Rumah Yang Perlahan Runtuh
Created with Inkfluence AI
Novel sastra emosional tentang keluarga yang kehilangan orang tua bertahap
Table of Contents
- 1. Telepon Tengah Malam Itu
- 2. Kalender Tanpa Nama Ayah
- 3. Surat yang Tak Pernah Dikirim
- 4. Kunci yang Diputar dari Dalam
- 5. Rumah Tetap Berdiri, Tapi Kosong
Preview: Telepon Tengah Malam Itu
A short excerpt from “Telepon Tengah Malam Itu”. The full book contains 5 chapters and 11,090 words.
Lampu ruang tamu masih menyala ketika bunyi televisi padam mendadak - bukan karena listrik turun, melainkan seperti seseorang menarik napas dari belakang layar. Raka Suryana baru sempat menaruh piring kecil di meja kopi saat ponselnya bergetar lagi, layar menyala lalu membeku pada satu nama yang sama: Dimas Suryana.
Dari lorong, jam dinding berdetak terlalu keras untuk sebuah rumah yang seharusnya sudah tenang. Angin malam menyusup lewat celah pintu balkon, membuat gorden berayun pelan seperti tangan yang ingin menahan sesuatu tapi tak punya tenaga. Raka menatap ruang tamu yang akrab - sofa hijau kusam, karpet yang sejak kecil diinjak tanpa permisi - dan merasa seperti sedang memandangnya dari balik kaca.
“Mas,” suara Naya terdengar dari dalam dapur, serak karena baru saja menangis atau pura-pura kuat. “Ayah… katanya lagi jalan. Tapi kok nggak ada kabar?”
Raka ingin menjawab, ingin mengatakan bahwa semua akan kembali normal setelah Dimas menelepon - seperti biasa, seperti kebiasaan ayahnya yang jarang lupa. Namun ponsel di tangannya tetap menampilkan layar yang sama, tidak berganti menjadi panggilan masuk, tidak memberi tanda bahwa suara ayahnya akan datang. Ia menekan tombol panggil ulang, menunggu nada sambung, dan mendengar bunyi yang sama: dering yang berhenti sebelum sempat menjadi harapan.
Kekosongan di rumah terasa bukan seperti tak ada tubuh, melainkan seperti sesuatu yang sudah terlanjur diambil dari tengah-tengah napas. Raka menoleh ke tempat ayahnya terakhir berada - kursi makan yang biasanya diduduki Dimas pada jam-jam malam, jaketnya yang tergantung di sandaran. Jaket itu masih di sana. Tetapi laki-laki di balik jaket itu - ayahnya - tidak.
Tiga menit sebelumnya, Dimas berdiri di ambang pintu ruang tamu, memegang kunci mobil, dan berkata, “Sebentar, Nak. Ada urusan kecil.” Kalimat itu masih menempel di telinga Raka seperti kain basah. Lalu, ketika Raka mengangkat pandangannya, ayahnya sudah lenyap. Tidak ada langkah keluar, tidak ada suara pintu. Yang tersisa hanya udara dingin yang tiba-tiba turun, dan suara ponsel ayahnya yang jatuh - atau mungkin tidak jatuh, karena Raka tidak sempat melihat.
Kini, Naya muncul dengan mata merah dan tangan dingin yang menggenggam ujung celemek. Ia berdiri di ambang ruang tamu, seperti takut melangkah lebih jauh akan membuat sesuatu semakin hilang.
“Telepon lagi,” pinta Naya, suaranya pecah. “Kalau kamu telepon terus, pasti bisa nyambung.”
Raka mengangguk, walau ia sendiri tidak yakin. Ia sudah menelepon nomor darurat yang sempat ayahnya simpan di ponsel rumah, nomor yang dulu terdengar seperti jaminan dalam kebiasaan sehari-hari. Operator menjawab cepat, teratur, suaranya seperti tembok yang tidak bergetar oleh tangis.
“Lokasi kejadian di mana?”
