuh, terlindung terlalu hati-hati. “Buku bekas semua ada,” katanya, nadanya seperti sudah mendengar kebohongan serupa berkali-kali. “Tapi gang belakang ini bukan buat orang yang cuma lewat.”
Nara memaksa suaranya tetap datar. “Saya cuma butuh satu. Cepat.”
Pria itu menyipitkan mata. “Cepat itu biasanya bikin orang lupa bayar.”
Nara menahan desakan untuk menjawab lebih jujur. Ia hanya mengangguk kecil, menurunkan pandangannya seolah mencari sesuatu di keranjang belanja orang lain. Namun langkahnya tetap mengarah pada gang belakang, menyelip di celah kerumunan yang rapat. Di sana, suara pasar menurun seperti pintu dipindahkan sedikit menjauh. Gang belakang lebih sempit, lampu lebih redup, dan udara lebih lembap - bau kertas tua, lem perekat, dan debu yang menempel di kulit.
Di ujung gang, kios buku bekas berdiri berderet, papan kayunya sedikit melengkung. Nara meraba amplop di dalam tangan, mencari ritme napasnya agar tidak pecah. Ia harus mengamankan amplop itu sebelum berpindah tangan - sebelum ada orang lain mengklaimnya, sebelum kurirnya benar-benar “cocok” dengan seseorang yang ia belum pernah lihat. Ia tidak punya banyak waktu; pasar malam membuat segala sesuatu terasa sementara, dan orang-orang mudah berubah target.
Seseorang berlari kecil dari arah kios paling ujung, membuat tumpukan kardus bergetar. “Mas! Mb - ” panggilnya, lalu terhenti ketika melihat Nara. “Oh, Mbak.”
Nara menoleh. Bocah itu tampak baru selesai membantu, rambutnya basah keringat, dan matanya masih menyala oleh rasa ingin tahu. Ia membawa keranjang plastik yang berisi penjepit kertas dan lembaran selebaran.
“Buku?” tanya Nara, mencoba terdengar santai.
Bocah itu mengangguk cepat, tapi senyumnya tidak sampai ke mata. “Ada yang cari. Tadi katanya ada amplop yang harus diserahkan. Tapi…” Ia menelan ludah, dan suaranya jadi lebih kecil. “Tapi Mbak baru datang, jadi mungkin bukan saya yang salah.”
Nara merasakan sesuatu menggelitik di belakang tenggorokan. “Amplop?”
Bocah itu mengangguk lagi, lalu menunjuk ke arah kios yang lebih dalam. “Yang punya kios sebelah itu… katanya titipan. Tapi baru sebentar, sudah hilang.”
Nara mematung setengah detik. “Hil - ”
Sebelum ia sempat menyelesaikan kata, terdengar derit kursi plastik dari balik rak buku. Seorang pria kurus dengan kaca mata tipis muncul, memegang selembar kertas yang terlipat. Nara mengenal gerakannya: cepat tapi terlalu terukur, seperti orang yang sudah berlatih meyakinkan sebelum sempat ditanya.
“Maaf, Mbak,” kata pria itu, sopan dengan nada yang tidak sungguh-sungguh. Ia melirik amplop yang Nara tahan....
About this book
"Novel Tanpa Judul" is a fiction book by Anonymous with 5 chapters and approximately 10,724 words. Penulisan novel fiksi.
This book was created using Inkfluence AI, an AI-powered book generation platform that helps authors write, design, and publish complete books. It was made with the AI Novel Writer.
Frequently Asked Questions
What is "Novel Tanpa Judul" about?
Penulisan novel fiksi
How many chapters are in "Novel Tanpa Judul"?
The book contains 5 chapters and approximately 10,724 words. Topics covered include Surat Hilang di Pasar Malam, Memilih Nama Samaran yang Selamat, Jejak Dimas Hartono di Arsip Kota, Kunci Rumah Tulis Lintang Terbuka, and more.
Who wrote "Novel Tanpa Judul"?
This book was written by Anonymous and created using Inkfluence AI, an AI book generation platform that helps authors write, design, and publish books.
How can I create a similar fiction book?
You can create your own fiction book using Inkfluence AI. Describe your idea, choose your style, and the AI writes the full book for you. It's free to start.
Write your own fiction book with AI
Describe your idea and Inkfluence writes the whole thing. Free to start.
Start writingCreated with Inkfluence AI