Raka menyebut alamat rumahnya, bahkan menyebut patokan yang biasanya tidak ia pikirkan: warung kecil di ujung gang, pohon mangga tua di depan pagar. Ia mendikte semuanya, tapi jawaban operator tidak memberi bentuk yang bisa dipegang. “Kami sedang verifikasi. Mohon tetap di tempat yang aman.”
“Yang aman itu di mana?” Naya menyela, suaranya memantul di dinding. “Rumah ini aman tapi ayah hilang. Jadi… apa yang aman kalau bukan ini?”
Operator tidak menjawab pertanyaan itu. Hanya ada bunyi klik halus, lalu suara yang ditahan-tahan. “Ada informasi samar yang masuk. Mohon bersabar.”
Samar. Kata itu seperti jarum yang diselipkan di sela tulang. Raka menutup mata sebentar, dan ketika membukanya, ruang tamu tampak lebih sempit. Seolah sofa hijau yang biasanya lega kini menjadi kotak kecil untuk menampung rasa takut.
“Informasi apa?” Raka bertanya saat operator kembali menyambung, suaranya lebih tajam dari yang ia rencanakan. “Kamu bilang ada informasi samar.”
“Sejauh ini hanya tercatat panggilan darurat dari satu lokasi,” jawab operator. “Bukan dari nomor Bapak Anda, tetapi ada sinyal yang mengarah ke area dekat - ”
Raka mendengar suara itu terpotong oleh bunyi lain: ponsel Naya yang bergetar di tangannya. Naya menatap layar, lalu wajahnya berubah seperti seseorang baru saja menyiramkan air dingin ke dalam tenggorokan.
“Bu,” kata Naya pelan. “Ibu telepon.”
Raka menahan napas. Lestari tidak hilang. Setidaknya, sejauh ini tidak ada kabar bahwa ibunya akan mengikuti jejak ayahnya. Namun sejak ayah menghilang seketika, Lestari menjadi semacam garis tipis yang berusaha berdiri di tengah gelap. Ia berada di lantai atas, di kamar tidur mereka, dan Raka tidak sempat melihatnya sejak kejadian itu.
“Jawab,” pinta Raka.
Naya mengangkat telepon. Suara Lestari terdengar dari speaker, rendah dan terburu-buru, seolah ia sedang berlari tanpa tenaga. “Raka… jangan keluar dulu.”
“Bu, ayah nggak ada,” jawab Raka. “Kami sudah - ”
“Dengar aku,” Lestari menyela. “Panggilan darurat itu… dengar baik-baik. Ada yang terjadi di luar kontrol. Aku dengar sesuatu dari luar, tapi bukan suara orang. Seperti… seperti pintu yang dibuka tapi tidak ada yang masuk.”
Raka menelan ludah....
About this book
"Rumah Yang Perlahan Runtuh" is a fiction book by Rahayu Sulistiawati with 5 chapters and approximately 11,090 words. Novel sastra emosional tentang keluarga yang kehilangan orang tua bertahap.
This book was created using Inkfluence AI, an AI-powered book generation platform that helps authors write, design, and publish complete books. It was made with the AI Novel Writer.
Frequently Asked Questions
What is "Rumah Yang Perlahan Runtuh" about?
Novel sastra emosional tentang keluarga yang kehilangan orang tua bertahap
How many chapters are in "Rumah Yang Perlahan Runtuh"?
The book contains 5 chapters and approximately 11,090 words. Topics covered include Telepon Tengah Malam Itu, Kalender Tanpa Nama Ayah, Surat yang Tak Pernah Dikirim, Kunci yang Diputar dari Dalam, and more.
Who wrote "Rumah Yang Perlahan Runtuh"?
This book was written by Rahayu Sulistiawati and created using Inkfluence AI, an AI book generation platform that helps authors write, design, and publish books.
How can I create a similar fiction book?
You can create your own fiction book using Inkfluence AI. Describe your idea, choose your style, and the AI writes the full book for you. It's free to start.
Write your own fiction book with AI
Describe your idea and Inkfluence writes the whole thing. Free to start.
Start writingCreated with Inkfluence AI